
"Ampun tuan... Saya mohon ampun" seru mantan bodyguard Alex itu.
Mendengar ucapan dan perintah dari Alex itu tentu membuat mantan bodyguardnya ketar-ketir hingga ketakutan. Ia takut jika benar adanya kalau Alex akan menyiramkan air rebusan cabai yang masih mendidih itu ke tubuhnya. Tadi yang hanya air rebusan biasa saja sudah membuatnya kesakitan apalagi ini yang baru saja mendidih.
Alex tak bergeming seakan tubuh dan pikirannya sudah dirasuki jiwa lain yang membuatnya sekejam ini. Bahkan tatapannya juga begitu tajam menatap lawannya. Ketiga sahabat Alex saling pandang seakan berdiskusi untuk menentukan apa yang seharusnya mereka akan lakukan.
Bahkan kini dua orang anak buah Alex membawa satu ember besi berisi air rebusan cabai yang benar-benar baru saja mendidih. Terlihat dari asap yang masih mengepul diatasnya membuat semua orang yang ada disana menelan salivanya kasar terutama mantan bodyguard Alex. Ketiga sahabatnya tak menyangka jika Alex bisa berbuat sekejam ini pada orang yang telah mengusiknya.
"Tuan, tolong dengarkan saya. Jangan lakukan itu, saya akan mengatakan siapa pelaku sebenarnya" ucap mantan bodyguard itu dengan panik.
Bahkan kini ia menghiraukan segala kesakitan yang dirasakannya dengan berdiri di pojok ruangan penjara bawah tanah itu. Bahkan kini tatapannya terlihat memohon kepada Alex agar diberi kesempatan untuk berbicara lebih dahulu. Namun sepertinya Alex sudah malas mendengarkannya sehingga memilih untuk nanti mencari tahu sendiri siapa pelakunya.
"Siramkan tepat pada wajah dan kepalanya" titah Alex tanpa mau berkompromi lagi.
Wajah mantan bodyguard itu semakin menegang bahkan sudah pucat pasi. Sepertinya keputusan Alex kali ini sudah tak bisa diganggu gugat sehingga memilih menyiksa lawannya dulu sebelum dihabisi. Nicho langsung berbisik kepada Nando dan Josh agar segera melakukan sesuatu. Sedangkan kedua anak buah Alex sudah berjalan hendak memasuki ruangan penjara bawah tanah itu.
Walaupun ketiganya juga berkecimpung dalam dunia bawah namun tetap saja kekejaman Alex kali ini melebihi mereka. Bahkan jika memang akan menyiksa, akan lebih baik menggunakan pisau atau pistol saja karena efeknya hanya area dekat yang terluka. Namun jika dengan menggunakan ini, efeknya akan ke seluruh tubuh bahkan mungkin dibuat seperti mati perlahan.
"Lex, akan lebih baik jika kita menembaknya langsung saja jika pada akhirnya dia akan mati" ucap Nando menyarankan.
Byurrrrr...
Arrghhhh....
Tolong... Panas....
__ADS_1
Terlambat sudah apa yang diucapkan oleh Nando itu karena pada faktanya anak buah Alex yang begitu penurut itu sudah melaksanakan tugasnya. Walaupun mantan bodyguard itu berusaha menyembunyikan wajahnya namun tetap saja guyuran dari kepala itu masuk dalam celah-celahnya.
Hahahahaha...
Tawa penuh kepuasan terlihat dari wajah dan mata Alex saat melihat lawannya berteriak kesakitan. Sedangkan ketiga sahabat Alex langsung memundurkan langkahnya karena tak menyangka bisa melihat laki-laki itu begitu kejam dalam membalas apa yang dilakukan oleh mantan bodyguardnya.
"Sekali saya berucap maka itu yang harus dilakukan. Tadi kau tak berniat untuk menjawabnya maka jangan harap aku memberikan kesempatan untuk kau bisa bebas dari semua hukumannya. Rasakan penyiksaan dari seorang iblis sepertiku" sentak Alex begitu menggelegar.
"Siksa terus sampai dia mati sendiri" titahnya.
Setelah mengatakan hal itu, Alex segera saja berbalik badan kemudian berlalu pergi dari ruang penjara bawah tanah. Ketiga sahabatnya pun begitu mengikuti Alex karena tak kuat mendengar lolongan teriakan minta tolong dari mantan bodyguard laki-laki itu.
"Mulai sekarang jangan main-main sama Alex. Disiram pakai minyak jelantah panas baru tahu rasa kalian" ucap Nicho berbisik pada kedua sahabatnya.
***
"Langkah selanjutnya gimana, Lex?" tanya Nando dengan tatapan seriusnya.
Mereka bertiga setelah melihat bagaimana kejamnya Alex itu, otaknya seakan sudah buntu. Mereka masih terngiang-ngiang dengan kekejaman sahabatnya itu sehingga tak ingin salah langkah. Apalagi sahabatnya itu sudah ditebak jalan pikirannya saat ini membuat mereka harus lah meminta pendapat Alex dahulu.
"Gue udah tahu pelakunya" jawab Alex tiba-tiba.
Ketiganya langsung menegakkan badannya kemudian menatap Alex tak percaya. Baru beberapa menit keluar dari ruang bawah tanah namun dengan tiba-tiba Alex memberitahu jika sudah menemukan pelakunya.
"Luis dan Fleix sudah memeriksa semua CCTV jalan yang dilalui oleh semua orang yang mencurigakan. Bahkan yang mengarah keluar hutan pun sudah diretas. Dan ya pelakunya ketemu" ucap Alex begitu yakin.
__ADS_1
Bahkan tadi Alex sengaja diam sambil memperhatikan ponselnya karena ingin melihat siapa sebenarnya sosok itu. Ternyata sosok pelaku peneror itu berbeda, bukan mantan bodyguardnya dulu. Mantan bodyguardnya itu hanya sebagai pengintai area sekitar dan mencari informasi di dalam villa saja.
"Siapa?" tanya Josh penasaran.
"Karyawan gue yang dipecat dari perusahaan. Ternyata mereka juga yang memberi sogokan kepada mantan bodyguard gue. Sepertinya mereka tak terima jika gue pecat" ucap Alex santai.
Ketiga sahabat Alex diam-diam menghela nafas lega. Apalagi melihat raut wajah Alex yang sudah terlihat begitu santai menanggapi permasalahan ini. Mereka pun terdiam dengan pikirannya masing-masing setelah pembicaraan itu.
"Iblisnya udah keluar dari tubuh Alex" bisik Nicho pada Josh yang ada disampingnya.
Josh hanya bisa mendelikkan matanya karena sahabatnya yang satu ini semenjak dekat dengan Grizz jadi ikut-ikutan berisik. Bahkan selalu mengomentari apa saja yang membuatnya selalu ingin berbicara lebih.
"Diam sebelum iblisnya kembali" ucap Josh dengan pelan.
Akhirnya Nicho memilih diam kemudian menyibukkan dirinya dengan ponsel yang ada di genggamannya. Terlebih saat ini Alex sedang memeriksa CCTV lain untuk memastikan dimana keberadaan dari dua mantan karyawannya itu.
"Kalian mau ikut bermain tidak?" ucap Alex tiba-tiba.
Bahkan Alex kini berdiri kemudian menyimpan ponselnya di saku jasnya. Alex menatap ketiga sahabatnya yang kebingungan dengan apa yang diucapkan oleh laki-laki itu. Namun ketiganya hanya mampu beranjak dari duduknya kemudian mengikuti Alex yang berjalan keluar markas. Ketiganya memang tak menjawab namun apa yang dilakukannya sudah seperti jawaban untuk Alex.
"Apa kali ini iblisnya akan kembali lagi?" tanya Nando dengan pelan.
"Mungkin, apalagi dia mengajak kita bermain. Kalau pun tuh iblis nggak keluar, pasti nanti kita yang disuruh main" jawab Josh pelan.
Ketiganya hanya menghela nafas gusarnya karena kemungkinan besar kali ini mereka akan disibukkan dengan urusan permainan Alex. Namun mereka takkan menyesali keputusannya itu terlebih sahabat memang harus saling membantu. Keempatnya segera memasuki mobil yang sama kemudian Josh mengemudikan kendaraan itu dengan kecepatan tinggi sesuai arahan Alex.
__ADS_1