
"Semoga kelak anak kalian semua disini tak merasakan apa yang kami alami disini. Pasti nantinya kalian akan menuntut sekolah bukan? Kalau anaknya dibully habis-habisan bahkan hampir dilecehkan" kesal Grizz dengan suara yang bergetar.
Grizz menahan tangisannya agar terlihat kuat didepan semua orang yang menghinanya dulu. Isabella pun begitu, padahal mereka selalu menghindari semua orang-orang sok berkuasa itu namun malah tetap dicari-cari. Memang dasarnya mereka yang ingin mencari gara-gara dengan keduanya.
Apalagi kini para guru semua memilih menundukkan kepalanya. Tak berani melihat Grizz yang sepertinya sudah menyadarkan mereka dengan ucapan-ucapan pedasnya. Grizz dan Isabella kini langsung saja mendekat kearah teman-teman seangkatannya.
"Kalian... Apa kalian tak ada sedikit saja rasa manusiawi atau kasihan pada orang yang kalian bully? Tahu nggak kalian rasanya dijambak rambutnya" ucap Grizz yang langsung menjambak rambut gadis yang dulu membullynya itu.
Arrghhh....
Lepas...
"Ditampar kaya gini" ucapnya.
Plakk...
"Ditendang perutnya" serunya.
Dugh...
Argghhh...
"Sakit bukan? Itu juga yang aku rasakan selama sekolah disini" teriak Grizz.
Grizz bahkan langsung mempraktikan semua yang pernah ia alami itu kepada orang yang membully dirinya dulu saat masih sekolah secara langsung. Semua siswa yang melihat adegan pembullyan hampir sama dengan apa yang ada di tayangan LCD itu benar-benar hanya bisa meringis ngilu.
Mereka yang belum pernah melihatnya tentu hanya bisa mengelus dadanya sabar sekaligus berharap kelak takkan pernah mendapatkan kejadian seperti ini. Sedangkan yang melakukannya sudah menelan salivanya kasar seakan apa yang menanti didepan itu sebentar lagi akan terjadi pada diri mereka sendiri.
__ADS_1
"Paman, suruh polisi masuk" seru Grizz memberi perintah.
Ternyata Alex sudah menghubungi pihak yang berwajib untuk bekerjasama dalam mengungkap kasus pembullyan di sekolah ini. Semua orang yang ada disana sontak saja ketakutan karena mendengar ucapan dari Grizz itu. Ingin mereka menyangkal kalau Grizz berbohong, namun semua pintu langsung terbuka dan pihak kepolisian langsung masuk. Mereka menggiring semua orang yang ada di aula itu untuk keluar kemudian dimasukkannya dalam mobil polisi.
Tolong...
Lepaskan kami...
Kami tak bersalah...
Berbagai seruan minta tolong dan minta dilepaskan tentunya membuat keheningan malam itu menjadi riuh seketika. Bahkan acara yang seharusnya baru saja dimulai ternyata harus berakhir sebelum mulai. Tentunya banyak awak media langsung membuat siaran langsung juga mencari informasi tentang kejadian ini.
Para warga sekitar yang tadinya berbondong-bondong untuk melihat acara perpisahan itu walaupun hanya dari layar besar yang ada di luar ruangan juga begitu riuh. Walaupun sudah melihat dari layar, namun mereka masih tidak paham dengan apa yang sebenarnya terjadi.
"Sebenarnya ada apa, pak? Mengapa semuanya digiring ke kantor polisi" tanya seorang wartawan.
"Dugaan adanya pembullyan yang dilakukan semua murid dan guru sekolah ini. Nyonya Alex sendiri korbannya karena dulu pernah bersekolah disini sebelum pindah" ucap salah satu polisi.
"Tuan Alex... Nona Grizz... Konfirmasinya mengenai kejadian ini."
"Bagaimana komentarnya ini, tuan Alex? Mengapa sang istri bisa mengalami hal ini."
Teriakan-teriakan dari awak media tak dihiraukan oleh mereka. Anak buah Alex bahkan langsung membuat pagar di kanan dan kiri keduanya agar mereka bisa berjalan lebih leluasa. Anak buah Alex bahkan hampir terdorong-dorong oleh warga dan awak media yang ingin mendekati mereka.
Kejadian malam ini menjadi viral karena semua media eletronik dan sosial membagikan beberapa part penggalan bagaiamana pembullyan itu terjadi. Bahkan sekolah ini juga menjadi terkenal karena semua guru, karyawan, dan sekolahnya diciduk anggota kepolisian saat sedang melakukan acara perayaan kelulusan.
"Grizz... Anakku" teriak seorang wanita yang juga berada disana.
__ADS_1
Grizz mendengar itu bahkan Alex juga namun mereka sama sekali tak mempedulikannya. Bahkan kini keduanya langsung masuk dalam mobil yang sudah disiapkan anak buah Alex. Grizz pun menarik tangan Isabella agar ikut masuk dalam mobil itu. Pasti nanti Isabella akan dikejar oleh para awak media jika tak masuk dalam mobil.
***
"Kak, kayanya itu ibu deh" ucap Grizz yang duduk disamping Alex.
Isabella sendiri duduk di kursi penumpang dengan keadaan canggung. Ia bingung harus melakukan apa pasalnya kini Grizz juga terlihat begitu tegang. Alex pun begitu jadi ia lebih memilih diam saja. Saat Grizz bertanya kepada Alex pun Isabella memilih untuk diam dan mendengarkan.
Setelah berhasil keluar dari area sekolah itu, mobil yang dikendarai Alex itu melaju dengan kecepatan sedang. Semua anak buahnya juga segera pergi meninggalkan sekolah untuk mengawal atasannya. Sedangkan Luis dan Felix kini sudah ada di kantor polisi untuk mengurus kasus ini.
"Biarkan saja. Apa kamu mau menemuinya? Paling juga manggil karena ingin duitnya kamu" ucap Alex dengan nada sedikit datar.
"Tentu tidak" ucap Grizz dengan penuh keyakinan.
Alex hanya menganggukkan kepalanya kemudian memberi kode pada Grizz untuk mengajak bicara temannya yang berada di kursi penumpang. Grizz pun langsung mengalihkan pandangannya kearah kursi belakang menghadap kearah Isabella yang tersenyum kepadanya.
"Rumah kamu dimana, Bella? Ini biar kita antar pulang sekalian" tanya Grizz sambil tersenyum.
"Turunkan aku didepan saja. Mobil nggak bisa masuk daerah perkampunganku soalnya" ucap Bella dengan sedikit malu.
Grizz menganggukkan kepalanya. Lagi pula ia tak ingin terlalu jauh mencari tahu tentang dimana alamat rumah Isabella karena takut menyinggungnya. Terlebih ia juga tahu kalau kondisi temannya ini tak jauh beda dengan dirinya di masa lalu sebelum bertemu dengan Alex. Tak berapa lama, mobil berhenti didekat halte bus yang sampingnya ada gang masuk area perkampungan.
"Terimakasih atas tumpangannya, tuan Alex dan Grizz" ucap Isabella sambil tersenyum.
"Sama-sama. Oh ya... Ini ada sedikit oleh-oleh untukmu dan keluarga" ucap Grizz sambil menyerahkan sebuah amplop coklat.
Isabella ingin menolaknya namun Grizz malah menatapnya dengan tajam pertanda pemberiannya tak boleh ditolak. Akhirnya Isabella menganggukkan kepalanya pasrah kemudian turun dari mobil. Alex membunyikan klakson setelah Isabella turun kemudian melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
__ADS_1
"Semoga kelak aku bisa mendapatkan seorang suami yang baik seperti Grizz menemukan tuan Alex. Bahagia selalu Grizz" gumam Isabella yang masih melihat mobil Alex yang sudah perlahan menjauh.
Isabella melihat amplop cokelat yang ada ditangannya ini dengan penasaran. Ia mencoba untuk mengintipnya dan matanya membelalak kaget hingga ingin melempar amplop itu. Ternyata isinya berupa uang yang entah berapa jumlahnya karena sangat tebal.