
"Tlimakacih, om. Adiah ni pati atan buwat Kak Ima, ibu, dan Pi bahadia" seru Evan yang sangat senang dengan hadiah yang dipilihnya.
Ternyata tadi Evan dan Erga memilih kearah sebuah toko perhiasan yang ada di seberang rumah sakit. Alex awalnya ingin mengajak mereka ke sebuah toko tas dan pakaian namun kedua bocah cilik itu menggelengkan kepalanya. Untuk baju dan tas, sepertinya Ibu Mahda dan Nenek Umi tak terlalu memerlukannya.
Akhirnya tiga buah kalung untuk Ibu Mahda, Ima, dan Evi akan diberikan oleh Evan. Setidaknya Evan bisa melihat ibu juga saudaranya memakai perhiasan. Begitu juga dengan Nenek Umi yang memang tak mempunyai perhiasan sama sekali. Keduanya ingin sekali memberikan semua itu demi kebahagiaan perempuan yang mereka sayangi.
"Iya, om. Telimakacih sekali lagi. Suatu saat nanti, Elga akan balas semua kebaikan Om Alex dan Kak Glizz. Kalian olang baik, pasti hidupnya nanti akan dilimpahi kebahagiaan selalu" ucap Erga dengan pancaran mata penuh ketulusan.
"Cukup kalian belajar yang rajin, bekerja keras, dan sukses dalam bidang yang kalian sukai itu sudah membuat Om Alex senang. Cukup balas kebaikan kami dengan do'akan Om Alex dan Kak Grizz agar selalu dilimpahi kebahagiaan" ucap Alex sambil tersenyum tipis.
Evan dan Erga langsung saja menganggukkan kepalanya dengan cepat. Tentu saja mereka akan mendo'akan kebahagiaan dan kesehatan Grizz juga Alex. Terlebih mereka orang baik yang pantas untuk dido'akan.
Ketiganya pun kembali masuk dalam area rumah sakit. Sesampainya di ruangan Grizz, ternyata makanan yang dipesan oleh Nela dan Neli telah tersedia di sana. Semuanya makan dengan lesehan di atas lantai yang dialasi karpet. Sedangkan Bibi Yun duduk di kursi samping brankar Grizz.
"Kak Alex, Grizz mau ikut duduk di situ. Tapi sama ibu dilarang karena katanya agak susah nanti bawa kantong infusnya" ucap Grizz mengadu pada suaminya yang baru saja datang bersama dengan dua bocah kecil.
"Memang benar yang dikatakan oleh ibu, sayang. Kamu di atas brankar aja biar disuapi sama ibu. Kayanya ibu juga kangen tuh sama Grizz" ucap Alex sambil tersenyum.
Dengan mengerucutkan bibirnya, Grizz tetap menganggukkan kepalanya. Alex segera menurunkan Evan untuk berjalan tertatih kearah ibunya. Mereka semua makan bersama sambil saling melontarkan candaan yang tentunya itu berasal dari Grizz dan Nicho.
Sedangkan Ima dan keluarganya hanya bisa tersenyum melihat kebersamaan ini. Ternyata mereka tak semenyeramkan saat terlihat di depan media. Bahkan mereka begitu baik dan santai menerima kehadiran orang baru seperti dirinya.
__ADS_1
"Bu, kak... Ni buwat talian. Ni beyina pate wang Om Lex, api Pan yang ilih lho. Becok talo dah becal, Pan cendili yang atan danti wangna Om Lex" ucap Evan sambil menyerahkan dua buah kotak berwarna merah pada Ima dan ibunya setelah selesai makan bersama.
"Eh..."
Keduanya begitu terkejut dengan ucapan yang dilontarkan oleh Evan itu. Keduanya menatap kearah Alex yang menganggukkan kepalanya untuk memberi kode pada mereka agar segera menerimanya. Sebenarnya mereka tak enak hati menerima pemberian dari Alex itu namun tatapannya yang seakan memaksa keduanya menerima itu membuat Ima segeta mengambilnya.
"Terimakasih Tuan Alex dan Evan" ucap Ima sambil memeluk adiknya itu.
Bahkan Evan dengan lincahnya memakaikan kalung itu pada leher kakaknya. Begitu juga dengan pada leher Ibu Mahda. Kedua mata mereka berkaca-kaca karena mendapatkan hadiah yang begitu berharga. Bahkan baru pertama kalinya mereka memakai perhiasan seperti ini.
Evan pun juga mendekati kembarannya kemudian memakaikannya juga pada lehernya. Evi sungguh bahagia bahkan terus bertepuk tangan karena memakai perhiasan yang sama dengan ibu dan kakaknya.
"Matacih, Pan. Mamap adi Pi cempat malah talna ndak itut tamu" ucap Evi kemudian memeluk kembarannya.
"Wah... Evan baik dan pintar sekali. Bisa memilihkan hadiah untuk ibu dan kakaknya. Erga juga, luar biasa" ucap Grizz dengan riangnya.
Mereka menghabiskan hari itu dengan tawa canda yang begitu kental. Tak disangka kalau mereka kini bisa saling akrab. Bahkan Dara dan Ima sudah berbincang seru sambil mengajak bermain tiga bocah kecil itu. Grizz yang melihat hal itu sangat bahagia bahkan sampai menitikkan air matanya.
"Grizz nggak nyangka, bisa dikelilingi oleh orang yang sayang sama aku" gumamnya menatap semua orang yang ada di ruangan ini dengan sorot mata bahagianya.
***
__ADS_1
Waktu terus berlalu, kini kandungan Grizz sudah memasuki usia 9 bulan. Tinggal beberapa hari lagi dua calon bayi kembar Grizz dan Alex akan segera lahir. Sesuai dengan perkiraan dokter, hanya tinggal menunggu harinya saja. Semua persiapan kelahiran si kembar dan perlengkapannya telah beres.
Tentu saja semua perlengkapan itu yang sibuk mencarinya adalah Dara, Ima, Bibi Yun, dan Ibu Mahda. Mereka memang dimintai tolong oleh Alex agar mencarikan perlengkapan bayi terbaik untuk calon anaknya.
Untuk pernikahan Dara dan Luis akan dilaksanakan satu bulan setelah Grizz melahirkan. Awalnya mereka akan menikah sebelum Grizz melahirkan, namun hal itu ditunda karena Luis harus pergi ke luar negeri demi menyelesaikan semua pekerjaan Alex.
Arrrghhhh...
Tolong...
Seruan meminta tolong itu sontak saja membuat semua orang yang ada di rumah Josh langsung mencari arah sumber suara. Ternyata itu bersumber dari Grizz yang ada di ruang keluarga. Terlihat di sana Grizz sedang memegang perutnya yang terasa mulas dan sakit.
"Ayo bawa Grizz ke rumah sakit. Jangan lupa kabari Alex dan yang lainnya" teriak Bibi Yun pada semua pekerja yang ada di sana.
Pasalnya kini di rumah itu hanya ada Bibi Yun dan Nenek Umi beserta para maid dan bodyguard saja. Sedangkan yang lainnya pergi ke kantor, bahkan Tuan Grey yang baru dua hari di sini juga ikut dengan mereka. Rencananya Grizz akan dibawa ke rumah sakit dua hari lagi, namun sepertinya wanita hamil itu sudah mengalami kontraksi.
"Tolong angkat Grizz ke dalam mobil. Gendong saja bersamaan, pasti Alex mengerti kalau kalian berniat menolong istrinya" seru Nenek Umi pada beberapa bodyguard yang kebingungan.
Memang benar jika selama ini para bodyguard tak diijinkan memegang Grizz. Hal ini tentu saja membuat mereka kebingungan dalam membantu Grizz. Bibi Yun menganggukkan kepalanya menyetujui ucapan dari Nenek Umi.
"Baik, nyonya" seru beberapa bodyguard.
__ADS_1
Mereka pun segera saja mengangkat Grizz pelan-pelan karena ia terus meronta kesakitan. Bibi Yun dan Nenek Umi juga langsung memerintahkan Nela agar membawakan semua perlengkapan melahirkan Grizz. Sedangkan yang lainnya langsung mengikuti mobil yang membawa Grizz ke runah sakit.