Takdir Cinta Gadis Pelunas Hutang

Takdir Cinta Gadis Pelunas Hutang
Positif


__ADS_3

"Kenapa nggak bilang sama kakak? Bukannya kakak sudah katakan kalau merasakan sesuatu yang aneh itu langsung bilang. Kalau kaya gini kan kakak jadi khawatir" kesal Alex setelah mendengar pengakuan dari Grizz.


Grizz hanya mengerucutkan bibirnya kesal karena selalu saja salah dengan apa yang dilakukannya. Saat Grizz bilang tentang keluhannya pasti Alex akan khawatir sehingga ia memilih diam. Saat memilih diam juga salah karena membuat Alex takut dan khawatir.


Alex kini berdiri kemudian beranjak menuju meja rias istrinya. Alex mengambil satu kantong plastik berisi alat test kehamilan kemudian menyerahkannya pada Grizz. Grizz hanya menerimanya kemudian melihat isinya.


"Grizz nggak demam lho ini, Kak Alex. Ngapain beli termometer gini" tanya Grizz dengan polosnya.


Alex yang mendengar ucapan dari istrinya itu hanya bisa menganga lebar. Ia tak menyangka kalau Grizz bisa sepolos ini mengenai tentang alat test kehamilan. Bahkan Grizz berpikir kalau apa yang diserahkan Alex ini merupakan termometer yang notabene alat pengukur suhu tubuh.


Alex kini terduduk di ranjangnya dengan menatap istrinya dengan tatapan frustasi. Ia masih tak percaya dan menyangka kalau istrinya bisa sepolos ini. Alex jadi takut sendiri kalau nanti seandainya Grizz hamil, apakah istrinya itu bisa menerima kenyataan ini atau tidak.


"Itu bukan termometer, Grizz. Itu alat untuk test kehamilan. Rencananya nanti aku ingin kamu mencobanya karena curiga kalau kamu tengah hamil" ucap Alex sambil mengacak rambutnya frustasi.


Ia sendiri kebingungan menjelaskannya. Bahkan jika nanti diminta untuk menemani istrinya itu dalam melakukan sesuai aturan yang tertera pada alat itu, ia pasti tidak paham. Grizz kini menatap Alex dengan tatapan yang bingung membuat laki-laki itu benar-benar dibuat gemas.


"Grizz nggak hamil lho. Kalau hamil kan perutnya besar, ini perut Grizz masih rata" ucap Grizz dengan polosnya.


Sepertinya Grizz tak lulus dalam pelajaran biologinya menurut Alex. Pasalnya pasti di pelajaran sekolah satu itu juga dijelaskan mengenai bagaimana perkembangan janin. Tak mungkin juga kalau orang hamil langsung tiba-tiba perutnya membesar.


"Astaga..." seru Alex yang langsung berdiri kemudian keluar dari kamarnya.


Alex meninggalkan Grizz yang kebingungan dengan apa yang terjadi. Tak berapa lama Alex keluar, Bibi Yun masuk dalam kamar Grizz. Bibi Yun hanya tersenyum saat tadi mendengar keluhan dari Alex. Akhirnya Alex menjelaskan semuanya pada Bibi Yun kemudian laki-laki itu minta tolong agar dibantu.


Bibi Yun pun dengan senang hati menganggukkan kepalanya. Ia begitu antusias jika nanti benar kalau Grizz tengah hamil. Bibi Yun kini terduduk di samping Grizz sambil mengelus lembut kepalanya. Grizz yang merasa nyaman pun langsung memeluk dari samping ibu angkatnya itu.


"Grizz bingung ya tentang kehamilan?" tanya Bibi Yun dengan lembut.

__ADS_1


"Iya, bu. Kalau orang hamil itu kan perutnya bulat besar ya. Tapi ini kan Grizz enggak, jadi aku nggak hamil kan?" tanya Grizz dengan polosnya.


Bibi Yun hanya bisa terkekeh geli mendengar ucapan dari istri Alex ini. Pantas saja Alex sampai frustasi dan memilih menyerahkan semua ini kepadanya. Tentu saja ini bisa membuat semua orang geleng-geleng kepala jika mendengarnya.


"Seorang perempuan akan kelihatan tengah hamil itu biasanya memang ditandai oleh perutnya yang membesar. Tapi itu biasanya mulai terlihat sekitar umur 4 bulanan lah. Itu pun tergantung sama perawakan tubuh dari ibu hamil itu sama berapa banyak anak yang dikandung" ucap Bibi Yun memberikan penjelasan.


"Jadi kalau masih awal-awal gitu nggak langsung mbelendung, ibu?" tanya Grizz dengan tatapan penasaran.


Bibi Yun menganggukkan kepalanya. Kemudian ia menyerahkan sebuah alat test kehamilan yang bisa digunakan sewaktu-waktu itu kepada Grizz. Dengan ragu, Grizz mengambilnya kemudian Bibi Yun menarik tangan anaknya itu kearah kamar mandi.


"Tampung air senimu sedikit di sini. Lalu letakkan alatnya di sini, tunggu sampai beberapa saat biar kita tahu hasilnya nanti" titah Bibi Yun.


"Ish... Masa pipis ditampung sih. Jorok" ucap Grizz sambil geleng-geleng kepala.


Grizz menolak apa yang diperintahkan oleh Bibi Yun. Bahkan menyerahkan kembali alat yang diberikan padanya. Bibi Yun hanya bisa menghela nafasnya lelah kemudian mengembalikan kembali alat tes kehamilan ke tangan Grizz.


"Ini memang prosedurnya seperti itu. Memang Grizz mau kalau melakukan test dengan diambil darahnya gitu?" tanya Bibi Yun menakut-nakuti Grizz.


Bibi Yun hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah Grizz itu. Bibi Yun menunggu Grizz dengan duduk di kursi sofa yang ada di kamar Alex dan istrinya itu. Setelah menunggu kurang lebih 15 menit, Grizz keluar dari kamar mandi.


"Bagaimana hasilnya?" tanya Bibi Yun yang langsung beranjak dari duduknya.


"Grizz nggak paham, ibu. Nih..." ucap Grizz sambil menyerahkan alat test kehamilan itu kepada Bibi Yun.


Bibi Yun mengambil alat test kehamilan itu dan melihatnya dengan seksama. Matanya membulat saat melihat dua garis berwarna merah ada di depan matanya. Sungguh Bibi Yun merasa bahagia hingga segera saja memeluk Grizz yang masih ada di hadapannya.


"Ibu, kenapa? Grizz nggak hamil kan? Atau hamil?" tanya Grizz dengan tatapan penasaran.

__ADS_1


"Kamu hamil, nak. Tapi untuk memastikannya, besok kamu harus periksa ke rumah sakit" ucap Bibi Yun dengan antusias.


Grizz mematung di tempatnya. Bukan karena terkejut akan berita kehamilannya, namun ia sedikit takut kalau akan diambil darahnya. Kalau untuk masalah hamil, ia yakin kalau ada banyak orang yang tengah menantikan kabar ini. Pasti mereka juga akan ikut menjaganya dan kehamilannya itu.


"Ish... Grizz nggak mau diambil darahnya lagi" seru Grizz yang langsung menolak dengan apa yang diucapkan oleh Bibi Yun itu.


Bibi Yun hanya bisa menepuk dahinya pelan. Ini adalah kesalahannya yang malah menakut-nakuti Grizz. Tak berapa lama, Alex masuk dalam kamar karena mendengar seruan dari istrinya. Ia khawatir terjadi sesuatu dengan kedua wanita yang teramat ia sayangi itu.


"Ada apa? Kok pada kencang-kencang bicaranya" tanya Alex dengan raut khawatirnya.


"Kak Alex, Grizz nggak mau disuntik dan diambil darahnya" seru Grizz yang kemudian berlari kearah Alex.


"Astaga... Jangan lari-lari, kamu itu lagi hamil" tegur Bibi Yun.


Mendengar apa yang diucapkan oleh Bibi Yun itu membuat Alex terkejut bahkan tubuhnya mematung. Ia yang dipeluk oleh Grizz pun hanya diam tanpa membalas pelukan sang istri. Berita yang ia tunggu-tunggu karena akan mendapatkan calon seorang pewaris yang akan mewarisi semua kekayaannya.


"Ini nggak bohong kan, bu? Grizz hamil?" tanya Alex dengan mata yang berkaca-kaca.


"Iya lho. Grizz itu lagi hamil kata alat test kehamilannya. Tapi Grizz nggak mau diambil darahnya" ucap Grizz berceloteh.


Akhirnya Alex yang tersadar dari keterkejutannya ini kemudian memeluk balik istrinya. Bahkan Alex terus menghujani ciuman pada pucuk kepala Grizz. Ia masih tak menyangka kalau apa yang diinginkannya terkabul secepat ini.


"Nanti saat diperiksa ke dokter, kamu nggak akan diambil darahnya kalau hanya cek hamil atau tidaknya. Jangan takut, kalaupun harus diambil darahnya berarti itu harus dilakukan demi kebaikan kamu dan bayi kita. Di sini nantinya akan ada anak kita yang setiap harinya akan tumbuh. Jadi tolong berhati-hatilah setiap melakukan kegiatan" ucap Alex memberi pesan.


Grizz hanya menganggukkan kepalanya mengerti. Grizz harus bisa lebih berpikir dewasa mulai saat ini. Benar kata suaminya kalau segala tindakan dokter itu pasti ada tujuannya. Ia yakin kalau suaminya selalu menemani dan takkan pernah meninggalkannya di saat tengah melakukan pemeriksaan.


"Grizz akan jaga calon anak kita yang masih ada di dalam perut Grizz ini dengan baik. Jewer aja nih telinga Grizz kalau sampai macam-macam dan ceroboh lagi" ucap Grizz sambil mempraktikkan hukuman yang bisa diambil oleh Alex.

__ADS_1


Alex dan Bibi Yun yang melihatnya itu hanya bisa terkekeh pelan. Sungguh kebahagiaan mereka seakan begitu membuncah. Terlebih Alex, setelah menyelesaikan semua masalah di dunia bawah ternyata ia mendapatkan kejutan dari istrinya. Tuhan sungguh baik padanya membuatnya tak henti-hentinya bersyukur.


Alex langsung memeluk Grizz kembali dan menarik tangan Bibi Yun untuk ikut dalam kegiatan keduanya. Mereka bertiga berpelukan erat seakan menjadi keluarga yang bahagia. Bibi Yun begitu bahagia karena selalu diajak dan dianggap sebagai keluarga oleh dua orang anak angkatnya ini. Mereka hanya bisa berharap kalau tak ada lagi yang memisahkan ketiganya.


__ADS_2