Suamiku, Kakak Iparku

Suamiku, Kakak Iparku
se tan


__ADS_3

Sudah beberapa hari Nala kembali tinggal bersama kedua orang tuanya dan kakak perempuannya.


Sang ibu benar-benar mencurahkan seluruh kasih sayang dan perhatiannya pada Nala. Segala yang Nala sukai selalu ia masak setiap harinya. Untunglah sang kakak tidak terlalu mempermasalahkan dengan sikap sang mami. Justru ia ikut merasa bahagia karena akhirnya adiknya kembali tinggal bersama mereka meski hingga kini mereka tak mengetahui apa alasan Nala kembali.


"Waaaa..ayam saus asam manis nih". Wajah Nala berbinar. Mulut dan perutnya benar-benar dimanjakan selama berhari-hari ini.


"Hari ini mulai kuliah sayang?". Nala mendudukkan dirinya disamping sang ayah.


"Iya pi.."


"Kamu urus semuanya sendiri sayang?". Kini sang ibu yang bersuara membuat tangan Nala yang hendak meraih ayam kesukaannya menggantung di udara.


"Enggak mi..ada temen yang bantuin urus semuanya". Nala memberikan sang ibu senyum terbaiknya.


"Kenapa dek? Gagal move on ya? Makanya balik kesini?". Melly mulai menggoda sang adik membuat Nala mencebik kesal.


"Sorry ya..aku udah seribu persen move on". Ucapnya bangga. Namun kedua orang tua dan kakak serta kakak iparnya justru menertawakannya.


"Kenapa pada ketawa? Nggak percaya?". Kesal Nala yang membuat Melly gemas.


"Iya deh iya..percaya aja. Ya kan mi? Pi?", Kedua orang tuanya mengangguk. Namun Nala justru semakin kesal karena tatapan menggoda kedua orang tuanya.


"Makan dek..makan. Kasian itu makanan kamu pelototin mulu". Melly mencoba menahan semyumnya agar sang adik tidak bertambah kesal.


"Nyebelin". Gumam Nala sambil tangannya aktif mengambil ayam favoritnya.


"Assalamualaikum..Mamiiiii...papiiiiiii.." Nala menghela nafas panjang. Urusan dengan sang kakak belum usai, kini ditambah tamu tak diundang yang datang.


"Waalaikumsalam..." Sahut semua orang kompak.


"Lengkara..sini sayang. Ikut makan sekalian". Ajak mami Nita yang langsung disambut antusias Kara.


"Wah pas nih..Kara emang belum makan sih tadi mi". Kara nyengir membuat Nita tersenyum sementara Nala mendengus.


"Ngapain pagi-pagi udah kesini?". Tanya Nala sambil kemudian menyuapkan sesendok nasi ke dalam mulutnya.


"Nala kenapa sih mi? Pagi-pagi sensi banget. Disamperin malah sewot". Mami Nita hanya tersenyum sambil mengendikkan bahunya menjawab pertanyaan Kara.


"Jangan diganggu Ra. Temen kamu lagi PMS kayanya". Melly angkat suara membuat Nala mendelik kesal pada sang kakak.

__ADS_1


"Pantesan aja galak. Sama aja kaya abang. Berhari-hari hobinya amuk-amukan mulu kak. Pusing aku jadinya". Nala terdiam sebentar, ia baru ingat jika sejak kedatangannya ke kota ini. Belum sekalipun Gaara menemui dirinya. Sesibuk itukah lelaki itu? Atau memang Gaara tak tahu keberadaannya?


"jodoh kayanya ya Ra". Ucap Melly yang langsung dijawab anggukan kepala oleh Kara.


"Pusing ya kak. Saling cinta tapi gengsi. Dulu ngejar, yang dikejar nggak peka-peka ama perasaannya. Sekarang udah sadar, yang ngejarnya udah kadung kesel". Kelakar Kara yang membuat Melly dan suaminya serta kedua orang tua Nala terkekeh. Karena benar apa yang Kara katakan.


"Yaaah..pantes nggak komentar kak. Bengong orangnya". Semua orang kompak menatap Nala yang terlihat melamun sambil mengaduk nasi dipiringnya.


"Dooorrr!". Kara menepuk bahu Nala yang langsung berjingkat karena sejak tadi pikirannya melayang memikirkan Gaara.


"Ngelamun aja sih. Buruan makan, udah siang. Ntar kita telat malah didepak keluar ama dosen". Nala mencebik dan melanjutkan makannya. Ingin sekali menendang sahabatnya keluar dari rumah.


"Mami, nanti pulang kampus aku ajak Nala belanja ya? Boleh kan???". Mami Nita langsung mengangguk mengizinkan.


"Nih.." Andre, sang papi menyodorkan sebuah kartu kredit pada Nala dan Kara.


Kedua gadis itu menatap kartu yang diberikan papi Andre secara bersamaan dengan alis berkerut.


"Khusus hari ini, kalian bebas belanja pake kartu papi. Anggep aja kalian lagi bernostalgia karna udah lama nggak ketemu". Binar kebahagiaan jelas terpancar dari wajah dua gadis itu.


Secepat kilat Nala memasukkan kartu yang diberikan sang ayah kedalam dompetnya. Ia takut sang ayah berubah pikiran. Karena selama ini sang ayah terkenal teliti mengenai pengeluaran.


"Makasih papi.." Ucap Kara tulus


"Kita berangkat dulu ya pi..mi.." Pamit Nala dan Kara bersamaan setelah tadi mencium punggung tangan papi dan mami secara bergantian.


"Daaa kak Melly.." Melly melambaikan tangannya membalas lambaian tangan Nala dan Kara.


"Assalamualaikum". Seru keduanya sebelum keluar rumah.


-----


"Aaaah..kangen banget deh sama kampus ini". Nala menghirup udara sedalam-dalamnya. Menikmati suasana pagi dikampus yang menyimpan banyak cerita bagi dirinya.


"Cus masuk..pengen cepet-cepet siang. Biar bisa ngemall". Ucap Kara yang membuat Nala semakin bersemangat.


"Santen.." Kara yang berjalan disebelah Nala menoleh dengan alis terangkat seolah bertanya ada apa.


"Kenapa nggak dianter kak Baim?", Tanya Nala penasaran.

__ADS_1


"Lagi sibuk dia bantuin papa". Nala mengangguk, namun sesaat kemudian ia ingat seseorang yang lama tak ia ketahui kabarnya.


"Ra..."


"Hmm..." Kara berdehem menanggapi panggilan sahabatnya.


"Kabar ayah Abram gimana?", Kara langsung berhenti, menoleh untuk menatap wajah Nala.


"E cieeeee...masih inget aja ama calon mertua". Nala berdecak sebal karena Kara justru menggodanya.


"Biar gimanapun aku pernah deket sama beliau, Ra. Cuma nanyain kabarnya aja". Nala memalingkan wajah. Namun begitu, tak akan pernah berhasil menyembunyikan kebenaran isi hatinya dari Kara.


"Ayah baik-baik aja. Kemarin sempet dirawat karena tiba-tiba pingsan". Nala segera menatap Kara.


"Kenapa??". Tanya Nala cemas


"Stres mikirin abang. Disuruh nikah kaga nikah-nikah. Ayah pengen gendong cucu". Wajah Nala berubah pias.


"Tenang. Abang nggak akan mau nikah kalo nggak sama kamu". Nala kembali menatap Kara. Kini ia memberikan tatapan tajamnya pada sahabat yang justru terbahak melihat temannya melotot.


"Udah sih La. Aku tau kamu sama si abang sama-sama cinta. Kasih kesempatan lah buat si nggak peka itu". Nala menghela nafas panjang. Percuma menutupi perasaannya didepan Kara. Semua itu akan sia-sia saja.


"Bantu aku, La". Nala menatap intens Kara yang tiba-tiba minta bantuannya.


"Bantu ngusir setan di kantor nya si abang. Nick udah kuwalahan ngadepin setannya". Alis Nala berkerut mendengar kata setan.


"Aku juga takut kalo ama setan. Ngapain nyuruh aku". Nala masih belum paham.


"Setan yang dulu coba kamu usir masih ada di kantor abang. Susah bikin ming gat nya itu setan. Setannya udah kebal ama doa-doa". Nala semakin bingung, namun sesaat kemudian ia paham tentang setan yang tengah dibahas oleh Kara saat ini.


Sosok yang membuatnya memilih mundur itu ternyata masih ada disekitar Gaara. Membuatnya semakin enggan untuk kembali membuka hatinya untuk lelaki yang tak memiliki ketegasan itu.


"Nggak mau urusan ama setan model begituan. Buang tenaga ama bikin makan ati". Nala melenggang meninggalkan Kara yang justru tersenyum penuh arti. Entah kali ini rencana apalagi yang dimiliki si santen sachet itu.


...¥¥¥•••¥¥¥...


Double up nih yaaaa...semoga suka dan nggak bosen karna ceritanya gitu-gitu aja. Mau selow saja ceritanya biar panjaaaang😂😂😅


Jadi mudah-mudahan pada nggak eneg sama cerita othor ini..

__ADS_1


Makasih banyak yang selalu setia dan terus dukung othor amatir ini🙏🏻🙏🏻🙏🏻


Dan maaf juga kalo komen suka nggak di bales. Tapi semua komen dibaca kok..makasih ya semuaaaa🙏🏻🙏🏻💐💐🥰


__ADS_2