Takdir Cinta Gadis Pelunas Hutang

Takdir Cinta Gadis Pelunas Hutang
Demam


__ADS_3

Mendengar ucapan Erga, sontak rasa kantuk mereka langsung lenyap seketika. Bahkan mata mereka langsung melotot kemudian menatap kearah Grizz. Bibi Yun langsung menempelkan tangannya pada kening sang anak.


"Astaga... Ini demamnya tinggi sekali" seru Bibi Yun dengan raut khawatirnya.


"Biar aku panggil tuan yang semalam, bu" ucap Erga yang langsung sigap ingin mencari Alex.


Erga segera turun dari ranjang kemudian keluar dari kamarnya, sedangkan Bibi Yun mencari kain yang bisa digunakan untuk mengompres kening gadis itu. Dara langsung mengambil air sedangkan Nenek Umi mencari obat-obatan.


***


Erga berlarian di tangga sampai akhirnya sampai di lantai 1. Nafasnya sudah ngos-ngosan karena berlari hingga saat sampai di lantai bawah langsung menghela nafas berulangkali agar bisa menetralkan sesak didadanya. Setelah dirasa cukup membaik, mata Erga menelisik kearah sekitar villa untuk mencari keberadaan orang-orang yang bekerja disini.


Setelah berpikir panjang, akhirnya Erga memutuskan untuk ke dapur karena tadi ia sedikit mendengar ada orang yang sedang berbicara disana. Dan benar saja saat sampai di dapur ia melihat tiga orang yang tadi ada juga di kamar atas saat Grizz sedang histeris.


"Tuan, tolong. Kakak Grizz demam" serunya tanpa basa-basi saat melihat ketiganya.


Ketiganya yang hendak menyeruput kopi panas yang ada di cangkirnya pun langsung menghentikan gerakannya. Ketiganya sontak menolehkan kepalanya kearah seseorang yang tiba-tiba berteriak tadi.


"Jangan bercanda" ucap Alex dengan nada datarnya.


Wajah Erga hanya menampilkan tatapan polosnya namun terlihat kalau dia tengah panik dan khawatir. Melihat tatapan tajam dari Alex membuatnya sedikit takut namun ia harus bisa mengumpulkan keberaniannya. Ia tak mau usahanya untuk berlari sampai ke lantai bawah itu sia-sia saja.


"Erga nggak bohong. Ayo buruan, itu tadi kak Gri'z juga ngigau" ucapnya sambil berusaha meyakinkan mereka.


Luis dan Felix yang melihat kalau Erga berkata jujur pun langsung saja meletakkan cangkirnya dengan kasar diatas meja. Bahkan mereka langsung menarik tangan Alex agar segera menuju kamar Bibi Yun. Alex masih merasa linglung dengan apa yang terjadi.

__ADS_1


Luis langsung menarik Alex agar segera mengikutinya setelah Felix memilih menggendong Erga. Ketiganya segera berlari naik melalui tangga kemudian masuk kedalam kamar. Saat sesampainya disana, terlihatlah Bibi Yun yang sedang mengompres kening Grizz dengan kain dibantu Dara. Sedangkan Nenek Umi menyiapkan air putih dan obat begitu pula dengan minyak angin.


"Nak, bangun dulu yuk. Minum obatnya" ucap Bibi Yun sambil menepuk pipi Grizz dengan pelan.


"Dingin..." ucap Grizz lirih.


Bahkan kini tubuhnya sudah dibalut oleh dua selimut tebal namun gadis itu sedari tadi masih mengeluh kedinginan. Bibi Yun menatap beberapa orang yang baru saja masuk kedalam kamar.


"Lex, kamu bawa Grizz ke kamarmu. Buka baju kalian bagian atas lalu peluk dia. Konon dengan adanya kontak fisik bisa membuatnya nyaman dan demamnya bisa berangsur turun" saran Bibi Yun.


Alex menganggukkan kepalanya mengerti. Ia segera menggendong Grizz kemudian berlari kearah kamarnya. Ia segera meletakkan Grizz diatas kasurnya kemudian menutup pintu kamarnya.


"Semoga iman gue kuat" gumam Alex.


Setelah terbuka sepenuhnya, Alex segera membuka baju bagian atasnya kemudian segera berbaring disamping Grizz. Sesuai arahan dari Bibi Yun, ia segera memeluk istrinya itu dengan erat. Seketika rasa panas menjalar dari tubuh sang istri kedalam tubuhnya.


"Mana kenyal-kenyal gini pula. Tahan ya tong, besok kalau Grizz udah siap baru kamu masuk ke tempatmu" gumamnya.


Daripada memikirkan yang tidak-tidak, Alex memilih untuk memejamkan matanya sambil memeluk Grizz. Grizz yang merasa nyaman juga terus membalas pelukan suaminya. Bahkan ajaibnya, Grizz tak lagi mengigau seperti tadi.


***


Pagi menjelang, matahari sudah menampakkan sinarnya. Namun dua insan pengantin baru itu masih tertidur dengan lelap di kasurnya. Bukan karena sehabis melakukan malam pertamanya, namun semalam tidur keduanya sangatlah malam. Terlebih insiden teror dan demam Grizz itu.


Tak berapa lama, Alex terbangun terlebih dahulu dibandingkan dengan Grizz. Alex mengerjapkan matanya berulangkali kemudian memeriksa suhu badan istrinya. Alex sedikit menghela nafasnya lega saat merasakan jika demam Grizz sedikit turun.

__ADS_1


Alex segera memakaikan baju Grizz dengan pelan-pelan agar gadis itu tak terganggu tidurnya. Bahkan ia sedikit menutup matanya karena tak ingin jika nanti malah kebablasan. Setelah perjuangan begitu panjang, akhirnya Alex berhasil memakaikan atasan Grizz.


"Huh... Jadi panas gini ya" gumamnya.


Alex segera masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Tak berapa lama ia langsung keluar dari kamar mandi. Melihat Grizz masih tertidur, ia akan membiarkannya saja. Alex memilih keluar dari kamar untuk memanggil Bibi Yun.


"Bu, Grizz masih tidur. Tolong nanti bangunkan untuk sarapan, Alex ada jadwal meeting pagi ini" ucap Alex saat melihat Bibi Yun ada di dapur.


"Baiklah, Lex. Sarapan dulu" ucap Bibi Yun yang melihat Alex akan segera pergi.


"Tidak usah, bu. Perjalanan dari sini ke kantor jauh, kalau sarapan dulu bisa telat nanti" tolak Alex.


Tanpa mempedulikan ucapan Alex, Bibi Yun dengan sigap memasukkan nasi goreng buatannya dalam kotak makan. Ia segera menyerahkannya pada Alex yang hendak pergi itu. Bahkan Bibi Yun sampai harus berlari mengejar Alex yang sudah meninggalkan dapur.


"Bawalah ini dan makan di mobil. Urusan Grizz serahkan pada kami disini. Nanti kalau demamnya tak turun, biar kami bawa ke rumah sakit terdekat" ucap Bibi Yun meyakinkan.


Bibi Yun tahu ada kekhawatiran dalam mata Alex saat akan meninggalkan Grizz dalam kondisi sakit. Namun ia harus tetap bekerja karena ada banyak masalah di perusahaannya akibat orang dalam. Alex menganggukkan kepalanya kemudian berlalu pergi bersama Luis.


"Lix, jaga villa ini dengan teliti. Kalau ada sesuatu yang darurat, hubungi aku atau Luis. Aku percayakan keselematan orang-orang di villa ini padamu juga yang lainnya" titah Alex dengan tegasnya.


"Baik bos" jawab Felix dengan tak kalah tegas.


Alex dan Luis segera saja masuk dalam mobil yang sudah disediakan kemudian kendaraan itu melaju dengan kecepatan tinggi menuju perusahaannya. Ia percaya pada Felix dan anak buahnya yang bisa diandalkan untuk menjaga Grizz serta yang lainnya.


Ia hanya bisa berharap saat dirinya bekerja tak ada sesuatu yang bahaya. Terlebih kondisi Grizz yang masih sakit semoga saja demamnya tak bertambah tinggi.

__ADS_1


__ADS_2