
"Sepertinya calon istri saya tidak ingin berbicara apalagi memiliki urusan lagi dengan anda. Jadi silahkan pergi". Usir Gaara tanpa basa basi.
"Saya tidak ada keperluan dengan anda. Jadi saya mohon tinggalkan saya dan Nala. Saya perlu berbicara dengannya". Haikal dengan sikap keras kepalanya tetap bersikeras untuk bisa berbicara dengan Nala.
"Anda tidak melihat? Calon istri saya bahkan enggan menatap anda". Sesungging senyum miring Gaara berikan pada Haikal yang terlihat semakin tersulut emosi. Memang apa yang dikatakan Gaara adalah benar, bahkan sejak tadi pun Nala tak sedetikpun menatap padanya.
Haikal yang sudah gelap mata berjalan cepat menghampiri Nala dan menarik gadis itu dari pelukan Gaara hingga tubuhnya bertabrakan dengan Haikal.
Hilang sudah kesabaran yang sejak tadi masih coba Gaara tahan. Apalagi melihat bagaimana beraninya Haikal memegang tangan Nala dan memaksa Nala untuk berbicara dengan lelaki kutukupret itu.
"Akhhh.." Nala berteriak sambil membekap mulutnya saat melihat tubuh Haikal terpelanting cukup keras hingga tersungkur di lantai akibat pukulan keras Gaara.
Sudut bibir lelaki yang berstatus dosennya itupun mengeluarkan darah segar. Bukti betapa keras dan kuatnya pukulan yang baru saja Gaara layangkan.
"Kuping lo bu deg ya!!! Gue udah bilang dari tadi jauhin calon istri gue!!! Emang an jing lo!!!!". Hilang sudah wibawa Gaara. Ia benar-benar habis kesabaran menghadapi cecunguk menyebalkan sejenis Haikal.
Haikal yang tak terima segera bangkit dan membalas pukulan Gaara tak kalah keras. Hingga akhirnya adu jotos tak bisa terelakkan.
Nala kebingungan sendiri untuk memisahkan kedua lelaki yang tengah bertarung sengit dihadapannya. Tak ada tanda jika salah satunya mau mengalah.
Nala pun merutuki kakak dan sahabatnya terutama asisten Gaara yang menghilang entah kemana disaat genting seperti ini.
"Abang udah..." Ucap Nala yang semakin ketakutan saat melihat Gaara semakin membabi buta menghajar Haikal.
Dan saat Gaara hendak melayangkan pukulan penuh tenaga ke wajah lelaki tak tahu malu itu. Dengan cepat Nala berdiri didepan Haikal untuk menghalangi Gaara kembali memukul wajah Haikal yang sudah penuh luka.
"Kamu ngapain, La?". Ucap Gaara dengan suara gemetar menahan gejolak amarah. Ia tidak menyangka jika Nala masih membela bahkan rela berdiri menghadang tinju nya untuk melindungi Haikal.
"Udah cukup bang.." Lirih Nala melirik ke belakang, dimana Haikal tengah tersenyum penuh kemenangan lantaran mengira Nala lebih memilihnya dibandingkan Gaara.
"Kamu.." Gaara tak sanggup melanjutkan ucapannya. Terlalu sakit melihat Nala lebih memilih dan membela lelaki itu dibanding dirinya.
"Lebih baik sekarang kamu keluar!". Ucap Nala menatap Gaara yang semakin dibuat tak percaya. Sementara Haikal semakin melebarkan senyumnya, menatap remeh pada Gaara yang terlihat syok.
__ADS_1
"Tunggu apa lagi? Masih ingatkan dimana pintu keluarnya?". Gaara menggeleng pelan, masih terlalu mengejutkan melihat apa yang Nala lakukan dan apa yang Nala katakan.
Perlahan ia membawa kakinya berjalan hendak menjauh, namun belum sempat kakinya melangkah sejengkal pun. Kakinya kembali berhenti bergerak saat Nala tiba-tiba membalikkan badan menghadap Haikal.
"Apa anda tuli, pak Haikal??? Saya bilang, silahkan keluar!". Nala menunjuk pintu rumahnya yang masih terbuka.
"A-apa maksudmu, La. B-bukankah dia yang kamu suruh pergi?". Haikal yang terkejut reflek menunjuk Gaara yang kini berdiri dibelakang Nala.
"Apa anda gila? Kenapa saya harus mengusir calon suami saya sendiri?". Nala tersenyum miring sambil terus menatap tajam pada Haikal yang kini terlihat memucat.
"T-tapi La.."
"Saya sudah katakan. Saya tidak mau lagi berurusan dengan anda. Sudah cukup semua masalah yang menimpa saya karena ulah anda. Jadi dengan segala hormat, saya mohon keluar dari rumah saya. Dan jangan pernah menemui saya lagi, apapun alasan anda". Tegas Nala yang menatap serius pada Haikal.
Gaara yang masih mencoba mencerna dan memahami keadaan menjadi seperti orang linglung karena ulah Nala yang sebelumnya seolah mengusir dirinya.
"Silahkan keluar!". Usir Nala sekali lagi menunjuk pintu rumah kakaknya.
"Aku akan memberimu waktu. Aku pulang.." Haikal akhirnya pasrah, dengan menyeret langkahnya, ia berjalan perlahan dengan rasa sakit diseluruh tubuhnya akibat pukulan dan tendangan yang Gaara berikan.
Beberapa kali Haikal menoleh. Namun sayang, yang ia harapkan tak akan pernah terjadi. Bahkan Nala sudah sibuk dengan Gaara dan luka di wajah lelaki itu.
Nala melirik sedikit ke arah pintu, memastikan Haikal sudah benar-benar keluar dari rumah kakaknya itu. Setelah yakin Haikal sudah pergi, Nala pun segera berlalu ke kamarnya. Meninggalkan Gaara yang masih berdiri menatap punggungnya yang menjauh dengan segala pertanyaan dikepalanya.
Tak lama Nala kembali dengan membawa kotak obat. Gadis itu bahkan sedikit berlari menghampiri Gaara.
"Duduk". Ketus Nala meminta Gaara duduk di sofa. Namun memang dasar si kang gara-gara jahil, lelaki itu justru berdiri mematung tak mengindahkan ucapan Nala.
"Duduk abang.." Nala menekankan setiap ucapannya.
Kesal karena Gaara tak mendengarkannya, ia mendorong tubuh Gaara dengan kencang hingga tubuh jangkung lelaki itu terduduk di sofa.
"Aw..pelan-pelan dikit dong. Kasar banget sih". Keluh Gaara saat Nala menekan lukanya cukup kuat.
__ADS_1
"Nggak usah banyak protes! Yang nyuruh adu jotos siapa emang?! Sok jago!". Omel Nala sambil terus mengobati luka di wajah tampan Gaara.
"Untung masih ganteng walaupun babak belur. Nggak tau dia kalo jantung gue udah mau copot liat dia berdarah". Batin Nala menggerutu.
Bibir Nala tak hentinya mengomeli Gaara yang terlihat menarik dua sudut bibirnya. Hatinya menghangat mendapat perhatian Nala seperti saat ini.
Cup...
Gemas karena bibir Nala tak henti mengoceh, Gaara mengecup singkat bibir yang lama ia rindukan itu hingga membuat Nala mematung sesaat dengan wajah memerah.
Gaara semakin menarik keatas sudut bibirnya saat melihat pipi Nala bersemu merah. Menambah kadar kecantikan Nala.
"Tadi kenapa ngalangin aku pukul si kutukupret itu? Kadal buntung kaya gitu masih kamu belain. Segitu takutnya kalo dosen tersayang kamu itu bonyok?". Nala melotot sangar mendengar ucapan Gaara.
"Kenapa?". Tanpa rasa bersalah Gaara bertanya.
"Takut banget emang kalo dia---"
"Aku takut abang kenapa-napa! Aku nggak peduli pak Haikal mau bonyok kaya gimana juga! Aku takut abang kebablasan terus dilaporin polisi!". Bibir Gaara membentuk sebuah senyuman sempurna. Hatinya dipenuhi oleh kupukupu, perasaannya menjadi sangat bahagia mendengar ucapan Nala.
"Abang cuma mikir emosi aja, aku tuh gamau kalo sampe ab---" Nala tak mampu lagi meneruskan kata-katanya karena Gaara kembali menempelkan bibirnya dibibir Nala. Membuat Nala melebarkan matanya, apalagi saat perlahan kecupan itu berubah menjadi sebuah lu matan lembut yang membuai hingga membuatnya memejamkan mata menikmati setiap sentuhan lembut yang Gaara berikan.
Keduanya tidak tahu jika ada seseorang yang tengah melihat dan mengambil gambar dari apa yang tengah mereka lakukan.
...¥¥¥¥••••¥¥¥¥...
Sosor terooossss, sa ae si abang cari kesempatan😪😪
Modus teroos ya pokoknya bang, jangan kasih kendor pokoknya yee😂😂😂
Hayoloh siapa tu kira-kira yang ambil foto?? hmmm 🤔🤔 disuruh mikir lagi aja ya😂😂
double up buat teman teman setianya kuman sama kang gara-gara. Semoga sukaaa🥰🥰
__ADS_1