
Alex menghubungi Grizz kalau selama dua hari ke depan takkan pulang ke rumah. Begitu juga dengan Nando, Nicho, dan Josh. Mereka takkan kembali pulang malam ini namun tetap harus berpamitan pada Grizz. Mereka tak ingin kalau sampai Grizz khawatir pada semuanya karena tidak berpamitan.
Sejak tinggal bersama dengan Grizz, gadis itu sudah seperti emak-emak. Ia akan selalu mengabsen setiap orang yang tinggal bersamanya. Kalau ada satu saja yang tidak ada di rumah saat makan malam, ia langsung menghubungi yang bersangkutan. Akhirnya mereka membuat peraturan untuk selalu menghubungi Grizz jika tak pulang.
"Udah loe absenin kan gue?" tanya Nicho bertanya pada Alex.
"Udah, loe tenang aja. Semua aman sesuai absen" ucap Alex sambil terkekeh pelan.
Mereka menganggukkan kepalanya mengerti. Pasalnya Grizz akan mengomeli mereka kalau sampai tak memberi kabar. Mobil yang dikendarai oleh Nando itu melaju dengan kecepatan tinggi. Alex, Josh, dan Nando sudah mengerahkan semua anak buahnya untuk berkumpul di markas utama.
Mereka akan melakukan penyerangan pada orang yang menjadi dalang dari apa yang dialami oleh Grizz. Mereka ingin menangkap dan memberi pelajaran kepada orang itu agar tidak lagi mengganggu kehidupan Grizz. Jika memang tak menyukai Alex, biarlah mereka menyakiti dan melakukan balas dendam kepadanya.
Mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi selama hampir dua jam itu langsung memasuki sebuah gerbang yang terbuka dengan sendirinya. Setelah masuk gerbang, terlihat halaman luas dari sebuah gedung yang begitu megahnya. Gerbang yang hanya bisa dimasuki oleh beberapa kendaraan yang telah didaftarkan sebelumnya.
"Semuanya sudah berkumpul sesuai dengan rencana" ucap Nicho sambil membaca percakapan di grup khusus anak buahnya.
"Baguslah. Kita harus cepat dalam melakukan tindakan ini. Jangan sampai kita lengah dan musuh malah sudah membuat rencana baru untuk menghancurkan kita" ucap Alex sambil menganggukkan kepalanya.
Tentu saja Nando dan Josh juga menganggukkan kepalanya setuju dengan apa yang diucapkan oleh Alex. Mereka memang dituntut harus bergerak cepat dalam menyelesaikan masalah ini agar tak ada korban yang berjatuhan. Keempatnya turun dari mobil kemudian berjalan memasuki area gedung.
Tak berapa lama berjalan, mereka sampai di aula pertemuan yang ada di gedung itu. Mereka segera masuk membuat semua anak buah dari Alex, Nando, dan Josh segera berhenti berbicara. Mereka semua menghadap kearah depan saat melihat ketua kelompoknya sudah berjajar diatas panggung.
__ADS_1
"Saya minta untuk kalian semua agar bisa membantu kami menangkap seseorang yang lumayan berkuasa di dunia bawah. Walaupun kemampuannya di bawah kami, namun kita tak boleh menyepelekannya. Terlebih anak buahnya begitu banyak" ucap Alex dengan nada datarnya.
"Saya ingin kita semua menangkap orang itu. Untuk hukuman apa yang akan dia terima, itu biar menjadi urusan saya. Pesan saya untuk kalian semua, selalu berhati-hati dalam melaksanakan tugas ini. Kita tak tahu kalau ada jebakan atau tiba-tiba mereka mempunyai kekuatan lebih dari oranglain" lanjutnya.
"Siap, tuan" seru semuanya dengan tegas.
Pasalnya Alex tak ingin kalau sampai semua anak buahnya malah terluka akibat dari penyerangan ini. Terlebih mereka sudah ia anggap sebagai bagian dari dirinya. Kalau mereka sampai terluka, hal itu bisa membuat ia merasa sangat bersalah.
"Saling jaga antar sesama biar tak ada yang terluka. Pokoknya kita harus pulang dalam keadaan selamat" seru Nando memperingatkan.
"Siap" seru mereka semua.
Mereka merasa dihargai dan dijaga saat bergabung sebagai anggota dari keempatnya. Bahkan uang yang diberikan pada mereka melebihi harapan selama ini. Hal ini juga yang membuat semua anak buah keempatnya setia dengan kelompoknya. Hampir tak ada pengkhianat selama keempatnya menjabat sebagai ketua.
Hanya butuh waktu 20 menit saja menuju markas lawan. Bahkan lawan sepertinya tak menyadari akan kehadiran mereka. Pasalnya markas terlihat sangat sepi dan tak ada penjagaan yang berarti. Namun bukan berarti mereka bisa dengan seenaknya masuk tanpa waspada. Justru dengan sepinya keadaan markas, mereka harus semakin waspada akan jebakan yang mungkin saja ada di sana.
"Kita kepung markas ini. Ingat, waspada dan saling jaga" ucap Alex dengan sedikit pelan pada semua anak buahnya.
Mereka semua menganggukkan kepalanya mengerti kemudian mengepung markas dari segala sisi. Mereka saling mengingatkan untuk tak terlalu dekat atau menginjak sebuah gundukan tanah. Pasalnya bisa saja kalau di sana ditanam oleh sebuah ranjau atau bom.
"Ternyata ada bom-bom kecil di sini" gumam Alex yang langsung memotong kabel dengan alat yang ia bawa.
__ADS_1
Begitu juga dengan Nando, Nicho, dan Josh. Mereka memimpin pasukannya masing-masing dan memberantas semua kabel yang warnanya hampir sama dengan tanah. Sehingga kalau malam tak terlihat sama sekali karena gelap. Beruntung Alex dan ketiga sahabtnya orang yang begitu jeli dengan hal-hal seperti itu.
"Tuan, kita dobrak saja pintu belakang. Sepertinya ada orang di sana. Soalnya ini kaya ada bau masakan" ucap salah satu anak buah Alex.
Alex menganggukkan kepalanya setuju. Mereka tak mungkin menyergap dari belakang karena bukanlah pengecut. Tentu mereka ingin langsung menyerang dari depan dan menikam semuanya secara gentle. Mereka harus berhadapan secara langsung agar bisa tahu wajah lawannya seperti apa.
Brakkk...
"Sialan..." desis seseorang yang terlonjak kaget di balik pintu belakang gedung.
Alex dan anak buahnya masuk melalui pintu belakang dengan cepat. Mereka tak ingin kalau sampai ada orang yang kabur karena melalui sambungan earphone, ternyata Nando, Josh, dan Nicho juga sudah bergerak masuk dalam markas itu.
Tentu saja orang yang tadi tengah membuat mie instant itu matanya melotot tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Bahkan makanan yang ada di panci itu sampai ia lemparkan kearah anak buah Alex.
Brakkk...
Prank...
Ia juga langsung berlari pergi dari sana setelah panci itu ditangkis oleh anak buah Alex hingga terbentur pada tembok. Semua anggota lawan segera saja berkumpul pada satu titik untuk membentuk formasi. Padahal mereka sudah terkepung, namun masih bisa menguasai diri.
Sedangkan sang dalang utama atau pemimpin kelompok itu berada di tengah-tengah anggotanya. Semua anggotanya terlihat melindungi sang ketua kelompok. Melihat hal ini, Alex hanya bisa geleng-geleng kepala.
__ADS_1
"Kalian kok mau sih melindungi orang jahat sepertinya?" tanya Alex sambil terkekeh pelan.
"Kita semua di sini jahat. Orang yang masuk dunia bawah itu pasti kejam dan jahat demi sebuah kekuasaan" ucap ketua kelompok itu dengan menyeringai sinis.