Suamiku, Kakak Iparku

Suamiku, Kakak Iparku
kembar aneh


__ADS_3

Baik Abi dan Diandra maupun Gaara dan Baim meminta si kembar untuk fokus pada ujiannya. Gaara dan Baim bahkan turun tangan sendiri mengawasi dua anak yang tak pernah akur itu saat belajar. Meski memiliki otak yang cerdas, namun tetap saja kedua anak itu harus belajar agar bisa mendapatkan nilai yang memuaskan.


Baim menghela nafas. Ia memijit pangkal hidungnya melihat kedua adiknya sudah saling sikut saat belajar. Baim bingung, mengapa Kara sangat bersikap kekanakan jika dekat dengan Raffa. Padahal gadis itu selalu bisa dewasa dan menenangkan dirinya jika sedang ada permasalahan.


"Buku lo yang itu b*go". Kara menunjuk buku disamping kanan Raffa.


"Ini punya gue. Yang itu baru punya lo". Gaara yang baru bergabung dengan Baim mendengus kesal. Hanya masalah sesepele buku, dua anak itu sudah mengibarkan bendera perang.


"Lo berdua belajarnya pisah aja dah!!". Si kembar mendongak, menatap Gaara yang mengawasi mereka.


"Ogah". Seru keduanya kompak membuat Gaara kembali mendengus.


"Daripada belajar berdua lo ribut mulu. Kaga bakal ada materi yang narep di otak lo berdua. Tiap belajar ribut mulu". Baik Raffa maupun Kara mendengarkan sambil bibir mereka komat-kamit meledek Gaara.


"Gue iket lama-lama ya bibir lo berdua". Gertak Gaara yang kesal karena kedua adiknya justru meledek saat ia memarahi keduanya.


"Abang kalo nungguin kita berdua belajar ngomel mulu ih. Liat tuh kakak, dari tadi adem ayem aja.." Cibir Kara menatap sinis Gaara kemudian menatap Baim penuh cinta hingga membuat Gaara memutar matanya jengah.


"Dia juga tertekan liat lo berdua ribut. Cuma males aja kalo ngomelin ntar pacarnya yang masih bocah ngambek". Balas Gaara dengan senyum mengejek hingga membuat Kara mendelik kesal.


"Kakak.." Rengek Kara dengan suara manjanya membuat Raffa maupun Gaara menatap jengah dirinya.


"Jangan ribut terus. Belajar yang bener..besok hari terakhir kan?". Kedua anak kembar itu menganggukkan kepalanya.


"Belajar yang bener. Ntar gue kasih hadiah kalo nilai lo berdua memuaskan". Raffa dan Kara sama-sama berbinar mendengar penawaran Gaara.


"Beneran?". Gaara mengangguk mantap pada dua adiknya. Sebenarnya, tanpa harus memaksa keduanya belajar seperti saat ini, Raffa dan Kara pasti mendapat nilai bagus. Tapi keluarganya tidak ingin si kembar merasa jumawa dan besar diri hingga menyepelekan pelajaran.


"Janji ya bang?". Kara menatap serius Gaara yang kembali mengangguk.


"Gue pegang janji elo bang". Gaara kembali menganggukkan kepalanya. Berharap kedua adiknya fokus belajar. Namun ia salah..bocah kembar itu justru sibuk menanyakan perihal hadiah apa yang akan diberikan jika nilai keduanya memuaskan.

__ADS_1


"Udah buruan pada belajar. Ngomong mulu". Cibir Gaara karena kedua adiknya justru sibuk menanyakan hadiah apa yang akan ia berikan nantinya.


"Yaelah, galak amat. Nanya doang juga". Keluh Kara didukung anggukan kepala oleh Raffa.


"Lo juga diem deh. Kalo lo masih jawab mereka, ya mereka pasti ngomong lagi". Lama-lama Baim juga jadi sewot karena kedatangan Gaara bukannya membantunya mengawasi duo bocah nakal itu malah justru semakin membuat keduanya senang berbicara.


"Tuh dengerin kata kakak". Ucap si kembar kompak membuat Gaara mendengus.


Diandra dan Abi yang sejak tadi hanya menjadi penonton dan pendengar keributan anak-anaknya hanya tersenyum. Saat-saat seperti inilah yang kelak akan mereka rindukan saat semua anaknya sudah memiliki keluarga masing-masing.


.


.


Kara dan Nala sudah cantik dengan kebayanya. Sementara Raffa nampak tampan dan gagah dengan kemeja yang dibalut jas berwarna hitam yang melekat sempurna ditubuhnya yang sudah terbentuk.


"Kalo nilai gue lebih bagus dari elo, siap-siap aja pala lo gue bikin benjol". Kedua anak kembar itu berjalan beriringan diikuti Nala dibelakang mereka yang hanya bisa menggeleng pelan.


"Kita liat aja. Gue rasa sih pala lo yang bakal benjol". Kara menarik keatas sebelah bibirnya hingga membentuk senyum miring. Menatap saudara kembarnya penuh permusuhan.


Bagaimana bisa keduanya melakukan kesepakatan, siapapun yang nilainya lebih tinggu, maka yang nilainya lebih rendah harus bersiap merasakan sentilan sepuluh kali tepat dikening. Masih sangat tidak masuk akal untuk Nala.


"Inget ya perjanjiannya. Yang kalah harus traktir yang menang sepuasnya". Peringat Kara saat mengingat masih ada lagi kesepakatan yang lain selain saling menyakiti.


"Gila!", Umpat Nala menatap kedua sahabatnya dengan tatapan herannya.


Hari ini adalah pembagian hasil kelulusan, dimana mereka juga akan mengetahui nilai mereka setelah menempuh ujian beberapa hari kemarin. Para orang tua sudah mulai berdatangan dan masuk ke dalam aula besar sekolah yang sudah diubah sedemikian rupa hingga menjadi tempat wisuda bagi para siswa siswi kelas XII.


"Gue pastiin elo yang bakal kalah". Sengit Raffa membuat Kara terkekeh. Selama ini nilai keduanya memang selalu bersaing. Bahkan terkadang nilai keduanya seri.


"Kalo kalian nilainya sama mau gimana?". Celetuk Nala yang sudah jengah mendengar perdebatan keduanya.

__ADS_1


"Udah biar adil, kalo ampe nilai lo berdua seri. Sentil tu jidat sodara lo 5x masing-masing. Terus biar kaga iri, lo berdua yang traktir gue". Nala menyeringai membuat Kara dan Raffa mengangguk karena belum paham arah pembicaraan Nala.


Sementara Nala tersenyum penuh kemenangan. Memang kalau orang cerdas dihadapkan dengan orang cerdik, akan tercipta seperti Nala dan si kembar itu.


"Kok lo ngangguk". Ucap Kara saat Nala berjalan mendahului mereka dan sebelumnya menepuk pundak keduanya beberapa kali.


"Lo juga kenapa ngangguk?". Kara dan Raffa saling menatap bingung. Dan beberapa saat kemudian keduanya memekik kesal memanggil sahabatnya yang tertawa didepan sana.


"KUMAN!!!!". Teriak Kara dan Raffa saat menyadari keduanya menjadi korban kejahilan Nala.


"Pinter pelajaran doang mereka mah. Otaknya suka lola kalo mikir kaya gue". Gumam Nala sambil mempercepat langkahnya karena takut si kembar akan mengejarnya.


"Kalo gini kan gue yang untung. Makan banyak plus gratis". Nala terkikik membayangkan wajah kesal dua sahabatnya.


Sementara dibelakang, Raffa dan Kara masih terus mengumpati sahabat mereka itu.


Nala lebih dulu memasuki aula lebih dulu disusul si kembar yang bibirnya terus cemberut.


Tak berselang lama, acara dimulai. Kara dan Raffa tersenyum saat menatap kedua orang tuanya yang datang untuk mereka.


Guru yang saat ini sedang membawakan acara memulai acara dengan berdoa bersama dilanjutkan dengan sambutan-sambutan.


Hingga tiba saatnya pengumuman tentang siapa siswa berprestasi yang menempati peringkat satu umum, Kara dan Raffa mulai saling lirik. Sejujurnya keduanya gugup, bukan karena takut jika keningnya akan terkena sentilan atau sekedar mentraktir makan saudara dan sahabatnya. Namun gugup dan takut jika sampai nilainya tidak memuaskan dan mengecewakan kedua orang tuanya yang sudah sangat berjasa bagi mereka berdua.


Nala tersenyum, perdebatan kedua anak kembar itu terhempas entah kemana. Yang Nala lihat saat ini, tangan keduanya saling menggenggam dan saling memberi kekuatan satu sama lain.


"Dasar kembar aneh". Gumam Nala tersenyum geli.


...---•••---...


Hai hai haiii semuaaaah..gimana kabarnya? Semoga sehat dan masih setia sama cerita santen dan semua kehidupannya..

__ADS_1


Setelah othor berpikir, kayanya cerita ini mau di end aja..cukup sampai cerita Kara dan Baim aja. Takut ceritanya terlalu memaksakan kalau aku ceritain si sarap ama si abang disini juga..


Semoga kalian masih suka walaupun udah mau end ya.. happy reading


__ADS_2