Suamiku, Kakak Iparku

Suamiku, Kakak Iparku
Panca


__ADS_3

Hari ini seperti rutinitas mingguan Diandra, ia akan membawa Gaara berkeliling mall hanya sekedar untuk menghilangkan penatnya.


"Kita beli apa ya sayang". Gumam Diandra yang sedang mendorong stroller putranya.


Diandra melongok kedalam stroller Gaara dan mendapati putranya sudah terlelap.


" Yaaah..kok mama malah ditinggal tidur sih".


Diandra kembali mendorong stroller putranya sambil melihat sekeliling hingga tak melihat jika ada seorang pria yang berdiri didepannya. Karena Diandra yang tidak fokus, stroller Gaara menabrak kaki pria itu.


"Maaf..maafkan saya. Saya tidak sengaja pak". Ucap Diandra saat mendengar suara seseorang mengaduh.


" Tidak masalah..lain kali berhati-hatilah". Sahut si pria yang tertabrak.


Keduanya saling melihat untuk beberapa saat sampai si pria memanggil nama Diandra.


"Diandra?". Jelas saja Diandra kebingungan, pasalnya ia merasa tidak mengenal pria didepannya itu.


" Maaf.." Si pria hanya tersenyum ramah saat tahu Diandra tidak mengenalinya.


"Kamu nggak inget aku?". Diandra semakin kebingungan, otaknya ia gunakan untuk berpikir tentang siapa lelaki didepannya ini.


" Kalo kaya gini inget nggak?". Tanya si pria memasang kacamata.


"Pa-Panca??". Meski ragu, namun Diandra sedikit mengingat wajah berkacamata yang sedang ada dihadapannya saat ini.


" Berarti aku harus pake kacamata terus ya biar kamu inget ". Kelakar lelaki bernama Panca itu.


" Hah??? Ini beneran kamu Ca?? Beneran Panca?? Panca culun yang jadi korban bully dulu??". Diandra mencecar Panca dengan bermacam pertanyaan. Sementara Panca hanya terkekeh pelan sambil mengangguk menjawab semua pertanyaan Diandra.


Diandra membekap mulutnya. Masih tak percaya dengan perubahan teman semasa sekolah atasnya dulu yang berubah begitu banyak.


"Ya ampun kamu beda banget sih". Diandra menepuk pundak teman lamanya itu berkali-kali.


" Kita kesana aja yuk. Gaenak ngobrol sambil berdiri". Ajak Panca sambil menunjuk sebuah restoran yang ada didekat keduanya berdiri.


"Hmm..boleh deh. Aku juga bingung mau kemana, laper juga". Diandra nyengir hingga membuat Panca ikut tersenyum melihatnya.


Keduanya berjalan beriringan menuju restoran yang sudah Panca tunjukkan tadi.


" Gimana kabar kamu Di?". Tanya Panca berbasa-basi. Sejujurnya ia penasaran tentang kehidupan Diandra kini.


"Baik..Alhamdulillah baik Ca. Kamu sendiri?". Diandra balik bertanya.


" Eh..gak usah dijawab juga aku tahu jawaban nya. Pasti baik banget..diliat dari penampilan kamu sekarang sih kayanya udah jadi bos muda nih". Cerocos Diandra


"Kamu masih sama aja ya, cerewetnya nggak ketulungan". Panca mengacak pelan rambut Diandra.

__ADS_1


Keduanya sudah sampai direstoran yang cukup mewah, Panca menarik kursi untuk Diandra duduk kemudian ia juga duduk di seberang Diandra.


" Kamu mau makan apa??". Tanya Panca setelah memanggil pelayan.


"Ehm...apa aja deh Ca. Kamu tahu sendiri aku mah apa aja makan". Panca mengangguk dan memesan dua steak yang sama untuk dirinya dan Diandra.


" Udah lama banget nggak ketemu ya". Ucap Panca setelah pelayan pergi.


"Iya ya..berapa tahun nggak ketemu ya. Kamu berubah banget". Sahut Diandra


" Aku masih Panca yang dulu Di". Balas Panca tenang.


"Panca yang masih cinta sama kamu walaupun nggak berani ngakuin". Imbuhnya dalam hati.


"Beda tau..kamu sekarang jadi berubah banget. Udah jadi pengusaha muda sih kayanya ya". Puji Diandra jujur.


Keduanya tidak menyadari jika disudut lain restoran ada kepala yang berasap karena hatinya terbakar api cemburu.


Abi dan Alvin yang tengah meeting dengan klien direstoran yang sama. Jika saja Alvin tidak mengingatkan Abi tentang meetingnya, mungkin lelaki tampan itu sudah menghampiri Diandra yang sedari tadi terlihat tersenyum dan tertawa lepas dengan lelaki lain.


" Tahan bos..ini klien penting". Bisik Alvin yang juga melihat Diandra dengan seorang lelaki yang tidak ia kenal.


"Kamu berlebihan Di. Aku kaya gini juga karna kamu". Diandra terlihat bingung mendengar pernyataan Panca.


" Aku? Karna aku?". Diandra menunjuk wajahnya sendiri.


" Kamu inget nggak..dulu pas aku dibully terus kamu tolongin apa yang kamu ucapin ke aku?". Tanya Panca membuat Diandra harus berpikir keras mengingat kejadian yang sudah bertahun-tahun berlalu.


"Kamu masih muda tapi udah pikun". Panca menyentil pelan kening gadis yang membuatnya jatuh hati sejak pertama melihatnya itu.


" Aww..aku bukan pikun Ca. Cuma itu tuh udah lama banget tau". Diandra mengelus pelan keningnya yang sedikit nyeri.


Panca menerawang, mengingat kembali ucapan seorang gadis berseragam putih abu yang mampu merubah hidupnya hingga sesukses saat ini.


"Kalo elo nggak mau dibully, jadi orang yang kuat. Jadi orang sukses dan berhasil, jangan sia-siain masa sekolah elo, apalagi elo pinter. Mereka bully elo tuh karena mereka sirik sama elo, mereka nggak sepinter elo". Diandra diam saat Panca mulai menirukan ucapannya ketika menolong Panca yang dibully.


" Jangan tunjukin kalo elo takut sama mereka, makin lo tunjukin kalo elo takut. Mereka bakal makin seneng bully elo. Inget kata-kata gue!! Jadi orang sukses dan berhasil, semua orang bakal ngerhargain dan ngehormatin elo!". Panca tersenyum saat menyelesaikan ucapannya yang menirukan Diandra persis seperti bagaimana dulu Diandra menasehatinya.


"Astaga Panca. Kamu segitu inget nya sih. Aku lupa loh..asli". Diandra sampai menggelengkan kepala ketika Panca benar-benar mengingat semua nasehatnya dulu.


" Itu kata-kata motivasi yang bikin aku sesukses sekarang Di". Mata Panca melirik stroller disamping Diandra.


"Itu.."


"Oh..ini anak aku Ca. Namanya Gaara, sayang banget dia lagi tidur". Panca tersenyum kecut, meski dirinya diam-diam sudah mencari tahu semua tentang Diandra, namun dirinya berharap Diandra tidak mengakui Gaara sebagai putra. Namun harapannya pupus.


" Silahkan pesanannya, selamat menikmati". Obrolan keduanya terhenti sesaat ketika pelayan mengantarkan makanan keduanya.

__ADS_1


"Anak kamu?". Tanya Panca meyakinkan


Diandra yang sedang memotong daging dan hendak memasukkannya kedalam mulut segera menatap Panca dan tersenyum.


" Iya..anak aku". Jawab Diandra yakin.


"Suami kamu.." Sebelum Panca melanjutkan ucapannya, Diandra sudah mengangguk.


"Kenapa kamu ngakuin laki-laki b*jingan itu sebagai suami kamu Di. Kamu bisa dapat yang lebih pantas. Aku udah pantasin diri buat bersanding sama kamu". Batin Panca. Kedua tangannya terkepal dibawah meja.


Diandra melanjutkan makannya dalam diam, pun dengan Panca yang hatinya terasa panas. Dirinya sudah tahu jika Diandra dan Abi menjalin hubungan yang sudah lama. Namun tidak sedikitpun ia lewatkan tentang Diandra. Bahkan penghianatan Abi dan Dea pun ia tahu. Tentang Diandra yangmenjadi ibu sambung bagi Gaara saja ia sudah tahu sejak awal.


" Sayang". Diandra segera mengangkat kepalanya saat mendengar suara yang sangat ia kenali. Siapa lagi jika bukan Abi, suaminya.


"Mas Abi?". Gumam Diandra, Sementara Panca hanya tersenyum miring melihat Abi melangkah cepat mendekati meja nya dan Diandra.


Mata Diandra melebar saat tanpa aba-aba, Abi mendaratkan kecupan mesra di keningnya. Sementara Pnaca terlihat menahan amarahnya melihat Abi yang begitu mesra terhadap Diandra.


" Kamu disini?". Tanya Abi berbasa-basi namun matanya terus melirik tajam Panca yang ada diseberang meja.


"Vin, bawa Gaara". Perintah Abi yang langsung dilaksanakan oleh Alvin, sahabat sekaligus asisten nya.


" Loh..Gaara mau dibawa kemana mas?". Tanya Diandra panik.


"Kita pulang sekarang". Perintah Abi tak ingin dibantah.


" Bentar aku pamit sama temen aku dulu". Cegah Diandra namun Abi menulikan telinganya.


"Mas..aku belum pamit sama bilang makasih". Ucap Diandra kesal.


" Nggak perlu". Ketus Abi membuat Diandra semakin kesal. Ia menoleh kebelakang dan mendapati Panca melambaikan tangannya.


Diandra mengucapkan maaf dan terimakasih dengan gerakan bibir tanpa suara yang sudah dimengerti oleh Panca yang langsung mengangguk sambil tersenyum.


Namun senyuman Panca musnakh ketika Diandra sudah tidak terlihat lagi. Berganti dengan tatapan tajam dengan sesungging senyum misterius.


"Aku sudah kembali Di, aku akan merebutmu dari laki-laki b*jingan itu. Dia nggak pantas buat kamu". Ucap Panca mantap tajam kedepan.


***###***


**hollaaaa readers kesayangan..


Sebelumnya othor mengucapkan minal aidzin wal faidzin, mohon maaf lahir batin ya semuaa..maaf kalo othor ada salah sama reader semua..


Semoga reader semua diberi kesehatan dan panjang umur ya semuaa..Maafkan othor yang sering menghilang. Hp nya suka susah diajak kompromi..doakan othor semoga bisa rutin up..


Selamat membaca dan semoga menghibur..lopelope sekebon readers**..

__ADS_1


__ADS_2