
Grizz yang sedang bermain dengan Evan dan Evi di atas brankar tempat tidurnya pun dikejutkan mengenai kehadiran Alex dan yang lainnya. Pasalnya kemarin Grizz sudah meminta semuanya agar bisa istirahat di rumah saja setelah acara lamaran Luis dan Dara. Namun mereka malah mendatanginya di rumah sakit.
Tak ayal Grizz sangat bahagia dengan kedatangan mereka. Tentu saja kedatangan Alex itu membuat Grizz bahagia apalagi melihat adanya Luis dan Dara yang berada di belakangnya.
"Horeee... Kak Luis dan Dara udah nggak jomblo lagi nih. Nggak kaya Kak Nicho..." seru Grizz dengan entengnya.
Nicho yang sedari tadi diam pun langsung memelototkan matanya tajam. Tak menyangka kalau dia yang diam pun menjadi sasaran empuk ucapan Grizz. Nando dan Josh sudah tertawa melihat sahabatnya dinistakan oleh Grizz. Inilah moment yang selalu terasa menghangatkan ketika bersama dengan Grizz.
"Kok jadi aku sih, dek" protes Nicho sambil mengerucutkan bibirnya kesal.
"Terus siapa dong? Kan Kak Alex dan Kak Luis udah pada punya pasangan. Yang belum cuma Kak Nicho. Apa Kak Nicho itu Grizz jodohin sama cicak besarnya Kak Josh ya? Kayanya cocok deh" ucap Grizz dengan polosnya.
Nando dan Josh semakin tertawa mendengar hal itu. Nicho pun memilih untuk berjalan mendekat kearah Alex kemudian merangkul bahu sahabatnya itu. Alex yang tahu kalau sahabatnya itu ingin mendapatkan pembelaan darinya pun memilih melepas paksa rangkulan itu.
"Jijik..." ucap Alex sebelum Nicho mengucapkan sesuatu.
"Dih... Jahatnya mas dirimu padaku" ucap Nicho dengan wajah memelasnya.
Hahaha...
Semua tertawa karena melihat adegan itu. Hanya candaan sederhana namun ternyata membuat semua orang yang ada di sana terhibur. Terlebih Ima dan Ibu Mahda yang begitu tercengang dengan apa yang terjadi. Pasalnya selama ini mereka melihat wajah datar dari pengusaha-pengusaha ini, namun ternyata semuanya mempunyai sisi lain.
Evi dan Evan yang tadinya takut melihat wajah-wajah datar juga tatapan tajam dari semuanya pun kini ikut tertawa. Tentunya itu berkat Grizz yang seakan mengatakan bahwa semua orang yang ada di sini itu baik. Bahkan bahasa tubuh Grizz yang seakan melindungi keduanya itu membuat mereka tenang.
__ADS_1
"Kalian ini. Ima, Ibu Mahda, Evi, dan Evan... Apa kalian sudah makan siang? Kalau belum, biar dipesankan makanan sama Nela. Kebetulan tadi di sana kami juga makan sedikit, jadi masih lapar" ucap Bibi Yun sambil geleng-geleng kepala.
"Belum, bu. Kami bingung sama rumah sakit ini kalau mau keluar cari makan. Tapi tadi kami sudah makan roti yang dibawa dari rumah untuk ganjal perut" ucap Ibu Mahda tak enak hati.
"Nicho, minta sama Nela buat nambah empat porsi makanan" titah Bibi Yun pada sahabat anaknya itu.
Nicho pun menganggukkan kepalanya. Nicho juga segera pergi dari ruang rawat inap Grizz untuk memberitahu Nela. Memang tadi waktu mereka akan memasuki ruang rawat inap, Bibi Yun meminta untuk memesankan makanan.
Ima dan ibunya belum makan siang karena kebingungan dengan rumah sakit ini. Ingin minta tolong pada Grizz agar meminta bantuan bodyguard yang ada di depan ruangan juga sungkan. Akhirnya mereka memilih untuk makan roti yang sengaja dibawa dari rumah.
"Ish... Kok nggak bilang sama Grizz kalau kalian belum makan sih. Nanti kalau kalian pingsan karena makannya terlambat gimana?" tanya Grizz dengan tatapan khawatirnya.
"Enggak. Nyatanya kami nggak pingsan kan?" ucap Ibu Mahda menenangkan Grizz.
Akhirnya Ima dan ibunya hanya menganggukkan kepalanya. Lagi pula setelah ini juga mereka tidak menunggu Grizz lagi karena perempuan itu kemungkinan akan segera pulang ke rumah. Ini pun mereka ke sini karena dimintai tolong Grizz agar menemaninya. Bahkan tadi keempatnya dijemput oleh anak buah Alex.
"Ini namanya Evan ya? Mau ikut sama om, nggak?" tanya Alex dengan raut wajah datarnya.
Sungguh Alex itu sangat tak cocok saat berbincang dengan anak kecil. Seharusnya Alex bisa menampilkan raut wajah tersenyumnya di hadapan kecil sehingga dia tak takut. Namun Alex malah menampilkan wajah tiada senyum dan bernada datar saat menanyakan sesuatu.
Evan yang mendengar ajakan dari Alex pun langsung mengalihkan pandangannya kearah Grizz. Ia yakin kalau Grizz tahu mana orang baik dan tidak yang ada di sini dibandingkan dengan ibu juga kakaknya. Grizz menganggukkan kepalanya membuat Evan langsung mengulurkan tangannya kearah Alex.
Alex pun segera saja meraih tubub Evan ke dalam gendongannya. Alex mengajak Evan keluar dari ruangan Grizz bersama dengan Erga yang menggandeng tangan laki-laki dewasa itu. Evi yang melihat saudara kembarnya dibawa pergi pun hanya mencebikkan bibirnya kesal.
__ADS_1
"Nanti Evi jalan-jalan sama Kak Grizz kalau kakak sudah keluar dari rumah sakit ya" ucap Grizz sambil tersenyum.
"Wah... Acik, tacih Kak Dliss" ucap Evi sambil memeluk Grizz dari samping.
Grizz paham kalau ada kecemburuan dari Evi pada saudaranya yang diajak pergi. Alex sengaja mengajak Evan dan Erga karena biasanya mereka akan membelikan sesuatu untuk perempuan terdekatnya. Alex juga ingin mengajarkan pada keduanya kalau mereka harus bisa membahagiakan perempuan yang ada di dekatnya.
***
"Om, tita mau temana?" tanya Evan dengan tatapan penasarannya.
"Kita akan beli sesuatu untuk perempuan yang ada di dekat kita" ucap Alex.
"Wah... Api Pan ndak una uwang lho, om" ucap Evan dengan tatapan polosnya.
Alex hanya bisa terkekeh pelan mendengar ucapan polos yang dilontarkan oleh Evan ini. Lagi pula ia ingin melihat kedua anak kecil ini bisa memberikan sesuatu pada keluarganya. Terutama untuk kakak dan ibunya namun dengan cara memilih sesuatu buat mereka. Sedangkan Erga akan memberikan sesuatu kepada Nenek Umi.
"Nanti dibayal cama Om Alex. Iya kan, om?" tanya Erga menimpali ucapan Evan.
"Iya. Kalian belilah sesuatu untuk mereka. Walaupun kecil, namun itu adalah pilihan kalian sendiri. Mereka pasti bahagia walaupun pemberiannya hanya barang kecil" ucap Alex.
Evan dan Erga menganggukkan kepalanya mengerti. Walaupun Evan baru pertama kali bersama dan berkenalan dengan Alex, namun tampaknya bocah laki-laki itu begitu nyaman. Awalnya Evan memang sedikit takut dengan Alex terlebih saat melihat wajahnya.
Namun Evan ingat dengan apa yang dikatakan oleh ibunya. Ia tak boleh mengejek bentuk dari wajah atau tubuh oranglain yang berbeda dengannya. Hal ini sama saja menghina Tuhan yang menciptakannya. Sampai sekarang pun kalimat itu selalu terngiang dalam benak Evan sehingga tidak akan pernah menjelek-jelekkan oranglain. Ketiganya kini sudah sampai di sebuah toko membuat Alex segera menurunkan Evan dari gendongannya.
__ADS_1