
Sudah dua minggu Abi tidur diruang kerjanya. Permasalahan dikantornya membuat dirinya selalu membawa pulang pekerjaannya. Sepertinya ada musuh dalam selimut dikantor yang dibangunnya dengan susah payah itu.
"Masih belum ketemu masalahnya, Bi?". Papa Herman membuka suara setelah beberapa lama diam memperhatikan Abi yang kesulitan.
" Sepertinya dia orang dalam pa..sulit melacaknya". Abi mende sah frustasi. Sudah berbagai cara ia lakukan untuk menemukan siapa yang mengkorupsi uang kantornya. Namun selalu jalan buntu yang ia temui.
"Aku sudah mencurigai seseorang, tapi belum memiliki cukup bukti. Permainan mereka sangat cantik dan rapi". Lagi-lagi Abi menghela nafas lelah. Sudah berhari-hari dirinya kekurangan tidur karena memikirkan hal ini. Dan hingga kini hanya kebuntuan yang ia temui.
"Jika terus seperti ini tidak menutup kemungkinan kamu akan bangkrut". Papa Ihsan ikut ambil suara.
" Ya..Abi tahu. Abi sedang berusaha mencari buktinya pa.." Diam-diam sejak tadi Diandra yang sedang bermain dengan Gaara mendengarkan obrolan para pria.
"Sayang..mama buat kue baru. Kamu mau coba?". Mama Dita datang dengan sebuah nampan berisi kue coklat. Kue yang disukai Diandra.
Diandra hanya mengangguk saja. Kemudian mengambil kue dan mencicipinya, kue buatan ibu dan ibu mertuanya memang selalu terbaik. Dirinya mengakuinya meski hanya dalam hati.
" Gimana?? Enak nggak??". Tanya mama Ana antusias. Sementara Diandra hanya kembali mengangguk.
Kedua mama itu sudah merasa cukup bahagia dengan Diandra mau memakan kue yang mereka buat. Mungkin memang butuh banyak waktu untuk mengembalikan Diandra mereka seperti sediakala.
"Gaara sama oma yuk..mama nya biar istriahat". Mama Dita benar, sepertinya Diandra memang butuh istirahat sejenak.
" Kamu kelihatan capek..Gaara biar sama mama sama mama Ana aja.."
"Titip Gaara dulu.." Diandra hendak berlalu. Namun panggilan ibunya mengurungkan niatnya meninggalkan wanita yang telah melahirkannya ke dunia ini.
"Terimakasih untuk semuanya sayang. Dea pasti tenang diatas sana karena melihat kamu sangat menyayangi Gaara.." Diandra menatap netra sang ibu yang terlihat berembun itu.
"Ehmm..sayang.." Diandra mengangkat sebelah alisnya ketika melihat mama Ana seperti ingin menyampaikan sesuatu.
"Kalau malam ini Gaara tidur sama mama sama mama Dita boleh??". Tanya mama Ana penuh harap. Sejak kedatangan Diandra, mereka sudah jarang mengurus Gaara lantaran Diandra selalu sigap jika menyangkut Gaara.
__ADS_1
" Malam ini saja.." Jawaban Diandra bagaikan oase digersangnya gurun pasir. Keduanya mengangguk semangat seperti anak kecil yang diberikan mainan kesukaannya.
Dalam hati Diandra tersenyum melihat kelakuan dua wanita yang sejujurnya masih amat ia sayangi. Bagaimana tidak, kedua wanita itulah yang memandikannya dengan limpahan kasih sayang selama ini. Rasanya jahat jika dirinya egois dan tidak memberi kesempatan pada mereka.
"Terimakasih sayang.." Diandra hanya mengangguk menanggapi kekompakan kedua mamanya itu.
Diandra tidak dapat tidur nyenyak karena tidak ada Gaara disampingnya. Berkali-kali ia berguling kesana kemari karena merasa ada yang hilang.
"Dasar..emang labil kamu Di. Katanya benci sama ibu bapaknya, tapi baru semalem nggak tidur sama Gaara udah galau nggak bisa tidur". Diandra mencibir dirinya sendiri sambil terkekeh. Memang kuasa tuhan tak ada yang tahu. Awalnya ia bahkan ragu akan bisa menerima Gaara, namun kini?? Berjauhan sebentar dengan Gaara saja sudah membuatnya kelimpungan.
Rasa haus yang ia rasakan membuatnya berjalan keluar kamarnya. Biasanya ia akan menyimpan air putih diatas nakasnya, namun tadi ia lupa. Jadilah tengah malam ia harus keluar kamar untuk mengambil air.
Langkah kakinya terhenti saat melewati ruangan yang dijadikan Abi sebagai ruang kerjanya. Pintunya tidak tertutup rapat hingga Diandra bisa melihat jika suaminya tengah terlelap dengan kepala bersandar diatas meja.
Ia mengendikkan bahunya acuh, dan melanjutkan langkahnya menuju dapur. Namun sekembalinya dari dapur, entah mengapa ia kembali berhenti. Memorinya memutar percakapan Abi dan papanya beberapa jam lalu.
"Jika terus seperti ini tidak menutup kemungkinan kamu akan bangkrut". Ucapan papa Ihsan kembali terngiang ditelinganya.
Diandra terpaku melihat wajah tampan itu terlelap. Tak sedikitpun mengurangi ketampanan suaminya meski jelas terlihat gurat lelah diwajahnya. Justru semakin bertambah umurnya Diandra menilai Abi semakin mempesona.
Diandra menggelengkan kepalanya, mengusir pikiran-pikiran aneh yang menggelayuti otaknya. " Fokus Di..fokus". Gumam Diandra kemudian melihat tumpukan berkas yang ada dimeja Abi.
Perlahan Diandra menyingkirkan tangan Abi yang menindih berkas yang akan ia lihat. Hati-hati, sangat hati-hati Diandra menyingkirkan tangan Abi. Ia tak mau Abi tahu jika dirinya membantunya memeriksa laporan keuangan perusahaan miliknya.
Dalam sekali lihat saja Diandra sudah melihat adanya kejanggalan dalam laporan keuangan setiap bulannya. Matanya melebar melihat bukan hanya satu dua bulan kecurangan ini berlangsung. Rupanya sudah hampir satu tahun ada yang bermain api dengan uang perusahaan milik suaminya.
"Dasar bodoh. Seperti ini saja kamu tidak bisa". Cibir Diandra melirik Abi yang masih terlelap.
Diandra terus fokus dengan laporan-laporan yang ada didepannya. Menandai semua yang tidak sesuai dengan yang seharusnya agar esok Abi bisa melihatnya.
" Melisa.." Gumam Diandra melihat nama yang diberi bubuhan tanda tangan sebagai manager keuangan.
__ADS_1
Diandra tersenyum sinis, menyadari sesuatu yang mungkin saja terjadi.
"Dasar rubah licik. Kamu salah bertemu orang jika begini ceritanya". Diandra kembali fokus dengan beberapa laporan yang menunjukkan angka penurunan pendapatan perusahaan. Sangat tidak masuk akal jika dilihat dilapangan yang jelas penjualan produk perusahaan mengalami banyak kenaikan.
" Mari kita lihat sampai mana kamu mau main-main. Sekarang lawanmu adalah aku. Jangan laki-laki bodoh itu yang berhitung saja tidak bisa". Diandra kembali melirik Abi yang sepertinya sangat nyenyak.
"Bahkan keadaan seperti ini saja dia masih bisa tidur nyenyak". Diandra menggelengkan kepalanya pelan.
Sementara Diandra fokus dengan laporannya, Abi yang terbangun sejak Diandra mengambil berkas yang ada dibawah tangannya tengah fokus pula menatap wajah Diandra yang terlihat semakin cantik jika sedang serius seperti saat ini.
Bahkan ia mendengar cibiran Diandra yang sejak tadi ditujukan padanya. Bukan marah, tapi Abi justru merasa bahagia. Entah sadar atau tidak, namun Diandra menunjukkan kepeduliannya terhadap dirinya dan perusahaannya yang sudah ia rintis bertahun-tahun lalu.
" Jika bukan karena Gaara..aku akan dengan senang hati melihat kamu bangkrut dan hancur". Abi pura-pura memejamkan kembali matanya saat melihat Diandra akan menatapnya. Ia mendengarkan dengan seksama apa lagi yang akan Diandra ucapkan tentang dirinya.
"Aaahhh..menyebalkan sekali".
" Mama melakukan ini untuk kamu sayang..mama tidak mau kamu hidup susah jika sampai papamu yang tidak becus ini bangkrut. Mama tidak mau nantinya kamu menderita karena papamu tidak bisa memberikan yang terbaik untuk kamu.." Diandra menengadahkan wajahnya, membayangkan wajah tampan Gaara. Meyakinkan diri jika ia melakukan semua ini untuk putra tersayangnya.
Ia tak akan membiarkan siapapun membuat hidup Gaara menderita. Siapapun!! Bahkan jika itu adalah Abi, ayah kandungnya.
Saking fokusnya dengan banyak laporan didepannya, Diandra benar-benar tidak menyadari jika papa Herman dan mama Dita serta kedua besannya tengah mengintip didepan pintu ruang kerja Abi.
Keempatnya mengulum senyum bahagia melihat sedikit demi sedikit Diandra mulai menunjukkan kepeduliannya pada orang-orang disekelilingnya.
"Itu berarti aku harus ke kantor Abi, besok". Gumam Diandra
" Tapi apa alasanku kesana?". Diandra tampak berpikir keras. Ingin rasanya Abi bangun dan memeluk Diandra.
"Aku akan membantumu memiliki alasan untuk ke kantor.." Batin Abi tersenyum bahagia. Sepertinya malam ini ia akan bisa tidur dengan amat nyenyak.
#####
__ADS_1
gass poll nih ya, dikasih up lagi. Mumpung lagi semangat banget nulisnya..insyaallah up satu bab lagi nanti