Suamiku, Kakak Iparku

Suamiku, Kakak Iparku
Melupakan sejenak


__ADS_3

Monika menatap Abi seolah meminta kepastian dari ucapan Diandra. Sudut bibirnya terangkat ketika melihat Abi melepas tangan Diamdra yang melingkar di lengan kekarnya. Namun senyum itu langsung sirna begitu melihat Abi merangkul mesra pinggang Diandra hingga tubuh keduanya rapat tanpa celah.


"Ja-jadi bener kak? D-Diandra istri kak Abi??". Dalam hati Diandra tertawa puas melihat wajah Monika berubah drastis. Dari yang tadinya terlihat begitu angkuh dan percaya diri, kini hanya tersisa wajah pias mendapati kenyataan bahwa Abi adalah suaminya. Terkadang kita harus menjadi orang jahat untuk menghadapi orang yang punya malu dan menyebalkan seperti Monika.


" Iya..Diandra adalah istriku. Wanita yang sangat aku cintai.." Diandra langsung menoleh, menatap Abi yang juga menatapnya dengan intens. Tatapan yang sama seperti saat dulu mereka masih bersama sebagai sepasang kekasih. Hati Diandra menghangat mendengarnya, terkadang hati dan logikanya tidak sejalan.


Logikanya mengatakan untuk terus membentengi dirinya agar tidak kembali terperosok dalam hubungan yang mungkin bisa kembali menyakitinya, namun hatinya selalu menghangat dan hampir luluh jika Abi memperlakukannya dengan amat lembut dan penuh kasih seperti saat ini.


Selama mereka menikah, Abi selalu menunjukkan perhatiannya, bahkan saat dirinya mengacuhkan pria itu. Abi tak pernah gentar dan terus memberi perhatian dan kasih sayang penuh pada dirinya dan Gaara. Diandra dapat merasakan jika Abi tulus mencintainya. Lalu kenapa lelaki itu tega menghianatinya jika memang begitu besar mencintainya? Haruskah ia mencari tahu sekarang?? Siapkah dirinya dengan semua kenyataan yang akan ia ketahui nantinya??


"Ta..tapi---" Sebelum Monika menyelesaikan ucapannya, Abi sudah lebih dulu memotongnya.


"Kita pulang ya sayang..kasihan Gaara menunggu kamu. Kami permisi". Diandra tersadar, ia melupakan putranya karena kehadiran Monika. Untung Abi mengingatkannya.


" Iya..kita pulang mas". Abi melepas tangannya dari pinggang Diandra dan beralih menggenggam tangan istrinya itu.


"Daaaa...Monika". Diandra melambaikan tangannya sambil tersenyum mengejek hingga membuat Monika menggeram kesal, dan Diandra suka melihat itu semua.


Keduanya berjalan mendekati pemilik acara, dan mengucapkan selamat sebelum akhirnya pamit dan benar-benar meninggalkan pesta pernikahan megah itu.


" Kamu belum makan apapun Di. Mau makan dulu??". Tanya Abi. Diandra diam sejenak, sejujurnya perutnya memang sangat lapar karena belum memakan apapun sejak siang tadi.


Ia nampak berpikir sebelum akhirnya mengangguk penuh semangat.


"Oke..kita makan dulu ya.." Abi melajukan mobilnya sesuai arahan Diandra.


Abi tersenyum ketika menyadari kemana Diandra ingin makan malam ini. Tempat makan sederhana yang dulunya menjadi tempat favorit keduanya mengisi perut ketika lapar saat malam seperti ini.

__ADS_1


"Kamu yakin mau disini saja? Tidak mau direstoran??". Diandra menggeleng, membayangkan ayam yang digoreng dan dibaluri dengan sambal yang pedas sudah bisa membuat dirinya hampir meneteskan air liurnya.


" Disini aja mas..aku udah lama nggak makan disini". Diandra sudah membuka sabuk pengamannya dan meraih pintu. Tanpa menunggu Abi, Diandra turun lebih dulu membuat Abi yang melihatnya terkekeh pelan.


Bagaimana bisa dirinya tidak jatuh hati pada gadis cantik yang begitu sederhana itu. Sejak dulu inilah salah satu yang membuat Abi begitu jatuh hati pada Diandra. Meskipun dari keluarga berada, Diandra tidak pernah memilih-milih tempat makan, bahkan makanan dipedagang kaki lima seperti ini. Diandra tidak pernah malu hidup sederhana walau dirinya bergelimang harta.


"Kamu masih tetap Diandra yang sama, sayang. Hanya kepadaku kamu bukan Diandra yang sama.." Gumam Abi menatap punggung istrinya yang berjalan semakin menjauh.


Abi membuka jasnya dan menggulung lengan bajunya sebelum turun dari mobil dan menyusul istrinya yang ternyata sudah duduk manis didalam tenda penjual ayam penyet kesukaannya itu.


Diandra melambaikan tangannya dan menunjuk kursi disampingnya. Tampilan keduanya yang tidak seperti pel*nggan yang lain menjadikan keduanya pusat perhatian pembeli yang lain.


"Sini mas.." Abi tersenyum dan mendekat.


"Aku udah pesenin..kaya biasanya kan??". Senyum Abi semakin lebar, Diandra masih ingat yang biasa ia pesan jika keduanya makan ditempat ini.


"Silahkan neng Diandra sama a Abi.. duh meuni lama teu kadieu". Diandra tersenyum pada penjual ayam penyet langganannya yang sudah begitu ia kenal.


" Iya mang..kerja dikota lain jadi jarang kesini. Mas Abi sibuk kerja".


"Silahkan atuh neng dinikmati.." Si penjual pamit undur diri setelah mempersilahkan Diandra dan Abi.


"Pelan-pelan sayang makannya. Nanti nambah kalo kurang.." Abi membersihkan sisa makanan di sudut bibir Diandra.


"Enak banget mas..ya ampun kangen banget makan disini". Tingkah Diandra membuat Abi terkekeh.


" Yaudah sekarang makan yang banyak..nanti nambah kalo mau lagi". Diandra mengangguk dan melanjutkan makannya. Ia tak menghiraukan banyaknya mata yang menatap dirinya dan Abi.

__ADS_1


"Ahhhh..alhamdulillah kenyang banget". Diandra mengelus perutnya yang terasa sangat penuh setelah berhasil menandaskan satu porsi nasi dengan dua ayam penyet.


" Kamu dari dulu makannya banyak tapi nggak jadi daging". Abi menjembel pipi Diandra lantaran gemas dengan sikap istrinya.


"Ya bagus dong..jadi aku nggak usah susah-susah diet kaya orang lain". Sahut Diandra


" Pulang yuk mas..kasihan Gaara". Ajak Diandra setelah ia menghabiskan satu gelas teh hangat yang sudah ia pesan sebelumnya.


"Aku bayar dulu ya.." Diandra mengangguk, menatap Abi yang berjalan mendekati pedagang ayam penyet untuk membayar.


"Aku ingin melupakan sejenak kesalahanmu mas..malam ini..malam ini saja, aku ingin merasakan kebahagiaan tanpa takut rasa sakit itu akan datang lagi". Gumam Diandra terus menatap Abi yang justru mengobrol dengan si penjual.


" Makasih ya mang..masakan mamang emang paling enak". Diandra menunjukkan dua jempolnya membuat si penjual terkekeh pelan.


"Hatur nuhun pisan atuh neng.."


"Sami-sami mang. Diandra pamit ya mang". Diandra dan Abi meninggalkan warung tenda sederhana yang ada dipinggir jalan yang tak terlalu jauh dari kediaman keduanya.


Diandra kembali melingkarkan tangannya dilengan Abi ketika berjalan menuju mobil yang terparkir diseberang warung tenda yang baru saja mereka datangi.


Sejujurnya Abi terkejut, namun hatinya bahagia. Ia berharap Diandra akan mau memberinya kesempatan. Atau setidaknya Diandra mau mendengarkan penjelasannya tentang kejadian malam itu.


####


Maaf ya reader, upnya belum bisa teratur..


Semoga masih setia nunggu kelanjutannya ya..terimakasih dukungannya selama ini..

__ADS_1


__ADS_2