
Alex dan Luis pagi-pagi sekali sudah siap dengan kemeja juga celana kain yang melekat pada tubuhnya. Beruntung di mobil yang dibawa Luis ini selalu tersedia baju ganti untuk keduanya karena memang disiapkan secara langsung oleh asistennya itu. Saat keduanya telah siap, Alex segera saja memakai masker untuk menutupi bagian mulut hingga hidungnya.
Hal ini dilakukan karena kemarin ada beberapa warga yang ketakutan saat melihat wajahnya. Ia yang tak mau tersinggung dan langsung emosi melihat tatapan merendahkan dari beberapa orang membuatnya memutuskan untuk menutupnya memakai masker. Setelah sarapan, keduanya segera saja pergi diikuti oleh bodyguard yang sedari kemarin mengikuti mereka.
"Pagi pak, bu..." sapa Luis dengan senyuman ramahnya saat berpapasan dengan warga sekitar.
"Pagi, pak. Masih pagi kok sudah rapi, mau kemana pak?" tanya salah satu warga.
Mereka memang belum mengetahui status Alex dan Luis yang merupakan pemilik lahan dan proyek pembangunan villa sebelah desa ini. Mereka hanya mengetahui kalau keduanya hanya melakukan survey saja untuk mengetahui sejauh mana perkembangan desa ini.
"Biasa, pak. Lihat-lihat lahan disana, mau saya ajukan ke atasan siapa tahu mau ambil alih. Daripada terbengkalai seperti itu kan" ucap Luis dengan terkekeh.
"Benar, pak. Mending dibangun sesuatu yang bisa membangun perekonomian warga sekitar daripada nganggur dan tak terlihat indah seperti ini" ucap warga itu menimpali.
Alex dan Luis segera berjalan meninggalkan beberapa warga yang akan pergi menggarap sawah. Mereka segera saja menuju kearah lahan pembangunan proyek terbengkalai itu dengan berjalan kaki. Sesampainya disana, segera saja mereka langsung melihat semua sisi untuk mengetahui adanya kejanggalan dari pembangunan.
"Luis, masa besinya tipis gini? Belum ada satu tahun berdiri bisa ambruk nih bangunan hotel. Bukannya kemarin waktu rapat dengan kontraktor sudah kita jelaskan kalau besi yang standar namun kualitasnya bagus itu merknya seperti apa" kesal Alex bahkan sampai menendang besi yang sudah dirakit dengan kawat itu.
__ADS_1
"Astaga... Baru ditendang seperti ini saja sudah letoy" lanjutnya menggerutu.
Alex sampai memijit keningnya yang sedikit pusing karena memikirkan masalah pembangunan hotelnya ini. Sedagkan Alex juga kesal pasalnya perusahaan rekanan yang bekerjasama dengan mereka juga sampai saat ini tak ada yang turun tangan memeriksa. Seharusnya perusahaannya dengan mereka harus bekerjasama memeriksa sampai sejauh mana pembangunan hotel ini sehingga tak ada penyelewengan.
Bahkan di kontrak juga sudah tertulis bahwa mereka akan saling bahu membahu untuk memeriksa pembangunan ini. Setiap Alex dan dirinya tak bisa langsung memeriksa kesana setiap minggunya, mereka selalu memberitahu kepada rekannya itu. Namun apa yang terjadi? Mereka seakan lepas tangan, padahal sudah jelas kalau Alex dan dirinya itu merupakan orang sibuk.
"Ini sudah jam setengah 8 bos, harusnya sebentar lagi orang-orang yang semalam kita hubungi sudah ada disini" ucap Luis tiba-tiba setelah mencatat apa saja kejanggalan di pembangunan ini.
"Kita tunggu saja. Kalau mereka berani menghadapi kita, pasti semuanya bisa dijelaskan tentang pembangunan yang mangkrak ini. Namun jika tak datang berarti adalah pelaku dari ini" ucap Alex sambil menatap lurus kedepan.
Mereka segera saja duduk di tempat yang sedikit tertutup agar tak terlalu terkena sengatan matahari yang mulai meninggi. Ketiganya duduk dengan membawa botol minuman berisi air mineral masing-masing. Tak berapa lama, ada beberapa orang yang terdengar mendekat kearah lahan pembangunan ini.
Mereka tak menyadari kehadiran Alex dan Luis karena memang keduanya berada pada lokasi sedikit tersembunyi dengan ditutupi oleh pohon kelapa. Mereka mendengar semua pembicaraan orang-orang yang dikenal bahkan ada rekan kerjasama juga. Alex dan Luis tak menyangka jika mereka mengetahui kecurangan itu, padahal dalam kontrak sudah tertulis jelas.
"Bahwa siapa pun diantara mereka yang melakukan kecurangan, maka harus mengembalikan 100% biaya yang dikeluarkan oleh pihak yang dirugikan."
Keduanya bersyukur dan menghela nafasnya lega karena ada titik terang dari masalah ini. Memang ternyata harus sidak secara langsung itu ternyata diperlukan agar kita bisa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Mereka sudah mengenal lama rekan kerjanya kali ini sehingga percaya saja mengenai proyek ini. Namun ternyata kepercayaan keduanya pupus juga hari ini.
__ADS_1
"Sampai kini kita belum lihat tanda-tanda mereka datang. Semoga saja itu hanya gertak sambal saja, mereka kan orang sibuk. Tak mungkin mau juga mensurvey sampai ke pelosok seperti ini" ucap rekan kerja Alex dengan santai.
Melihat raut wajah santai yang ditunjukkan rekan kerja Alex itu, tentu membuat dugaan mereka semakin kuat. Bahwa rekan kerjanya itu memang sudah mengetahui perbuatan kontraktor nakal. Mereka menggunakan uang yang diberikan oleh perusahaan Alex untuk membangun hotel di tempat lain. Alex dan Luis saling pandang kemudian mereka berjalan tanpa suara mendekati mereka.
"Ehemmm....".
Deheman dari Alex itu sontak saja membuat semua orang yang masih mencari keberadaan si bos nya yang katanya akan datang itu langsung saja mengalihkan pandangannya. Semua yang ada disana langsung saja membulatkan matanya bahkan sontak langsung memundurkan langkahnya. Terlihat sekali kalau tatapan tajam dari Alex itu seakan menembus jantung mereka.
"Wah... Kalian sudah sampai disini rupanya. Luis, kok gambar yang dikirimkan pada grup berbeda dengan yang ada disini ya? Ini mah lahannya bisa buat main sepak bola" ucap Alex dengan sindiran pedasnya.
"Mungkin mereka ingin membangun stadion sepak bola bos" ucap Luis menimpali.
"Stadion sepak bola kok besinya letoy sih, bos. Nanti kalau penontonnya duduk tiba-tiba dindingnya ambruk bagaimana?" tanya bodyguard Alex dengan polosnya.
Alex hanya bisa menahan tawanya dibalik maskernya itu sambil diam-diam memuji kehebatan bodyguardnya dalam mengucapkan kalimta pedas. Sedangkan semua orang terutama rekan kerja dan kepala kontraktor disini tentunya langsung ketar-ketir. Bahkan mereka hanya diam bungkam dengan tatapan tak percayanya. Sedangkan kini Alex akan menjatuhkan mental orang-orang yang ada didepannya ini.
"Kalau ambruk ya tinggal minta ganti rugi yang bangun ini dong. Kalau mereka nggak bisa bayar, kita kubur hidup-hidup saja di lahan yang sangat luas ini. Kebetulan kan nih udah banyak sekali tanah yang digali" ucap Alex dengan terkekeh sinis.
__ADS_1
Semuanya meneguk ludahnya karena ancaman Alex yang tak main-main ini. Bahkan memang ucapannya terkesan santai namun penuh penekanan dan sindiran. Bahkan tak ada yang bisa mereka ucapkan untuk membalas ucapan yang dilontarkan oleh Alex. Rasanya seperti mereka mati kutu jika sudah bermain-main dengan raja bisnis ini.