
Dua hari sudah Grizz dirawat di rumah sakit, akhirnya hari yang ditunggu-tunggu oleh gadis polos itu datang juga. Hari ini adalah hari kepulangan Grizz ke rumah, bahkan sudah dari kemarin gadis itu merengek minta pulang. Namun Alex belum mengijinkan sesuai dengan anjuran dari dokter dan psikiater yang menanganinya. Grizz sudah merasa bosan dengan keadaan rumah sakit yang menurutnya tak enak ditinggali.
Bahkan setiap hari di ruangannya hanya ada Dara dan Bibi Yun yang menjaganya. Sedangkan Alex, Felix, dan Luis akan bergantian jaga pada malam hari saat Grizz sudah tertidur. Saat gadis itu bangun, tentunya ketiganya sudah berangkat ke kantor karena jaraknya yang lumayan jauh membuat mereka pergi lebih awal. Namun kini ketiganya bisa meluangkan waktunya untuk menjemput Grizz.
"Wah... Kak Alex dan semuanya bisa jemput Grizz" ucap Grizz dengan senyum cerianya.
Mereka begitu bahagia karena selama beberapa hari ini Grizz sama sekali tak menunjukkan adanya ketakutan semacam trauma lagi. Namun mereka harus waspada saat nanti Grizz pulang atau menemui sesuatu yang membuat traumanya kembali.
"Kamu bahagia?" tanya Alex sambil mengelus lembut rambut Grizz.
"Sangat bahagia" ucap Grizz sambil menampilkan senyum lebarnya.
Mereka terkekeh gemas melihat kelucuan Grizz yang seperti anak kecil mendapatkan permen. Setelah dipastikan semuanya beres, akhirnya Grizz segera digedong ala koala oleh Alex sedangkan yang lainnya berjalan dibelakangnya. Awalnya Grizz tak mau digendong, namun Alex tetap kekeh untuk menggendong gadis itu agar nanti tak merasa ketakutan jika bertemu sesuatu yang berhubungan dengan tarumanya.
"No... Ndak mau masuk lift" rengek Grizz saat mereka berada didekat lift rumah sakit.
Bahkan Grizz langsung menelusupkan wajahnya di ceruk leher Alex kemudian topi hoodienya ia pakai membuatnya tak melihat apapun yang ada disana. Alex menatap semua orang yang ada disana untuk memberikan kode agar beberapa orang mengikutinya dari belakang. Sedangkan yang lainnya bisa segera menggunakan lift seperti biasanya.
"Iya, kita pakai tangga" ucap Alex dengan lembut.
Mendengar hal itu Grizz langsung mengeluarkan kepalanya yang ia sembunyikan kemudian menatap Alex yang kini berjalan menuju kearah tangga. Ruangan Grizz ada di lantai 3 yang tentunya membuat mereka lumayan akan melakukan olahraga turun tangga menuju lantai 1.
__ADS_1
"Grizz jalan saja, berat lho ini badannya aku. Mana ini ada di lantai 3 kan harus turun banyak tangga" ucap Grizz menatap suaminya dengan penuh harap.
Alex tak menggubris ucapan dari Grizz malah ia tetap melangkahkan kakinya menuju tangga. Grizz yang kesal karena keinginannya tak digubris pun akhirnya memilih diam kemudian mengalungkan kedua tangannya di leher sang suami. Sedangkan empat bodyguard mengawasi di belakang keduanya dengan wajah datarnya.
"Kalau capek bilang ya, biar Grizz yang ganti gendong kak Alex" ucapnya sambil terkekeh geli.
Alex terkekeh pelan mendengar ucapan dari Grizz. Darimana bisa Grizz yang menggendongnya, sebelum sampai di bawah malah sudah jatuh bergulingan di tangga kemungkinanannya. Rasanya Alex ingin menciumi pipi istrinya itu dengan bertubi-tubi namun ia begitu gengsi dengan para bodyguard yang ada dibelakangnya.
***
Sekitar 10 menit akhirnya mereka sampai di lantai 1 dengan Dara, Bibi Yun, dan yang lainnya sudah menunggu disana. Dengan dahi yang sudah bercucuran keringat karena merasa berolahraga siang hari, Grizz langsung meminta tisue kepada Dara. Dara yang menyerahkannya kemudian Grizz mengelap dengan lembut dahi berkeringat Alex.
"Terimakasih sayang" bisik Alex membuat Grizz bersemu merah pipinya.
"Ayo pulang..." seru Grizz dengan senyum merekahnya mengajak semuanya segera pulang.
"Baik nona" ucap mereka serentak.
Grizz begitu takjub dengan kekompakan semuanya menjawab ajakannya dengan serentak. Namun tak berapa lama, Alex segera saja berjalan diikuti oleh yang lainnya keluar dari rumah sakit. Setelah sampai di lobby depan, mobil sudah siap siaga didepan Alex. Alex segera membawa Grizz masuk kedalam mobil itu diikuti oleh suaminya dengan Luis yang mengemudikannya.
***
__ADS_1
Mobil melaju kearah sebuah villa di perbukitan yang sangat jarang orang melewatinya. Bahkan disana hanya ada dua villa yang juga merupakan kepunyaan Alex semua. Satu untuk tempat tinggalnya, sedangkan satunya lagi dipergunakan bagi pekerjanya. Grizz yang melihat kalau arah mobil itu melaju bukan ke mansion seketika bingung hingga dia terus mengamatinya dan berpikir apakah dia lupa jalan lagi.
"Kak Alex, kita nggak pulang?" tanya Grizz bingung.
"Kita akan pulang" jawab Alex singkat.
"Emm... Maksudku nggak pulang ke mansion yang ada di dekat hutan itu. Perasaan jalannya nggak lewat ini deh" ucap Grizz mengeluarkan unek-uneknya.
"Kita akan ke rumah baru. Liburan..." jawab Alex sekenanya.
Ia tak ingin jika Grizz mengingat kejadian kelam di mansionnya sehingga untuk sementara waktu tinggal di villa. Terlebih tadi melihat respons Grizz mengenai lift, tentunya jika kembali ke mansion hanya akan berdampak buruk pada psikisnya. Selama ini Grizz juga jarang keluar mansion sehingga ini kesempatannya untuk liburan.
"Wah... Liburan bareng sama suami, Dara, ibu, kak Luis, dan kak Felix sama paman-paman yang lainnya juga" ucap Grizz dengan senyum cerianya.
Terlihat sekali jika Grizz begitu bahagia mendengar jika dia akan liburan. Terlebih kini sekolahnya telah usai dan tinggal menunggu ijazah turun saja. Selama tinggal bersama dengan keluarganya dulu, ia selalu menggunakan waktu libur sekolahnya untuk bekerja namun berbeda dengan sekarang. Kini Grizz benar-benar akan merasakan liburan yang sesungguhnya dengan orang-orang yang menyayanginya.
Untuk masalah kuliah, Grizz belum meminta ijin kepada Alex jika ingin melanjutkannya. Ia masih ragu untuk meminta ijin kepadanya terlebih nanti Alex harus mengeluarkan biaya yang begitu besar. Ia tak ingin Alex nanti bangkrut karena terlalu lama membiayainya sekolah.
Butuh waktu 3 jam untuk sampai di villa itu, namun Grizz sama sekali tak merasa lelah bahkan ngantuk. Saat sampai di villa itu, mata Grizz berbinar cerah melihat banyaknya kebun teh dan sayuran disana. Matanya langsung memandang hijaunya perkebunan yang dipunyai oleh Alex tanpa sepengetahuan Grizz.
"Wah... Grizz bakalan betah lama-lama disini" ucap Grizz.
__ADS_1
"Kamu boleh tinggal disini sampai kapan pun kamu mau" ucap Alex.
Grizz menganggukkan kepalanya dengan semangat. Ia akan memanfaatkan waktu sebanyak-banyaknya untuk menikmati udara juga pemandangan disini. Tak berapa lama, mobil yang dikendarai semuanya sampai lah disebuah villa yang teramat megah dan besar. Lagi-lagi Grizz menatap takjub apa yang ada didepannya itu. Dengan tak sabar, Grizz langsung turun dari mobil tanoa menunggu Alex.