
Setelah hampir satu minggu bersama, akhirnya hari ini Grizz akan kembali ke negara tempat tinggalnya. Grizz yang memang beberapa hari lagi akan memasuki kuliah, tentu harus segera pulang. Kini Grizz sudah berpamitan pada semua maid dan bodyguard yang ada di mansion.
Dengan wajah sedih dan basah dengan air matanya, muka Grizz sudah memerah. Bahkan matanya sembab karena terlalu banyak menangis. Selama satu minggu di sini, ia sudah sangat dekat dengan para pekerja mansion bahkan mereka yang menemani Grizz main saat Tuan Grey tengah mengerjakan sesuatu.
"Maafin Grizz yang selalu merepotkan kalian ya. Maaf juga kalau sering berantakin dapur karena ulah Grizz. Grizz pasti rindu kalian banyak-banyak" ucap Grizz dengan masih menangis sesenggukan.
Sedangkan para maid di sana juga saling berpelukan karena akan berjauhan dengan sosok yang membuat mansion ini begitu ceria. Para maid bahkan saling patungan untuk memberikan kenang-kenangan atau hadiah berupa jam tangan berwarna biru langit kepada Grizz. Mereka tentu tak tahu kapan akan bertemu kembali terlebih Grizz bercerita akan sibuk dengan kuliahnya.
"Nona tidak merepotkan kami kok. Lagian kita senang kalau nona ketawa dan menjahili kami. Sukses kuliahnya di sana ya, nona. Jangan lupa sering hubungi kami" ucap salah satu maid yang menangis sesenggukan.
Grizz hanya menganggukkan kepalanya mengerti. Grizz bahkan memeluk mereka satu per satu untuk berpamitan. Tuan Grey dan David yang melihat perpisahan antara Grizz dengan para pekerja mansion hanya bisa geleng-geleng kepala. Mereka tak menyangka kalau Grizz bisa cepat dekat dengan para pekerja walaupun baru di sini satu minggu.
"Sudah belum, dek? Nanti pesawatnya terbang duluan lho kalau Grizz pamitannya lama" ucap Tuan Grey sambil terkekeh.
"Ish... Orang itu pesawatnya Kak Josh kok. Nggak akan mungkin terbang duluan dan ninggalin Grizz" ucap Grizz mengelak dengan tatapan sinisnya.
Setelah selesai berpamitan dengan para pekerja mansion, Grizz akhirnya pergi bersama dengan Tuan Grey dan David. Dua orang anak buah Alex telah bersiap juga untuk kembali ke negaranya. Grizz masuk dalam mobil yang akan mengantarkan mereka ke Bandara. Grizz terus melambaikan tangannya pada semua pekerja saat mobil mulai melaju pergi keluar dari area mansion.
__ADS_1
"Kamu bisa menemui mereka lagi suatu saat nanti. Kamu juga bisa menghubungi mereka di saat sedang tak sibuk" ucap Tuan Grey yang kini dipeluk oleh adiknya.
Grizz hanya menganggukkan kepalanya lesu. Baru berpisah dengan para pekerja saja sudah seperti ini apalagi nanti kalau berjauhan dengan kakaknya. Grizz bahkan sedari tadi masih menempel pada pelukan Tuan Grey dan malah memejamkan matanya. Tuan Grey yakin kalau Grizz sebentar lagi pasti akan tertidur nyaman dalam pelukannya.
Tuan Grey membiarkan saja adiknya ini melakukan apapun sesuka hatinya. Tentu hal ini agar membuat Grizz bisa nyaman selalu dekat dengannya. Tak berapa lama, mobil yang dikendarai oleh salah satu bodyguard itu berhenti di sebuah Bandara. Tuan Grey yang melihat adiknya tertidur pun harus membangunkan Grizz. Kalau tidak dibangunkan dan langsung masuk pesawat, sudah pasti gadis itu akan mengomelinya.
"Dek, bangun yuk. Sudah sampai lho" ucap Tuan Grey membangunkan adiknya sambil menepuk kedua pipi Grizz dengan pelan.
Engh...
Grizz merasa terganggu dengan tepukan pada kedua pipinya. Bahkan kini Grizz langsung menggeliatkan tubuhnya dan membuka matanya perlahan. Pemandangan yang sangat indah menurut Tuan Grey karena jarang-jarang ia bisa melihat adiknya ini bangun tidur. Selama tinggal di sini pun, kebanyakan Grizz malah sudah bangun lebih awal dibandingkan dengan dirinya.
Semua yang ada di dalam mobil langsung terkekeh pelan mendengar apa yang diperintahkan oleh Grizz. Ada-ada saja gadis ini, sudah sampai tempatnya namun malah disuruh balik lagi. Dengan terpaksa, Tuan Grey segera saja menggendong Grizz untuk dikeluarkannya dari mobil. Tuan Grey hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah manja adiknya itu.
"Ayo bangun. Kamu harus pulang, nanti si monster marah sama Kak Rey kalau kamu nggak pulang sesuai jadwal" ucap Tuan Grey sambil tersenyum tipis.
"Siapa yang Kak Rey maksud si monster? Kak Alex?" tanya Grizz dengan mendongakkan kepalanya menatap kearah kakaknya
__ADS_1
"Itu tahu" ucap Tuan Grey sambil terkekeh pelan.
Grizz menganggukkan kepalanya mengerti. Memang sebagian orang menganggap kalau Alex itu monster karena wajahnya yang sebagian cacat dan raut mukanya selalu datar itu. Tatapan matanya yang bak elang selalu menatap tajam kearah orang-orang yang mengganggu kehidupannya.
Namun bagi Grizz, Alex itu bagaikan marmut lucu yang menggemaskan. Bahkan ia selalu senang ketika melihat tatapan mata suaminya itu karena begitu tulus dan menenangkan. Walaupun awalnya tatapan itu menakutkan, namun setelah diselami akan terasa ketulusan dan kenyamanannya. Tentunya hanya Grizz seorang yang bisa merasakan hal itu.
"Banyak yang bilang suami Grizz itu monster, namun dia bagiku adalah penjaga terbaik yang pernah ada. Sebelum bertemu dengan Kak Rey, hanya dia seorang. Seorang laki-laki yang selalu ada untuk Grizz dan menjaganya dengan segenap hati" ucap Grizz dengan mata yang berkaca-kaca.
Tuan Grey menganggukkan kepalanya kemudian mencium kening adiknya begitu lama. Tentunya Tuan Grey menganggap Alex seorang monster itu karena tatapannya yang mengerikan itu. Hanya beberapa orang saja yang mampu berhadapan dengan tatapan setajam elang dari Alex.
"Sekarang Grizz pulang, sebulan lagi kakak yang akan menjumpaimu di sana. Baik-baik di sana, jaga kesehatan, jangan lupa makan, dan hubungi kakak setiap hari. Terutama saat kamu membutuhkan bantuan kakak" ucap Tuan Grey memberi pesan.
Grizz tak mampu berkata-kata lagi, ia hanya terus mengeratkan pelukannya pada tubuh Tuan Grey. Tuan Grey juga sedih karena harus berjauhan kembali dengan adiknya ini, namun ia tak boleh egois. Adiknya punya kehidupan sendiri yang tentu harus ia jaga dan maklumi. Setelah pelukan yang begitu lama, Grizz melepaskan tubuh kakaknya itu.
"Grizz akan selalu ingat pesan Kak Rey. Kak Rey di sini harus jaga kesehatan juga" ucap Grizz yang kemudian memeluk kembali kakaknya.
Setelah berpamitan dengan kakaknya, ia segera saja berjalan memasuki area untuk masuk pesawat. Dengan wajahnya yang masih memerah, Grizz berulangkali menghapus air mata yang jatuh pada kedua pipinya. Grizz kemudian melambaikan tangannya walaupun kakaknya tidak melihat.
__ADS_1
"Grizz sayang Kak Rey banyak-banyak. Suatu saat nanti Grizz akan kembali ke sini lagi" gumam gadis itu sambil tersenyum tipis dan melambaikan tangannya.