
Grizz kini sudah berada didalam mobil yang dikemudikan oleh Felix yang merupakan salah satu orang kepercayaan Alex untuk menjaga gadis polos itu. Grizz yang duduk disamping kemudi itu hanya terus melihat kearah jendela sambil menyanyikan lagu yang diputar dalam mobil. Wajahnya begitu ceria seakan beban dalam hidupnya kini telah berkurang semenjak tinggal bersama Alex.
Saat dirinya sedang menikmati pemandangan jalanan yang terlihat ramai, tiba-tiba saja matanya menangkap sosok yang dikenalnya. Grizz menajamkan penglihatannya untuk mencari tahu apakah benar jika yang ia lihat adalah sosok yang ia pikirkan. Sedangkan Felix yang melihat gerak-gerik nona mudanya terlihat aneh pun melihat kearah yang ditatap intens oleh Grizz.
"Oh... Shittt" umpatnya didalam hati setelah mengetahui apa yang dilihat oleh Grizz.
Felix dengan segera menambah laju kecepatan mobil yang dikemudikannya membuat Grizz terkejut. Bahkan kini Grizz langsung memalingkan pandangannya kearah Felix yang masih fokus dalam mengemudi. Hal ini membuat Grizz juga kesal karena dia tadi sedang fokus menatap seseorang yang dilihatnya.
"Kak Felix, jangan kencang-kencang dong mengemudikan mobilnya. Grizz itu mau lihat itu ayah apa bukan" protes Grizz.
"Tak boleh, nona. Bukankah nona tak boleh lagi berhubungan dengan ayahnya sama tuan Alex? Nanti kalau ketahuan tuan Alex terus kamu dimarahi bagaimana?" tanya Felix.
Sikap Felix yang biasanya tak pernah berbicara panjang lebar akhirnya mencair juga berkat adanya Grizz. Apalagi Grizz akan selalu mengomel jika lawannya berbicara singkat sehingga mau tak mau mereka harus menjawabnya dengan panjang.
"Ya kak Felix jangan bilang sama tuan Alex dong. Lagian kan Grizz cuma memastikan aja itu ayah atau bukan. Bukan mau menemuinya lho" ucap Grizz kesal dengan tingkah Felix.
Memang benar jika seseorang yang tadi tak sengaja terlihat oleh Grizz sedang berjalan kaki di pinggir jalan itu adalah Harto, ayah gadis polos itu. Entah apa yang dilakukan laki-laki paruh baya itu disana, namun Grizz hanya ingin memastikan saja kebenaran dari pandangan matanya itu.
__ADS_1
Felix yang dimarahi oleh Grizz pun hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Pasalnya Grizz kini melotot tak terima saat kini sudah tak bisa melihat lagi apakah orang itu benar ayahnya atau bukan. Grizz mengerucutkan bibirnya kesal sambil memandang lurus ke depan membuat Felix sedikit merasa bersalah.
"Ah... Sialan..." umpat Felix dalam hatinya.
Felix begitu kesal pada dirinya sendiri yang begitu lemah jika berhadapan dengan Grizz. Padahal awalnya ia tak pernah terpengaruh oleh wanita manapun kecuali ibunya. Namun dengan Grizz, pesona dan daya tariknya begitu kuat. Terlebih kebaikan hatinya dan tingkah polosnya membuat ia ingin menjadikan Grizz sebagai adiknya. Namun tentu saja itu harus atas persetujuan tuannya yang pencemburu dengan apa yang sudah menjadi miliknya itu.
"Maafkan saya, nona" ucap Felix sedikit memelas.
Grizz yang mendengar ucapan Felix yang merasa bersalah padanya pun akhirnya menganggukkan kepalanya. Ia sungguh tak tega jika ada orang yang harus mengiba agar mendapatkan maaf darinya. Terlebih orang itu adalah dia yang selalu membantunya dan baik kepadanya selama ini.
Mereka pun kembali fokus pada jalanan yang sudah mulai ramai. Dalam mobil itu pun sudah tak ada lagi perbincangan apapun terlebih membahas tentang Harto. Tak berapa lama mobil yang dikendarai oleh Felix memasuki gerbang mansion milik Alex. Grizz segera saja turun dari mobil itu setelah Felix menghentikan laju kendaraannya.
Grizz kini berada di ruang kerja Alex setelah melaksanakan makan malam bersama. Entah apa yang akan dibicarakan oleh Alex namun suasana dalam ruang kerja itu mendadak serius membuat Grizz sedikit takut. Terlebih kini sudah hampir 15 menit dirinya duduk didepan Alex namun laki-laki itu hanya menatapnya datar.
"Hari ini adalah hari terakhir ujian sekolahmu. Jadi?" ucap Alex penuh teka-teki dengan wajah datar yang masih ditampilkannya.
Grizz menatap penasaran kearah Alex yang benar-benar seperti memberikan teka-teki kepadanya. Grizz yang memang otaknya lemot jika tak berhubungan dengan pelajaran sekolahnya pun masih terdiam dengan bibirnya yang melongo. Ia sedang berpikir untuk menjawab pertanyaan dari Alex yang menurutnya aneh itu.
__ADS_1
Tiba-tiba saja Alex mendengus kesal karena sepertinya Grizz dalam mode otak lemot kali ini sehingga sangat lama terdiam. Padahal Alex ingin semuanya segera dibicarakan namun sepertinya dia harus bersabar menghadapi Grizz.
"Kamu masih ingatkan perjanjian kita dulu, jika kamu sudah lulus sekolah maka akan menikah denganku. Ini sudah selesai ujian sekolah maka aku minta buat kamu mempersiapkan diri untuk pernikahan kita" lanjutnya menjelaskan.
Grizz seketika menatap serius kearah Alex setelah mendengar penjelasan dari laki-laki itu. Tak dipungkiri ada rasa takut dan khawatir mulai menyergapnya. Ia tak bisa membayangkan bagaimana pernikahan antara dua manusia yang sama sekali tak memiliki rasa cinta. Ayah dan ibunya dulu yang mempunyai cinta saja bisa luntur karena salah satu pihak yang terus menyakiti.
"Iya, aku masih ingat. Tapi aku sedikit ragu akan pernikahan yang kita jalin nantinya. Terlebih kita menikah karena sebagai pelunas hutang ayahku. Kira-kira sampai berapa lama pernikahan ini berlangsung?" ucap Grizz ragu-ragu.
Grizz berkaca pada pernikahan kedua orangtuanya juga ayah dan ibu tirinya saat ini. Walaupun dalam keadaan berbeda dengan Alex yang sudah mapan, namun ia takut jika nanti akan membuat keduanya tersakiti. Alex yang melihat keraguan di hati Grizz pun langsung saja berjalan mendekat kearahnya.
"Kita bukan menikah kontrak jadi pernikahan ini akan berlangsung selamanya. Kau juga bukan sebagai pelunas hutang ayahmu karena aku benar-benar jatuh cinta padamu. Di hati ini, sudah terukir namamu" ucap Alex sambil memegang tangan Grizz yang kemudian mengarahkannya pada dada bidangnya.
Grizz menatap mata Alex dengan pandangan menelisik. Terlihat sekali jika Alex mengungkapkan perasaannya itu dengan tulus. Pancaran matanya terlihat sebuah ketulusan dan kejujuran walaupun semua ini berawal dari paksaan. Namun Grizz yang memang belum pernah merasakan jatuh cinta pun jadi bingung dengan perasaannya sendiri.
"Grizz bingung. Grizz belum pernah merasakan jatuh cinta itu seperti apa, yang Grizz rasakan adalah aku merasa nyaman dan aman di dekat tuan Alex. Kalau kita nikah selamanya, nanti tuan Alex akan menjadikanku seperti pembantu kaya di novel-novel nggak?" tanya Grizz penasaran.
Alex pun hanya bisa menghela nafasnya pasrah. Ternyata Grizz tak bisa jika diajak romantis atau seperti apa untuk membuat moment manis. Yang ada kepolosan gadis itu membuatnya kesal. Alex pun memilih keluar dari ruang kerjanya meninggalkan Grizz yang kebingungan.
__ADS_1
"Persiapkan dirimu untuk menikah denganku satu minggu lagi. Ingat satu hal, menjadi istriku berarti kau harus belajar menjadi kuat" ucap Alex sebelum benar-benar pergi.