Takdir Cinta Gadis Pelunas Hutang

Takdir Cinta Gadis Pelunas Hutang
Pikirkan


__ADS_3

"Pikirkan baik-baik ucapanku tadi. Menikah denganku, semua masalahmu akan selesai. Kehidupan layak karena orangtuamu pasti juga mengincar kerja sama yang menguntungkan dan kamu takkan berjauhan dengan Grizz. Tak hanya itu, orang-orang yang memfitnahmu akan terbungkam, terlebih anak rekan bisnis orangtuamu. Dengan kekuasaan yang ku miliki, pasti mereka takut membuat fitnah atau berurusan denganku dan Alex" ucap Luis menjelaskan.


Dara masih terdiam dan tak bisa berkata-kata lagi. Ia bingung dengan tawaran yang diajukan oleh Luis. Memang benar adanya, kalau menikah dengan Luis maka kekuasaan ada di genggaman tangannya. Bahkan takkan ada yang berani mengusiknya terlebih sudah menyangkut orang-orang Alex.


Namun ia juga tak ingin menikah secepat ini karena masih awal kuliah. Terlebih ia tak mempunyai perasaan apapun kepada Luis. Ia bukan Grizz yang mau dinikahi secara terpaksa dan tanpa cinta, namun juga bingung dengan cara apa menyelesaikan masalah ini. Ia sudah menjelaskan kepada kedua orangtuanya namun mereka sama seklai tak percaya.


"Aku bingung. Aku khawatir kalau suatu saat nanti malah menyakiti orang yang ada di dekatku, terutama kamu. Aku tak mempunyai perasaan apapun padamu, bagaimana jika suatu saat nanti malah aku..."


Luis langsung membawa jari telunjuknya kearah bibir Dara membuat gadis itu terdiam. Luis menatap Dara dengan tatapan dalamnya membuat gadis itu tak berkutik sama sekali. Dara yang ingin menyelesaikan ucapannya tadi segera saja diam dan tak melanjutkannya.


Ia sungguh terpesona dengan tatapan dalam nan tulus yang terpancar di sana. Untuk beberapa lama, Dara mulai menyelami tatapan mata itu. Bahkan dalam pancaran mata itu, tak terlihat sama sekali keraguan di sana.


"Kalau kau takut melakukan sesuatu, takkan pernah kamu dapatkan apa yang diinginkan. Cinta bisa datang karena terbiasa bersama, contoh saja Tuan Alex dan Nona Grizz. Awalnya Tuan Alex hanya menjadikan Grizz sebagai pelunas hutang atau jaminan dari ayahnya. Namun mereka malah jatuh cinta saat ini. Yang terpenting, kita harus berusaha mengikuti alur yang sudah Tuhan berikan dan menjalaninya dengan ikhlas" ucap Luis memberi pengertian.


"Pikirkan baik-baik ucapanku" lanjutnya saat melihat Dara hanya bisa terbengong.


Luis bahkan kini langsung saja merapikan semua berkas yang dibawanya dan menutup laptopnya. Luis segera pergi berlalu dan membiarkan Dara memikirkan semua ucapannya. Bukan tanpa alasan Luis sampai mengungkapkan keinginannya untuk menikahi Dara.


Sedari awal bertemu, Luis sudah terpesona dengan keberanian Dara. Bahkan ia mencoba menekan semua perasaannya agar tak berlanjut, namun tidak bisa. Ternyata ia benar-benar telah jatuh cinta kepada Dara, namun belum berani mengungkapkannya.

__ADS_1


Saat kemarin Alex memintanya membantu permasalahan Dara, Luis menyanggupinya. Ternyata masalah dalam keluarga Dara ini membuatnya nekat mengutarakan keinginannya. Ia tak mau kalau sampai Dara jatuh dalam pelukan laki-laki lain.


"Apa iya aku harus menikah dengan Tuan Luis? Apa dia nggak malu punya istri tomboy seperti aku? Mana aku nantinya hanya terkesan memanfaatkan dia lagi" gumamnya yang menatap tubuh tegap Luis dari belakang.


Dara berulangkali menghela nafasnya kasar karena melihat tubuh laki-laki yang jarang berbicara kepadanya itu mulai menghilang dari pandangan matanya. Dara pun segera pergi dari sana untuk masuk dalam kamarnya. Sepertinya ia harus tidur sebentar untuk dapat mengambil keputusan yang tepat.


Pasalnya keputusan untuk menikah itu harus matang-matang. Bukan karena ingin membantu menyelesaikan masalah saja, namun Dara ingin kalau ia juga merasa nyaman. Semoga saja setelah tidur nanti, ia mendapatkan sesuatu yang dapat memberikan keputusan terbaik untuk semuanya.


***


"Ayo kita pergi ke pasar buat beli mainan. Biasanya mainan anak kecil gitu banyak banget lho di pasar, mana bagus-bagus lagi" seru Grizz begitu antusias.


"Grizz, jangalah beli mainan banyak begitu. Nggak baik kalau boros, lebih baik uangnya ditabung. Kedua adikku itu sudah cukup kok dengan mainannya sekarang" tolak Ima yang tak ingin merepotkan Grizz.


Grizz langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat. Grizz ingin membelikan mainan yang lebih layak untuk kedua adik Ima yang sudah ia anggap saudaranya sendiri. Ima pun hanya bisa pasrah karena sangat susah meyakinkan Grizz untuk tak melakukan hal itu.


Grizz kini langsung menarik tangan Ima keluar dari kelas. Diikuti oleh Nela dan Neli di belakangnya, Grizz berjalan menuju tempat parkir mobil dan masuk ke dalam kendaraan. Grizz bahkan langsung saja meminta Nela dan Neli memberikannya uang cash.


"Ini, nona. Oh ya... Ini mau ajak Evi dan Evan atau kalian saja yang mau pergi ke pasar?" tanya Nela yang kini tengah mengemudikan mobilnya.

__ADS_1


"Kita jemput Evan dan Evi dulu. Biar mereka bisa pilih mainan sesuka hatinya" ucap Grizz dengan antusias.


Ima hanya bisa meringis pelan mendengar apa yang diucapkan oleh Grizz. Ima semakin tak enak hati dengan Grizz dan keluarganya yang pasti akan mengeluarkan uang banyak untuk kedua adiknya. Namun jika ditolak, sudah pasti Grizz akan memberikan alasan yang membuatnya tak berkutik.


"Biar aku saja yang turun juga bawa Evan dan Evi ke sini. Pasti nanti kamu jadi pusat perhatian lagi lho kalau turun" ucap Ima yang melihat Grizz akan turun dari mobilnya.


Akhirnya Grizz menganggukkan kepalanya mengerti. Terlebih ia memang malas untuk menjadi pusat perhatian. Ima segera saja turun dari mobilnya kemudian berjalan pergi dari depan minimarket. Grizz menunggu dengan kedua bodyguardnya di dalam mobil.


"Grizz nanti juga mau beli boneka barbie dan beruang yang besar. Boleh kan Kak Nela dan Kak Neli?" tanya Grizz sambil membayangkan beberapa boneka yang diinginkannya.


"Tentu saja boleh, nona. Asalkan nanti di sana jangan lari-larian biar kami tak kehilangan jejak anda" ucap Nela sambil tersenyum tipis.


Grizz menganggukkan kepalanya kemudian memainkan ponselnya sambil menunggu Ima. Tak berapa lama, Ima datang dengan membawa kedua adiknya di dalam gendongan kainnya. Grizz yang melihat hal itu segera saja membuka pintu mobil kemudian mempersilahkan mereka masuk.


"Kak Dliss..." seru Evi dan Evan kegirangan.


"Kak Grizz dong, masa Kak Dliss sih" protes Grizz membuat kedua bocah kecil itu tertawa.


Evi dan Evan begitu rindu dengan Grizz yang raut wajahnya membuat mereka tertawa. Bahkan ibu dari Ima dan kedua adiknya juga ingin sekali bertemu dengan teman anaknya yang begitu baik itu. Wanita paruh baya itu begitu terharu saat masuk rumah sudah disuguhi susu anak dan berbagai cemilan. Bayang-bayang anaknya yang kurang mendapatkan asupan makanan bisa sedikit berkurang.

__ADS_1


__ADS_2