
"Buruan mau bicara apa? Lama amat, mumpung mobil kita berhenti nih. Apa kita mau adu panco disini?" kesal Grizz sambil berkacak pinggang.
Akhirnya bos mereka maju ke depan kemudian menatap Grizz juga Alex yang ada disana. Tak menyangka kalau anak buahnya dibuat mati kutu akibat keimutan dan kegemasan gadis didepannya ini. Bos mereka itu hanya bisa menghela nafasnya kasar.
"Tuan Alex, saya mohon berikan kami tender kerjasama itu. Saya sangat membutuhkan tender itu agar bisa mempertahankan keutuhan perusahaan saya. Bisa gulung tikar perusahaan saya kalau tak ada yang mau bekerjasama dengan kami" ucap bos rival Alex itu dengan tatapan permohonan.
Grizz yang tadinya berkacak pinggang itu pun langsung menatap kasihan orang didepannya ini. Namun ia juga harus menyelidiki semuanya dulu agar tak tertipu oleh wajah memelasnya. Bisa saja kalau mereka hanya membual saja.
"Kak Alex, cek itu perusahaannya. Apa benar yang terjadi seperti itu? Jangan ceroboh hanya karena muka memelasnya itu" ucap Grizz yang langsung berbalik badan menuju suaminya.
Alex menahan tawanya melihat rivalnya itu hanya terbengong mendengar ucapan dari Grizz. Ia pikir istrinya ini bisa dengan mudah membantu orang karena wajahnya yang kasihan namun pada faktanya malah menyuruh dirinya menyelidiki terlebih dahulu. Alex memberi kode pada anak buahnya untuk menyelidiki semuanya.
Kini Alex langsung menggendong Grizz ala koala untuk masuk dalam mobil. Sedangkan anak buahnya itu langsung mencari semua data yang diinginkan. Rival perusahaannya itu hanya terdiam karena bingung harus melakukan apa lagi demi meyakinkan Alex.
***
"Benar bos perusahaannya sedang butuh sokongan dana atau kerjasama karena sedang goyah akibat korupsi yang dilakukan orang bagian keuangannya" ucap anak buah Alex yang langsung mendekat kearah bosnya yang ada di dalam mobil.
Alex menganggukkan kepalanya mengerti dengan informasi yang disampaikan oleh anak buahnya. Ia memberi kode pada anak buahnya untuk memeriksa perusahaan itu lebih dalam. Apakah sebelumnya ada masalah atau tidak didalamnya. Ia tak ingin membantu orang yang hanya memikirkan dirinya sendiri sedangkan dalam perusahaan itu ada banyak karyawan yang menggantungkan hidup padanya.
"Suruh dia ajukan proposal kerjasama padaku. Biar aku juga periksa kepiawaiannya dalam membuat membuat proposal dan kejujurannya" ucap Alex.
__ADS_1
Salah satu anak buah Alex langsung pergi berlalu kearah rival bosnya itu. Setelah berbincang sebentar, akhirnya rivalnya itu langsung masuk dalam mobilnya dengan senyum sumringah. Tentunya anak buah Alex juga langsung kembali masuk dalam mobil kemudian melajukan kendaraannya untuk kembali ke rumah.
"Kok cepat? Nggak ada berantem atau tembak-tembakan lagi?" tanya Grizz dengan penasaran.
"Enggak. Mereka sudah takut waktu kamu pelototi jadi memilih menyerah duluan" ucap Alex sambil terkekeh geli.
Grizz yang mendengar hal itu tentunya menatap Alex dengan tatapan menyelidiknya. Ia masih terus menatap Alex dengan tatapan menyelidik karena raut bibir suaminya yang tampak sedang menahan tawa itu. Selama ini tak pernah ada orang didekatnya yang takut padanya saat dirinya memlototkan mata. Mereka bahkan akan semakin gemas akan ekspresinya itu.
"Ish... Kak Alex bohong nih. Orang selama ini nggak pernah ada yang takut sama pelototan mata Grizz. Malah mereka pada gemas dan terpesona dengan wajah cantik Grizz ini lho" ucap Grizz dengan percaya dirinya.
Anak buah Alex yang mendengar celotehan dari istri bosnya itu hanya bisa menahan tawanya. Tak menyangka sosok bosnya yang kejam bahkan menyeramkan mendapatkan seorang pendamping yang polos dan menggemaskan. Tentunya sosok yang berbeda dan berbanding terbalik sifatnya itu sudah disatukan Tuhan dalam ikatan suci pernikahan.
Alex sendiri hanya bisa menciumi pipi Grizz untuk meluapkan kebahagiaan dan kegemasannya. Selama ini ia selalu dihadapkan dengan orang yang tak punya perasaan sehingga menjadikannya seorang manusia tak punya hati. Namun setelah bertemu dengan Grizz, sikapnya harus dituntut menjadi dewasa dan juga bersikap lembut pada istrinya itu.
***
Grizz pun tak tahu kemana suaminya itu akan pergi pasalnya Alex memang tak memberitahu. Alex hanya berpamitan pada Grizz kalau dirinya sedang ada pekerjaan yang penting. Grizz pun yang memang sedang malas kemana-mana juga tak mau mengikuti suaminya itu.
"Dara yang nggak cantik..." seru Grizz saat melihat Dara berada di ruang keluarga sambil menatap laptop yang ada dihadapannya.
"Ish... Grizz jangan teriak-teriak gitu" tegur Dara sambil meletakkan telunjuknya pada bibirnya.
__ADS_1
Dara memberi kode pada Grizz untuk tak berisik di rumah ini. Sedangkan Grizz tentunya hanya akan acuh pada teguran yang dilayangkan oleh Dara itu. Memang sudah kebiasaannya kalau akan berisik dimana saja kecuali pada lingkungan yang tak mendukungnya.
"Dara lagi ngapain?" tanya Grizz dengan tatapan penasarannya.
"Dara lagi daftar buat masuk kuliah nih" ucap Dara yang kembali sibuk dengan laptop yang ada dihadapannya.
Grizz yang mendengar hal itu langsung saja duduk di samping sahabatnya itu. Tentu dirinya ingin ikut mendaftar kuliah namun ia belum meminta ijin kepada Alex. Walaupun dulunya sempat ada pembicaraan itu sekilas.
"Wah... Dara mau masuk ke jurusan kedokteran" ucap Grizz dengan bangga.
Awalnya Dara ingin sekali masuk jurusan manajemen bisnis namun mengingat dirinya yang saat SMA mengambil IPA akhirnya ia memilih kedokteran saja saat kuliah nanti. Lagi pula dia tak mau jika nantinya malah disuruh melanjutkan bisnis kedua orangtuanya.
"Baru mau daftar. Belum keterima juga" ucap Dara merendah.
"Tapi kan Dara pintar pasti bisa diterima disana" ucap Grizz.
Dara hanya berharap dalam hatinya semoga saja apa yang diucapkan oleh Grizz itu bisa dikabulkan. Sedangkan kini Grizz memilih diam sambil terus melihat kearah laptop yang ada dihadapan sahabatnya itu. Ia melihat berapa total biaya yang harus dikeluarkan jika ingin melanjutkan kuliah pada jurusan itu.
"Itu 100 juta? Itu uang apa daun?" tanya Grizz sambil mengerjapkan matanya berulangkali.
"Uang dong, Grizz. Halah ini mah kalau bagi suamimu juga cuma bagai butiran debu" ucap Dara sambil geleng-geleng kepala.
__ADS_1
"Ish... Kak Alex itu nggak punya uang. Dompetnya aja nggak ada uangnya sama sekali kok" ucap Grizz menyangkal.
Pasalnya saat ia membuka dompet suaminya itu tak pernah ia melihat adanya uang disana. Yang ada hanya beberapa tanda pengenal dan kartu saja. Kalau pun ia meminta uang, pasti diambilnya dari laci yang ada di kamar. Itu pun hanya beberapa lembar saja yang ada disana.