Takdir Cinta Gadis Pelunas Hutang

Takdir Cinta Gadis Pelunas Hutang
Koordinasi


__ADS_3

"Apa kalian merasakan sesuatu?" tanya Alex dengan wajah datarnya.


Setelah makan malam selesai, maid juga Dara, Grizz, Erga, Bibi Yun, dan Nenek Umi masuk ke dalam kamarnya masing-masing segera saja Alex mengumpulkan semua anak buahnya. Mereka kini berkumpul di ruang tamu sedangkan ada juga beberapa yang di luar untuk menjaga area sekitar villa.


"Ya, tuan. Seperti ada yang mengintai kita" ucap salah satu bodyguard.


"Kerahkan beberapa orang untuk menangkap orang itu" ucap Alex memberi perintah.


Akhirnya Luis yang menjadi ketua untuk menangkap mata-mata yang mungkin saja sengaja menyusup ke area tempat villa Alex. Sedangkan Felix ditugaskan untuk mengatur beberapa bodyguard lainnya menyusuri area villa. Bukan tak mungkin ada seseorang yang berhasil menyusup ke area villa saat tadi semuanya sedang berkumpul makan malam.


Aaaaaaaa....


Saat semua orang yang ada di ruang tamu hendak membubarkan diri dan melaksanakan tugas yan sudah dikoordinasikan oleh Alex, tiba-tiba saja mereka mendengar teriakan begitu kencangnya. Alex yang mengenali suara orang itu langsung saja berlari dengan wajah paniknya. Itu adalah suara Grizz dari kamar yang kebetulan Alex tak mengaktifkan mode kedap suara.


Begitu juga dengan Felix yang langsung mengikuti Alex sedangkan Luis langsung mengajak beberapa bodyguard untuk menyususri area villa. Jangan sampai karena fokus pada Grizz semua membuat titik lain menjadi lemah tanpa penjagaan.


***


"Ada apa?" tanya Alex dengan nafas ngos-ngosan sampai di kamarnya dan Grizz.


Terlihat saat ia masuk dalam kamar ternyata pintunya terbuka yang membuat Alex begitu mudah memasukinya. Saat masuk, terlihatlah Grizz yang meringkuk di pojokan kamarnya sambil menutup kepalanya dengan kedua tangannya. Alex langsung saja mendekat kearah istrinya yang kemungkinan sedang ketakutan itu kemudian memeluknya dengan erat.


"Enggak, pergi... Jangan sakiti Grizz" teriak Grizz histeris.

__ADS_1


Bahkan Grizz kini memberontak dalam pelukan Alex namun laki-laki itu dengan kuat tetap memeluknya. Bahkan Dara, Bibi Yun, Erga, dan Nenek Umi yang mendengar teriakan itu pun langsung bergegas mencari sumber suara. Ternyata mereka menemukan Grizz yang menangis histeris di pojokan kamar dengan Alex yang memeluknya.


"Astaga... Ini kenapa?" tanya Bibi Yun yang membuat beberapa bodyguard yang menutupi pintu langsung menyingkir.


Bibi Yun masuk dalam kamar Grizz kemudian mendekat kearah Grizz yang masih memberontak dalam pelukan Alex. Bibi Yun berjongkok didepan Grizz kemudian mengelus punggungnya dengan lembut. Terlihat sekali jika Alex begitu khawatir dengan apa yan terjadi pada istrinya itu.


"Nak, tenang ya. Disini ada ibu dan suamimu, nggak akan ada yang menyakitimu" bisik Bibi Yun.


Bibi Yun juga langsung ikut membantu menggeser sedikit tubuh Grizz agar bisa keluar dari pojokan kamar. Setelah tempatnya sedikit longgar, Bibi Yun memeluk Grizz dari belakang. Grizz yang berada ditengah-tengah orang yang dikenalnya pun sedikit menghentikan tangisannya dan tak sehisteris tadi.


"Ibu, tadi ada orang yang lewat di balkon itu. Katanya dia mau menyakiti Grizz kalau dekat-dekat dengan Kak Alex" ucap Grizz mengadu.


Tubuh Alex menegang bahkan kini matanya sudah menatap tajam lurus ke depan. Alex segera melirik kearah Felix untuk mereka segera menyusuri semua tempat yang ada di villa ini. Mereka segera saja pergi meninggalkan beberapa orang yang dekat dengan Grizz. Sedangkan Alex langsung menarik Grizz dalam gendongan ala koalanya dengan terus mengusap lembut punggungnya.


"Bobok sama ibu" lirih Grizz.


Alex menganggukkan kepalanya menuruti apa yang diinginkan oleh istrinya itu. Alex segera melangkahkan kakinya dengan Grizz yang ada digendongannya keluar dari kamarnya. Lagi pula Alex kemungkinan besar juga takkan tidur malam ini karena ingin memastikan keamanan villanya.


Alex berjalan menuju kamar Bibi Yun diikuti oleh yang lainnya. Rencananya mereka akan tidur berlima untuk menemani Grizz agar tak ketakutan. Mereka yang tak tahu apa-apa juga sedikit panik karena kemungkinan sedang ada bahaya yang mengintai saat ini.


"Tidur ya, disini ada yang banyak temani kamu. Jangan takut" bisik Alex tepat pada telinga Grizz.


Alex mencium kening istrinya dengan lembut kemudian keluar dari kamar Bibi Yun. Bibi Yun dan yang lainnya langsung naik keatas kasur dengan Grizz yang berada di tengah. Grizz memeluk Bibi Yun yang ada disampingnya itu mencari keamanan dan kenyamanan.

__ADS_1


"Semuanya akan baik-baik saja" ucap Bibi Yun yang terus mengelus punggung Grizz dengan lembutnya.


Grizz menganggukkan kepalanya kemudian tertidur dalam pelukan Bibi Yun. Bibi Yun yang melihat Grizz suah tertidur pulas pun menghela nafasnya lega. Entah mengapa anak angkatnya ini mudah sekali histeris dan bisa ditenangkan dengan secepat kilat juga.


"Kira-kira siapa yang mengancam nak Grizz ya?" tanya Nenek Umi tiba-tiba.


"Iya, padahal daerah ini tuh sejak dulu aman lho. Baru kali ini kami dengar ada yang mengancam seperti ini" ucap Erga meyakinkan.


Nenek Umi dan Erga yang memang sudah lama tinggal di daerah perbukitan ini memang tahu kalau area ini sangat terdengar ada kejahatan. Kalau pun lewat hanya lah warga biasa dan belum pernah mereka mendengar adanya ancaman seperti ini. Walaupun tinggal di bukit namun terkadang mereka juga terus berjalan-jalan di area sekitar ini namun semuanya aman saja.


"Mungkin orang iseng" jawab Dara asal.


Dara tak ingin berspekulasi macam-macam sampai pelakunya ditangkap. Lagi pula ia tahu jika Alex seorang pebisnis besar dan sukses jadi kapan saja ada pesaingnya yang mengancam atau mencari kelemahannya itu adalah hal wajar. Makanya setiap pengusaha atau pebisnis pasti dikelilingi oleh bodyguard untuk mengantisipasi kejahatan yang ada.


Terlebih Grizz kini sudah dipublikasikan sebagai seorang istri Alex yang tentunya akan membuat nyawa gadis itu bisa kapan saja terancam. Mereka bisa saja menggunakan Grizz untuk menjatuhkan Alex.


"Sudah, tak usah dipikirkan. Biarkan Alex dan yang lainnya yang mengurus ini semua" ucap Bibi Yun menghentikan pembicaraan itu.


Semuanya menganggukkan kepalanya mengerti. Akhirnya mereka semua tidur dengan lelap tanpa tahu bahwa di luar sedang ada kericuhan dan ketegangan akibat kejadian ini. Apalagi Alex yang melihat pelaku ternyata adalah salah satu orangnya yang bekerja di perusahaannya membuatnya geram bukan main.


"Cepat kejar itu antek-anteknya. Tendang mereka semua dari perusahaanku" titah Alex dengan mengepalkan kedua tangannya.


Pasalnya orang yang kini tengah meringkuk kesakitan di tanah ini bekerja dengan posisi begitu strategis di perusahaannya. Bahkan ia dengan tak manusiawinya menendang beberapa orang Alex tanpa sepengetahuannya saat semuanya tengah sibuk dengan acara pernikahannya.

__ADS_1


__ADS_2