
Diandra menjalani hari-harinya dengan mengasuh Gaara seperti biasa. Bayi tak berdosa yang ditinggal oleh ibunya untuk selama-lamanya setelah dilahirkan, bayi dari orang-orang yang ia sayangi namun juga orang-orang yang sudah menghancurkan kehidupan dan hatinya.
Hingga detik ini Diandra masih tidak tahu alasan apa yang menyebabkan Abi dan kakaknya begitu tega menghianatinya hingga lahirlah Gaara. Namun ia juga enggan mencari tahu kenyataan.
Abi tetap bersikap baik dan selalu memberi perhatian pada Diandra, meskipun semua perhatiannya tak ada yang bisa mengubah sikap Diandra terhadap dirinya, namun Abi tetap berusaha mendapatkan maaf dari Diandra.
"Mau sarapan Di?? Biar aku ambilkan". Abi hendak mengambil piring Diandra, namun Diandra menepis pelan tangan Abi.
" Aku bisa sendiri. Berhentilah bersikap baik padaku". Ucap Diandra dingin.
"Atau aku akan melupakan kesalahanmu dan memaafkanmu. Aku tidak mau kembali mencintaimu. Meski kenyataannya aku memang masih mencintaimu". Imbuhnya dalam hati.
" Aku hanya ingin kamu tahu kalau aku benar-benar ingin memperbaiki hubungan kita. Aku benar-benar minta maaf Di..aku tahu kesalahanku terlalu besar untuk kamu maafkan, tapi aku---"
"Berhentilah meminta maaf jika kamu sadar kesalahanmu terlalu besar untuk bisa aku maafkan". Potong Diandra cepat membuat Abi bungkam.
Selalu seperti ini saat dirinya mencoba membuka percakapan dengan Diandra. Dirinya berharap bisa menjelaskan segala sesuatunya pada Diandra, namun sepertinya hati Diandra sudah mati untuk dirinya.
" Setidaknya biarkan aku menjadi suami yang baik untukmu Di..aku tidak akan menyakitimu lagi, aku berja----"
"Dulu pun kamu baik, sangat baik. Bahkan kebaikanmu bisa membuatku jatuh cinta, tapi ternyata kamulah orang yang paling menyakitiku. Orang baik dan perhatian bukan jaminan jika dia tidak akan menyakiti orang lain". Abi selalu merasa tertampar dengan setiap kalimat yang dilontarkan Diandra untuknya.
Sementara mbok Tun yang mendengar percakapan kedua majikannya hanya bisa menatap sedih dengan keadaan keduanya. Mbok Tun sudah tahu apa yang terjadi pada malam dimana Abi dan Deanita terjebak hubungan itu, namun dirinya hanyalah seorang pembantu yang merasa tidak pantas jika terlalu ikut campur urusan majikannya.
Jika ada yang menanyakan dimana keberadaan kedua orang tua Abi dan orang tua Diandra, maka jawabannya kedua pasang orang tua itu sengaja sering pergi keluar kota dengan tujuan memberikan waktu untuk Abi dan Diandra agar bisa kembali seperti dulu. Namun sepertinya rencana mereka belum bisa berjalan mulus, bahkan setelah 6bulan pernikahan keduanya.
" Aku hanya ingin memperbaiki hubungan kita, Di.." Lirih Abi
"Berhentilah mencoba memperbaiki sesuatu yang tidak mungkin kembali pulih" Diandra mempercepat makannya, ingin segera menjauh dari Abi.
Abi menatap nanar punggung Diandra yang berjalan menjauhinya. Hatinya sakit setiap kali Diandra menjauh darinya. Apa mungkin dirinya memang tidak bisa mendapatkan kesempatan kedua??
"Sabar ya mas Abi.." Abi menoleh ketika sebuah tepukan lembut mendarat dibahunya.
__ADS_1
"Simbok tahu pasti berat..tapi simbok tahu non Diandra juga pasti sulit posisinya". Abi tersenyum menatap mbok Tun. Ia tahu jika wanita tua itu begitu dekat dengan istrinya.
" Saya tahu mbok..saya paham kalau terlalu sulit untuk memaafkan kesalahan saya dan Dea". Abi memaksakan senyumnya untuk menutupi perasaan sedihnya.
"Non Diandra pasti akan memaafkan saat tahu yang sebenarnya terjadi mas Abi". Mbok Tun berusaha menenangkan Abi yang tampak sedih.
Tanpa keduanya tahu, Diandra yang hendak mengambil ponsel nya yang tertinggal dimeja makan mendengar percakapan keduanya.
" Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa bahkan mbok Tun yakin aku akan memaafkan kesalahan mereka saat aku tahu kebenarannya". Diandra masih berdiri dibalik tembok.
"Saya juga berharap Diandra mau mendengar cerita saya mbok..tapi dia selalu pergi saat saya ingin membicarakannya". Keluh Abi pada mbok Tun.
" Pasti sulit mas..posisi non Diandra juga ndak mudah. Mas Abi harus lebih sabar ya..simbok yakin mas Abi bisa".
"Apa saya juga harus menyusul Dea mbok?".
" Astagfirullah..ndak boleh ngomong begitu mas". Mbok Tun terkejut dengan apa yang dikatakan Abi.
" Ini tidak adil mbok..Diandra menyayangi Gaara benar-benar seperti putranya sendiri. Diandra juga memaafkan Dea, lalu saya harus bagaimana mbok?". Terlihat jelas jika Abi bersedih.
Disisi lain Diandra merasa ada benda tajam yang menghujam jantungnya ketika mendengar ucapan Abi. Kenapa sekarang justru seolah dirinya yang menjadi penjahat disini??
Kematian Dea masih menyisakan perih dihatinya. Dan apa ini?? Mengapa Abi juga membahas kematian? Siapkah dirinya jika Abi benar-benar pergi menyusul kakaknya untuk mendapatkan kata maaf darinya? Diandra bertanya pada hatinya sendiri.
Diandra berkali-kali menghela nafas dan menghembuskannya perlahan untuk mengembalikan perasaan nya.
Suara tangisan Gaara membawa dirinya kembali pada kesadarannya. Ia segera berlalu sebelum mbok Tun maupun Abi menyadari jika sejak tadi ia mencuri dengar semua percakapan keduanya.
"Sudah bangun hm??". Diandra segera menghampiri box bayi Gaara. Disana putranya sudah tengkurap.
Diandra menggendong tubuh Gaara dan menimangnya dengan penuh kasih sayang.
" Apa mama terlalu kejam pada papa sayang?". Diandra bertanya pada putranya yang jelas belum memahami pertanyaannya itu.
__ADS_1
"Apa mama harus memaafkan papa?". Tanyanya lagi.
"Apa yang harus mama lakukan sayang?". Tanpa Diandra sadari ia menangis sambil memeluk tubuh Gaara.
" Di.." Diandra segera menghapus air matanya saat suara Abi terdengar didepan pintu kamarnya.
"Ya.." Teriak Diandra menyahuti.
Diandra berjalan dengan Gaara didalam gendongannya. Perlahan ia membuka pintu kamarnya, dan benar saja Abi sudah berdiri disana dengan setelan kerjanya.
"Aku pergi dulu ya.." Pamit Abi. Inilah keseharian rutin keduanya. Abi akan berpamitan pada Diandra dan istrinya itu akan mengantarnya sampai dipintu.
Diandra mengambil alih tas kerja Abi saat melihat Abi hendak mengambil tubuh Gaara darinya.
Keduanya berjalan beriringan menuruni tangga. Jika ada orang lain yang melihat, tidak akan ada yang tahu jika hubungan keduanya tidak lah sedekat itu.
"Papa pergi dulu ya..Gaara jangan nakal sama mama dirumah". Abi menghujami wajah putranya dengan kecupan bertubi-tubi hingga putranya terkekeh karena kegelian.
" Aku pergi dulu Di.." Abi mengecup lembut kening istrinya dan memberikan tubuh Gaara pada Diandra.
Sementara Diandra mengambil tangan Abi dan mencium punggung tangan suaminya itu. Benar-benar seperti keluarga harmonis.
"Tunggu.." Abi yang sudah melangkah menghentikan kembali langkahnya dan berbalik. Ia melihat Diandra berjalan mendekati dirinya, Sementara putranya sudah diletakkan didalam strollernya.
Abi membeku saat Diandra merapikan dasinya yang rupanya sedikit berantakan. Hatinya menghangat meski ia tidak berani berharap lebih dengan sedikit perhatian yang Diandra berikan itu.
"Sudah.."
"Terimakasih sayang.." Abi menarik Diandra dan memeluknya sambil mengecupi pucuk kepala Diandra.
"Aku akan berusaha dan terus berusaha mendapatkan maaf darimu Di..apapun akan aku lakukan. Aku mohon berikan aku kesempatan". Diandra membeku mendengar ucapan Abi yang terdengar amat tulus. Namun Diandra takut mempercayainya.
" Aku pergi dulu.." Diandra melotot kesal saat Abi mencuri ciuman dibibirnya. Sementara Abi berjalan dengan riang meninggalkan Diandra yang mulutnya tak henti mengomel atas ulahnya.
__ADS_1