Suamiku, Kakak Iparku

Suamiku, Kakak Iparku
sekarang kita pacaran?


__ADS_3

"Udah berapa kali kakak bilang. Jangan terlalu deket sama laki-laki, Ra. Ini kamu malah berduaan". Semprot Baim begitu memasuki apartemennya.


Bahkan Kara belum sempat duduk, dan sudah disemprot oleh orang yang masih bertengger paling tinggi di hatinya.


"Maksud kakak?". Tanya Kara tak mengerti kemana arah pembicaraan Baim.


"Masih tanya maksud kakak?". Tatapan itu kembali menajam membuat Kara menelan ludahnya kasar.


Sebenarnya ada apa dengan lelaki ini? Pikir Kara bingung dengan sikap Baim.


"Kak Bara?". Baim diam. Dan diamnya Baim, Kara anggap jawaban.


"Aku ama kak Bara cuma--" Kara diam tak melanjutkan kalimatnya.


"Tunggu. Kenapa kakak harus marah?". Kara merasa kemarahan Baim berlebihan kali ini. Memang kenapa jika dirinya pergi dengan laki-laki? Toh mama dan papa nya juga tahu dan mengijinkan.


"Kakak cuma nggak mau kamu kenapa-kenapa".


"Memangnya aku kenapa?". Tanya Kara dengan suara tak kalah dingin.


"Dengarkan saja apa kataku, Ra. Kenapa kamu keras kepala sekali". Suara Baim kembali naik membuat Kara terkesiap. Namun sedetik kemudian ia menyunggingkan sebuah senyum miring. Menatap jengah kakaknya.


"Kenapa?". Kara berjalan mendekat pada Baim yang dadanya terlihat naik turun dengan nafas memburu.


"Aku udah dewasa kak. Itu hak aku buat deket sama siapapun. Termasuk laki-laki manapun". Kara menekankan setiap katanya, menatap tajam lelaki yang kini juga menatap tajam padanya.


"Lengkara.." Geram Baim menahan diri agar tidak kembali membentak adiknya.


"Kakak berlebihan". Sinis Kara menatap Baim


"Berlebihan katamu?". Tanya Baim tak terima.


"Ya. Sangat berlebihan! Memangnya kenapa kalau aku pergi dengan laki-laki lain? Kenapa kakak harus seperti ini? Apa kakak tidak sadar jika kakak terus seperti ini maka kakak akan menyulitkan aku!". Teriak Kara pada akhirnya. Tak tahan juga selalu disudutkan.


"Ra.." Suara Baim terdengar melembut. Pun sorot matanya yang membuat Kara bingung dengan arti tatapan Baim saat ini.


Kara melangkah, semakin memangkas jarak antara dirinya dan Baim. Dirinya harus tegas mulai saat ini. Ia tak mau hatinya kembali terluka hanya karena perasaan sepihaknya.


"Bersikaplah seperti dulu saat aku belum mengatakan perasaanku padamu kak".


"Tapi, Ra--" Kara mengangkat tangannya. Meminta Baim diam


"Biarkan aku membuka hati untuk laki-laki lain kalau kakak tidak bisa membalas perasaanku! Jangan mengekang perasaanku dengan perhatian palsu yang kakak berikan".

__ADS_1


"Nggak gitu, Ra".


"Terus gimana?". Tanya Kara cepat membuat Baim kembali menyugar rambutnya dan menjambaknya kasar.


"Kenapa kamu nggak paham sih, Ra". Lirih Baim


"Aku? Nggak paham? Apa yang nggak aku pahami?". Tanya Kara masih berusaha tegar meskipun kini hatinya terkoyak.


"Mulai saat ini lebih baik kita saling menjaga jarak kak". Baim langsung menatap Kara tak suka.


"Seenggaknya sampe aku bisa lupain perasaan aku ke kakak". Imbuh Kara membuat mata Baim membola.


"Nggak! Nggak bisa!". Tegas Baim membuat Kara menghela nafas panjang.


"Jangan mempersulitku, kak. Aku akan berusaha melupakan perasaanku. Aku akan belajar membuka hati untuk laki-laki lain agar kakak nggak keganggu sama perasaan sepihak aku ini". Kara tersenyum miris, sungguh nasibnya sangat tidak beruntung.


"Nggak!!! Kamu nggak boleh deketin laki-laki manapun!". Tegas Baim membuat Kara jengah. Benar-benar laki-laki menyebalkan, pikir Kara.


"Kenapa enggak? Kenapa aku nggak bisa dan nggak boleh deket laki-laki lain. Aku juga mau bahagia!". Teriak Kara yang sudah kehabisan kesabaran.


"Nggak boleh!". Kara meradang. Baim tidak memberi kejelasan namun tidak mengijinkan Kara dekat dengan laki-laki lain. Sangat egois.


"Kakak nggak punya hak ngelarang aku deket sama siapapun. Dan aku akan tetep coba buka hati aku buat orang lain".


"Kamu nggak denger! Aku bilang enggak! Itu artinya nggak boleh Lengkara!!". Tegas Baim membuat Kara marah.


"KARENA KAKAK JUGA CINTA SAMA KAMU LENGKARA!!!! KAKAK NGGAK MAU ADA LAKI-LAKI LAIN SELAIN KAKAK!!!". Teriak Baim tanpa ragu dengan nafas memburu. Suara Kara yang tadinya lantang hendak menanyakan alasan Baim mengekangnya tiba-tiba menggantung di udara saat mulut Baim mengucapkan kata keramat hingga membuat tubuhnya membeku.


Kara masih mencoba menyadarkan dirinya. Mencoba memahami situasi saat ini karena suasana tiba-tiba menjadi hening.


Kedua insan yang beberapa detik lalu saling adu suara tinggi tiba-tiba diam dengan segala pemikirannya masing-masing.


Baim yang sejak lama mencoba menahan untuk tidak mengungkapkan perasaannya pada Kara akhirnya tak sanggup lagi menutupi perasaannya. Ia terprovokasi dengan segala ucapan Kara nya yang memiliki pemikiran untuk membuka hati pada lelaki lain. Dan itu berhasil membuat jantung Baim terasa dihujam ribuan tombak yang tajam.


Hanya melihat Kara dekat dengan laki-laki lain saja sudah bisa membuat Baim kalang kabut. Biarlah sekarang Kara tahu bagaimana sebenarnya perasaannya pada gadis yang satu bulan lalu berhasil membuat dunianya jungkir balik karena pengakuan cintanya yang begitu mendadak dan sangat mengejutkan dirinya.


Keduanya duduk dalam diam. Tak ada suara apapun selain dentingan jarum jam diruang tamu.


Entah apa yang tengah keduanya pikirkan saat ini. Namun suasana benar-benar terasa aneh untuk keduanya. Kara masih mencoba meyakinkan diri bahwa apa yang ia dengar bukanlah sebuah mimpi, dan Baim yang entah sedang memikirkan apa.


"Ra.." Baim membuka mulut setelah beberapa waktu keduanya diam seperti patung.


"T-tapi waktu itu kakak bilang, punya..." Kara yang sejak tadi diam berpikir dan berusaha mencerna pekataan Baim.

__ADS_1


Ia teringat saat Baim bilang pada dirinya bahwa lelaki itu memiliki seseorang yang istimewa di hatinya. Bahkan Baim berkata akan mengenalkannya pada Kara waktu itu.


"Apa kakak bohong? Kakak mengatakan memcintaiku hanya agar aku menurut". Kara menyunggingkan senyum miring saat pikirannya mengaitkan pengakuan Baim dengan perkataan Baim tempo dulu.


"Astaga.." Gumam Baim yang kini masih diam belum menatap Kara.


"Nggak perlu terbebani sama perasaan aku kak. Apalagi sampe kakak ngaku ci----" Kara tak sanggup lagi berbicara ketika sebuah benda kenyal berlabuh dibibir mungilnya. Matanya melebar sempurna merasakan sensasi yang baru kali ini ia rasakan.


"Kamu wanita spesial itu, Ra.." Baim menangkup pipi Kara dan mengelusnya lembut.


"Kak..." Lirih Kara menatap langsung mata Baim yang kini juga tengah menatapnya.


"Kakak udah coba buat kubur perasaan kakak. Karena kakak sadar status kita saat ini akan bikin kita dalam masalah kalau sampe kakak tetap memiliki perasaan itu ke kamu". Baim sudah membawa Kara ke dalam pelukannya. Terdengar helaan nafas berat lelaki pujaannya itu. Kara tahu sesulit apa memendam perasaan itu.


"Tapi kakak gagal. Semakin kakak coba lupain perasaan kakak, Kakak semakin gila dan mikirin kamu, Ra".


"Kakak kira itu cuma perasaan sayang kakak sebagai seorang kakak ke adiknya. Dan karena seringnya kita ketemu sampe bikin kakak punya perasaan itu. Makanya kakak memilih keluar dari rumah dan tinggal sendiri". Kara membekap mulutnya. Jika sejak saat itu Baim memiliki rasa padanya, itu artinya lelaki itu sudah bertahun-tahun memendam perasaannya pada Kara.


Entah harus seperti apa sekarang Kara menanggapinya. Namun jujur, hatinya sangat bahagia dan menghangat mendengar ungkapan cinta Baim.


"J-jadi maksud kakak?". Baim mengangguk dan kembali mengeratkan pelukannya.


"Udah lama kakak jatuh cinta sama kamu. Bahkan bisa dibilang dari kamu masih bocah ingusan". Baim terkekeh sementara Kara mendengus kesal.


"Terus kenapa kakak diem aja pas aku bilang cinta sama kakak?". Kara melepaskan pelukannya dan menatap Baim yang tersenyum tipis.


"Kakak takut..kakak takut nantinya kita akan terpisah karena perasaan kita. Kakak takut nggak bisa bikin kamu bahagia dan malah tanpa sengaja nyakitin kamu, Ra. Kakak takut gagal ngebahagiain kamu.." Kara kembali memeluk Baim. Menghirup dalam-dalam aroma parfum lelaki yang ternyata juga mencintainya.


"cinta gue nggak bertepuk sebelah tangan". Batin Kara bersorak kegirangan.


"Tapi aku bahagia..aku bahagia sama kakak". Baim mengulas senyum lembut sambil mendaratkan sebuah kecupan mesra di kening Kara.


"Jadi..sekarang kita pacaran?".


...•••¥¥¥•••...


Dah segini dulu..takut ueeek nanti kalo kebanyakan baca tulisan si othor amatir ini😂😂


Udah seneng ya..temen-temen online nya si santen udah seneng kan ya sekarang? Harusnya udah loh ya😅


Tapi belom kelar ya..sekarang biar duaan seneng dulu deh. Kasian dari kemaren ama othor dibikin nelangsa wae😂🤭


Karena namanya hidup, jadi abis seneng pasti nanti ada konflik lagi yak. Tapi karna balik lagi, othor kaga pinter bikin konflik yang rumit..jadi konfliknya nanti intern aja. Kasian kalo harus ada pelakor ama pebinor. Otak othor juga kayanya kaga nyaut kalo ceritanya kesono😂😂

__ADS_1


Kasian kan ya. Emak bapaknya dulu udah banyak halang rintang, masa anaknya juga iya. Takut di santet online ama reader semua aku mah😩


Yawes segini aja..selamat membaca dan semoga syukaaa. Siapa tau ntar othornya tangannya gatel terus ngasih up lagi yak🙄


__ADS_2