
Suasana dalam ruangan ini sekarang begitu hening terlebih melihat anak buah Alex yang sudah mengacungkan senjatanya keatas. Mereka bahkan langsung berdiri dengan saling mengumpul karena ketakutan jika sampai menjauh dari temannya akan terjadi sesuatu yang tak diinginkan. Bahkan Isabella langsung memeluk lengan Grizz karena baru pertama kalinya melihat adegan menegangkan seperti ini.
Sedangkan Grizz sudah mulai terbiasa dengan adanya orang-orang berbaju hitam dan berbadan besar seperti mereka. Walaupun sebenarnya Grizz bingung karena tak mengenal satu pun diantara mereka semua yang ada disini. Bahkan bodyguard yang biasanya tinggal di rumah juga tak ada. Bahkan semua orang masih tak sadar kalau adegan dan kejadian ini masih lah disiarkan secara langsung di media sosial.
"Kalian ingin kabur? Selesaikan dulu semua masalah ini baru yang tak bersangkutan boleh keluar" ucap Alex dengan nada datarnya.
Bahkan kini matanya menatap tajam kearah dewan guru, kepala sekolah, dan jajarannya yang wajahnya bahkan berada dalam layar LCD. Tak hanya itu, ia melihat wajah-wajah songong siswa disana yang kini malah menunduk seakan malu. Grizz juga menatap semua orang disini dengan raut wajah datarnya.
"Masa kalian mau kabur sih, nggak asyik lah. Dulu aja kalian bully aku dan Bella kaya gitu asyik dan berani aja, kok sekarang malah pada diam sih" ledek Grizz membuat hampir semua orang langsung mengalihkan pandangannya.
"Kalau mau balas kami yang dulu membullymu, harusnya nggak keroyokan pakai senjata gini dong. Kita dulu kan bully pakai tangan sendiri, nggak pakai pistol juga" seru seorang gadis yang terlihat berani.
Gadis itu merasa berani karena hampir semua siswa disini ikut membully Grizz dan Bella. Pasti semuanya kalau mengeroyok mereka bertiga yang ada diatas panggung sudah tentu akan kalah. Untuk anak buah Alex yang mengacungkan senjata atau nantinya ada yang membuat salah satu dari mereka terluka, dapat dipastikan tinggal hubungi polisi.
"Oh... Jadi kamu ingin pakai tanganku sendiri untuk merasakan pembullyan itu sebenarnya?" tanya Grizz dengan santainya.
Bahkan kini Grizz tengah memainkan jari-jari lentiknya itu sambil melihat kukunya yang cantik. Grizz menatap gadis itu seakan menantang kemudian berjalan pergi turun dari panggung. Grizz menggandeng Isabella diikuti oleh suaminya dari belakang.
Melihat raut santai dari Grizz itu bukannya membuat mereka jadi tenang, namun malah satu per satu memundurkan langkahnya. Padahal Grizz hanya ingin bersilaturahmi namun mereka malah ketakutan.
__ADS_1
"Jangan macam-macam kamu, Grizz. Ku laporkan kau ke polisi kalau sampai melukai kami. Jangan mentang-mentang istrinya konglomerat terus mau menindas kami" seru gadis itu.
Grizz hanya bisa tersenyum sambil menahan tawanya. Ia tak menyangka jika temannya satu angkatan itu bisa berbicara seperti itu. Padahal sudah jelas kalau yang salah disini itu mereka namun gadis itu malah seakan memposisikan dirinya sebagai korban. Padahal tadi ia menantangnya namun tak menyangka malah kini dia seakan menuduh dirinya sebagai pelaku penganiayaan.
"Menindas? Kapan Grizz menindasnya? Grizz saja jalan baru sampai sini lho. Lalu apa kabar kalian dulu yang selalu menindas kami berdua? Wah... Kalau kita laporkan polisi, penjara penuh nih" ucap Grizz sambil terkekeh pelan.
"Apalagi ada banyak bukti yang bisa kami gunakan untuk melaporkan semua kelakuan kalian pada pihak berwajib. Jadi gimana nih Kak Alex? Laporkan polisi saja atau Grizz aniaya mereka disini" lanjutnya meminta saran dari suaminya.
Semuanya menatap Alex dengan tatapan permohonannya agar tak mengijinkan Grizz melakukan apa yang diucapkannya. Terlebih Grizz dan Alex sudah mempunyai banyak bukti untuk menarik semuanya ke penjara. Alex menyeringai sinis melihat tatapan-tatapan memelas itu.
"Lakukan apa yang membuatmu bahagia, sayang. Kalau bisa dua kenapa hanya salah satu saja yang kau lakukan" ucap Alex dengan santai.
Mereka semua terkejut dengan jawaban yang diberikan oleh Alex itu. Sontak saja hampir semua badannya limbung bahkan melihat seringaian sinis keluar dari bibir Grizz.
"Thank you, suamiku" ucap Grizz sambil mengecup bibir suaminya itu singkat.
Alex sedikit menegang dan terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Grizz itu. Namun secepat kilat ia langsung menetralkan raut wajahnya menjadi datar kembali. Sedangkan Grizz dan Isabella kini langsung mendekati para pihak sekolah yang masih berdiri di pojokan.
"Mari kita bermain, Bella" bisik Grizz pada temannya yang kebingungan dan takut.
__ADS_1
Mendengar bisikan itu tentunya membuat Isabella langsung bersemangat. Kini ia mencoba yakin kalau Grizz bisa melindungi dirinya sendiri dan dia sebagai temannya. Apalagi dengan adanya semua bodyguard seram yang berjaga.
"Halo Bu Elis... Masih ingatkan dulu Grizz pernah anda tampar karena lupa rumus saat menyelesaikan soal? Bahkan mengataiku tak berguna. Eh ternyata gadis tak berguna ini sudah jadi istri seorang Raja Bisnis. Bahkan bisa lho langsung masukin anda ke liang kubur dengan cepat" ucap Grizz dengan mata penuh kekecewaan.
Ia dan Isabella yang sering mengikuti olimpiade tentunya hampir setiap hari harus berteman dengan rumus. Waktu itu ia dan Isabella sedang mengerjakan soal namun lupa rumusnya sehingga memilih bertanya kepada Bu Elis itu. Namun yang ada dia dihina dan ditampar oleh gurunya itu, sampai sekarang ingatan itu begitu membekas.
"Dasar tak berguna. Kalian itu di sekolah hanya sebagai alat agar kami bisa meraih predikat dan image baik" serunya setelah menampar Grizz.
Bu Elis yang mendengar ucapan Grizz tentunya langsung pucat pasi. Bahkan guru-guru lain yang tak tahu apa-apa langsung melihat kearah Bu Elis. Kalau mengetahui tentang pembullyan siswa memang mereka tahu namun untuk Grizz yang ditampar karena masalah sepele itu tentunya tak ada yang mengetahuinya.
Plakk....
Argghhh...
Tiba-tiba saja Grizz menampar pipi Bu Elis dengan kencangnya hingga sudut bibirnya berdarah dan wajahnya tertoleh. Mereka semua menganga tak percaya jika Grizz akan membalas tamparan itu. Bahkan Bu Elis yang tahu tentang sifat lembut gadis itu sejak dulu begitu shock karena kini tak ada lagi raut ramah itu.
Bahkan kini dengan santainya Grizz kembali berjalan kearah kepala sekolahnya. Ia meninggalkan Bu Elis yang mengusap pipinya yang sangat sakit. Isabella tersenyum puas bahkan ia sangat salut pada apa yang dilakukan oleh Grizz itu.
"Balas toyoran kepala sekolah ini pada kita dulu, Bella" titah Grizz.
__ADS_1
Dengan senang hati Isabella maju ke depan kemudian menoyor kepala kepsek berulangkali. Dulunya kepsek itu selalu menoyor kepala keduanya saat hanya mendapatkan juara dua. Padahal mereka berjuang dengan biaya sendiri dan belajar mandiri namun seperti tak dihargai sama sekali.
"Gimana? Enak ditoyor-toyor gitu. Kepalanya pasti rasanya kaya habis joget dangdutan kan?" ucap Grizz sambil tertawa.