
Ima datang ke rumah sakit untuk menjenguk Grizz bersama dengan ibu dan kedua adiknya. Berbekal mencuri dengar dari beberapa mahasiswa yang mengetahui dimana Grizz dirawat, Ima nekat datang menjenguk sahabatnya itu. Pasalnya informasi dimana rumah sakit yang dijadikan tempat Grizz dirawat begitu dirahasiakan.
Ini saja Ima hanya nekat saja walaupun nantinya harus kecewa jika tak bisa menemui Grizz atau bahkan salah alat. Saat Ima akan berpamitan menjenguk Grizz, ternyata ibunya ingin ikut. Hal ini membuat kedua adiknya juga harus diajak.
"Ini benar rumah sakitnya? Besar sekali. Bahkan mungkin nanti ruangannya juga yang paling bagus kan?" tanya Ibu Ima pada anaknya yang menggendong Evi.
"Ya namanya orang kaya, bu. Pasti ruangannya juga besar, mana mungkin saja banyak orang penting datang" ucap Ima sambil geleng-geleng kepala.
Namun pikiran Ima salah karena tak semua orang penting bisa menjenguk Grizz. Semuanya memang harus atas persetujuan Alex dan ketiga sahabatnya. Mereka tak ingin kecolongan dalam hal apapun lagi. Keempatnya segera mendekat kearah resepsionis.
"Permisi, mbak. Saya ke sini mau menjenguk pasien atas nama Grizzella Aneth. Bisa mbak tunjukkan dimana ruangannya?" ucap Ima mengucapkan tujuannya datang ke rumah sakit itu.
Sontak saja resepsionis yang menyambut kedatangan mereka itu langsung mengernyitkan dahinya heran. Pasalnya tak mungkin ada seseorang yang berani menjenguk istri dari Alex itu. Bahkan penjagaan di dekat ruangan itu saja sangatlah ketat. Tak lupa dengan hanya orang-orang khusus yang bisa masuk area itu.
"Mohon maaf, nona. Bukannya kami tak sopan dan melarang kalian menjenguk pasien. Hanya saja untuk menjenguk pasien dengan nama tersebut harus mempunyai ID Card khusus. Bahkan untuk saat ini hanya keluarga dan orang terdekat saja yang bisa menjenguknya" ucap resepsionis itu tak enak hati.
Memang sudah prosedur di rumah sakit itu kalau kedatangan tamu haruslah sopan. Bahkan mereka dilatih untuk tak membeda-bedakan siapapun terutama mengenai kasta. Raut wajah respsionis itu terlihat merasa bersalah karena melarang orang untuk menjenguk pasien.
Namun mereka juga tak bisa membiarkan sembarangan orang masuk area khusus. Bahkan tim medis yang ingin memasuki ruangan pasien itu saja diperiksa terlebih dahulu. Ima dan ibunya juga kedua adiknya menganggukkan kepalanya mengerti. Mereka tak bisa menunjukkan ID Card khusus yang bisa masuk area ruangan pasien itu.
"Kami mengerti, mbak. Lagi pula kami ke sini juga dadakan sehingga tak tahu kalai ada aturan seperti ini. Kalau begitu, saya permisi" ucap Ima sambil tersenyum.
Resepsionis itu hanya menganggukkan kepalanya. Ima dan ibunya berjalan pergi kearah jalan keluar rumah sakit. Saat mereka berjalan keluar kearah pintu rumah sakit, ada seseorang yang memanggil Ibu Ima.
"Ibu Mahda..." panggil seorang wanita tua yang sepertinya mengenali Ibu Ima.
Sontak saja Ibu Mahda yang tak lain ibu dari Ima itu mengalihkan pandangannya. Ternyata di sana ada Bibi Yun dan Dara bersama dengan anak buah Alex tengah berjalan mendekat. Awalnya mereka akan pergi mencari makanan, namun ternyata Bibi Yun mengenali seseorang yang baru saja berjalan kearah keluar rumah sakit.
Setelah Bibi Yun berada di dekat Ibu Mahda, Ima, Evi, dan Evan itu pun langsung mengajaknya segera pergi dari sana. Awalnya Ibu Mahda tak mau karena harus segera pulang namun dipaksa oleh Bibi Yun.
"Ayo ikut saja. Kita makan dulu baru jenguk Grizz" ucap Bibi Yun yang tahu kalau niat mereka memang akan menjenguk Grizz.
"Tapi tadi kata resepsionis itu bilang kalau masuk ke sana harus pakai kartu apa gitu. Kami pulang saja ya, bu" ucap Ibu Mahda mengutarakan alasannya.
__ADS_1
"Kami ini kan keluarganya Grizz. Kalau kalian datangnya sama kami ya tak kenapa-napa. Paling nanti di cek saja barang bawaannya" ucap Bibi Yun.
Mereka memang hanya membawa satu kantong plastik berisi buah-buahan. Itu pun mereka membelinya di pinggir jalan yang mungkin berbeda dengan yang dibeli oleh keluarga Grizz. Akhirnya setelah dipaksa oleh Bibi Yun, mereka mau mengikuti untuk mencari makanan.
"Ini ya yang namanya Ima? Grizz selalu ceritain kamu dan adik-adikmu yang lucu ini lho" ucap Bibi Yun sambil tersenyum.
Grizz memang selalu menceritakan tentang teman-temannya yang ada di kampus. Bahkan pertemuannya dengan Ima juga kedua adiknya. Bibi Yun dan yang lainnya tak pernah melarang Grizz untuk berteman dengan siapapun. Asalkan itu tak membawa pengaruh buruk pada Grizz.
"Iya, bu. Kenalkan ini namanya Evi dan itu Evan" ucap Ima sambil tersenyum.
"Aduh... Lucunya. Pantas saja Grizz selalu menceritakan kalian berdua" ucap Bibi Yun sambil terkekeh lucu.
Mereka pun terus saja berbincang hingga sampai di kantin. Bibi Yun memesan banyak makanan untuk anak buah Alex dan orang yang menunggu Grizz. Sedangkan Evi dan Evan juga dibelikan cemilan agar nanti tak bosan saat meladeni Grizz.
***
"Wah... Ini ruang rawat inap apa hotel? Rumah kita aja masih lebih luas ruangan ini lho" bisik Ibu Mahda pada Ima.
"Namanya juga orang khusus dan spesial, bu" ucap Ima juga berbisik pada ibunya.
Saat mereka masuk dalam ruangan Grizz, Ibu Mahda hanya bisa menatap takjub ruang rawat inap itu. Pasalnya ruangan itu luasnya melebihi rumah sempitnya. Bahkan jauh lebih bersih dengan lantai keramik. Sedangkan rumahnya saja tak berlantaikan keramik.
"Pi, Pan..." seru Grizz yang menyadari kedatangan sahabat bocilnya.
"Kak Dliss..." seru Evi dan Evan bersamaan.
Walaupun Grizz sedikit kesal dengan panggilan yang dilontarkan oleh Evi dan Evan namun ia sangat bahagia dengan kedatangan mereka. Ia takka bosan kalau ada mereka di sini. Sebisa mungkin ia akan menahan mereka agar tak cepat pergi dari ruangannya.
Ima dan ibunya segera menurunkan kedua bocah kecil itu kemudian menuntunnya mendekat kearah Grizz. Kebetulan di sana hanya ada Tuan Grey saja yang menunggu karena Alex dan ketiga sahabatnya sedang mengurus para pelaku yang melukai Grizz. Tuan Grey yang tadinya duduk di samping brankar Grizz pun langsung berdiri dan menyingkir.
"Pi, Pan... Ayo naik sini. Kita main mobil-mobilan" seru Grizz.
Sontak saja semua orang yang mendengarnya itu hanya bisa geleng-geleng kepala. Di sana memang ada mainan mobil-mobilan yang dibawa oleh anak buah Alex. Grizz pun meminjamnya dengan bantuan Alex karena merasa bosan dengan game yang ada di ponselnya.
__ADS_1
"Jangan naik, nak. Kan nak Grizz masih sakit, masa iya diganggu. Lebih baik nak Grizz sekarang tidur dan istirahat agar cepat sembuh hingga bisa main lagi" ucap Ibu Mahda menasihati.
"Malaslah, bu. Masa iya Grizz disuruh tidur mulu sih" kesal Grizz.
"Memang harus seperti itu, Grizz. Biar cepat sembuh dan keluar dari rumah sakit" ucap Ima menimpali ucapan ibunya.
"Pokoknya Grizz mau main sama Evi dan Evan. Ayolah naikkan mereka ke ranjang Grizz, ini brankar tempat tidurnya bisa muat untuk orang satu RT lho" ucap Grizz terus membujuk.
Tuan Grey hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar apa yang diucapkan oleh Grizz itu. Terlalu berlebihan kalau ranjang itu bisa digunakan untuk orang satu RT. Tapi ya sudahlah, namanya juga Grizz yang keras kepala saat menginginkan sesuatu.
"Biarlah. Naikkan saja. Sini sama kakak" ucap Tuan Grey tiba-tiba.
Bahkan Tuan Grey segera saja menggendong Evan kemudian diletakkannya pada brankar tempat tidur Grizz. Begitu juga dengan Evi, keduanya memekik senang karena bisa bertemi dengan Grizz. Bahkan Tuan Grey langsung memposisikan keduanya agar duduknya lebih nyaman.
"Apa itu nanti tidak mengganggu Grizz istirahat, tuan? Seharusnya Grizz harus banyak istirahat dan tak bermain seperti itu" ucap Ima dengan takut-takut.
"Tak apa. Semakin tak dituruti, anak itu akan semakin mengomel" ucap Tuan Grey.
Ima hanya menganggukkan kepalanya, sedangkan Ibu Mahda langsung ditarik Bibi Yun agar duduk di sofa. Tuan Grey segera melihat kearah gadis yang berdiri di sampingnya. Gadis itu kini tengah tersenyum melihat Grizz sedang menjahili kedua adiknya.
Tuan Grey memegang dadanya yang berdebar-debar karena melihat senyuman itu. Walaupun hanya sekilas, namun itu membuat jantungnya berdebar bahkan langsung menggelengkan kepalanya. Tuan Grey menepis perasaan asing yang baru saja muncul itu. Ia tak mau jika sampai menaruh perasaan pada seseorang yang mungkin tak bisa menjadi miliknya.
Bahkan buru-buru Tuan Grey mengalihkan pandangannya sebelum gadis di sampingnya itu mengetahui dirinya mencuri pandang. Tuan Grey pun memilih duduk di sofa untuk memfokuskan dirinya pada pekerjaannya.
"Ima, Grizz ini nggak dibolehin kuliah lagi lho sama Kak Alex. Kita jadi jarang ketemu nanti, sering-sering main ke rumah Grizz ya. Nanti Grizz kesepian lho, mana Dara sekarang udah mau nikah" ucap Grizz menceritakan kegelisahannya.
"Bukan nggak dibolehin kuliah, Grizz. Kan kuliahya hanya jadi online saja" ucap Tuan Grey meralat ucapan adiknya.
Grizz memang sudah mengetahui tentang dirinya akan berkuliah online sampai kondisinya benar-benar membaik. Awalnya Grizz menolak dengan tegas namun Alex tak mau ditolak. Alex sudah kekeh dengan keinginannya yang mewajibkan Grizz berkuliah online selama kondisinya masih drop.
Ima yang mendengarnya juga cukup sedih karena nantinya akan jarang bertemu Grizz. Apalagi di kampus, ia takkan ada teman bermain lagi. Dia akan kembali sendirian menjalani harinya di kampus. Namun ia tak boleh egois, pasalnya Alex menginginkan Grizz seperti ini juga untuk kebaikan perempuan itu.
"Sama aja ih" protes Grizz.
__ADS_1
"Sudah tak apa. Lagian Grizz kan harus istirahat biar nggak sakit lagi. Pokoknya Ima akan selalu menunggu kedatangan Grizz kembali di kampus. Semoga Grizz bisa segera puliha kembali ya" ucap Ima sambil tersenyum.
Grizz hanya menganggukkan kepalanya mengerti. Kini Grizz segera saja melanjutkan acara bermainnya bersama Evi dan Evan. Sedangkan Ima sendiri hanya mengawasi ketiganya.