Takdir Cinta Gadis Pelunas Hutang

Takdir Cinta Gadis Pelunas Hutang
Bagi-Bagi


__ADS_3

Mobil yang dinaiki oleh Grizz dan lainnya sudah sampai di depan minimarket dekat gang masuk rumah Ima. Beberapa anak buah Alex segera saja menurunkan belanjaan mereka dari bagasi mobil. Mereka membantu membawakan semua mainan dan belanjaan di pasar ke rumah Ima.


Beberapa tetangga Ima yang ada di rumah sontak saja terkejut dengan kedatangan orang berbadan besar. Apalagi di sana ada Ima dan kedua adiknya. Mereka hanya berani mengintip saja dan tidak mendekat sama sekali. Setelah semua barang masuk, Grizz segera meminta kantong plastik ukuran sedang kepada Ima.


"Apa kamu ada kantong plastik hitam ukuran sedang yang jumlahnya banyak?" tanya Grizz.


"Punya" ucap Ima yang langsung mengambilkan kantong plastik untuk Grizz.


Tak berapa lama, Grizz segera saja mengisi satu per satu kantong plastik itu dengan buah juga sayuran. Ima yang kebingungan hanya diam dan memperhatikan kegiatan Grizz. Sedangkan Evi dan Evan sudah sibuk dengan mainannya yang beberapa telah dibongkar.


"Ini kamu bantu bagikan ke tetangga sini. Satu rumah satu kantong saja. Dibagi rata ya, ada berapa sih rumah di sini?" tanya Grizz sambil menatap polos kearah Ima.


Ima sungguh gemas dengan tatapan polos Grizz itu. Bahkan kedua pipinya yang gembul itu seakan-akan melambai untuk dicubit. Grizz yang melihat Ima malah memperhatikannya dan tidak merespons pertanyaannya sama sekali itu sungguh kesal.


"Halo..." ucapnya dengan melambaikan tangannya didepan wajah Ima.


"Eh..."


Ima hanya bisa terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Grizz itu. Tak menyangka kalau saking terpesonanya ia dengan Grizz malah membuatnya bengong di tempat. Padahal Grizz sedang bertanya namun malah ia cueki.


"Mungkin ada sekitar 20 rumah di sini" ucap Ima menjawab pertanyaan dari Grizz.


"Ya sudah. Ini tolong bantu kasihkan ke warga sini ya, bilang aja ada rejeki dari cewek imut gitu" ucap Grizz sambil terkekeh geli.

__ADS_1


Ternyata Grizz membeli banyak buah dan sayuran itu untuk dibagi-bagikan pada warga sekitar. Grizz merasa kalau area sini masih termasuk dalam kawasan masyarakat ke bawah. Ia tak ingin kalau mereka nanti malah julid pada keluarga Ima yang dibantu olehnya. Sedangkan mereka tidak, padahal ada beberapa orang yang melihatnya membawa banyak barang.


Ima sungguh tak menyangka kalau hati Grizz benar-benar mulia. Bahkan Grizz juga mau berbagi dengan orang yang ada di dekat Ima. Padahal tanpa Ima ketahui, Grizz melakukan itu semua karena pernah merasakan di posisi terendah dengan tak punya bahan makanan untuk ia makan. Ini semua ia lihat dari tetangga sebelahnya yang selalu memberinya makan diam-diam tanpa sepengetahuan orangtuanya.


Ima sudah keluar dengan membawa beberapa kantong plastik. Berulangkali Ima bolak-balik untuk kembali ke rumahnya. Tetangga Ima pun begitu bahagia mendapatkan sesuatu yang jarang mereka makan. Buah-buahan yang mahal dan beberapa sayuran dengan sedikit kebutuhan pokok.


"Semuanya sudah selesai, bos. Banyak ucapan terimakasih dari para warga di sini untuk cewek imut" ucap Ima sambil terkekeh geli.


Grizz yang mendengar hal itu tentu saja hanya bisa menampilkan deretan gigi putihnya. Ia cukup senang dengan kegiatan bagi-bagi seperti ini. Walaupun bagi orang mampu, pemberian Grizz itu tak seberapa namun untuk warga sini sangatlah berharga.


"Kalau gitu, ini sisanya untuk Ima dan keluarga. Kalau memang menurut Ima masih banyak, bisa kasihkan ke orang yang membutuhkan" ucap Grizz sambil merapikan semua yang ada di sana.


Ima hanya menganggukkan kepalanya mengerti. Toh tak mungkin sebanyak ini keluarganya membutuhkan bahan masakan. Terlebih mereka tak mempunyai lemari es agar buah dan sayuran yang diberikan itu bisa awet.


"Kalian senang punya banyak mainan?" tanya Grizz yang langsung menghadap kearah Evi dan Evan yang masih asyik bermain.


Evan yang melihat hal itu juga melakukan hal yang sama. Mereka memeluk Grizz dengan eratnya seakan sedang berdekatan bersama sang kakak. Apa yang mereka inginkan memang terpenuhi oleh Grizz, namun keduanya juga sangat sayang pada perempuan itu. Terlebih sifat Grizz bisa mengimbangi keduanya yang begitu polos.


"Kalau gitu kakak pulang dulu ya. Kalian jangan nakal, harus nurut sama kakak dan ibu" pesan Grizz pada keduanya.


"Ciapp..." seru keduanya secara bersamaan.


Grizz memeluk Ima sebentar kemudian beralih pada Evi dan Evan. Ia senang bisa berteman dengan orang yang apa adanya. Bahkan Ima terlihat sekali tulus kepadanya dan tak mau memanfaatkan apa yang ada di dekatnya. Padahal banyak orang yang ketika tahu dirinya istri dari Alex, segera saja banyak yang mengerubungi dan memanfaatkannya.

__ADS_1


Grizz pun keluar dari rumah Ima kemudian pulang bersama dengan Nela dan Neli. Ima diminta untuk tidak perlu mengantarnya karena lebih baik menjaga Evi dan Evan. Sepanjang perjalanan menuju mobilnya, ada beberapa warga yang yang menyerukan ucapan terimakasih. Tentunya mereka tahu mengenai Grizz yang memberikan semua ini.


"Terimakasih, nona. Semoga anda bahagia selalu" seru salah seorang warga.


Grizz memberikan kecupan jarak jauh kepada warga itu. Bahkan tingkahnya yang begitu lucu membuat semua warga di sana hanya bisa geleng-geleng kepala dan terkekeh lucu. Tak berapa lama mereka berjalan, ketiganya sampai di depan minimarket.


"Puji Tuhan... Grizz bahagia karena bisa berbagi seperti ini. Kayanya kita perlu ajak Kak Alex dan lainnya untuk ikutan dalam misi kaya gini. Kita harus terjun langsung, biar tahu kalau banyak orang yang masih berada di bawah kita" ucap Grizz bersyukur kalau kehidupannya kini jauh lebih baik.


"Siap, nona. Nona tinggal bilang saja dengan suami dan yang lainnya. Pasti mereka akan menuruti apa yang diucapkan oleh nona" ucap Nela sambil tersenyum tipis.


Grizz menganggukkan kepalanya setuju. Akhirnya mereka kini telah berada di dalam mobil dengan Nela yang mengemudikan kendaraan itu. Mobil melaju dengan kecepatan sedang menuju kearah rumah Josh.


***


"Bagaimana dengan perkembangan semua yang ada di dunia bawah?" tanya Alex pada ketiga sahabatnya.


"Semua aman, transaksi berlangsung lancar. Oh jangan lupakan dengan para perusuh yang kini sudah tertangkap dan tak bisa berkutik lagi" jawab Nando dengan serius.


"Kita masih punya PR. Dalang kejadian penyerangan Grizz waktu itu" ucap Alex.


Ketiganya menganggukkan kepalanya. Walaupun tak menghadapi situasinya secara langsung, namun mereka cukup geram dengan apa yang menimpa Grizz. Lagi pula mereka tak terima dengan Grizz yang akan dilukai.


"Gimana kalau kita serang saja markas dia?" ucap Nicho memberi ide dengan seringaian kejamnya.

__ADS_1


"Setuju" seru Nando dan Josh.


Alex juga menganggukkan kepalanya setuju. Mereka berempat kini berdiri kemudian pergi keluar dari ruang CEO milik Alex. Keempatnya berjalan dengan langkat tegap dan aura dingin juga gelap menguar begitu saja.


__ADS_2