Takdir Cinta Gadis Pelunas Hutang

Takdir Cinta Gadis Pelunas Hutang
Berduaan


__ADS_3

Luis mengajak Dara ke suatu tempat yang tak diketahui oleh gadis itu. Mobil pun melaju menuju jalanan sepi membuat Dara langsung menegakkan tubuhnya. Dara harus waspada, terlebih mengingat kejadian yang diceritakan oleh Grizz. Bisa saja orang-orang yang ada di dekatnya ini bukan Luis dan anak buah Alex.


Pasalnya tempat yang dituju begitu sepi. Bahkan jalanannya sangat terjal dan rumah warga sangat jauh. Dara melihat kearah Luis yang tengah memperhatikan jalanan yang dilalui. Tak ada yang mencurigakan dari ekspresi wajahnya, namun tetap saja itu membuatnya takut.


"Kita mau kemana? Kamu bukan orang yang menyamar jadi Kak Luis kan?" tanya Dara dengan polosnya.


Hal ini tentu membuat Luis tertawa dengan kepolosan calon istrinya itu. Pasalnya semua orang yang akan berbuat jahat pasti akan menjawab tidak. Mereka takkan mengakui kalau tengah melakukan penyamaran demi rencananya berhasil.


"Kamu ini, semua orang jahat pasti akan bilang kalau dia adalah seseorang yang kamu kenal. Tak mungkin dong mereka membuka identitasnya" ucap Luis sambil terkekeh pelan.


Dara hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tak gatal karena menyadari kebodohannya itu. Akhirnya Dara pasrah saja karena terlihat dari gerak-geriknya juga orang yang ada di sampingnya ini adalah Luis. Dara memilih untuk melihat jalanan yang semakin lama menjadi curam.


***


Tak berapa lama melewati jalanan yang curam dan menanjak, mobil itu berhenti di sebuah tempat yang ditumbuhi rumput hijau. Ternyata ini adalah sebuah bukit hijau dengan rerumputan yang sangat sejuk dipandang mata. Apalagi pemandangannya dari atas bukit, sungguh indah dengan langit birunya.


"Wah indahnya..." seru Dara yang kemudian keluar dari mobil.


Bahkan Dara berlarian seperti anak kecil di atas bukit itu membuat Luis terkekeh geli. Luis jadi ingat dengan Grizz yang mungkin akan berlaku sama jika berada di sini. Kedua gadis yang sama-sama polosnya itu tentu membuat suasanan di sini akan ramai kalau ada mereka bersama.


Sayangnya... Untuk kali ini, ia hanya mengajak Dara saja. Sedangkan untuk Grizz sendiri masih di kampus dan mungkin akan mengomelinya apabila tak diajak. Kini Dara tengah berada di puncak bukit dengan merentangkan kedua tangannya dan menutup matanya.


"Orang yang akan berbuat jahat dan menculikmu tidak mungkin kalau mengajakmu ke tempat yang indah seperti ini kan. Pasti mereka akan mengajakmu ke gedung tua dan menyiksamu" ucap Luis sambil terkekeh geli.

__ADS_1


Dara jadi malu sendiri karena mengingat ucapannya yang seakan mencurigai Luis dan anak buah Alex. Namun ia menyangkal malu itu, pasalnya ini hanya untuk kewaspadaan saja. Terlebih kejadian Grizz kemarin benar-benar mengusik pikirannya itu.


"Aku hanya waspada saja. Nanti takutnya kaya Grizz yang diajak ke mansion Tuan Alex" ucap Grizz memberi alasan.


"Sekarang tenangkan dirimu di sini. Ungkapkan semua perasaan sesak dan kecewa yang kamu rasakan pada orangtuamu. Aku tahu kalau kamu kini tengah kecewa dengan sikap orangtuamu itu. Namun aku minta untuk tak menjauh dari mereka. Mereka tetaplah orangtuamu, kamu harus menghormatinya" ucap Luis memberitahu.


Dara hanya menganggukkan kepalanya mengerti. Di sini ia bisa berteriak dan meluapkan segala kekesalan juga kekecewaan yang ada dalam hatinya. Ia hanya bisa berharap kalau orangtuanya tak lagi memaksakan kehendaknya dan menilai Grizz semaunya.


"Aaaaaaaa..." teriak Dara sambil memejamkan matanya.


Luis hanya melihat pemandangan itu dengan tenang. Ia akan membiarkannya selagi tak berbahaya untuk kekasihnya itu. Luis memilih untuk mengabadikan moment Dara di bukit itu dengan kamera ponselnya. Bahkan Luis juga membuat story dalam aplikasi pesan berwarna hijaunya.


Tak tahu saja kalau akibat perbuatannya itu membuat ada seorang gadis yang kesal. Bahkan gadis itu mengumpati Luis dengan berbagai macam umpatan. Gadis itu adalah Grizz yang melihat story di aplikasi pesan berwarna hijau. Bahkan Grizz sampai meremat ponselnya sendiri karena kesal tak diajak oleh keduanya.


Neli dan Nela yang melihat kelakuan Grizz pun saling pandang. Mereka bingung dengan apa yang terjadi dengan Grizz. Pasalnya sedari tadi Grizz hanya bermain ponselnya setelah makan namun tiba-tiba raut wajahnya menjadi cemberut.


"Nona Grizz, ada apa?" tanya Nela dengan tatapan penasaran.


"Ish... Ini lho. Dara sama Kak Luis berduaan di bukit nggak ngajak-ngajak Grizz" kesal Grizz sambil memperlihatkan layar ponselnya pada Nela.


Nela dan Neli yang melihat hal itu segera saja membuka ponselnya masing-masing. Mereka melihat story yang dibuat oleh Luis dan hanya bisa menggelengkan kepalanya. Pantas saja Grizz kebakaran jenggot, pasalnya gadis itu ingin sekali liburan namun belum dikabulkan sampai sekarang.


"Nanti kalau mereka pulang, minta balik lagi ke sana buat ajak Nona Grizz" ucap Neli memberi ide.

__ADS_1


Tentu saja itu hanya keusilan Neli saja biar kegiatan mereka yang pacaran itu bisa terganggu. Grizz hanya menganggukkan kepalanya setuju. Tentu saja dia akan meminta keduanya untuk mengajaknya ke bukit itu lagi. Sedangkan Ima hanya mendengar saja apa yang diucapkan mereka. Pasalnya ia tak paham dan tidak mengenal siapa yang tengah diperbincangkan itu.


"Ima, habis ini kamu langsung pulang? Kita mampir dulu yuk buat beli nasi bungkus" ucap Grizz mengajak teman barunya itu.


"Nasi bungkus? Buat apa?" tanya Ima dengan tatapan penasaran.


"Buat dibagi-bagikan dong. Kamu tahu dimana beli nasi bungkus yang enak?" tanya Grizz sambil menatap sahabatnya itu.


Ima hanya menganggukkan kepalanya mengerti. Entahlah... Selama beberapa hari ini Grizz ingin sekali berbelanja dan membelikan sesuatu untuk orang-orang yang membutuhkan. Ia memang tak ikut menikmatinya, namun Grizz merasa senang dan bahagia ketika bisa berbagi seperti itu.


"Gimana kalau beli di warung makan tempat ibuku bekerja saja? Biasanya kalau beli banyak, di sana akan dapat diskon harganya. Masakannya juga lumayan enak kok, nanti Grizz bisa cobain dulu. Kalau nggak enak menurut Grizz, kita bisa cari tempat lain" ucap Ima memberikan saran.


"Setuju" seru Grizz dengan antusias.


Dengan cepat mereka menyelesaikan kegiatan di kantinnya. Segera saja mereka pergi dari area kampus dengan menaiki mobil. Walaupun Ima tak ikut membantu dalam hal financial, namun ia bisa menggunakan tenaganya. Setidaknya ada hal yang bisa ia gunakan untuk membantu apa yang diinginkan oleh Grizz.


Tak berapa lama mobil itu melaju, kendaraan itu berhenti di sebuah warung makan. Ternyata warung makannya sangat ramai apalagi ini sudah mendekati jam makan siang. Mereka semua turun kemudian masuk dalam warung makan itu. Ibu dari Ima terkejut dengan kehadiran dari anaknya yang tiba-tiba datang di tempat kerjanya.


"Nak, ada apa ke sini? Nggak terjadi sesuatu kan dengan kamu dan adik-adikmu" tanya Ibu Ima yang langsung mencecar anaknya dengan pertanyaan.


Ima terkejut karena sudah ada sang ibu di depannya. Sedangkan Grizz hanya menunggu Ima yang tengah berbincang dengan sosok yang ia ketahui adalah ibu dari gadis itu. Ima tersenyum menanggapi pertanyaan yang dilontarkan oleh wanita paruh baya itu.


"Semuanya baik-baik saja, bu. Ima kesini karena mengantar temanku untuk membeli nasi bungkus dalam jumlah banyak di sini. Ini lho yang kemarin Ima ceritakan dan membelikan mainan banyak untuk adik-adik" ucap Ima yang langsung menarik tangan Grizz dengan lembut.

__ADS_1


__ADS_2