Suamiku, Kakak Iparku

Suamiku, Kakak Iparku
se frekuensi


__ADS_3

Matahari menyapa bumi dengan sinarnya yang hangat. Membuat seorang gadis yang masih asyik dengan selimutnya menggeliat karena terpaan sinar mentari.


Kara, gadis cantik yang selalu membuat mama nya bernyanyi setiap pagi. Sama seperti pagi ini, entah mengapa Kara yang sebenarnya sudah bangun memilih bergelung dibawah selimut dan menunggu sang mama mengomel. Mood booster kalo kata si santen mah😅


"Lengakaraaaaaa!". Suara melengking sang mama membuat dua sudut bibir Kara terangkat.


"Pagi duniaaa.." Sapa Kara dengan mata masih terpejam dan bibir menyunggingkan senyum manis.


Tak lama pintu kamarnya terbuka, menampakkan sosok lelaki yang menggelengkan kepalanya melihat Kara masih bersembunyi dibawah selimut meski sebenarnya sudah bangun.


"Karaaaaa bangun kamu...amit-amit pusan kamu tuh jadi anak perawan kedul banget sih!!!". Diandra kembali berteriak, namun Kara membuka matanya. Kenapa suaranya terdengar sangat jauh, padahal pintu kamarnya sudah terbuka.


Mata Kara melebar saat ia mendudukkan tubuhnya. Bukan sang mama yang berkacak pinggang didepan pintu kamarnya namun seorang pria tampan yang sudah rapi dan sangat..wangi.


"Kamu kenapa sih usilnya nggak udah-udah. Kakak tahu ya, kamu udah bangun dari tadi. Kenapa nggak langsung bangun aja? Kenapa nunggu mama teriak-teriak?". Lelaki yang tak lain adalah Baim berjalan mendekati ranjang sang adik yang langsung beringsut turun dari atas ranjang.


"Gapapa..ini mau mandi kok". Kara yang hendak melarikan diri dari Baim harus menelan kecewa karena Baim sudah lebih dulu memegang lengannya.


"Kamu marah sama kakak, Ra?". Tanya Baim lembut membuat Kara menghela nafas panjang. Kenapa kakaknya ini sangat tidak peka? Tidakkah Baim tahu jika Kara tengah berusaha mati-matian meredam perasaannya pada Baim yang semakin hari semakin menggila?


"Enggak kak. Aku lupa pagi ini aku piket. Aku harus pergi pagi". Kara melepaskan tangannya dan segera berlari ke kamar mandi.


"Huh..gimana mau lupa kalo kakak selalu lembut ke aku. Coba kakak kaya abang apa enggak si Rapa. Aku bisa gampang lupain kakak.." Gumam Kara yang masih bersandar pada pintu kamar mandi yang tertutup.


Sementara Baim menatap nanar pintu kamar mandi yang tertutup itu. Sungguh tak ada niatannya mengekang apalagi melarang Kara dekat dengan siapapun, dirinya hanya khawatir.


"Udah bangun belum adik kamu?". Tanya Diandra yang sibuk menata meja makan.


"Lagi mandi ma.." Sahut Baim membuat Diandra mengangguk.


"Abang kalo bangunin yang berperikemanusiaan dikit napa sih. Sadis amat bangunin adek sendiri juga". Diandra menoleh ke tangga. Nampak Raffa dan Gaara yang berjalan bersisian dengan mulut Raffa yang terus mengomel.


"Gue bangunin udah pake segala cara segala metode ampe segala rumus gue terapin. Emang dasar elo ama si santen aja yang kedul nya kaga ada duanya". Semprot Gaara membuat Raffa mendengus kesal.


"Huft..yang satu adem. Yang sebelah ribut..emang susah". Gumam Diandra membuat Baim yang sudah duduk di meja makan tersenyum tipis.


"Pagi semuaaaa.." Sapa Kara dengan wajah ceria. Seperti itulah Kara, meskipun marah dan kesal tidak akan bertahan lama. Ia akan kembali menjadi Lengkara yang ceria dan berisik.


"Aku langsung pergi ya ma.." Kara menyambar selembar roti yang baru Diandra olesi selai coklat.


"Duduk sayang.." Peringat Abi yang melihat putrinya makan sambil berjalan.

__ADS_1


"Aku mau langsung berangkat pa.." Kara mencium pipi cinta pertamanya itu.


"Tumben lo buru-buru, santen?". Tanya Raffa bingung. Ia melirik jam tangannya, masih ada sekitar 40menit sebelum bel berbunyi.


"Kesurupan setan apaan lo jadi rajin?". Diandra melotot seram pada Gaara yang hanya nyengir.


"Ish, dasar. Punya sodara kaga ada yang bener. Pergi pagi diomongin, pergi siang apalagi. Maunya abang ama Rapa tuh Kara kudu gimana???".


"Udah ah, mubadzir tenaga ngeladenin kalian. Kara pergi dulu,.assalamualaikum". Kara berlalu setelah mencium punggung tangan kedua orang tuanya.


"Aku anter Kara dulu ma, pa". Baim segera bangkit dan menyusul Kara yang sudah lebih dulu keluar.


"Eh.." Kara terkejut saat tangannya ditarik oleh seseorang. Lebih terkejut lagi saat melihat siapa yang menarik tangannya.


"Kakak anter. Nggak pake nolak". Kara mendengus. Selalu seperti itu, pikir Kara.


Meskipun kesal, Kara menurut dan masuk kedalam mobil sang kakak. Duduk dengan tenang di kursi penumpang tanpa menatap si sopir tampan disebelahnya.


"Kamu gapapa Ra?". Kara menoleh sekilas.


"Gapapa? Gapapa kenapa emangnya kak? Aku baik-baik aja kok". Jawab Kara sedikit bingung.


"Lupain aja..nanti pulang jam berapa?". Tanya Baim


"Nanti kakak jemput. Jangan pulang sebelum kakak dateng. Oke?". Kara menoleh lagi, dan tatapannya bertemu langsung dengan mata tajam sang kakak.


"Kalo repot nggak usah maksain kak.."


"Nggak sama sekali repot. Jadi dengerin ya, nanti tunggu sampe kakak jemput". Kara mengangguk patuh. Tak ingin terlalu lama berdebat.


"Belajar yang bener ya..jangan bikin ribut". Kara kembali mengangguk, mengambil tangan sang kakak dan mencium punggung tangannya seperti biasa. Namun Kara mematung saat Baim mengecup keningnya sesaat.


"Gih masuk..katanya piket pagi kan?". Kara tersadar, buru-buru ia keluar dari mobil tanpa mengucapkan sepatah katapun.


Kara berjalan dengan pikiran menewarang, tadinya ia berpikir Baim memiliki sedikit rasa padanya dengan kecupan singkat itu. Ia lupa jika sang kakak sering melakukannya.


"Woiii!!! Pagi-pagi udah ngelamun aja si lo, Ra, Ra. Mati bengong lo lama-lama". Mulut tak berfilter milik sahabatnya memang sangat menyebalkan.


"Diem deh lo. Gue kepret juga lama-lama". Semprot Kara membuat Nala terbahak. Mengganggu sahabatnya yang sedang mabuk cinta adalah hal menyenangkan baginya.


"Lengkara?!". Kara menghentikan langkahnya, mencari sumber suara yang menyerukan namanya.

__ADS_1


Mata Kara membola melihat siapa yang berjalan dengan gagahnya mendekat ke arahnya. Pun dengan Nala yang sama terkejutnya.


"Kak Bara?". Seru keduanya kompak membuat Bara yang sudah berdiri dihadapan keduanya terkekeh pelan.


"Dasar upin ipin. Apa-apanya selalu barengan". Ledek Bara membuat kedua gadis didepannya mendengus kesal.


"Kakak ngapain disini?". Lagi! Pertanyaan itu keluar dari mulut Kara dan Nala membuat Bara semakin terbahak.


"Kata gue juga lo berdua tu udah kaya kembar. Apa-apanya sama, sepemikiran, se frekuensi somplaknya". Tawa Bara semakin pecah melihat wajah masam Kara dan Nala.


"Tadi sih sempet terpesona, soalnya ganteng. Sekarang kaga jadi deh. Ganteng-ganteng ngeselinnya juara". Cibir Nala yang justru membuat Bara semakin keras tertawa.


"Selamat menikmati ketampanan gue ini setiap hari. Karna mulai sekarang, gue jadi akamsi". Nala dan Kara memekik bersamaan. Tak menyangka akan satu sekolah lagi dengan Bara.


"Serius??". Tanya keduanya dijawab anggukan kepala oleh Bara.


"Gue harus ke kantor guru dulu. Ntar istirahat ketemu di kantin ya. Gue belom ada temen". Kara dan Nala kembali mengangguk dan membalas lambaian tangan Bara.


"Ganteng ya, Ra". Ucap Nala membuat Kara menoleh.


"Ganteng lah. Laki". Sahut Kara cuek


"Ganteng kak Bara tau, Ra. Daripada kak Baim". Kara langsung melotot tak terima.


"Mata lo periksain. Ganteng kak Baim kemana-mana lah". Sengit Kara


"Soal penilaian gantengnya cowo, sorry Ra. Kita nggak se frekuensi". Cibir Nala meninggalkan Kara yang melongo mendengar ucapan Nala.


"Wooiii kuman!! Main tinggal-tinggal aja lo". Teriak Kara mengejar Nala yang sudah lebih dulu berjalan.


Kara terus berlari karena Nala berjalan dengan cepat meninggalkan dirinya.


"Gila sih, Lo jalan apa lari". Nafas Kara terdnegar ngos-ngosan.


"Dasar nenek-nenek. Lari bentar aja udah ngos-ngosan". Kara mencebik mendengar Nala meledeknya.


"Eh Ra.." Kara menoleh pada Nala


"Jadi gimana kemaren pesta kejutannya?". Tanya Nala penasaran. Pasalnya Kara tidak menghubungi dirinya selepas siang kemarin. Pesannya pun tak ada yang Kara balas membuat Nala penasaran.


"Kayanya kak Baim udah punya calon pacar deh".

__ADS_1


"Ra..." Nala merasa tak enak karena membuat Kara sedih.


"It's oke. Gue aman kok.." Kara menampilkan senyum palsu. Dan Nala tahu pasti itu hanya senyuman palsu yang sengaja Kara buat untuk menutupi luka hatinya saat ini.


__ADS_2