
Mobil yang dinaiki oleh Grizz, Ima, dan kedua bodyguardnya itu sudah sampai di sebuah minimarket. Di dekat sana ternyata ada sebuah gang masuk perkampungan yang menurut Ima adalah jalan masuk menuju rumahnya. Mobil diparkirkan di depan minimarket kemudian mereka berempat keluar dari kendaraan itu.
Sontak saja beberapa orang yang ada di sana langsung saja mengalihkan pandangannya kearah mobil itu. Pasalnya di sana itu adalah tempatnya orang-orang dari kalangan menengah ke bawah yang tak mungkin mempunyai mobil meah seperti ini. Bahkan jarang juga ada orang yang berada dalam kalangan atas mau ke daerah ini untuk ke minimarket.
"Ish... Kenapa orang-orang selalu melihat kearah Grizz sih hari ini? Padahal Grizz nggak ngapa-ngapain lho" gerutu Grizz yang memang tak suka menjadi pusat perhatian.
"Mereka itu bukan ngelihatin kamu, Grizz. Mereka penasaran dengan mobil mewah ini sekaligus siapa pemiiknya. Di sini itu sebelumnya belum pernah ada lho yang datang dengan menggunakan mobil mewah" ucap Ima menjelaskan.
Grizz menganggukkan kepalanya mengerti. Walaupun sebelumnya ia sudah begitu percaya diri dengan orang-orang yang memandangnya. Setelah mereka keluar dan beberapa orang mengenai Grizz saat pernikahannya dengan Alex yang disiarkan langsung pada acara TV, mereka sontak saja berdiri. Namun tiba-tiba saja para anak buah Alex langsung mendekat dan memberikan pengamanan yang ketat.
"Ish... Kok anak buah Kak Alex pada ngerubungi sih? Mereka kan nggak pada ngapa-ngapain" protes Grizz sambil menatap sekelilingnya yang ternyata membuat semua orang yang tadi berdiri langsung memundurkan langkahnya.
Mereka tentunya takut dengan kedatangan anak buah Alex yang tiba-tiba. Namun mereka tak heran lagi, pasalnya orang penting dalam kehidupan Alex tentunya takkan dibiarkan didekati oleh sembarang orang. Tanpa mempedulikan protes yang dilontarkan oleh Grizz, Nela segera saja menarik tangan Grizz. Begitu juga dengan Neli memberi kode pada Ima untuk segera berjalan.
Mereka berempat langsung saja masuk dalam sebuah gang dengan Ima yang menunjukkan arahnya. Tak berapa lama berjalan, mereka sampai juga di sebuah rumah yang begitu sederhana. Rumah dengan dinding anyaman bambu dan atap seng yang sudah keropos itu menjadi tempat bernaung Ima dan keluarganya.
"Sebentar ya, aku ambil adikku dulu di rumah sebelah" pamit Ima pada Grizz.
Tanpa menunggu jawaban dari Grizz, Ima segera saja pergi berlalu dari halaman rumahnya. Ima segera saja berlari menuju rumah di sebelahnya yang penampakannya juga sama. Tak berapa lama menunggu, Ima datang dengan dua orang anak kecil yang berada di dalam gendonganya. Sepertinya kedua bocah kecil laki-laki dan perempuan itu merupakan kembar identik. Wajahnya begitu mirip, hanya berbeda potongan rambut yang panjang dengan pendek.
__ADS_1
Kedua bocah kecil itu merupakan adik dari Ima yang dititipkan di rumah bibinya selama ia berkuliah. Ibunya bekerja di sebuah rumah makan yang berada di dekat minimarket. Sedangkan untuk ayah dari Ima sudah berpulang 2 bulan yang lalu. Beruntung bibinya mau menjaga adiknya selama ia berkuliah. Ibunya yang jam kerjanya dari pagi hingga sore hari membuatnya tak bisa menjaga adiknya.
Awalnya Ima yang ingin bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga, namun dilarang oleh sang ibu. Tentunya hal ini dikarenakan ibunya tak ingin kuliah anaknya terganggu. Kuliah merupakan cita-cita Ima sejak dulu bahkan orangtuanya juga mendukungnya. Sehingga diputuskan kalau ibunya yang bekerja untuk kebutuhan sehari-hari sedangkan Ima berkuliah dan menjaga kedua adiknya yang berusia 2 tahun.
"Wah... Lucunya. Sini Grizz bawa satu" ucap Grizz yang langsung mengulurkan kedua tangannya kearah salah satu anak kecil itu.
"Eh... Nggak usah, Grizz. Ayo masuk saja" ajak Ima yang langsung mengalihkan pembicaraan.
Tentunya Ima tak mau menyusahkan temannya itu. Terlebih adiknya itu kadang suka rewel dengan orang yang belum dikenalnya. Ima segera saja berjalan mendekat kearah rumahnya kemudian membuka pintu. Grizz yang ditinggalkan pun langsung berjalan mengikuti Ima dengan menghentak-hentakkan kakinya kesal.
"Silahkan masuk. Maaf rumahnya kecil dan kotor" ucap Ima tak enak hati.
Grizz duduk diatas tikar sedangkan Nela dan Neli menjaga di luar rumah. Ima langsung meletakkan kedua adiknya diatas tikar dengan memberikan beberapa mainan pada keduanya. Keduanya saling berbicang dengan bahasa yang tak dimengerti oleh Grizz.
Ima membiarkan adiknya duduk di sana karena pasti mereka takkan rewel kalau sudah ada mainan di depannya. Ima masuk dalam ke dalam untuk mengambilkan minum untuk Grizz dan kedua bodyguardnya. Walaupun hanya ada air putih di rumahnya namun setidaknya ia sudah mencoba menjamu tamunya. Grizz mendekat kearah dua adik dari Ima dengan pandangan yang berbinar setelah Ima tak terlihat.
"Halo, nama aku Grizz. Kalau kalian namanya siapa?" tanya Grizz sambil menoel-noel lengan salah satu diantara keduanya.
Keduanya yang merasa diajak berbicara pun langsung saja mengalihkan pandangannya. Mereka menatap Grizz dengan tatapan polosnya. Bocah laki-laki di depan Grizz itu langsung bersikap waspada dan sedikit menarik tangan kembarannya agar tak dekat-dekat.
__ADS_1
"Dlis? Cuah amana" ucap bocah perempuan itu yang paham dengan ucapan dari Grizz.
"Bukan Dlis. Grizz, G R I Z Z" ucap Grizz sambil mengerucutkan bibirnya kesal karena namanya berubah.
"Taya wek-wek ibilna" ucap bocah laki-laki itu dengan sedikit pedas.
Grizz mencebikkan bibirnya kesal karena bibirnya dikatakan mirip dengan bebek. Padahal ia kalau kesal memang selalu seperti itu. Namun ia harus sabar ketika harus menghadapi kedua bocah kecil yang ada di hadapannya ini. Ia baru sadar kalau kedua bocah yang ada di hadapannya ini tak mungkin bisa mengucapkan namanya dengan benar Tak berapa lama, Ima datang dengan empat gelas air putih.
"Emm... Ini buat Grizz. Maaf ya kalau cuma ada ini" ucap Ima tak enak hati.
"Nggak papa kok. Grizz juga suka air putih" uaap Grizz dengan santai bahkan langsung meminumnya sebelum dipersilahkan.
"Aku keluar dulu. Mau berikan minuman ini pada dua bodyguardmu" ucap Ima.
Grizz menganggukkan kepalanya mengerti. Ima segera pergi berlalu dari hadapan Grizz menuju depan rumahnya. Ia meletakkan dua gelas air putih di sebuah meja kecil yang ada di sana. Nela dan Neli menganggukkan kepalanya juga mengucapkan terima kasih. Keduanya padahal sudah membawa air putih dalam tasnya namun untuk menghargai Ima, tentunya mereka memilih minum yang tersedia di atas meja.
"Nama mereka siapa sih? Daritadi Grizz tanyain lho, tapi nggak dijawab" tanya Grizz pada Ima yang baru saja datang.
"Evi dan Evan namanya. Mereka itu kembar" ucap Ima memperkenakan kedua adiknya.
__ADS_1
"Atu Pi, ia Pan" ucap Evi, bocah kecil perempuan dengan memperkenalkan dirinya.