
Jam sudah menunjukkan pukul 9 pagi kurang sedikit, Grizz memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Setelah tadi membantu menyiapkan sarapan dan ikut makan pagi bersama, Grizz sempat keluar halaman villa bersama Dara dan Erga. Ketiganya asyik dengan kegiatan menyirami tanamannya dengan diawasi oleh banyak bodyguard.
Grizz merasa ada yang aneh dengan orang-orang yang tinggal di villanya terutama para bodyguard. Wajah mereka terlihat lebih tegang bahkan berulangkali menyusuri area villa. Seakan-akan sedang ada penjahat yang mengintai, semua terus menyebar namun Grizz yang tak paham akan hal itu lebih memilih diam.
"Bangun, kak. Sudah jam 9" ucap Grizz sambil menggoyangkan bahu suaminya pelan.
Saat sampai di kamar, Grizz melihat Alex masih tertidur pulas. Bahkan tampak sekali kalau suaminya itu tengah kelelahan membuatnya tak tega jika harus membangunkannya. Namun mengingat pesan dari Alex membuatnya harus segera membangunkan suaminya itu.
Saat Grizz sudah mencoba membangunkannya dengan menggoyangkan bahunya berulangkali, ternyata tak mempan untuk Alex. Bahkan Alex hanya berdehem saja kemudian kembali tidur. Hal ini membuat Grizz harus berpikir keras agar suaminya itu bisa segera bangun.
"Ayo bangun dong suamiku" seru Grizz yang sudah mulai kesal.
Bahkan kini dengan jahilnya Alex malah tidur dalam posisi tengkurap. Hal ini membuat Grizz langsung saja menaiki ranjang kemudian naik keatas tubuh Alex. Grizz menjadikan Alex ini kuda membuat laki-laki itu langsung bangun karena merasa berat di tubuh bagian belakang.
"Astaga... Kau ini berat lho, masa duduk diatas badanku seperti ini" ucap Alex dengan sedikit berdrama.
Padahal aslinya Alex tak merasakan jika dirinya keberatan hanya saja ia yang tadinya memang baru saja bangun terkejut. Terkejut dengan tindakan Grizz yang terkesan berani bahkan kini memeluknya dari belakang.
"Nyaman..." ucap Grizz lirih.
Tanpa mempedulikan ocehan dari Alex Grizz semakin merebahkan kepalanya pada punggung lebar Alex. Alex membiarkan saja, lagi pula mendengar ucapan Grizz yang membuatnya begitu bahagia. Ia hanya berharap kedekatannya dengan sang istri akan terus seperti ini.
"Aku mau mandi ini. Suamimu ini harus bekerja demi dapat uang agar kamu bisa belanja" ucap Alex dengan lembut.
__ADS_1
Pasalnya sudah beberapa menit Alex membiarkan Grizz duduk dan tiduran diatas punggungnya namun gadis itu ternyata tak mau pergi juga. Mendengar ucapan Alex, sontak saja membuat Grizz segera menegakkan badannya kemudian turun dari tubuh suaminya.
Bahkan Grizz dengan tiba-tiba melompat dari ranjangnya kemudian berlari masuk ke dalam kamar mandi. Hal ini membuat Alex khawatir jika nantinya sang istri terpeleset. Alex langsung bangun dari baringannya dan menyusul Grizz.
"Lain kali jangan lari-larian seperti itu" tegur Alex dengan wajah datarnya.
"Habisnya Grizz lupa kalau tadi niat kesini kan mau bangunin kak Alex tapi nyatanya malah aku tiduran diatasnya" ucap Grizz merasa bersalah.
Alex langsung memeluk Grizz dengan eratnya yang membuktikan bahwa Alex tak marah kepadanya. Alex hanya ingin jika Grizz tak panik ketika ada sesuatu yang mendesak karena itu bisa mengakibatkan gadis itu terluka.
"Tolong siapkan pakaian kerjaku ya istriku" ucap Alex mengalihkan pembicaraan.
Grizz pun dengan semangatnya langsung saja keluar dari kamar mandi setelah melepaskan pelukannya dari Alex. Alex menutup pintu kamar mandi kemudian membersihkan dirinya sedangkan Grizz masuk dalam walk in closet.
"Hmm... Pakaian kerja kak Alex rata-rata warnanya hitam semua. Kemejanya juga cuma ada warna hitam dan putih. Ini yang mau dipilih apanya coba?" gerutu Grizz.
Setelah selesai dengan pilihannya, ia segera meletakkan semua itu diatas ranjang. Kemudian ia mengambil sebuah note dengan menuliskan sesuatu disana. Setelahnya ia tempelkan note itu diatas nakas samping ponsel Alex kemudian ia keluar dari kamar.
***
"Jika kamu mencari istrimu yang cantik itu, ia sedang menunggumu di ruang makan".
Alex terkekeh geli saat membaca sebuah note yang diletakkan disamping ponselnya. Ia segera saja mengambil pakaian yang disiapkan oleh Grizz. Awalnya saat ia keluar dari kamar mandi, dirinya memang mencari keberadaan Grizz sampai matanya menemukan sesuatu disamping ponselnya.
__ADS_1
Tak berapa lama ia bersiap dengan pakaian rapi juga tas kerjanya. Bahkan jasnya sudah melekat pada tubuh atletisnya. Alex segera keluar dari kamar untuk menemui istrinya yang begitu menggemaskan itu.
"Selamat pagi..." sapa Grizz yang sudah duduk di ruang makan.
Walaupun Grizz sudah sarapan, namun ia berusaha untuk menemani suaminya makan. Alex segera duduk di kursinya kemudian Grizz melayaninya dengan mengambilkan makanan. Alex makan dengan lahap hingga beberapa menit makanan yang ada diatas piring sudah tandas.
"Aku berangkat kerja dulu. Kalau ada sesuatu segera hubungi aku atau Luis" pesan Alex pada istrinya.
Semenjak kejadian teror tadi malam membuatnya harus hati-hati dalam menjaga Grizz. Ia tak ingin jika nantinya Grizz malah kembali histeris karena traumanya yang kadang masih menghantui. Grizz menganggukkan kepalanya kemudian mencium tangan suaminya itu.
Alex masuk dalam mobilnya dengan ia sendiri yang mengemudikannya. Grizz melambaikan tangannya kearah Alex saat mobil itu sudah melaju dan membunyikan klaksonnya.
***
"Luis, awasi dua orang yang kemarin kita pergoki berduaan di dalam ruangan karyawan. Aku curiga jika mereka yang melakukan teror tadi malam" ucap Alex memberikan dugaan sementaranya.
Pasalnya semalam walaupun wajah pria itu tertutup dengan topi kupluk namun dari matanya terlihat sekali mirip dengan seseorang yang tak asing baginya. Ia yang akhir-akhir ini bermasalah dengan orang yang ada di perusahaannya langsung saja menduga jika karyawan yang tak terima dipecatlah yang merupakan dalang semua ini.
"Siap bos" ucap Luis dengan tegas.
Luis segera saja keluar dari ruangan Alex kemudian meminta bantuan pada beberapa bodyguard untuk menyelidiki sesuatu. Alex yang tadi sampai di kantor pun langsung bekerja dan mengadakan rapat karena ada perubahan dalam manajemen perusahaannya.
Terlebih banyaknya pengkhianat yang ternyata bersarang di kantornya ini membuat dia harus segera melakukan seleksi ulang pada karyawan. Ia tak ingin kecolongan kembali karena karyawan yang tak berkompeten bisa masuk kesini.
__ADS_1
Tugas Alex semakin banyak bahkan kini ia memeriksa seluruh data karyawannya. Bahkan penyeleksian untuk kenaikan jabatan akan ia nilai secara langsung yang biasanya dilakukan oleh pihak HRD. Bahkan kini Alex mulai menaruh curiga pasalnya HRD yang dengan mudahnya meloloskan orang-orang itu.
"Awas saja kalau pihak HRD ada sangkut pautnya dengan banyak pengkhianat di perusahaan ini. Bukan hanya ku depak tapi akan ku habisi didepan karyawan lain" gumam Alex dengan seringaian sinisnya.