Takdir Cinta Gadis Pelunas Hutang

Takdir Cinta Gadis Pelunas Hutang
Terharu


__ADS_3

"Oh... Oke, Pi dan Pan. Aku Kak Grizz bukan Dliss ya. Ingat itu" ucap Grizz sambil tersenyum bahagia.


"Iya, Kak Dliss" ucap Evan sambil sedikit menaikturunkan alisnya.


Tentu saja ini untuk menggoda Grizz karena terlihat sekali kalau wajah gadis itu sedikit kesal dengan panggilan yang diucapkan padanya. Mereka yang memang belum bisa mengucapkan kalimat yang susah pun juga menjadi kendalanya. Ima tak menyangka saat adiknya ternyata bisa langsung akrab dan tak takut pada Grizz yang notabene adalah orang asing.


"Ish... Pan ngeselin" ucap Grizz sambil memalingkan mukanya pertanda kalau ia ngambek.


"Epan tuma beljanda lho, Kak Dliss" ucap Evan dengan nada sedikit bersalah.


Diam-diam, Grizz tertawa mendengar rengekan dan nada bersalah yang diucapkan oleh Evan. Sedangkan Ima hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah Grizz yang ternyata sangat jahil. Bahkan kini Evan yang biasaya terlihat pendiam pun dibuat gelagapan oleh Grizz. Evan segera saja merangkak kearah Grizz kemudian duduk dipangkuannya.


"Kak Dliss yang ndak antik, mamapin Epan ya" uap Evan dengan wajah memelasnya.


"Eh... Matudna yang antik tok" lanjutnya sambil terkekeh geli saat melihat Grizz langsung memicingkan mata kearahnya.


Tentu saja Evan sungguh terhibur dengan raut wajah Grizz yang selalu berubah-ubah saat dirinya merasa diabaikan atau diledek. Grizz pun tadi hanya berpura-pura ngambek karena menurutnya mendengar rengekan anak kecil itu merupakan hiburan baginya. Grizz langsung memeluk Evan dari belakag dan bocah kecil itu pun anteng hingga pasrah saja.


"Kalian mau susu nggak?" tanya Grizz menawarkan minuman kesukaannya.


"Eh.. Grizz jangan nawarin susu kaya gitu. Nanti mereka jadi ketagihan lho, kami takut nggak bisa memenuhinya. Pasti mereka akan merengek terus-terusan kalau sudah ketagihan. Jadi urungkan niatmu untuk membeikan susu mereka ya" ucap Ima yang langsung menolak apa yang ditawarkan oleh Grizz.

__ADS_1


Padahal Evi dan Evan itu sudah menganggukkan kepalanya antusias. Mereka berdua akhirnya meluruhkan bahunya lesu setelah mendengar apa yang diucapkan oleh kakaknya. Mereka ingin sekali seperti anak kecil tetangganya yang meminum susu yang ada di minimarket.


Selama ini Evan dan Evi memilih diam sekaligus meneguk salivanya saja saat melihat pemandangan itu. Ia tak berani untuk meminta pada kakak atau ibunya karena tahu kalau mereka tidak bisa membelikannya. Pernah mereka meminta, namun ibunya selalu bilang suruh menunggu kalau sudah ada uang.


Grizz yang memang pada dasarnya cuek dan keras kepala itu pun tak menggubris sama sekali ucapan dari Ima. Grizz langsung mengambil ponselnya kemudian memberi pesan kepada Nela. Ia meminta Nela membelikan susu kotak kemasan dan bubuk untuk anak usia dua tahun. Ima yang dicueki oleh Grizz itu hanya bisa pasrah saja dengan apa yang dilakukan oleh temannya itu.


"Ini mainannya sudah jelek. Besok kita beli ya, soalnya hari ini Kak Grizz nggak bisa lama-lama" ucap Grizz saat melihat mobil-mobilan yang dipegang oleh Evan.


"Nemangna Kak Dliss una wang wuwat eli ini?" tanya Evan dengan polosnya.


"Uang Kak Grizz banyak, sampai bingung nih mau habisinnya gimana. Makanya kita buat beli mainan dan susu yang banyak buat kalian" seru Grizz dengan antusiasnya.


Evan dan Evi yang mendengar hal itu segera saja menganggukkan kepalanya dengan antusias. Tentunya anak sekecil mereka akan langsung senang apabila apa yang diinginkannya terpenuhi. Berbeda dengan Ima yang sangat tak enak hati bahkan merasa sedikit lancang. Baru juga berteman dengan Grizz sehari namun kesannya ia begitu memanfaatkan temannya itu.


"Terimakasih, pama" ucap Grizz pada kedua anak buah Alex.


"Sama-sama, nona" ucap mereka sambil menundukkan kepalanya hormat.


Keduanya pun segera keluar dari rumah Ima. Grizz memberi kode kepada Evi untuk duduk dekat dengannya. Evi langsung saja melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Grizz. Ia juga sudah tidak sabaran untuk membuka apa yang ada di dalam kardus itu. Grizz meletakkan Evan di atas tikar kemudian ketiganya duduk melingkari kardus itu.


"Ayo kita buka" seru Grizz dan diangguki oleh Evi juga Evan dengan antusias.

__ADS_1


Mereka bertiga asyik membuka kardus itu yang berisi banyaknya susu dalam kemasan. Grizz segera mengambilkan keduanya susu dengan masing-masing satu. Bahkan Grizz langsung saja mengambil sedotan dan meminta mereka merasakan susu itu. Kedua mata mereka membulat dan berbinar cerah karena rasa manis juga enak yang terasa pada lidah juga tenggorokan.


"Nenak..." seru Evi sambil menggelengkan kepalanya.


Ima yang melihat kedua adiknya begitu bahagia dengan satu kotak kecil susu itu membuatnya begitu terharu. Ima langsung mengalihkan pandangannya kearah lain karena tiba-tiba saja matanya mulai memanas. Ia merasa tak berguna sebagai seorang kakak karena tak bisa membelikan apa yang diinginkan oleh adiknya itu.


"Iya, ni cangat nenak" ucap Evan menyetujui apa yang diucapkan oleh kembarannya.


"Kalau begitu, ini buat kalian. Tapi minumnya yang kemasan ini jangan terlalu sering ya. Untuk yang susu bubuk ini, bisa diminum setiap hari saat pagi dan malam" ucap Grizz memberitahu.


Evan dan Evi menganggukkan kepalanya mengerti apa yang diucapkan oleh Grizz. Ima yang sudah tak tahan dengan rasa harunya itu segera saja mendekat kearah Grizz. Ima langsung memeluk Grizz kemudian menangis dalam pelukan gadis itu. Ia tak menyangka bisa mempunyai teman sebaik Grizz yang mau membantunya membahagiakan kedua adiknya.


"Terimakasih. Kamu orang baik, pasti hidupmu kelak akan seterusnya bahagia. Tuhan memberkati" bisik Ima dengan suara lirihnya.


"Semua orang baik. Yang masih berbuat jahat pun suatu saat nanti akan menjadi baik kalau sudah dapat teguran dari Tuhan. Kita harus jadi orang baik dan berguna untuk sesama, selagi mampu. Tuhan memberkati kamu dan keluarga juga" ucap Grizz sambil mengelus lembut punggung Ima.


Grizz dulu yang memang tidak pernah merasakan susu kotak seperti ini saat kecil, ingin sekali berbagi kebahagiaan dengan sesama. Ia tak ingin orang yang berada di dekatnya itu merasakan apa yang dulu dirasakannya. Ingin memiliki dan menikmati sesuatu namun terganjal oleh biaya yang tidak punya. Grizz tersenyum melihat Evan dan Evi yang tersenyum sedari tadi karena bisa meminum susu kotak itu.


"Nona, waktunya anda pulang. Oh iya.. Ini ada pesan dari Tuan Alex untuk memberikan ini" ucap Nela yang tiba-tiba saja masuk dalam rumah sambil menyerahkan sebuah kantong plastik besar.


Ima segera saja melepaskan pelukannya dari Grizz. Grizz segera saja mengambil satu kantong plastik besar yang dibawa oleh Nela itu. Grizz membukanya dan melihat apa yang ada di dalamnya. Ternyata itu adalah beberapa biskuit juga makanan ringan untuk kedua adik Ima.

__ADS_1


"Ini buat kalian, dimakan ya. Kak Grizz harus segera pulang" ucap Grizz yang langsung berpamitan.


Evan dan Evi merasa kehiangan Grizz saat perempuan itu berpamitan. Grizz berjanji akan sering main ke rumah ini setelah pulang kuliah. Keduanya pun menganggukkan kepalanya kemudian memeluk Grizz. Sedangkan Ima sudah tak bisa lagi berkata apapun, pasalnya hari ini dia sangat bahagia. Melihat senyum kedua adiknya dan mendapatkan teman yang begitu baik.


__ADS_2