
"Aku bagi alamat yang diberikan asisten Tuan Grey di ponsel kalian. Siapa tahu kalian kenal dengan daerahnya atau orang sekitar sana" ucap Josh.
Josh segera mengirimkan foto dan alamat yang diberikan oleh asisten Tuan Grey. Mereka semua hanya menganggukkan kepalanya saja tanpa membuka ponsel masing-masing. Mereka kembali sibuk dengan banyaknya berkas yang ada dihadapan semuanya. Karena terlalu sibuk, mereka sampai melupakan kalau waktu sudah melewati jam makan siang.
"Ini sudah makan siang. Ayo kita pergi cari restorant dulu" ajak Luis sambil merenggangkan kedua tangannya keatas.
Luis tadi tak sengaja melihat jam yang ada pada laptopnya membuatnya membulatkan mata. Ia tak menyangka, terlalu serius mereka semua hingga tak memperhatikan kalau sudah melewati jam makan siang. Bahkan mungkin semua karyawan kini sudah kembali ke ruangannya masing-masing untuk bekerja.
Alex, Nicho, Josh, dan Nando pun langsung saja mengalihkan perhatiannya kepada jam yang tergantung pada dinding. Mata keempatnya membelalak tak percaya setelah melihat waktu sudah menunjukkan pukul 2 siang. Mereka memang lapar, namun tak merasakannya karena fokus dengan pekerjaan yang ada.
"Ayo. Setelah sadar kok gue malah lapar gini, padahal tadi pas kerja nggak kerasa" ucap Nicho yang langsung bangkit dari posisi duduknya.
Semuanya mengangguk kemudian sedikit merapikan meja dan beberapa berkas yang berhamburan kemana-mana. Setelah siap, mereka keluar dengan Luis yang langsung mengunci ruangan Alex. Walaupun belum tentu ada yang bisa masuk ke ruangan ini, namun ini untuk antisipasi saja.
Mereka berlima berjalan menuju lobby setelah keluar dari lift. Mereka sontak saja menjadi pusat perhatian semua karyawan karena postur tubuh dan wajah yang sempurna kecuali Alex. Tentunya Alex mempunyai kekurangan pada wajahnya yang cacat namun tetap saja masih banyak yang mengaguminya. Terutama kepiawaiannya dalam mengelola bisnis.
Mereka berlima segera memasuki mobil yang sudah disiapkan oleh anak buah Alex. Mereka segera menuju restorant terdekat dengan mobil yang dikemudikan oleh Josh. Tak berapa lama, mobil yang dikendarai oleh Josh itu berhenti di sebuah parkiran didepan restorant mewah.
"Kalian mau pesan makanan apa?" tanya Josh sambil menunjukkan beberapa menu.
Mereka mulai memilih-milih menu makan siang yang cocok. Setelah selesai memesan, mereka sibuk dengan ponsel yang dianggurkan sejak pagi. Mereka pun mulai membuka dan membalas pesan yang masuk. Sedangkan Alex sedang menatap salah satu pesan yang diterimanya dengan pandangan bingung.
"Kok ini kaya gue pernah lihat ya?" ucap Alex tiba-tiba.
__ADS_1
"Lihat apaan?" tanya Luis.
Alex memperlihatkan foto gadis kecil yang dikirimkan oleh Josh. Itu adalah foto gadis kecil yang merupakan adik dari Tuan Grey. Mereka semua pun kini langsung melihat dari layar ponselnya masing-masing namun tak dapat menemukan jawabannya.
"Kalau wajah bayi masih kecil kan pasti hampir pada sama. Nantinya kalau sudah besar baru tuh kelihatan bedanya" ucap Nicho sambil mengedikkan bahunya acuh.
Mereka semua menganggukkan kepalanya walaupun Alex sendiri masih mengingat dimana ia pernah melihat foto itu berada. Alex merasa kalau foto gadis kecil itu tidak asing sehingga ia bisa yakin kalau pernah melihatnya. Ia merasa kalau baru-baru ini saja melihat foto itu.
Setelah beberapa menit terdiam, Alex langsung saja mengingat sesuatu yang membuat matanya berbinar cerah. Bahkan ia sampai tak menyentuh makanannya karena terlalu memikirkan siapa wajah gadis kecil itu.
Brakk...
Tiba-tiba saja Alex menggebrak meja yang ada didepannya membuat keempat orang yang ada disana terkejut. Mereka kini langsung menelan makanannya kasar kemudian minum dengan sekali tegukan. Mata mereka melotot kearah Alex yang kini cengengesan tak jelas. Beruntung mereka di ruangan VIP sehingga tak ada yang melihat tingkah absurd semuanya.
Sebelum mereka semua mengajukan protes dan mengomelinya, Alex langsung saja mengucapkan kalimat yang membuat semuanya shock. Mereka yang tadinya ingin marah dan menggeplak kepala Alex langsung saja terdiam dengan menatap penasaran kearah laki-laki itu.
"Grizz. Foto ini ada di rumah Grizz, kemarin waktu kita masuk untuk menangkap Niken dan Harto itu gue sempat melihat ini" ucapnya.
"Jangan bercanda, Lex" seru Josh yang sedikit tak percaya.
Alex menganggukkan kepalanya dengan serius. Bahkan wajahnya tampak begitu meyakinkan saat mengucapkan fakta itu. Seorang Alex takkan mungkin yang namanya bercanda mengenai identitas seseorang.
Kalau memang apa yang dikatakan oleh Alex itu ada benarnya, kemungkinan besar foto gadis kecil itu merupakan Grizz. Di rumah Harto waktu itu hanya ada Grizz yang merupakan anak perempuan satu-satunya disana. Namun mereka tak mau berekspektasi lebih karena ini menyangkut identitas sekaligus harapan besar bagi Tuan Grey.
__ADS_1
Mereka harus menyelidiki semuanya dulu karena tak mau nanti malah salah orang. Sedangkan Luis sendiri hanya terdiam sambil melihat kearah ponselanya hingga beberapa kali dahinya mengernyit. Mereka semua terdiam bahkan Alex yang tadinya antusias juga ikut tutup mulut.
"Setelah aku bandingkan dengan alamat nona Grizz dulu, memang benar ini kediamannya" ucap Luis tiba-tiba.
Tentunya beberapa fakta yang terkumpul itu dijadikan satu untuk nantinya diberikan pada Tuan Grey. Namun mereka harus memastikan dulu sebenarnya siapa yang ada dalam foto itu dengan menanyakannya langsung pada Grizz. Mungkin saja itu saudaranya atau siap agar lebih jelas.
"Lebih baik kita lanjutkan makan dulu. Nanti kita setelah selesai bekerja juga, langsung ke rumah dan tanya sama Grizz" ucap Alex membuat mereka menganggukkan kepalanya.
Mereka pun langsung melanjutkan kegiatan makannya hingga selesai. Setelah selesai segera saja mereka kembali ke kantor untuk menyelesaikan pekerjaannya. Hal ini harus segera diselesaikan karena sudah banyak client yang menunggu persetujuan kerjasama.
***
"Dara, kok jantung Grizz kaya berdetak kencang sekali ya" ucap Grizz sambil memegang dadanya.
Kini Dara dan Grizz ada di gazebo halaman belakang rumah Josh untuk duduk santai. Bahkan mereka kini ditemani banyak makanan, cemilan, dan minuman yang membuat semuanya seperti sedang piknik.
"Mungkin anda lapar" ucap Dara acuh.
"Mana ada lapar bisa buat jantungnya kaya gini" ucap Grizz kesal.
Dara tak peduli dengan ocehan Grizz dan menganggapnya hanya sebagai dongeng penghantar tidurnya saja. Lagi pula Grizz itu kalau ditanggapi akan semakin banyak bicara saja sehingga ia memilih untuk merebahkan badannya diatas karpet. Sedangkan Grizz sendiri menatap sebal kearah sahabatnya padahal ia sedang merasakan kalau akan terjadi sesuatu.
"Dara mah ngeselin. Grizz kok kaya ngerasain mau ada sesuatu yang bakalan terjadi ya. Apa Grizz mau dapat mobil? Boneka besar atau uang receh satu karung?" ucap Grizz yang hanya ditanggapi gelengan tak percaya oleh Dara.
__ADS_1
Mana ada juga yang akan memberinya satu karung uang receh. Yang ada lembaran uang seratus ribu yang ada di karung itu. Bahkan mobil atau boneka sekalipun bisa Grizz dapatkan hanya dengan sekali kedipan mata.