
"Dimana kamu sembunyikan Gaara, Abram?". Pk Burhan menatap tajam putranya.
"Kembalikan dia pada ibunya, Bram. Pengadilan sudah memutuskan bahwa hak asuh Gaara dimenangkan oleh mereka. Jangan membuat masalah semakin rumit". Bu Yuli ikut menimpali.
"Apa maksud papa dan mama? Aku tidak mengerti". Pak Burhan berdecih mendengar ucapan anaknya. Ia yakin hilangnya Gaara karena ulah anaknya. Tapi sayang, ia juga belum mendapat bukti apapun.
"Kami mengenal baik dirimu. Jangan sampai kamu menyesal Bram. Jadi segeera kembalikan Gaara". Tegas pk Burhan membuat Abram mendengus kesal.
"Aku tidak memyembunyikan siapapun! Papa sama mama juga tahu kalo aku selalu pergi pagi untuk bekerja dan pulang kerumah ini". Jelas Abram membuat pak Burhan menatapnya sengit.
"Kami sudah memperingatkan kamu. Papa tidak akan menolongmu seperti belasan tahu lalu jika terjadi sesuatu padamu! Ayo ma". Pak Burhan berlalu meninggalkan putranya.
"Mama benar-benar kecewa dengan kamu yang sekarang Bram. Mama kira bertambahnya usia akan membuat pikiran kamu juga semakin dewasa. Tapi mama salah". Bu Yuli menatap sedih putranya. Putra yang ia lahirkan dan besarkan sudah benar-benar salah jalan.
"Apa masih belum cukup beberapa pabrikmu tutup, kerugian yang tidak sedikit itu. Bahkan kamu bisa dibilang bangkrut Bram! Itu tidak cukup? Apa harus kamu kehilangan mama dan papa baru kamu akan paham?".
"Ma.." bu Yuli mengangkat tangannya.
"Jika kamu mau menjadi ayah yang baik. Menebus kesalahanmu pada anakmu, juga pada wanita yang melahirkannya. Kembalikan dia pada keluarganya yang selama ini merawatnya. Jangan siksa dia dengan menjauhkannya dari ibunya". Tanpa menunggu Abram membuka mulutnya, bu Yuli berlalu dengan perasaan kecewa pada anaknya.
"HAH!!!!". Teriak Abram frustasi. Ia hanya ingin dekat dengan anaknya, tapi mengapa tidak ada seorangpun yang mendukungnya.
Ia bangkit dan berlalu dari rumah kedua orang tuanya. Ia ingin melihat kondisi putranya.
...---***---...
Tak berbeda jauh dengan Diandra. Kondisi Gaara saat ini semakin lemah. Bagaimana tidak, empat hari berada dibawah pengawasan Abram membuatnya tidak mau menyentuh makanan sedikitpun. Ia tidak sudi menyentuh makanan yang disediakan manusia tak berhati itu. Lagipula hanya dengan cara seperti ini dirinya akan bisa keluar.
Sejujurnya tubuhnya lemah, perutnya terasa perih karena tak ada makanan apapun masuk kedalam perutnya. Hanya air putih yang ia gunakan untuk mempertahankan kesadarannya.
Abram menatap sedih Gaara yang belum juga mau berbicara padanya. Jangankan berbicara, menatap dirinya saja, Gaara sepertinya tak sudi. Belum lagi putranya itu tidak mau menyentuh makanan apapun yang ia sediakan.
Saat ini Gaara sudah dilepaskan. Ia sudah tidak diikat sejak kemarin karena Abram kasihan melihat tangan dan kaki anaknya terluka.
"Abang kangen ma..abang pengen pulang". Setetes cairan bening itu meluncur tanpa bisa Gaara cegah. Ia sangat merindukan ibunya.
Abram yang sejak tadi melihat Gaara dicelah pintu hanya bisa menahan sesak didadanya. Sudah hampir satu jam ia mengawasi Gaara yang duduk didekat jendela. Menatap kosong keluar dengan wajahnya yang pucat.
__ADS_1
"Apa papa benar-benar tidak berarti bagimu nak?". Gumam Abram saat mendengar Gaara merindukan ibu sambungnya.
"Gaara!!!". Teriak Abram saat melihat tubuh putranya tumbang. Ia segera berlari menangkap tubuh putranya sebelum menyentuh lantai.
"Astaga. Kamu kenapa nak?". Abram terlihat panik. Ia berteriak memanggil dua orang penjaga yang ia tugaskan menjaga pintu kamar Gaara.
"Siapkan mobil!". Perintah Abram pada salah satu anak buahnya.
Ia segera mengangkat tubuh Gaara yang pingsan itu. Membawanya keluar dan segera memerintahkan anak buahnya untuk kerumah sakit terdekat dari rumah sewaannya.
"Lebih cepat!". Perintahnya dan anak buahnya segera menambah kecepatan mobilnya.
Tak butuh waktu lama, mobil yang ditumpangi Abram dan Gaara serta dua anak buah Abram sampai dilobby igd rumah sakit swasta.
Abram segera turun dan membawa tubuh Gaara masuk kedalam Igd. Ia berteriak panik memanggil dokter dan para medis disana.
"Tolong! Tolong putra saya!". Teriak Abram saat seorang perawat mendorong brangkar mendekat padanya.
Perlahan Abram meletakkan tubuh Gaara. Ia mengikuti perawat yang membawa brangkar itu masuk kedalam ruang pemeriksaan.
"Bapak boleh tunggu disini". Perawat menghalangi Abram yang hendak ikut masuk.
"Dimana walinya?". Tanya dokter pada sang dokter pada perawat.
"Masih menunggu diluar dokter".
"Aku akan menemuinya". Namun saat hendak keluar, snelli yang ia kenakan terasa tertarik. Ia menoleh, mendapati Gaara memegang ujung snellinya.
"Kau sudah sadar? Apa yang kamu rasakan?".
"Pusing? Mual?". Tanya sang dokter beruntun sambil kembali memeriksa Gaara.
"Tolong.." Lirih Gaara bahkan hampir tak terdengar.
"Kamu perlu sesuatu?". Tanya si dokter membuat Gaara mengangguk pelan.
"Tolong saya, dokter.." Dokter mengernyit bingung. Ia kemudian membungkuk agar Gaara lebih mudah berbisik padanya.
__ADS_1
Matanya melebar saat Gaara membisikkan sesuatu padanya. Ia menatap Gaara seolah mencari kebohongan di mata sayu itu, namun tak menemukannya.
"Saya akan menemuinya dulu. Saya akan katakan bahwa kamu harus dirawat disini beberapa hari". Gaara melepaskan tangannya dari snelli dokter saat mendengar dirinya harus dirawat.
"Aku harus pulih. Aku harus bisa pergi dari orang itu. Rencanaku tidak boleh gagal". Batin Gaara dengan tekat kuat. Akhirnya, setelah empat hari dirinya dikurung. Ia memiliki kesempatan kabur.
Abram masuk dengan wajah khawatir, Gaara segera memejamkan matanya lagi ketika melihat Abram masuk.
"Kami akan siapkan kmar rawatnya dulu, tuan. Anak anda akan dipindahkan setelah kamarnya siap". Abram mengangguk dan duduk disamping Gaara.
"Maafkan papa nak.." Lirih Abram mengelus kepala Gaara. Sedangkan Gaara yang masih lemas memilih membiarkan Abram mengelus kepalanya.
Setengah jam berlalu, perawat kembali dan memberitahukan jika Gaara sudah bisa dipindahkan.
"Kalian bisa istirahat dulu. Aku akan menemaninya". Gaara bisa mendengar jelas perintah Abram pada anak buahnya.
"Kenapa kamu belum bangun nak". Gumam Abram kembali duduk disamping ranjang Gaara, padahal sudah hampir 3jam Gaara tertidur, cairan infus pun sudah diganti tapi Gaara tidak menunjukkan tanda-tanda akan bangun.
Ya , sejak tadi Gaara masih memejamkan matanya. Selain karena memang masih pusing dan lemas, ia juga malas menatap wajah laki-laki yang sudah memisahkannya dari keluarganya.
"Selamat siang.." Seorang perawat masuk dengan membawa makan siang untuk Gaara.
"Makan siang untuk Gaara ya, pak". Tutur perawat itu ramah.
"Terimakasih sus. Tapi kenapa anak saya belum juga sadar sus?". Tanya Abram sedikit khawatir.
"Gaara dehidrasi pak. Badannya pasti lemas dan kepalanya pusing. Mungkin itu sebabnya Gaara lebih nyaman tidur saat ini". Jelasnya kemudian. Abram mengangguk mengerti, ia tak menyadari sedikitpun jika putranya sedang mempersiapkan tenaganya untuk melarikan diri dari dirinya.
...___^^^___...
Sabar ya..Gaara pasti bisa kabur kok..tapi sabar dulu, othornya lagi ngga bisa ngebut nulisnya
Incessnya othor masih belum bener-bener pulih, jadi mungkin cuma bisa satu bab ini aja yaa..
Tapi kalo incessnya ngga rewel insyaallah dikasih satu bab lagi nanti malem😊
Semoga sukaaa☺️
__ADS_1
Lopelope sekebon reader semuaaa💐💐🥰❤️