
Grizz terlihat terdiam setelah kembali dari kamar tamu yang digunakan oleh Nenek Umi dan Erga. Hatinya begitu teriris melihat bagaimana kebahagiaan keduanya saat bisa duduk bahkan tiduran diatas kasur empuk. Walaupun ia belum tahu sepenuhnya tentang cerita hidup keduanya namun yang pasti dapat terlihat kalau mereka baru merasakan kemewahan itu hari ini.
Setelah mengantar keduanya di kamar tamu, Grizz segera kembali ke kamarnya dan Alex. Tak berapa lama, Alex masuk ke dalam kamarnya kemudian melihat Grizz yang tampak duduk melamun diatas ranjang.
"Ada apa?" tanya Alex dengan wajah datarnya mendekat kearah Grizz.
Grizz pun masih terdiam bahkan mungkin tak menyadari akan kehadiran Alex yang masuk dalam kamar. Alex berdiri didepan istrinya yang masih melamun dan tak menggubris pertanyaannya sama sekali. Alex menghela nafas lelahnya saat tahu jika Grizz sedang melamunkan mengenai masa lalunya.
"Grizz..." panggil Alex dengan mengusak rambutnya dengan lembut.
Grizz seketika terkejut karena merasakan ada seseorang yang mengusat rambutnya. Grizz langsung menegakkan kepalanya kemudian menatap kearah Alex yang kini menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan.
Tiba-tiba saja Grizz berdiri kemudian memeluk erat Alex membuat tubuh laki-laki itu menegang. Walaupun sudah sering melakukan pelukan atau kontak fisik dengan Grizz namun sepertinya Alex belum lah terbiasa. Bahkan kini Grizz menangis tertahan, terbukti terdengar isakan lirih yang terdengar di telinga Alex.
Alex hanya bisa merilekskan tubuhnya kemudian mengelus lembut punggung Grizz. Ia tak akan bertanya apapun mengenai Grizz yang kini menangis dalam pelukannya. Ia ingin Grizz sendiri yang mengungkapkan bagaimana perasaannya kini terlebih dirinya mau jika gadis itu lebih terbuka kepadanya.
"Kasihan sama Erga dan nenek, mereka kalau hujan dan panas gitu tidur dimana? Selimut dan kasur aja nggak punya. Tadi aja mereka senang banget saat lihat kasur" ucap Grizz dengan menangis tergugu.
Alex sekarang mengerti jika istrinya memikirkan bagaimana kedua orang yang ditolongnya selama ini bisa bertahan hidup di tengah kondisi yang tinggal di dekat bukit bahkan jauh dari warga. Alex terus membiarkan Grizz mengungkapkan segalanya sampai dia puas.
"Sudah?" tanya Alex yang melihat Grizz melepaskan pelukannya dari Alex.
__ADS_1
Alex terkekeh pelan melihat wajah Grizz yang terlihat memerah dengan air mata dan ingus yang seperti ingin balapan keluar dari tempatnya. Grizz mengusap kasar air mata yang mengalir di pipinya dengan kedua punggung tangannya sedangkan untuk ingusnya langsung menempelkannya di kaosnya.
"Joroknya..." ledek Alex dengan sedikit menjauh.
"Biarin..." ketus Grizz yang malah mau mendekat kearah Alex.
Alex berlari kecil menghindari Grizz karena dikejar oleh gadis itu. Keduanya saling kejar-kejaran dengan Grizz yang ingin memeluk Alex. Tawa terdengar dari keduanya saat Grizz tak mampu menangkap Alex yang memang terus bisa mengelak.
"Udah... Grizz capek" ucap Grizz menyerah.
Bahkan kini Grizz sudah merebahkan badannya diatas ranjang sambil menetralkan nafasnya yang ngos-ngosan. Alex duduk di sofa kamar mereka dengan tenang bahkan tak ada raut kelelahan terlihat darinya. Kini Alex malah terkekeh melihat Grizz yang kecapekan karena mengejarnya itu.
Alex bahagia karena bisa mengalihkan kesedihan Grizz. Walaupun Grizz hanya mengungkapkan tentang Erga dan neneknya, namun Alex tahu kalau istrinya itu pasti juga membandingkan kehidupannya dengan mereka.
***
"Kak Grizz baik banget sama kita ya, nek" ucap Erga tiba-tiba.
Setelah Grizz keluar dari kamar yang keduanya tempati, mereka segera merebahkan badannya diatas ranjang. Bahkan barang-barang dari Luis juga sudah ada disana walaupun belum dibuka dan dirapikan sama sekali.
Keduanya merasa begitu nyaman saat merebahkan diri diatas kasur yang begitu lembut dan empuk itu. Bahkan sepertinya mereka baru merasakan rasanya nyaman untuk rebahan selama ini. Selama dua tahun ini bahkan mereka tak bisa yang namanya merebahkan badan leluasa seperti ini.
__ADS_1
Erga pernah bertanya pada neneknya mengapa tinggal disini tanpa adanya alas yang tak dingin seperti plastik padahal dulu masih ada sedikit kasur walaupun tak empuk. Namun neneknya tak bisa menjawabnya justru malah memberikan tatapan kasihan kepada cucunya. Saat keduanya dibuang di dekat bukit ini, usia Erga masihlah dua tahun yang mungkin tak ingat apa-apa mengenai kejadian itu.
"Suatu saat nanti pasti kita bisa merasakan rasanya tidur di kasur empuk. Ini hanya untuk sementara biar kita suatu saat nanti bisa mensyukuri apa yang kita punya" ucap Nenek Umi saat itu.
Erga yang tak paham pun hanya menganggukkan kepalanya, lagi pula ia percaya pada neneknya ini. Nenek Umi adalah satu-satunya orang yang ia percaya semenjak dulu karena beberapa yang ada didekatnya selalu melakukan kekerasan padanya.
Ia ingat mengenai dirinya yang diajak kedua orangtuanya naik mobil bersama neneknya ini untuk liburan. Namun tiba-tiba saja mereka ditinggalkan dengan alasan akan mengambil barang yang tertinggal. Namun hingga sekarang ternyata orangtuanya tak kembali menjemput mereka.
Lagi pula Erga tak dekat dengan kedua orangtuanya karena memang mereka jarang berada di rumah. Saat ini dirinya bersyukur karena apa yang diucapkan neneknya itu benar adanya jika keduanya akan merasakan tidur di kasur empuk.
"Iya, kak Grizz memang baik. Makanya kita nggak boleh merepotkan orang baik sepertinya. Sebisa mungkin kita membantu apa saja pekerjaan yang ada disini" ucap Nenek Umi.
"Kita harus berusaha apapun sendiri walaupun sudah disediakan oleh mereka" lanjutnya sambil mengelus kepala cucunya dengan lembut.
Erga menganggukkan kepalanya mengerti dengan apa yang diucapkan oleh neneknya itu. Nenek Umi begitu bangga dengan sang cucu yang penurut bahkan tak mengeluh sama sekali walaupun keadaannya susah. Ia juga tak protes saat harus makan buah-buahan yang ia ambil dari tanaman yang ada didekat bukit.
"Kalian akan menyesal telah membuang kami dan tak mempedulikan Erga. Suatu saat nanti Erga sendiri yang akan membuktikan kalau dia bisa sukses tanpa kalian" gumam Nenek Umi pelan.
Ia begitu kecewa dengan anak dan menantunya yang tega membuangnya bersama dengan sang cucu. Padahal ia hanya berusaha melindungi Erga dari amukan keduanya namun malah membuang mereka di tempat yang sangat sulit dijangkau warga. Terlebih Nenek Umi tahu kalau kawasan ini memang milik seseorang yang punya kekuasaan yang besar.
"Selama tidur cucu nenek" bisiknya pada telinga Erga.
__ADS_1
Terlalu larut dalam pikirannya membuat Nenek Umi tak sadar jika kini Erga sudah tertidur dengan pulasnya. Ia yakin kenyamanan kasurnya bisa membuatnya istirahat dengan lelap tak seperti saat di bawah bukit. Nenek Umi terus mengelus lembut rambut cucunya itu membuatnya juga ikut masuk dalam alam mimpi menyusul Erga.