
Alex mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Bahkan ia sampai tak sadar jika disampingnya ada Grizz yang tengah ketakutan karena mobil melaju dengan sangat cepatnya. Alex yang memang sudah dikuasai oleh emosinya itu pun tanpa sadar terus melajukan mobilnya tanpa mendengar apa yang diucapkan bodyguardnya lewat earphone yang terpasang.
"Grizz belum mau mati" gumam Grizz pelan.
Gumaman Grizz itu ternyata terdengar oleh Alex yang langsung mengalihkan pandangannya kearah gadis polos itu. Seketika Alex menghela nafasnya pelan untuk meredakan emosinya kemudian menurunkan kecepatan mobilnya.
Bahkan terlihat jika Grizz sudah memegang dengan erat sabuk pengamannya dan menutup matanya untuk menetralkan rasa takutnya. Setelah dirasa Alex menurunkan kecepatan mobilnya, Grizz membuka matanya perlahan kemudian melirik kearah laki-laki yang sedang mengemudi itu.
Grizz menghela nafasnya perlahan kemudian menatap lurus kedepan. Walaupun saat ini jantungnya masih berdetak kencang karena kejadian tadi, namun Grizz merasa sedikit lega.
"Jangan membuatku marah Grizz jika kau tak ingin kejadian ini terulang lagi" ucap Alex dengan penuh ancaman.
Grizz yang memang polos dan tak peka itu tentunya bingung dengan maksud ucapan Alex. Sepertinya tadi saat mengantar sekolah Grizz tak berbuat salah apapun bahkan baru siang ini saja mereka bertemu. Lalu apa salah Grizz?.
"Memangnya ada kejadian apa?" tanya Grizz dengan wajah bingungnya.
Alex yang mendengar pertanyaan dari Grizz hanya bisa menatap lurus kedepan. Ia tak menyangka jika gadis itu tak mengerti dengan kesalahannya. Padahal ia sudah cemburu setengah mati namun ternyata yang merasakan itu hanya dirinya saja.
"Jangan dekat dengan laki-laki lain" seru Alex kesal.
Grizz lagi-lagi terdiam mendengar ucapan Alex itu, pasalnya dia tak pernah dekat dengan laki-laki manapun selain dia dan beberapa bodyguard di mansion. Grizz terus mengingat apapun yang berhubungan dengan kejadian hari ini. Namun sialnya, dia yang pelupa ini benar-benar tak ingat dengan siapa hari ini dekat.
"Kau tadi di sekolah diselamatkan oleh seorang laki-laki saat bolos" lanjutnya kesal.
__ADS_1
Alex sudah terlalu kesal melihat Grizz yang hanya melongo sambil mengingat siapa orang yang dimaksud. Ia yang tahu jika Grizz adalah gadis pelupa pun memilih memberikan satu petunjuk yang membuatnya mengingat kejadian hari ini. Entah kenapa jika bersama dengan gadis ini membuat Alex lebih banyak bicara dan raut wajahnya selalu berubah-ubah.
"Oh... Iya, aku lupa menanyakan siapa namanya tadi" panik Grizz.
Bukannya merasa bersalah dekat dengan laki-laki lain, namun Grizz dengan percaya dirinya malah panik. Panik karena belum tahu nama orang yang menyelamatkan dirinya dari guru. Alex hanya bisa geleng-geleng kepala dan tampak frustasi ketika berbicara dengan Grizz. Akhirnya dia pasrah saja membiarkan Grizz kelimpungan mencari tahu nama laki-laki yang menolongnya itu.
Alex hanya bisa menekan rasa cemburunya itu untuk dirinya sendiri karena sepertinya percuma jika harus berbicara dengan Grizz yang tak peka sama sekali. Beberapa bodyguard masih mengikuti mobilnya bahkan mereka sedikit lega karena Alex tak ugal-ugalan lagi dalam mengendarai kendaraannya.
***
"Ibu... Ibu... Grizz tadi bolos di sekolah" seru Grizz setelah melihat Bibi Yun ada di dapur.
Grizz dengan serunya berceloteh tentang pengalaman pertamanya bolos sekolah. Sebelumnya di sekolah lama ia tak pernah merasakan bolos karena itu akan mempengaruhi beasiswanya. Bahkan wajahnya saat bercerita sangatlah ceria seakan-akan ia baru saja melakukan kegiatan yang luar biasa.
"Udah dong, bu. Tapi Grizz lupa tanya siapa namanya" ucap Grizz dengan senyum lesunya.
Bibi Yun terkekeh kecil melihat perubahan ekspresi Grizz yang tiba-tiba saja berubah karena lupa sesuatu. Ia juga sedikit mencuri tatap pada Alex yang kini masih menampakkan wajah cemburunya. Sungguh ekspresi keduanya itu begitu menghiburnya.
"Lebih baik sekarang Grizz makan siang sama nak Alex" suruh Bibi Yun.
Ia tak ingin melihat Alex semakin kesal dan marah karena cemburu yang menguasainya akibat dari celotehan Grizz. Keduanya menurut perintahnya kemudian berdampingan berjalan menuju ruang makan. Bibi Yun yang melihat hal itu hanya bisa geleng-geleng kepala dengan tingkah dua sejoli yang sebentar lagi akan menikah itu.
***
__ADS_1
"Ambilkan" titah Alex sambil menyerahkan piringnya ke hadapan Grizz.
"Tuan Alex ndak punya tangan?" tanya Grizz dengan sedikit memiringkan kepalanya.
Grizz masih menatap polos kearah Alex yang menggeram menahan gemas akan tingkah gadis itu. Namun Alex tak menanggapinya dengan tetap mendekatkan piring itu kepada Grizz. Melihat Alex hanya diam saja akhirnya Grizz mengalah dengan mengambil piring itu kemudian mengambilkan beberapa makanan tanpa bertanya kepada Alex.
"Nasi harus banyak, lauk juga. Biar gendut kaya sapi, soalnya bentar lagi idul adha" ucap Grizz sambil terkikik geli.
Sedangkan Alex menatap Grizz dengan tajamnya karena menyamakan dirinya dengan seekor sapi. Enak saja gadis itu menginginkan dirinya untuk dikurbankan kemudian dagingnya dibagikan kepada orang. Namun dia hanya diam saja pasalnya jika ditanggapi pasti akan membuatnya kesal.
Setelah Grizz meletakkan nasi dan lauk kedalam piring Alex, ia segera menyerahkannya pada laki-laki itu. Alex terbengong melihat piringnya yang hampir penuh dengan nasi dan lauk yang menggunung. Sepertinya Grizz memang sengaja ingin membuatnya gendut seperti sapi. Sedangkan sang gadis dengan tanpa bersalahnya langsung mengambil makanan untuknya kemudian memakannya dengan tenang.
Alex sedikit menyesal meminta Grizz untuk mengambilkan makanan untuknya. Akhirnya dengan pasrah ia memakan makanan yang ada di piringnya itu dengan sedikit malas. Malas karena sudah sangat kenyang melihat tumpukan nasi dan lauk yang ada di piringnya itu.
"Harus sampai habis. Kalau nggak habis nanti nasinya nangis" ucap Grizz di sela-sela makannya.
Alex hanya membalasnya dengan senyuman terpaksa, sedangkan Grizz yang acuh terus saja melanjutkan makannya. Tak berapa lama Grizz selesai dengan acara makannya kemudian menunggu Alex yang masih makan dengan tenang.
"Kenapa lama sekali?" tanya gadis polos itu menatap Alex intents.
Sekarang Grizz sudah tak terlalu takut lagi dengan Alex pasalnya jika suasana sedang santai begini pasti dia juga akan berlaku biasa saja. Berbeda dengan sedang serius pasti Grizz juga takkan berani walaupun hanya sekedar mengucapkan satu kata.
"Coba kau lihat piringku yang isinya udah kaya gunung berapi ini" kesal Alex.
__ADS_1
Grizz menatap piring Alex dengan melongo kemudian barulah ia menepuk keningnya pelan. Ternyata ia baru sadar jika makanan yang diambilnya untuk Alex sangatlah banyak. Ia meringis pelan sambil menatap Alex dengan tatapan bersalahnya karena terlalu banyak mengambilkan makanan.