
Lamaran Dara dan Luis dilaksanakan hari ini. Ada sedikit rasa berkurang saat acara ini akan mulai dilaksanakan. Terlebih tak ada celotehan khas Grizz yang meramaikan suasananya ini. Semua telah bersiap di kediaman Josh, sedangkan Dara sendiri sudah berada di rumahnya sendiri.
Dara ditemani oleh Nela dan Neli yang bisa keluar masuk kamar gadis itu. Pasalnya Luis tak ingin kalau calon istrinya itu nanti malah diintimidasi oleh orangtuanya atau oranglain. Ini dikarenakan masih banyak orang yang sepertinya tidak setuju dengan adanya lamaran ini.
"Sepi ya, bu. Biasanya Grizz yang akan cerewet dan berlarian ke sana kemari hanya demi mengomentari apa yang terjadi. Namun Grizz juga sudah merasa kalau yang diputuskan semuanya ini memang yang terbaik" ucap Luis pada Bibi Yun yang kini merapikan jasnya.
"Nanti setelah dari acara lamaran itu, langsung ke rumah sakit. Kamu belum bertemu secara langsung juga kan sama dia? Pasti dia senang nih karena kakaknya yang sibuk bisa datang menjenguknya" ucap Bibi Yun sambil tersenyum.
Luis memang belum sempat menjenguk Grizz di rumah sakit karena pekerjaannya yang banyak. Terlebih Alex berulangkali tidak masuk kantor karena mengurus para pelaku yang melukai istrinya. Sedangkan hanya ada Felix dan Nicho saja yang sering membantunya namun tetap saja kuwalahan.
Ia hanya menghubungi Grizz lewat video call saja melalui ponsel Dara. Tentu saja hal itu membuat Grizz kadang merengek karena dirinya yang terlalu sibuk dan jarang bertemu dengannya. Namun hanya dengan diiming-imingi jajan sepuasnya, wanita hamil itu langsung tak marah lagi.
"Iya, bu. Aku ingin menjenguk adikku yang sangat cerewet itu. Bahkan rasanya kangen sekali dengan ocehannya itu" ucap Luis sambil terkekeh pelan.
"Makanya segera selesaikan semua pekerjaanmu itu" ucap Bibi Yun sedikit menyindir anaknya itu.
"Nggak mungkin juga kalau pekerjaan di perusahaan Alex itu akan selesai, bu. Yang ada setiap harinya nambah terus. Lihat saja besok, aku sehari nggak berangkat saja pasti dah numpuk" ucap Luis sambil terkekeh pelan.
Bibi Yun juga ikut terkekeh pelan mendengar apa yang diucapkan oleh anaknya itu. Bibi Yun sedikit bersyukur karena usaha anaknya semakin hari bertambah maju walaupun waktu mereka semakin tersita. Lagi pula mereka bekerja keras juga untuk keluarga dan para karyawan yang menggantungkan hidup pada perusahaannya.
Setelah dirasa siap, Luis menggandeng tangan Bibi Yun keluar dari kamar. Mereka segera saja pergi menuju ruang keluarga. Saat sampai di ruang keluarga, ternyata semua orang sudah berada di sana.
"Weiisss... Calon pengantin, wajahnya berseri abis. Mana maunya dekat terus sama ibu lagi" ucap Nicho dengan sedikit meledek Luis.
"Makanya bos, cari calon istri terus nikah. Jangan jomblo terus" ucap Luis meledek balik Nicho.
"Belum ada yang pas di hati. Spesies perempuan kaya Grizz gitu dimana ya adanya? Pengen juga ku punya istri seperti dia" ucap Nicho sambil membayangkan kalau dia mempunyai seorang istri yang mirip dengan Grizz.
Tanpa Nicho sadari, semua orang yang ada di ruang keluarga itu memilih untuk keluar dari rumah kecuali Alex. Alex masih menatap tajam kearah Nicho yang dengan seenaknya malah membayangkan orang yang mirip Grizz. Mereka memang memilih pergi daripada melihat Alex ngamuk dengan ucapan yang dilontarkan oleh Nicho.
"Bentar... Kok kaya ada hawa-hawa setan ya" gumamnya sambil mengelus belakang tengkuknya yang mendadak merinding.
Bahkan kini Nicho langsung melihat kearah sekeliling ruang keluarga yang sudah sepi. Nicho langsung melotot tak percaya karena dia ditinggalkan di sini bersama dengan Alex. Nicho hanya bisa tersenyum kikuk melihat Alex yang menatapnya tajam.
__ADS_1
Pantas saja dia merasakan aura-aura tidak enak saat ini. Ternyata ada Alex yang sepertinya cemburu karena dirinya yang menginginkan istri seperti Grizz. Sontak saja Nicho langsung memilih kabur dibandingkan nanti akan diomeli atau diamuk oleh sahabatnya itu.
"Kabur..." seru Nicho yang langsung berlari dari hadapan Grizz.
"Enak saja tuh orang, pakai bayangin punua cewek kaya Grizz. Grizz hanya ada satu di dunia dan hanya milik Alex seorang" gumam Alex menatap sinis kepergian sahabatnya.
***
Semua orang dari pihak keluarga Luis sudah sampai di kediaman Dara. Semuanya masuk dengan wajah datarnya kecuali Bibi Yun. Bibi Yun yang tangannya digandeng oleh Luis itu memang selalu mengulas senyuman tulusnya. Apalagi ini mengenai lamaran anaknya.
"Silahkan masuk, nyonya dan tuan. Silahkan duduk di kursi khusus keluarga dari pihak laki-laki" ucap salah satu orang yang khusus memandu tamu undangan.
"Terimakasih" ucap Bibi Yun dengan ramahnya.
Semuanya kini tengah duduk di kursi khusus dari pihak keluarga laki-laki. Sedangkan di seberangnya sudah ada keluarga dari pihak perempuan yang tampilannya begitu glamour. Sedangkan dari pihak Alex sendiri hanya Bibi Yun saja yang perempuan, itu pun memakai baju dan perhiasan sederhana.
"Dandanannya kok pada kaya lebay gitu ya? Padahal Dara aja nggak pernah dandan setauku" bisik Nicho pada Nando yang ada di sampingnya.
"Julid amat jadi cowok. Diam dan perhatikan saja daripada kau dilempar Alex dari sini ke kandang macannya" ucap Nando yang merasa kalau sahabatnya itu terlalu berisik.
"Baiklah... Sebelum kita mulai prosesi pertunangan dan lamaran ini, saya persilahkan kepada salah satu pihak keluarga perempuan untuk mendatangkan Dara" seru pembawa acara itu.
Tak berapa lama mendengar seruan itu, Dara datang dengan diapit oleh kedua orangtuanya. Sedangkan di belakangnya ada Nela dan Neli yang terus mengawasi gerak-gerik orangtua Dara. Sebenarnya mereka sedikit curiga dengan mamanya Dara yang menampilkan raut gelisah.
Hal ini tentu membuat keduanya harus waspada. Tak boleh bagi mereka untuk kecolongan apalagi ini adalah acara penting dari keduanya. Sesampainya di tempat acara, Luis sudah berdiri untuk menyambut calon istrinya itu.
"Silahkan untuk Dara berdiri di samping Luis. Untuk perwakilan keluarga maju ke depan dan silahkan mengucapkan sepatah atau dua patah kata sebagai sambutan" ucap pembawa acara itu.
Alex berdiri sebagai perwakilan dari keluarga Luis. Semua menatap pria gagah dan berwibawa itu dengan tatapan tegang. Mereka seakan terbawa oleh aura Alex yang begitu serius. Alex pun tak ada raut tersenyum di sudut bibirnya ini.
"Selamat siang. Saya di sini mewakili keluarga dari Luis, adik saya sendiri. Saya tak suka basa-basi maka ijinkan saya untuk melamarkan atau meminta Dara agar bisa menjadi calon istri dari Luis. Sekiranya Dara dan keluarga, silahkan berikan jawaban atas lamaran kami" ucap Alex dengan nada datarnya.
Semua orang di sana hanya bisa menahan nafasnya karena aura Alex yang begitu kuat. Bahkan mereka seakan tak diberikan waktu untuk berpikir akan menjawab apa. Tak berapa lama, Dara mengambil microfon yang dibawa oleh pembawa acara.
__ADS_1
"Saya dan keluarga sudah berpikir ini matang-matang. Saya menerima lamaran dari Tuan Luis" ucap Dara yang langsung menjawab lamaran yang diajukan oleh pihak keluarga Luis.
Pasalnya orangtua Dara hanya diam membisu karena terbengong dengan aura yang dikeluarkan oleh Alex. Sungguh Dara dibuat kesal karena semuanya malah tak fokus pada acara ini. Semua malah fokus pada Alex yang tentu akan membuat mereka bertekuk lutut atas perintahnya.
"Ah... Baiklah kalau begitu. Silahkan Tuan Luis memasangkan cincin di jari manis tangan kiri Nona Dara" ucap pembawa acara itu gelagapan.
Pembawa acara itu juga masih terbengon dengan kalimat yang diucapkan oleh Alex. Pasalnya ucapan itu seperti sedang memimpin rapat dan semua yang ada di sini anak buahnya yang wajib menjawab apa adanya. Orangtua Dara juga seketika tersadar dari lamunannya setelah pembawa acara berbicara.
Bibi Yun melangkahkan kakinya menuju kearah Dara dan Luis dengan membawa sebuah kotak cincin. Di dekat Luis, Bibi Yun menyerahkan cincin itu untuk dipasangkan pada Dara. Bibi Yun tersenyum saat cincin itu sudah tersemat di jari manis Dara.
Prok... Prok... Prok...
Semua bertepuk tangan karena melihat kebahagiaan keduanya. Bahkan kedua orangtua Dara juga tersenyum dengan kebahagiaan yang didapatkan anaknya ini. Dara menatap Luis dengan senyum bahagianya membuat laki-laki membalasnya dengan tersenyum tipis.
"Setelah ini, aku harap kamu dapat belajar mencintaiku" bisik Luis pada Dara.
"Bahkan mulai detik ini juga, aku sudah belajar untuk mencintaimu" bisik Dara pelan menjawab ucapan dari Luis.
Luis menganggukkan kepalanya dan tersenyum. Setelah acara penyematan cincin selesai, semuanya bergantian untuk melakukan sesi foto dengan kedua pasangan yang tengah berbahagia itu. Acara berjalan dengan lancar, bahkan tak ada satu pun yang mengganggu jalannya acara ini.
Setelah acara selesai, rombongan keluarga Luis langsung menuju ke rumah sakit untuk menjenguk Grizz. Selama acara berlangsung, Nela lah yang melakukan video call untuk menyiarkan langsung acara lamaran Dara dan Luis itu. Bahkan Dara juga langsung ikut ke rumah sakit walaupun sudah dilarang oleh kedua orangtuanya.
"Dara, kamu itu habis lamaran. Masa langsung ngurusin orang di rumah sakit sih" kesal Mama Dara.
"Perlu mama ingat, acara ini terjadi karena bujukan Grizz. Kalau bukan karena Grizz, mungkin aku dan Kak Luis akan menundanya sampai minggu depan. Lagi pula bisanya mama dan papa juga tak pernah berada di rumah kan? Jadi buat apa Dara ada di rumah" ucap Dara yang kesal karena ucapan mamanya itu.
Bahkan Grizz sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri. Segera saja Dara pergi dari rumah setelah berganti pakaiannya. Bahkan Luis menunggunya di ruang tamu tanpa berbaur dengan saudara Dara yang lain. Hal itu membuat saudara-saudara Dara menganggap kalau Luis itu sangat sombong.
Kedua orangtua Dara yang kesal pun membiarkan anaknya pergi. Begitu pula dengan Luis yang malas membalas sindiran pedas dari saudara Dara. Bagi Luis, ucapan mereka itu tak ubahnya bisa yang bisa mematikannya kapan saja. Namun jangan lupakan kalau Luis itu punya penawarnya.
"Kamu pasti tersinggung dengan ucapan saudara-saudaraku ya? Mereka memang gitu, suka menilai orang seenaknya" ucap Dara.
"Tidak. Buat apa mikirin ucapan oranglain yang tidak bermutu" ucap Luis santai.
__ADS_1
Kini keduanya sudah berada di dalam mobil. Mereka segera pergi ke rumah sakit, menyusul yang lainnya yang sudah berangkat lebih dulu. Dara bersyukur karena Luis tak tersinggung dengan ucapan saudaranya itu. Awalnya ia juga tersinggung namun kelamaan lebih memilih acuh saja.