
Grizz berjalan masuk ke area sekolahnya dengan langkah riangnya. Bahkan dengan cerianya ia melompat-lompat kecil membuatnya seperti anak kecil terlebih gadis itu menata rambutnya dengan dua kunciran di kanan dan kirinya. Saat melompat kecil tentunya rambut akan bergoyang kanan dan kiri membuatnya sangat mirip seperti anak kecil yang akan bermain.
Semua siswa yang melihat kedatangan Grizz setelah dua hari tak berangkat sekolah mulai menatap horor kearah gadis itu. Terlebih mereka masih mengingat kejadian di ruang kepala sekolah yang begitu mengerikan itu. Mereka juga berpikir bahwa Grizz juga merupakan kenalan dari Alex dan Luis yang terkenal dalam dunia bisnis.
"Grizz..." panggil seorang gadis yang berlari dari arah belakang tubuhnya.
Grizz membalikkan badannya dan melihat Dara tengah berlari mengejarnya. Grizz mendengus kesal melihat tingkah temannya itu yang katanya dingin dan galak namun saat bersamanya berubah 180 derajat. Bahkan tak ada tuh dingin-dinginnya, yang ada hanya menyebalkan menurutnya.
"Ya ampun, capeknya..." keluh Dara saat sudah sampai tepat dihadapan sahabatnya itu.
"Yang suruh lari-lari juga siapa?" tanya Grizz sambil geleng-geleng kepala.
Melihat wajah polos seperti tanpa bersalah itu pun membuat Dara seketika kesal. Bahkan ia langsung menarik tangan Grizz agar segera pergi dari sana karena Dara melihat adanya tatapan-tatapan tak suka mengarah pada gadis itu.
"Kenapa Grizz ditarik-tarik ini? Kaki Grizz pendek lho ini" protesnya.
Dara yang mendengar protesan itu tak peduli, yang terpenting baginya adalah sahabatnya itu terhindar dari tatapan-tatapan yang seakan ingin memakannya hidup-hidup. Bahkan Grizz juga tak peka bagaimana dengan cara siswa-siswa disana menatapnya dengan intens.
Dara membawa Grizz kearah halaman belakang sekolah yang sepi. Tak berapa lama, keduanya sampailah disana dengan Grizz yang memegang erat tangan Dara. Sepertinya Grizz ketakutan berada di halaman belakang sekolah ini yang tampak sangat sepi.
"Grizz takut, Dara. Nanti kalau ada tiba-tiba ada poci lewat terus kuntilnanak gelantungan diatas pohon besar itu gimana" panik Grizz.
Mendengar ocehan temannya itu membuat Dara menutup telinganya. Ia malas mendengarkan ocehan Grizz yang begitu membuat telinganya terasa sakit. Tak berhenti mengoceh juga, sebelah tangan Dara langsung membekap mulut Grizz agar segera menghentikan ucapannya.
__ADS_1
"Udah diam, nggak ada kaya gituan disini" ucap Dara yang kemudian mengapit kepala sahabatnya agar segera duduk di kursi yang tersedia disana.
"Huh... Huh... Huh... Dara mah jahat, Grizz nggak bisa nafas ini. Nanti kalau Grizz meninggoy, Dara nangis lho" ucap Grizz sambil menetralkan pernafasannya.
Dara mendengus kesal dengan ucapan Grizz yang tak berfaedah. Pasalnya dia hanya membekap seidkit bahkan masih ada celah dalam mulut dan hidungnya untuk bernafas. Lebay sekali sahabatnya ini. Namun tiba-tiba saja Dara menatap serius kearah temannya itu.
"Grizz sekarang harus jawab pertanyaan Dara biar aku setiap hari nggak mimpiin ini terus-terusan" ucap Dara serius.
"Dara mimpiin Grizz? Wah... Itu tandanya Dara selalu kangen sama Grizz sampia terbawa mimpi" ucap Grizz dengan percaya dirinya.
Dara hanya bisa menghela nafasnya sabar menghadapi gadis polos seperti Grizz ini. Ia mengelus dadanya pelan karena teramat kesal dengan ucapan Grizz yang terlalu percaya diri.
"Bukan itu. Sekarang jawab pertanyaan Dara, kamu ada hubungan apa dengan Tuan Alex dan Tuan Luis? Dan kemana aja kamu selama dua hari nggak masuk sekolah?" tanya Dara secara langsung.
"Emm... Dara, bentar lagi bel masuk akan berbunyi. Ayo masuk ke kelas" ajak Grizz mengalihkan perhatian.
Namun Dara yang masih kukuh ingin mengetahui sebenarnya yang terjadi pun langsung mencekal pergelangan tangan Grizz. Grizz yang sudah berdiri dan akan pergi pun langkahnya langsung tertahan karena tangannya yang dipegang oleh Dara.
"Jawab dulu pertanyaanku Grizz kalau kamu masih menganggapku sebagai teman" ucap Dara sambil menatap tajam kearah temannya itu.
Terlalu banyak misteri dalam kehidupan sahabatnya itu membuatnya takut kalau suatu saat kepolosan gadis itu dimanfaatkan oleh oranglain. Terlebih ada Alex dan Luis yang ada didekat Grizz membuatnya takut karena kedua laki-laki itu sangatlah berbahaya menurutnya. Berada disamping kedua laki-laki itu berarti harus siap menghadapi musuh mereka yang bertebaran dimana-mana.
Grizz yang mendengar hal itu tentunya memandang Dara dengan mata berkaca-kaca. Grizz yang baru pertama kalinya mendapatkan seorang sahabat tentunya akan sedih jika harus kehilangan Dara. Ia sangat takut kesepian seperti kehidupannya dulu, sepertinya ia sudah sangat nyaman dengan hidupnya saat ini.
__ADS_1
"Jangan tinggalkan Grizz, Dara. Grizz baru pertama kali punya teman di sekolah, kalau Dara ngejauhin aku nanti aku temenan sama siapa? huhu" lirih Grizz sambil menangis.
Dara membeku seketika mendengar ucapan dari Grizz. Sepertinya nasibnya sama dengan Grizz yang tak pernah punya teman di sekolah. Namun ia tak menyangka jika ancamannya pada Grizz membuatnya ketakutan seperti ini. Bahkan Grizz kini sudah memeluknya dengan erat seperti takut ditinggalkan.
"Iya, Dara nggak akan ninggalin Grizz. Sekarang duduk dulu yuk" ajak Dara menenangkan sahabatnya itu.
"Benar ya Dara nggak akan ngejauhin Grizz? Kalau sampai pergi awas aja nanti lengannya Grizz cubit sampai biru-biru" ancam Grizz dengan mata sembabnya.
Dara menganggukkan kepalanya sambil terkekeh pelan. Ia tak dapat menyembunyikan tawanya melihat wajah lucu Grizz jika sehabis menangis. Hidung dan kedua pipinya terlihat memerah bahkan matanya yang bulat berair itu membuatnya mirip seperti seorang boneka.
"Sayang Dara banyak-banyak" lanjutnya yang kemudian memeluk sahabatnya itu dengan erat.
***
"Jadi kamu mau jawab pertanyaanku nggak?" tanya Dara yang masih penasaran.
"Iya Dara. Sebentar ya, Grizz mikir dulu mau mengawali ceritanya darimana. Soalnya nih ceritanya agak rumit kalau dijelaskan" ucap Grizz sambil berpikir.
Dara gemas bukan main dengan tingkah Grizz ini. Sedari tadi ia terlihat mengulur waktu untuk menjawab pertanyaannya namun ia akan terus menunggunya. Sedangkan Grizz sendiri sampai lupa dengan sekolahnya yang sudah masuk waktunya belajar. Dara merasa acuh jika harus dimarahi karena bolos, namun ia yakin Grizz akan terbebas dari hukuman jika ketahuan tak ikut pelajaran.
"Jadi Grizz kemarin nggak berangkat karena pilek habis main air sama maid" jawab Grizz memulai ceritanya.
Dara mendengarkan itu dengan seksama. Ia yakin jika Grizz adalah gadis polos yang jujur jadi ceritanya tak mungkin mengarang bebas seperti dirinya.
__ADS_1