Suamiku, Kakak Iparku

Suamiku, Kakak Iparku
Disini?


__ADS_3

"Ayo pulang Bi. Bisa digantung ama emak lo kalo ampe ketauan". Alvin terus mencoba membujuk Abi yang sudah setengah mabuk.


Sudah berjalan satu bulan Abi tak pulang ke rumahnya, setiap hari selalu ada yang datang ke kantor untuk membujuk Abi pulang. Entah itu mama Ana, papa Ihsan ataupun kedua mertuanya.


Namun rasa rindu Abi pada Diandra justru semakin membuatnya takut pulang. Ia takut jika akhirnya benar-benar tak akan sanggup melepaskan Diandra.


" Gue nggak mau lepasin dia Vin. Tapi gue nggak mau dia kesiksa ama gue". Oceh Abi


Selama dua minggu belakangan, Alvin selalu pulang larut. Alasannya tentu menjaga bosnya yang sedang galau itu. Awalnya Alvin terkejut melihat Abi mabuk, pasalnya mengenal Abi sejak masa remaja, lelaki itu tak pernah sekalipun menyentuh minuman setan itu. Tapi dua minggu ini, Abi selalu melampiaskan segala perasaannya dengan mabuk-mabukan.


"Iya udah iya gimana lu aja dah. Sekarang balik dah hayu". Abi menggeleng, membuat Alvin rasa-rasanya ingin menempeleng kepala temannya itu.


" Aduh, mak lu telpon lagi". Alvin merogoh sakunya yang terus bergetar sejak tadi. Matanya melebar saat melihat nama 'Kasta tertinggi' memenuhi layar ponselnya.


"Ayo balik. Gue masih sayang nyawa. Bisa digantung tante Ana gue". Bujuk Alvin lagi. Ia memilih mengabaikan telpon dari mama Ana daripada kena semprot tak berujung.


" Gue tempeleng juga lu Bi lama-lama ". Geram Alvin yang langsung merebut gelas berisi minuman keras yang hendak ditenggak Abi.


" Siniin Vin". Abi mencoba meraih gelas dari tangan Alvin namun Alvin menjauhkannya.


"Pulang dah ya. Bisa-bisa lu ribut lagi ama orang kalo begini". Alvin ingat betul saat pertama kali ada yang menelpon dirinya dengan ponsel Abi dan mengatakan jika pemilik ponsel pingsan setelah berkelahi dengan salah seorang pengunjung lain. Sejak saat itu, Alvin selalu mengikuti kemanapun Abi pergi meski dirinya tak menyukai tempat itu.


Alvin masih terus mencoba membujuk Abi. Hingga matanya melebar melihat sosok yang berjalan dengan wajah sangar kearah keduanya.


" Mam pus lo Bi. Gue kaga ikut-ikutan dah ini". Ucap Alvin melirik Abi yang sudah setengah sadar itu.


"Mas?!". Abi mengangkat wajahnya, matanya menyipit melihat sosok perempuan cantik yang baru saja memanggilnya mas.


" Gue belom mabok Vin. Tapi kok gue liat Diandra ya?". Abi mengoceh hingga membuat Alvin benar-benar menempeleng kepalanya agar temannya itu sadar.


"Sadar go blok!! Itu bini lu". Geram Alvin sambil nyengir.


Ya, wanita itu adalah Diandra, istri Abi. Ia datang setelah mendapat kiriman sebuah foto dari seseorang yang kebetulan juga ada disana.


Diandra mengedarkan pandangannya, mencari orang yang memberikan informasi pada dirinya tentang dimana Abi. Namun ia tidak berhasil menemukannya.

__ADS_1


" Kita pulang mas". Ucap Diandra dingin membuat Alvin merinding.


"Dia ngajak gue pulang Vin". Racau Abi membuat Alvin salah tingkah. Temannya ini benar-benar merepotkan jika sedang mabuk. Padahal belum banyak minuman yang masuk kedalam tubuh lelaki itu, Tapi karena Abi memang tidak pernah mabuk, jadi efeknya sudah sangat terlihat.


" Ya makanya lo pulang, be go". Alvin menoyor pelan kepala Abi yang justru terkekeh.


"Dia nggak mungkin Diandra gue Vin. Istri gue benci sama gue. Nggak mungkin ngajakin pulang". Kini Abi tergelak dengan cairan bening diujung matanya.


" Gue salah Vin. Gue nggak pantes buat Diandra ". Diandra tersentak melihat Abi menangis. Padahal beberapa menit lalu lelaki itu tertawa.


" Tapi gue nggak sanggup kehilangan dia lagi". Alvin yang tadi kesal hanya bisa menatap iba pada sahabatnya itu. Ia tahu betul bagaimana Abi mencintai Diandra.


"Haha..gue nyusul Dea aja gitu ya Vin? Dea pergi Vin, terus Diandra maafin dia". Abi semakin meracau tak jelas hingga membuat hati Diandra terasa sakit.


" Kalo gue mati..Diandra maafin gue kaga ya?". Pertanyaan itu lebih ia tanyakan pada dirinya sendiri. Pantaskah ia mendapat kan maaf dari istrinya.


"MAS!!". Bentak Diandra yang sudah tidak sanggup mendengar ucapan Abi.


" Bisa minta tolong bawa ke mobil kak?". Diandra menatap Alvin yang langsung mengangguk.


Sepanjang perjalanan menuju mobil, Abi tak henti meracau hingga berkali-kali Alvin mencubit lengannya.


" Makasih ya kak". Ucap Diandra saat Alvin selesai merebahkan Abi di kursi belakang.


"Nggak mau gue anter aja Di?". Tanya Alvin


" Nggak usah kak. Mas Abi udah banyak ngerepotin kakak. Biar aku urus sendiri sekarang ". Diandra tersenyum lembut


" Jangan dicekek ya Di". Seloroh Alvin membuat Diandra terkekeh.


"Nggak akan atuh kak". Balas Diandra


" Dia cinta banget sama lo Di. Gue yakin lo tau pasti soal itu". Setelah beberapa saat diam, Alvin kembali membuka pembicaraan. Sementara Diandra hanya diam, melirik Abi yang mengoceh entah apa didalam mobilnya sambil tiduran.


"Kejadian malam itu bukan salah dia atau pun Dea. Mereka dijebak, mereka sama-sama mau dimanfaatin sama orang". Imbuhnya

__ADS_1


Dari yang Alvin lihat, Diandra tidak terlalu terkejut. Artinya Abi sudah menceritakan pada gadis itu.


" Gue udah coba cari tahu siapa yang naruh obat si alan itu diminuman Abi.Tapi nggak pernah nemu jalan keluar, semua buntu". Alvin menghela nafas lelah


"Makasih kak. Aku tau kakak selalu berusaha sebaik mungkin. Sekarang kakak pulang aja, istirahat".


" Lo yakin bisa sendiri?". Tanya Alvin memastikan dan Diandra mengangguk yakin.


"Yaudah, gue tinggal ya. Kalo butuh bantuan telpon gue aja". Diandra mengangguk dan melambaikan tangannya saat Alvin melajukan mobilnya meninggalkan dirinya dan Abi.


Ia kemudian masuk kedalam mobilnya dan duduk dibalik kemudi. Namun sebelum menyalakan mesin mobilnya , Diandra melirik kursi belakang. Abi sudah tertidur walau kadang bibirnya masih mengucapkan kata maaf berulang.


Diandra menyalakan mobilnya dan mengendarainya meninggalkan tempat terkutuk yang dulu juga sering ia kunjungi saat sedang terpuruk.


" Tempat itu emang paling the best kan mas buat lupain masalah?". Tanya Diandra sambil terkekeh. Ia tahu Abi tak akan mendengar.


"Sekarang kita selesaiin masalah kita mas. Aku juga capek lari terus dari masalah". Gumamnya lagi sambil melirik kaca untuk melihat Abi.


Diandra melajukan mobilnya menuju apartemen Abi, tempat yang dulu sering ia kunjungi saat masih duduk disekolah atas.


Ia meminta petugas keamanan gedung untuk membantu dirinya membawa Abi ke unit apartemennya.


Diandra memasukkan beberapa angka dan pintu terbuka. Ia bisa bernafas lega karena ternyata Abi tidak mengubahnya hingga dirinya bisa membuka pintu apartemen.


" Terimakasih ya pak.." Ucap Diandra sambil memberikan beberapa lembar uang kertas pada petugas yang membantunya.


"Sama-sama neng. Permisi". Diandra mengangguk dan menutup kembali pintu apartemen. Ia kemudian masuk kedalam kamar Abi setelah memastikan pintu terkunci sempurna.


Ia menatap Abi yang masih memakai jas dan juga sepatunya. Dengan perlahan ia melepaskan jas dan sepatu yang dikenakan Abi. Menyeka seluruh tubuh Abi dengan air hangat dan mengganti kemejanya dengan kaos yang terlihat nyaman.


" Masih sama". Gumam Diandra saat melihat perut dengan roti sobek yang dulu ia kagumi. Atau mungkin hingga kini.


Diandra mengambil semua pakaian kotor dan memasukkannya kedalam wadah pakaian yang akan dicuci. Ia melihat sekeliling apartemen, semua masih sama, banyak foto dirinya dan Abi. Bahkan kini foto-foto itu semakin banyak.


"Disini? Disinikah semua itu berawal?". Gumam Diandra

__ADS_1


__ADS_2