Takdir Cinta Gadis Pelunas Hutang

Takdir Cinta Gadis Pelunas Hutang
Pengawasan


__ADS_3

"Lihat ini, Lex" ucap Josh sambil menunjukkan layar ponselnya pada sahabatnya itu.


Kini Alex, Josh, Nando, dan Nicho sedang ada di markas dunia bawah. Lebih tepatnya markas organisasi dunia bawah milik Alex. Semalam mereka memang menginap disini untuk lebih menenangkan diri karena tempatnya yang begitu tersembunyi. Bahkan sangat jarang ada orang yang ingat jalan masuk markas ini karena Alex membuatnya dengan sistem lupa ingatan.


Bagi musuh dan orang-orang tak penting akan seketika lupa kalau tadi habis masuk dalam area markas. Bahkan tak jarang mereka akan seperti orang linglung ketika keluar dari markas milik Alex. Makanya sahabat-sahabatnya akan datang kemari jika memang diajak oleh Alex saja.


Saat ini keempatnya sedang duduk di ruang makan setelah menyelesaikan sarapannya. Josh yang memang tadi memeriksa CCTV dan penyadap suara di rumahnya langsung saja terkejut dengan apa yang dilihat juga didengarnya. Disana ia melihat Grizz yang meronta dalam pelukan maidnya sambil menangis histeris. Kalimat yang diucapkan pun begitu menyayat hatinya.


"Udah biasa dia seperti itu. Makanya aku tak membiarkan dia untuk sendiri. Mungkin ini sahabatnya sudah tertidur pulas sehingga dia merasa sendirian terus keluar cari angin" ucap Alex menanggapinya dengan santai.


Walaupun terkesan santai namun terlihat dari mata Alex kalau laki-laki itu begitu khawatir dengan apa yang terjadi pada istrinya itu. Sedangkan Nando dan Nicho yang penasaran langsung merebut ponsel Josh yang ada di tangan Alex. Mereka berdua dengan seksama mendengarkan curhatan dari gadis yang sudah mereka anggap sebagai adik itu.


"Lex, antarkan aku ke keluarga Grizz" ucap Nicho dengan mata yang masih menatap tajam kearah ponsel Josh.


Mendengar ucapan Nicho dan raut wajahnya yang begitu memerah karena emosi, yang lainnya tahu tujuan laki-laki itu ingin mendatangi keluarga Grizz. Walaupun Nicho kadang terkesan tengil bahkan aneh namun saat marah seperti ini tentunya membuat mereka sedikit agak takut.


"Sabar. Seperti yang aku bilang waktu itu, aku ingin menyembuhkan dan menguatkan mental Grizz dulu. Dia yang akan membalas semuanya" ucap Alex mencoba memberi pengertian.


"Lex, kalau ada kita yang bisa melindunginya dan membalaskan rasa sakitnya, buat apa Grizz harus membalas dengan tangannya sendiri?" tanya Nicho dengan tatapan tajamnya.


Alex hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar apa yang diucapkan oleh Nicho itu. Nicho terlihat tak sabaran dengan kedua tangan yang sedari tadi mengetuk-ngetuk meja makan. Bahkan giginya mengerat saat ia melihat sendiri bagaimana kerapuhan Grizz.

__ADS_1


"Akan ada kepuasan dalam diri Grizz jika ia mampu membalas orang-orang yang menyakitinya. Sabar Nic, toh gue sebagai suaminya takkan membiarkan dia terluka atau sendirian" ucap Alex yang kemudian berdiri dari duduknya.


Alex memilih untuk keluar dari markasnya kemudian diikuti oleh ketiga sahabatnya itu. Nicho yang masih kesal dan emosi hanya diam tak menanggapi apa yang diucapkan oleh sahabar-sahabatnya itu.


***


"Grizz bangun..." seru Dara sambil menggoyang-goyangkan tubuh sahabatnya.


Tumben sekali Grizz ini sudah jam 7 pagi belum lah bangun. Padahal kalau di villa pasti sebelum maid berkumpul akan memasak, ia sudah standby di dapur. Namun Dara berpikir kalau Grizz seperti ini mungkom karena kejadian semalam.


"Grizz masih ngantuk" jawab Grizz sambil menepus tangan Dara yang menggoyangkan bahunya itu.


"Udah jam 7, semua maid dan bodyguard sudah menunggumu untuk makan. Mereka bisa mati kelaparan kalau telat makan woyyy" seru Dara dengan suara yang dibuat panik.


Tanpa aba-aba, Dara segera menyusul Grizz yang kini sudah sampai di ruang makan. Benar saja, saat Grizz sampai disana semua orang tengah menunggunya untuk sarapan. Mendengar suara langkah kaki mendekat, semua yang ada disana melihat kearah sumber suara.


Hampir semuanya menahan tawa karena melihat penampilan Grizz terutama rambutnya yang acak-acakan seperti singa. Bahkan kini wajahnya terlihat panik dan merasa sangat bersalah pada semua orang yang ada disana.


"Maafin Grizz sudah buat kalian menunggu. Jangan mati karena kelaparan dulu nanti arwahnya pada gentayangin Grizz" ucap Grizz sambil melengkungkan bibirnya.


Semua orang yang ada disana kebingungan namun saat melihat Dara di belakang Grizz yang tertawa kecil membuat mereka hanya bisa geleng-geleng kepala. Sudah dapat dipastikan kalau Dara tengah melakukan kejahilan pada Grizz.

__ADS_1


"Sudah tak apa. Ayo sarapan dulu semuanya. Buat Grizz, mandi dulu dan sisir rambutmu" titah Bibi Yun.


Mendengar ucapan Bibi Yun itu membuat Grizz sontak membalikkan tubuhnya pada cermin yang ada didekat ruang makan. Mata Grizz membulat melihat wajahnya yang begitu sayu bahkan rambutnya banyak yang berdiri.


Hahahaha...


Tawa semua orang yang ada di ruang keluarga sontak saja menggema membuat Grizz hanya bisa menutupi wajahnya dengan malu. Grizz langsung saja berlari keluar dari ruang makan menuju kamarnya sendiri. Dalam larinya itu, Grizz menggerutu kesal pada Dara karena tak memperingatkannya tentang penampilannya itu.


"Sudah ayo makan. Nanti biar Grizz, saya yang temani. Kalian kan harus bekerja setelah ini jadi makan lah terlebih dahulu" ucap Bibi Yun meminta mereka segera melakukan sarapan.


Mereka menganggukkan kepalanya mengerti kemudian melakukan sarapan dalam keadaan hening. Sedangkan Bibi Yun memilih untuk menyusul Grizz di kamarnya untuk memeriksa keadaan gadis itu.


***


Bibi Yun memasuki kamar Grizz dan terlihat lah jika gadis itu masih berada di kamar mandi. Ia juga langsung menyiapkan baju Grizz kemudian meletakkannya diatas kasur. Selang beberapa menit, Grizz keluar dari kamar mandi dengan menggunakan bathrobe nya saja.


"Lho... Ibu kok ada disini?" tanya Grizz dengan tatapan penasarannya.


"Mau memastikan kalau anak ibu ini nggak mainan air sehingga mandinya lama" ucap Bibi Yun sambil terkekeh pelan.


Grizz ikut tertawa mendengar celotehan itu. Grizz segera memakai pakaian yang disiapkan oleh Bibi Yun setelah mengucapkan terimakasih kepada wanita tua itu. Grizz memasuki sebuah ruang ganti kemudian mengganti pakaiannya dengan cepat.

__ADS_1


"Ibu, aku sudah selesai. Ayo sarapan" ajak Grizz sambil tersenyum ceria.


Bibi Yun menganggukkan kepalanya kemudian menggandeng tangan Grizz karena tingkah gadis itu yang malah berjalan dengan melompat-lompat. Mereka segera turun ke ruang makan yang ternyata disana sudah tak ada orang. Bahkan meja makan telah bersih, tersisa beberapa makanan khusus untuk keduanya yang memang belum sarapan. Keduanya segera makan dalam diam kemudian merapikan kembali setelah selesai dengan sarapannya.


__ADS_2