
"Coba sini jelaskan dengan apa yang sebenarnya terjadi" ucap Alex setelah keduanya sampai di kamar.
Alex sengaja untuk meminta penjelasan Grizz di dalam kamar agar saat nanti ia menegurnya, gadis itu takkan malu kalau tiba-tiba ada yang datang. Biarlah cara mendidik dan menegurnya itu hanya Alex sendiri yang tahu. Ia tak ingin istrinya menjadi pusat perhatian yang lain karena tegurannya yang keras.
"Tadi Grizz lihat dari balkon. Dari balkon, cicaknya kelihatan banyak sekali nggak kaya kemarin yang hanya lihat sekilas. Grizz langsung menarik tangan kak Nicho untuk mengantar ke kandang itu, kami semua bermain disana. Sampai tongkat besi yang dibawa Grizz digigit sama cicak itu. Grizz hampir jatuh ke kandang cicak itu" jelas Grizz menjelaskan semua kejadian yang sebenarnya.
Walaupun sebenarnya Grizz sedikit takut jika nantinya sang suami akan marah, namun ia memutuskan untuk jujur. Alex yang sudah mengetahui semuanya dari Bibi Yun mengangguk puas terlebih kini Grizz jujur padanya. Kini Alex segera saja menghadapkan wajahnya dengan sang istri kemudian menatap matanya dengan begitu dalam.
"Grizz, istriku. Apa yang kamu lakukan itu sangat berbahaya, jadi di masa nanti atau mendatang akan lebih baik untuk kamu tak melakukannya. Kamu mau kalau tubuhmu itu dicabik-cabik oleh gigi buaya? Jadi bagian kecil-kecil daging yang bisa saja membuatmu tak bisa lagi bersama denganku dan orang-orang yang menyayangimu. Kamu berharga untuk kami, jadi jangan sekali lagi melakukan hal yang akan menghancurkan semuanya" ucap Alex dengan tegasnya.
Mendengar ucapan yang dilontarkan oleh Alex tentunya Grizz langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat. Ia tak ingin tubuhnya yang sudah kecil ini harus terpotong-potong dan meninggalkan semua orang yang ada di sisinya saat ini. Untuk sampai di posisi menyenangkan dan membahagiakan seperti ini, Grizz harus melewati banyaknya kepedihan dari orang di masa lalu. Apalagi Grizz juga belum membalas semua rasa sakit hati ini pada keluarganya.
"Jadi Grizz nggak boleh ceroboh lagi ya, janji?" tanya Alex sambil mengulurkan jarinya tepat pada wajah Grizz.
Dengan cepat Grizz langsung saja menganggukkan kepalanya kemudian mengulurkan jari kelingkingnya kearah Alex. Kedua jari kelingking itu bertautan seperti hati mereka yang sudah saling tertaut sehingga mencoba berjanji untuk tak menyakiti. Setelah itu Grizz langsung saja memeluk Alex dengan eratnya kembali karena rasa rindunya yang masih begitu menggebu.
***
"Kak Alex, aku ingin segera belajar menjadi kuat agar bisa membungkam semua orang yang telah menyakitiku dulu" ucap Grizz tiba-tiba.
__ADS_1
Bahkan wajah polos Grizz yang tadi ditampilkan didepan Alex kini sudah tak ada lagi. Tertinggallah raut kecewa bahkan kesal karena sampai saat ini belum bisa membalas orang-orang yang menyakitinya. Padahal Alex memang sengaja menunggu Grizz agar mentalnya pulih dulu baru lah nanti akan diajari bagaimana menjadi kuat.
Namun tanpa Alex sadari, Grizz ternyata sudah bosan terbelenggu dengan rasa sakit hatinya itu. Ia ingin segera menuntaskan apa yang sudah terjadi di masa lalu agar kehidupannya kini bisa dengan mudah ia lewati. Ia ingin merasakan kenyamanan tanpa bayang-bayang masa lalu yang masih menghantuinya.
"Memangnya kamu sudah siap?" tanya Alex memastikan.
Alex akan terus memastikan kalau Grizz melakukan semua ini karena keinginan dalam hatinya sendiri. Ia tak mau kalau Grizz nantinya malah berhenti di tengah jalan saat melihat wajah-wajah memelas dari orang-orang di masa lalunya. Tentunya ini merupakan tugas Alex untuk menguatkan mental dan komitmen dalam diri Grizz. Apalagi banyak orang di masa lalu Grizz yang bermuka dua dengan baik didepan gadis itu saja.
"Siap... Tolong bantu aku untuk membalaskan rasa sakit hatiku. Aku ingin segera memulai kehidupan baru dengan orang-orang yang menyayangiku tanpa adanya bayang-bayang masa lalu" ucap Grizz penuh keyakinan.
"Baiklah... Tapi nanti kalau kau ingat tentang rasa sakitmu di masa lalu, kau harus sekuat tenaga melawannya. Jangan lemah hanya karena sebuah ingatan" ucap Alex menekankan.
Mereka berdua menaiki tangga karena Grizz masih sedikit takut untuk menggunakan lift. Alex pun menuruti keinginan istrinya karena ini bisa juga untuk melatih kekuatan fisik dari Grizz. Terlebih istrinya itu sangat aktif maka akan dengan mudah bagi dirinya untuk membiasakannya berolahraga. Sesampainya di depan sebuah pintu, Alex langsung membukanya kemudian keduanya masuk kedalam.
"Wah... Ini pistol kaya waktu ang dipegang kak Alex saat di mobil ada yang ngejar itu kan?" tanya Grizz dengan antusias.
Alex menganggukkan kepalanya pertanda bahwa ucapan Grizz itu benar adanya. Setelah itu Alex memberikan instruksi pada Grizz untuk melakukan pemanasan agar otot-otot tangan dan kaki gadis itu tak menegang saat nanti akan melakukan gerakan. Grizz pun mematuhinya kemudian menirukan gerakan dari Alex.
"Tangannya yang benar. Tekuk 90 derajat kemudian badannya naik turun seakan berjongkok" intruksi Alex dengan tegas.
__ADS_1
Grizz mengomel dalam hatinya karena sekarang Alex sudah seperti seorang guru galak yang menegur siswanya yang melakukan kesalahan. Ia tak menyangka kalau Alex akan mengajarinya dengan begitu serius. Padahal ia tadi berharap kalau latihannya itu akan santai seperti berlari kecil.
"Jangan melamun" serunya.
Grizz yang melamun sontak saja terkejut kemudian kembali fokus dengan apa yang diinstruksikan oleh Alex. Latihan hari ini hanya latihan fisik saja agar nantinya Grizz tidak kaget jika suatu saat tubuhnya terkena sebuah pukulan. Untuk latihan menggunakan alat seperti pistol dan lainnya, akan Alex ajarkan kalau Grizz sudah mahir dalam berlatih fisiknya.
"Ayo sekarang kamu tendang aku. Anggap kalau aku ini musuhmu, bukan suamimu" ucap Alex.
Ada keraguan dalam mata Grizz saat dirinya diperintahkan untuk menendang Alex. Namun Alex juga meyakinkan Grizz kalau dirinya tak masalah jika nantinya ia terluka karena tendangan dari istrinya itu. Benar saja, dengan gerakan tiba-tiba Grizz melayangkan tendangan kakinya kearah Alex.
Dugh...
"Lagi Grizz kurang kuat" seru Alex.
Dugh...
Grizz terus menendang menggunakan kakinya menuju kearah Alex yang kemudian ditangkis oleh tangan Alex. Hingga berulang kali Alex meminta Grizz untuk menendangnya sampai gadis itu kelelahan. Melihat wajah kelelahan Grizz itu sontak saja Alex langsung menghentikan sesi latihan kali ini.
"Cukup..." ucap Alex yang membuat Grizz segera merebahkan tubuhnya diatas lantai dengan wajah yang sudah dipenuhi keringat.
__ADS_1