Takdir Cinta Gadis Pelunas Hutang

Takdir Cinta Gadis Pelunas Hutang
Mediasi Gagal


__ADS_3

Semuanya seakan bungkam mendengar segala unek-unek yang disampaikan oleh Grizz. Ternyata Grizz yang tadinya menampakkan wajah begitu datar dan dingin seolah tak peduli itu menyimpan segala rasa sakit yang dirasakannya selama ini. Wajah datar itu hanyalah topeng agar semua orang yang melihatnya tak tahu akan sisi lemahnya.


"Hmm... Apakah ada yang perlu disampaikan lagi?" tanya polisi itu yang melihat semuanya terdiam.


"Yang lainnya akan disampaikan teman saya" ucap Grizz yang langsung mempersilahkan Isabella.


Grizz langsung memegang telapak tangan Isabella yang begitu dingin. Apalagi ini baru pertama kalinya bagi Isabella untuk berhadapan langsung dengan pihak yang berwajib. Ia masih tak percaya kalau kasus seperti ini ada juga yang mau mendengarkannya. Padahal selama ini dia dan keluarganya sudah berkoar namun semuanya tak peduli. Mungkin memang benar kalau kekuasaan itu sangat berpengaruh.


"Sejak dimana saya dilecehkan itu, ayah saya sudah melaporkan kejadian ini pada polisi setempat. Namun mereka tak menggubrisnya bahkan langsung mengusir beliau. Tak apa, mungkin karena pakaian kami tak sebagus mereka hingga baru akan melaporkan saja sudah diusir. Padahal kami hanya meminta untuk dilakukan penyelidikan saja di sekolah itu" ucap Isabella.


Ia tak mau berbicara panjang lebar mengenai kasus pembullyan karena semuanya sudah disampaikan oleh Grizz. Sedangkan untuk apa yang dia alami waktu itu, ia harus sampaikan mumpung ada Grizz dan keluarganya yang siap membantunya. Kalau tak ada mereka, mungkin saja dia takkan berani mengucapkan hal ini.


Sedangkan pihak berwajib merasa malu bahkan langsung membuang pandangannya. Mungkin karena kedoknya selama ini dibuka dihadapan banyak orang penting disana. Grizz begitu bangga karena Isabella mau mengungkapkannya walaupun nantinya masalah ini semakin melebar.


"Jadi gimana tanggapannya tentang apa yang diucapkan nona Isabella? Sepertinya kasus ini akan melebar karena dari pihak kami akan mengajukan penyelidikan bagi oknum-oknum seperti itu agar ditindak" ucap pengacara Alex membuat semua yang ada disana meneguk salivanya kasar.


"Kami mohon maaf atas ketidaknyamanannya atau ada oknum yang sengaja menyulitkan pelaporan nona. Kami akan menindak tegas oknum itu jika terbukti melakukan hal seperti itu" ucap polisi itu dengan sedikit kaku.

__ADS_1


Kemungkinan besar banyak sekali oknum yang menyalahi aturan itu sehingga polisi itu harus berhati-hati dalam berucap. Ia juga tak mungkin bisa memutuskan karena disini ia hanya bertindak sebagai penanggungjawab dalam kasus ini saja. Sedangkan diatas dia masih ada yang bertanggungjawab atas semua keputusan yang terjadi.


Isabella hanya menganggukkan kepalanya kaku karena melihat beberapa polisi langsung menatapnya tajam. Sedangkan Grizz sendiri malah dengan beraninya menatap balik semua orang disana. Ia tak terima temannya diintimidasi seperti ini.


"Kenapa itu mata natapnya kaya gitu? Mau nakut-nakutin teman Grizz gitu? Mau aku colok nih pakai bolpoint" kesal Grizz sambil mengacungkan sebuah bolpoint kearah salah satu pihak berwajib itu.


Alex langsung mengelus punggung istrinya itu agar bisa sedikit lebih tenang. Ia tak mau jika nanti istrinya malah dipermalukan disini. Grizz langsung melihat kearah suaminya dengan senyuman manisnya pertanda kalau ia baik-baik saja.


"Mari kita lanjutkan pembahasan ini. Mungkin sekarang kita dengar dari pihak sekolah dan siswa dulu. Baru nanti kita ambil jalan tengahnya agar kasus ini tak berlarut-larut" ucap polisi itu menengahi.


"Saya perwakilan pihak sekolah hanya ingin menyampaikan kalau masalah disana itu sangat banyak sehingga tak bisa kalau hal sepele seperti itu bisa kita atasi dengan cepat. Kami pikir kalau itu hanya masalah kenakalan anak remaja pada umumnya sehingga tak mempermasalahkan kasus itu. Bahkan semenjak kalian lapor itu, setelahnya tak ada laporan kembali jadi kami menganggap semua masalah telah usai" ucap pihak sekolah dengan begitu percaya dirinya.


Tentunya Grizz dan Isabella hanya bisa menatap tak percaya kearah pihak sekolah yang menganggap bahwa ini masalah sepele. Padahal sudah jelas dalam CCTV itu kalau kenakalan remaja itu telah melebihi batas wajar. Alex dan ketiga sahabatnya hanya bisa geleng-geleng kepala dengan pemikiran itu.


"Maaf menyela. Berarti kalau anak ibu-ibu ini kami perlakukan seperti yang ada di video CCTV itu tidak apa-apa? Wajar kan ini? Coba deh Lex, loe cari tahu anak-anak ibu ini. Gimana kalau kita yang bully mereka sama dengan yang dilakukan siswa di sekolah itu? Wajar kok katanya, sepele" ucap Nicho dengan santainya.


"Boleh juga tuh idenya. Dilecehkan itu juga sepele" ucap Nando menimpali.

__ADS_1


Mata mereka membulat saat mendengar rencana yang mereka akan lakukan. Tentunya mereka langsung saling pandang dengan rekannya yang sama ketakutannya. Jawaban mereka itu malah membuat semuanya jadi kacau karena pihak Alex tentunya tidak akan memaklumi apa yang telah diperbuat.


"Sepertinya mediasi ini gagal dan takkan ada ujungnya. Mereka masih mewajarkan pembullyan dan tak ada kata maaf yang keluar dari bibir orang-orang itu. Jadi selamat bertemu di pengadilan" ucap Alex yang kemudian berdiri dari duduknya.


Alex sudah malas membahas hal yang ujung-ujungnya malah berputar-putar. Apalagi orang-orang seperti mereka takkan ada kapoknya kalau tidak diberi pelajaran. Pengacara Alex juga menyetujui apa yang diucapakan tuannnya. Buktinya saja dua hari tak juga membuat mereka sadar.


"Pak pengacara, tolong bebaskan siswa yang tak terlibat. Grizz sudah buat daftarnya" ucap Grizz sambil memberikan kertas berisi daftar nama dari teman-teman seangkatannya yang tak terlibat.


Paling tidak ada 50 orang yang kemarin ia buat bersama dengan Felix. Tentunya Felix yang berusaha keras untuk mencari nama-nama itu. Pengacara itu mengangguk kemudian Alex dan yang lainnya segera saja keluar dari ruangan itu walaupun pihak sekolah dan siswa langsung protes.


"Woyyy Grizz... Bebaskan kami dong" seru siswa yang tadinya ikut masuk ke dalam.


"Ibu sih, harusnya minta maaf saja. Jadi panjang kan masalahnya" kesal siswa itu menyalahkan perwakilan pihak sekolah.


Tentunya mereka hanya diam saat disalahkan seperti itu. Padahal niat awalnya mereka ingin meminta maaf namun ternyata ia terpancing dengan ucapan Isabella dan Grizz. Mereka juga semakin takut karena tatapan Grizz yang seakan begitu memojokkannya.


Alex langsung merangkul Grizz diikuti oleh yang lainnya. Alex sudah menghubungi anak buahnya agar bersiap karena sebentar lagi akan keluar menuju ruangan yang sudah disiapkan untuk wawancara. Sesuai janji Alex, ia akan melakukan wawancara walaupun hanya menyampaikan sekilas saja.

__ADS_1


__ADS_2