Takdir Cinta Gadis Pelunas Hutang

Takdir Cinta Gadis Pelunas Hutang
Perkara Nasi Bungkus


__ADS_3

"Oh... Jadi ini yang namanya Grizz? Cantiknya" ucap Ibu Ima dengan tatapan kagumnya.


"Jelas dong. Grizz kan memang cantik. Ibu adalah orang ke dua ribu yang pernah bilang kalau Grizz itu cantik" ucap Grizz dengan penuh percaya dirinya.


Ima yang mendengar hal itu hanya bisa memutar bola matanya malas. Sedangkan Ibu Ima terkekeh pelan melihat kelakuan dari teman anaknya itu. Ternyata apa yang diucapkan oleh Ima itu benar, kalau Grizz adalah orang kaya yang baik hati. Bahkan Grizz tak segan berbaur dan tanpa canggungnya malah bercanda dengan orang yang ekonominya itu dibawahnya.


"Sudah... Jangan lagi puji Grizz, nanti Ima minder lagi sama aku" ucap Grizz menggoda temannya itu.


"Baiklah, agar Ima ini tak minder lagi jadi kita bicarakan hal yang lain. Jadi Grizz ini mau pesan nasi bungkus di sini? Mau berapa? Oh ya... Grizz bisa coba dulu, biar bisa menilai enak atau tidaknya" ucap Ibu Ima.


Grizz menganggukkan kepalanya mengerti. Ibu Ima menggiring anaknya dan Grizz itu untuk segera duduk di tempat yang kosong. Sebenarnya kehadiran Grizz itu cukup menarik perhatian semua pengunjung yang ada di sana. Namun sebelum Grizz sampai, anak buah Alex sudah meminta untuk semua yang ada di sana agar tak mendekati nonanya.


Bahkan pemilik warung makan itu begitu terkejut karena akan kehadiran istri dari salah satu pebisnis terkenal. Namun ia harus bersikap biasa saja saat adanya Grizz. Tentu saja itu semua demi kenyamanan Grizz yang memang tak suka kalau orang-orang memperlakukannya dengan istimewa.


Namun Ibu Ima yang tak mengetahui kalau yang dimaksud adalah Grizz itu pun tentu hanya menganggukkan kepala. Saat Grizz datang bersama dengan Ima, ia begitu terkejut. Namun ia harus bersikap biasa saja dan memilih mendekati anaknya.


"Ibu, aku ingin coba rendang sama ayamnya dong. Oh iya... Sayur dan sambalnya juga" ucap Grizz sambil menunjuk kearah beberapa mangkok besar yang ada di etalase kaca.


Ibu Ima segera mengambilkan apa yang diinginkan oleh Grizz. Walaupun tadi Grizz sudah makan, namun ternyata wanita itu masih juga lapar. Sedangkan Ima memilih menemani Grizz saja karena perutnya sudah sangat kenyang. Semua makanan telah terhidang di atas meja.


"Wah... Ini mah kayanya enak semua" seru Grizz yang langsung mencicipi semua makanan yang ada dihadapannya itu.


Grizz begitu lahap dalam memakan semua makanan yang tersedia. Walaupun nasinya hanya sedikit dan lebih banyak lauknya, namun Grizz tetap menikmatinya. Semua makanan yang ada di hadapannya sudah dilahap oleh Grizz.


"Ini enak semua. Baiklah kalau begitu pesan nasi ditambah lauk ayamnya 300 dan yang lauknya rendang juga sama" serunya kepada Ibu Ima yang kini sudah ada di dekatnya.

__ADS_1


"Jadi totalnya 600?" tanya Ibu Ima dengan ragu-ragu.


"Iya, 600. Bisa kan ya?" tanya Grizz dengan tatapan penuh harap.


"Saya tanyakan kepada pemiliknya dulu. Soalnya kalau makanan sebanyak itu ya kalau hari ini harus masak lagi" ucap Ibu Ima tak enak hati.


Grizz hanya menganggukkan kepalanya mengerti. Ia juga paham kalau tak mungkin dalam waktu singkat bisa menyiapkan nasi bungkus dalam jumlah banyak. Pasti bahan makanannya harus belanja dulu, tak lupa dengan menanak nasinya. Ima yang mendengar berapa nasi bungkus yang ingin dipesan oleh Grizz itu hanya bisa geleng-geleng kepala.


"Maaf nona. Kalau untuk hari ini kami belum bisa menyediakan hal itu. Kami harus belanja dulu, terlebih nanti masih harus masak juga" ucap pemilik warung makan itu dengan tak enak hati.


Selama ini penjualannya sama sekali tak lebih dari 200 bungkus per hari. Kalau mendapatkan pesanan dadakan dalam jumlah 3 kali lipat dari hari biasa itu tentu harus mempunyai persiapan. Ia juga harus mengeluarkan modal lebih demi memenuhi permintaan dari pelanggannya.


Bukannya ia menolak rejeki yang amat besar dan menguntungkan ini. Namun ia juga kasihan kalau Grizz nantinya akan menunggu terlalu lama. Terlebih di sini hanya ada tiga karyawan yang membantunya sehari-hari.


"Baiklah. Kalau begitu, Grizz pesan untuk besok saja. 600 bungkus ya, kalau bisa nanti sambalnya dipisah. Dikasih plastik tersendiri, sore saja Grizz ambilnya ke sini. Untuk hari ini, yang makan di sini Grizz yang bayar" teriak Grizz setelah berbincang dengan pemiliknya.


"Nona, saya boleh bungkus untuk anak di rumah?" tanya seorang bapak-bapak yang ada di sana.


"Boleh dong" jawab Grizz sambil menganggukkan kepalanya senang.


Hanya karena perkara ingin memesan nasi bungkus saja kini Grizz malah menggratiskan semua makanan yang ada di sana. Grizz segera membayar semua makanan yang ada di sana. Sekalian membayar untuk nasi bungkus esok hari. Setelahnya Grizz memutuskan untuk kembali ke rumah Josh karena badannya terlalu lelah.


***


"Beberapa hari ini sikap Grizz semakin aneh. Inginnya sekarang berbuat baik pada orang dengan membelikan makanan atau mainan anak kecil. Tak lupa juga dengan sifat manjanya kalau tak dituruti langsung ngamuk" ucap Alex sambil geleng-geleng kepala.

__ADS_1


Tadi ia mendapatkan kabar dari anak buahnya kalau Grizz kini tengah memesan makanan untuk dibagikan pada orang yang membutuhkan. Walaupun itu adalah perbuatan yang baik, namun bagi Alex sungguh aneh. Mengingat Grizz itu biasanya kalau berbagi hanya diserahkan pada anak buahnya.


Kalau kali ini, Grizz selalu terjun langsung dalam berbagi antar sesama. Grizz juga selalu tertidur setelah kegiatannya ini membuat Alex sedikit khawatir. Alex khawatir kalau istrinya itu kecapekan dan berakhir sakit.


"Berbagi itu bagus, Lex. Lagian kita yang punya rejeki lebih memang seharusnya seperti itu" ucap Nicho menanggapi ucapan sahabatnya itu dengan santai.


"Khawatirnya dia kecapekan. Akhir-akhir ini dia mengeluh pusing dan mual setelah pulang dari luar negeri. Ingin aku lakukan medical check up di rumah sakit, tapi dia nggak mau" ucap Alex sambil menghela nafasnya kasar.


Josh, Nicho, dan Nando yang mendengar apa yang diucapkan oleh Alex itu seketika membulatkan matanya. Seakan mereka menemukan sesuatu yang mungkin saja menjadi jawaban dari perubahan sikap Grizz. Bahkan mereka bertiga langsung saja berdiri dengan antusias.


"Kalian ngapain berdiri tiba-tiba kaya gitu? Ngagetin aja" kesal Alex sambil mengelus dadanya kesal.


"Kayanya emang loe harus bawa Grizz ke rumah sakit deh. Tapi bukan buat medical check up, melainkan ke dokter kandungan" ucap Nicho dengan antusias.


Alex yang mendengar hal itu tentu saja mengernyitkan dahinya heran. Otaknya mendadak linglung dan kosong jika membahas hal seperti ini. Sedangkan ketiga sahabatnya yang melihat Alex bingung itu hanya bisa menghela nafasnya sabar.


"Maksudnya gimana? Apa hubungannya dengan perubahan sikap Grizz?" tanya Alez dengan wajah polosnya.


"Astaga... Kayanya Grizz hamil makanya sikapnya berubah-ubah" ucap Nicho yang begitu gemas dengan otak pintar dari sahabatnya itu.


Mendengar apa yang diucapkan oleh Nicho itu membuat Alex berjengit kaget. Rasanya tak mungkin kalau Grizz hamil karena ia hanya melakukannya sekali saja waktu itu. Walaupun berulangkali dalam semalaman, namun ia masih tak percaya kalau bisa menghasilkan sesuatu.


Bahkan Alex pikir perubahan sikap dari Grizz ini karena gadis itu sedang mendekati siklus bulanannya. Namun Nicho, Josh, dan Nando seakan meminta Alex agar segera memeriksakan Grizz ke dokter kandungan. Agar nantinya bisa diketahui apakah benar kalau Grizz itu hamil atau tidak.


"Sudah sana. Mending loe pulang, temui Grizz dan ajak dia ke rumah sakit. Atau loe beliin dia test kehamilan agar kita bisa tahu apakah dugaan kami benar" ucap Josh dengan penuh keyakinan.

__ADS_1


Dengan ragu, Alex menganggukkan kepalanya. Bahkan Alex segera saja pergi dari markasnya untuk pulang ke rumah. Sepanjang perjalanan, Alex terua mempertimbangkan apa yang diucapkan oleh ketiga sahabatnya itu.


__ADS_2