Takdir Cinta Gadis Pelunas Hutang

Takdir Cinta Gadis Pelunas Hutang
Aktifitas


__ADS_3

Semua sudah melaksanakan sarapan bersama dengan tenang. Tentunya kali ini bukan Grizz yang memasak melainkan para maid karena gadis itu bangun kesiangan. Namun beruntung Grizz masih sempat melaksanakan sarapan bersama walaupun dalam keadaan belum mandi.


Kini Grizz yang sudah fresh setelah mandi itu segera saja keluar dari kamarnya. Saat sampai di lantai 1, ternyata semuanya tengah berkumpul di ruang keluarga. Mereka tengah menyaksikan acara berita saham yang tentunya Erga, Dara, Nenek Umi, dan Bibi Yun tak mengerti. Grizz segera saja mendekat kearah mereka semua.


"Selamat pagi semuanya..." seru Grizz dengan senyum cerianya.


"Sudah siang, Grizz. Noh lihat, matahari saja rasanya sudah ingin sekali membakar kulitmu" ucap Dara menatap julid kearah sahabatnya itu.


Tentunya Grizz tak peduli dan malah melenggang kearah Nicho untuk mengambil remote yang ada ditangannya. Gerakan tiba-tiba dari Grizz itu tentu membuat Dara mendelikkan matanya kearah gadis itu. Bukannya takut, Grizz malah gantian menjulurkan lidahnya pada Nicho.


Segera saja Grizz mengganti channel TV yang menayangkan berita itu ke kartun favoritnya. Hal itu membuat semua laki-laki yang ada disana menatap kesal kearah Grizz. Namun yang namanya Grizz tentu tidak peduli dengan kekesalan mereka. Justru kini ia duduk disamping Dara dan Erga yang tengah bermain monopoli.


"Kalian nggak ke kantor? Kok kaya pada nggak punya kerjaan ya" sindir Grizz.


"Kantor Kak Rey kan nggak ada disini jadi ya mana bisa kerja" ucap Tuan Grey berkilah.


"Nggak kerja aja uang terus mengalir. Ngapain repot-repot kerja" ucap Nicho dengan sombongnya.


Mendengar hal itu, tentu membuat Grizz kesal. Ia segera saja melemparkan sebuah apel yang sudah digigitnya itu kearah Nicho. Nicho pun langsung menangkapnya membuat Grizz mengerucutkan bibirnya kesal. Ternyata benar ucapan Alex kalau disini Grizz dan Nicho itu sering berdebat. Padahal dari awal bertemu, Nicho itu orangnya sama dengan ketiga sahabatnya. Kaku dan terlalu dingin sebagai seorang laki-laki.

__ADS_1


"Tapi nggak pernah punya uang dalam dompetnya" ucap Grizz sambil menjulurkan lidahnya.


"Nggak mungkin kan kamu nggak punya uang?" tanya David sedikit tak percaya.


Tentunya mana bisa David dan Tuan Grey percaya dengan ucapan bahwa Nicho tidak punya uang. Walaupun dia hanya orang kepercayaan Nando, tentu laki-laki itu punya banyak uang dari beberapa bisnisnya. Nicho hanya bisa menghela nafasnya kasar mendengar ejekan dari Grizz itu. Ia memang tak suka menyimpan uang cash sehingga Grizz selalu meledeknya.


"Coba kamu periksa dompet kakak kandungmu itu. Pasti dia juga nggak punya uang" ucap Nicho sambil tersenyum jahil tanpa menjawab pertanyaan dari David.


Alex, Josh, dan Nando hanya bisa geleng-geleng melihat kejahilan dari Nicho itu. Pasti ini nanti Grizz akan mengomeli kakaknya karena tidak mempunyai uang di dompetnya. Sedangkan Dara dan yang lainnya sudah diberitahu kalau Grizz ini merupakan adik kandung dari Tuan Grey.


Grizz pun dengan semangat menengadahkan kedua tangannya kearah Tuan Grey. Ia ingin mengetahui isi dompet kakak kandungnya yang bahkan pakaiannya saja sudah mempunyai merk terkenal. Walaupun masih bingung, namun Tuan Grey langsung saja memberikan dompet yang ada pada sakunya kepada Grizz.


"Ish... Nggak ada uangnya. Isinya cuma KTP semua" kesal Grizz setelah membuka dompet kakaknya.


"Itu ada uangnya lho, dek" ucap Tuan Grey tak terima.


"Nggak ada. Itu isinya cuma KTP doang" ketus Grizz sambil kembali duduk disamping sahabatnya.


"Yang dimaksud Grizz dengan uang itu ya wujud cash. Bukan kartu seperti ATM" ucap Nicho sambil terkekeh.

__ADS_1


David dan Tuan Grey hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Tentunya mereka jarang sekali mempunyai uang cash karena hampir semua transaksi menggunakan debit, kartu kredit, atau dompet digital. Aneh-aneh saja adiknya itu, padahal sudah jelas kalau isi didalam kartu itu jumlahnya takkan muat jika dimasukkan dalam dompet.


"Dek, ke makam ibu yuk" ajak Tuan Grey tiba-tiba setelah drama uang dalam dompet tadi.


Grizz yang sedang bermain dengan Dara dan Ega pun segera saja mengalihkan pandangannya kearah kakaknya. Dengan antusias, Grizz segera menganggukkan kepalanya. Ia kini bahagia karena bisa menjenguk ibunya ditemani sang kakak yang dulu makamnya ia cari. Grizz beranjak dari duduknya kemudian berlari ke kamarnya untuk berganti baju.


"Ijinkan saya membawa pergi Grizz berdua saja. Saya ingin mencari tahu semua yang sudah terjadi pada masa lalu mereka. Saya juga ingin mengajak Grizz agar bisa lebih terbuka kepadaku atas semua yang terjadi" ucap Tuan Grey meminta ijin pada Alex.


Alex menganggukkan kepalanya pertanda bahwa ia menyetujuinya. Lagi pula ia yakin kalau Tuan Grey takkan berbuat macam-macam pada Grizz. Mereka memang butuh waktu berdua untuk saling mendekatkan diri dengan menceritakan perjalanan hidupnya masing-masing.


"Bawa bodyguard atau anak buahku untuk menjaga kalian dari jauh. Aku tak ingin nanti kalian jadi incaran musuh" ucap Alex membuat Tuan Grey menganggukkan kepalanya.


***


Tuan Grey dan Grizz kini sudah ada di mobil dengan laki-laki itu yang mengemudikan kendaraannya. Walaupun ia sudah lupa jalanan di kota ini, namun Grizz masih hafal sedikit. Mereka akan menggunakan bantuan maps lewat ponsel pasalnya anak buah Alex hanya akan mengikuti dari jauh.


"Emm... Kayanya itu belok kiri deh, kak. Disitu ada penjual bunga, nanti beli dulu buat ibu" ucap Grizz sambil menunjukkan arah jalan.


Setelah mereka berkendara cukup lama, mobil yang dikendarai oleh Tuan Grey ini sampai di sebuah desa yang konon kata Grizz merupakan area dimana ibunya dimakamkan. Benar saja, ada penjual bunga didekat sana kemudian Grizz turun dari mobil. Grizz membeli bunga lili putih kesukaan ibunya kemudian membayarnya dengan uang cash.

__ADS_1


Tadinya Tuan Grey ingin membayarnya namun tidak bisa karena toko itu belum menggunakan sistem kartu. Akhirnya dengan perasaan malu, Tuan Grey meminta Grizz membayarnya. Grizz memang selalu membawa uang yang diberikan oleh suami dan Bibi Yun didalam tas kecilnya itu untuk berjaga-jaga.


Setelah membeli bunga, mereka melanjutkan perjalanannya menuju ke makam ibu mereka. Hanya butuh waktu 5 menit saja perjalanan keduanya dari toko bunga itu. Setelah memarkirkan mobil didepan halaman rumah warga, mereka berjalan kaki menuju kesana. Mereka sudah meminta ijin kepada pemilik rumah apalagi di makam itu tidak ada tempat yang luas untuk parkiran mobil.


__ADS_2