
Grizz kini duduk di pinggir kolam renang yang ada di belakang rumah Josh. Hari sudah malam bahkan menunjukkan jam 11. Setelah selesai membereskan dapur tadi, semua orang langsung kembali ke dalam kamarnya kecuali para bodyguard yang harus berjaga. Grizz juga langsung masuk dalam kamarnya bersama Dara.
Setelah Dara tertidur dengan pulasnya, Grizz segera saja keluar untuk mencari angin. Ia tak bisa tidur karena sudah terbiasa dengan adanya Alex disisinya walaupun baru beberapa hari saja. Ia berjalan keluar dan bertemu lah dengan kolam renang ini.
"Ayah tak adakah rasa bersalah di hatimu setelah menyakiti fisik dan batinku juga ibuku?" gumam Grizz bertanya pada air yang ada di kolam.
Grizz bermain dengan kakinya yang ada didalam kolam renang itu. Tak ada rasa dingin yang ia rasakan karena memang suasana malam itu sedang sejuk. Dikeheningan malam ini, Grizz yang menggunakan pakaian tidurnya itu selalu terbayang-bayang dengan masa lalunya yang begitu suram.
"Cepat buatkan ayah kopi" seru Harto saat dirinya pulang dari tempatnya berjudi bersama Neo.
"Kopinya habis, yah. Grizz nggak punya uang lagi untuk membelinya" ucap Grizz pelan.
Bahkan waktu itu dirinya sedang belajar namun mendengar teriakan dari ayahnya itu Grizz segera sasaja keluar dari kamarnya dan menghentikan kegiatannya. Namun apalah daya ia tak bisa membuatkan ayahnya kopi karena uang yang diberi oleh ibu tirinya setiap harinya itu sudah habis untuk membeli lauk.
"Beli... Sana cari hutangan atau kerja tambahan biar dapat hutang" sentak Harto dengan mata memerahnya.
"Hari ini Grizz libur kerja karena besok ada ujian tengah semester. Grizz mau belajar" ucap Grizz membantah.
"Sekolah itu nggak penting. Yang penting hanyalah uang. Pokoknya ayah nggak mau tahu kamu harus pergi beli kopi" sentaknya yang kemudian pergi dari hadapan Grizz.
__ADS_1
Bahkan Neo juga hanya meliriknya sinis saat tak sengaja matanya bertatapan dengan pandangan sendu Grizz. Grizz akhirnya memilih untuk pergi mencari hutangan pada warung yang ada di dekat rumahnya. Beruntung orang-orang disekitarnya sangat baik padanya walaupun tak ditunjukkan secara langsung jika ada keluarga Grizz.
Grizz menghela nafasnya karena tiba-tiba dadanya sesak jika mengingat bagaimana bentakan yang diberikan oleh Harto. Bahkan ia tak segan-segan untuk memukulnya jika sampai keinginan Harto tak terpenuhi. Bahkan hutangnya di warung milik tetangganya itu masih ada hingga kini. Suatu saat nanti jika keadaan sudah aman, Grizz akan meminta Alex mengantarnya kesana untuk membayar semua hutangnya.
"Kenapa keluargaku sendiri yang masih ada hubungan darah tega menyakiti batin dan fisikku? Apa salah Grizz?" gumamnya.
"Padahal oranglain yang baru ku kenal memperlakukanku bagai ratu" lanjutnya.
Badan Grizz bergetar karena kini ia tengah menangis mengingat bayangan kelam itu. Di malam yang hanya ada suara terpaan angin itu membuatnya merasa damai saat mencoba meluapkan segala perasaannya. Kini Grizz terus meracau menyalahkan orang-orang yang menyakitinya di masa lalu.
"Aaaaaaaaaaa.... Apa salah Grizz?" teriaknya sambil menangis.
"Nona, ada apa? Kenapa anda menangis?" khawatir maid itu.
Grizz tak menjawab pertanyaan maid itu namun malah semakin histeris dalam menangis. Maid itu sangat panik dan khawatir melihat keadaan Grizz dengan wajah yang sudah basah dengan air mata. Karena tak tahu dengan apa yang terjadi dengan Grizz, maid itu mencoba menenangkannya dengan memeluk gadis itu dari samping.
"Tenang nona. Ada bibi disini" ucap maid itu sambil mengelus lembut punggung Grizz.
"Jahat... Grizz nggak salah, kenapa terus dibentak dan dipukul?" tanyanya sambil menangis.
__ADS_1
Maid itu tentunya tak paham dengan racauan dari Grizz karena tak diberitahu oleh tuannya mengenai kondisi gadis yang ada dipelukannya ini. Maid bernama Leni yang umurnya seusia dengan Grizz bahkan ia baru saja lulus sekolah dan langsung menggantikan bibinya yang sudah tua untuk bekerja di rumah Josh. Leni terus mengelus punggung Grizz agar gadis itu segera tenang.
"Mana yang sakit? Mana yang dipukul? Biar bibi obati" ucap Leni dengan lembut.
Tanpa sadar Grizz menunjukkan beberapa bekas luka di kaki dan tangannya membuat Leni sedikit shock. Pasalnya tadi seharian Grizz memakai celana panjang sehingga tak terlihat sama sekali bekas lukanya. Leni sedikit bergidik ngeri membayangkan penyiksaan apa yang dilalui oleh gadis dalam pelukannya ini hingga dari pergelangan kaki hingga paha semuanya ada bekas luka.
Dengan tulus, Leni langsung mencium bekas luka yang ada pada tangan dan kaki Grizz dengan pelan sambil menggumamkan kata sembuh. Grizz perlahan sudah sedikit tenang bahkan tak terdengar racauannya lagi. Namun hanya suara sesenggukan saja yang masih terdengar.
"Nona anak yang baik dan kuat. Cepat sembuh dan ceria lagi" bisik Leni dengan suara seraknya.
Leni menahan tangisnya karena melihat kerapuhan Grizz dibalik sifat cerianya. Bahkan setelah tak berapa lama Grizz ternyata tertidur dalam pelukannya. Leni yang melihat Grizz tertidur pun menghapus jejak basah yang ada pada wajah gadis itu. Bahkan kini celana Grizz sudah basah karena air yang keluar dari kolam renang.
Tiba-tiba saja Dara datang kemudian mendekat kearah keduanya. Tadi Dara mencari Grizz yang tak ada di sebelahnya membuat ia memilih untuk mencarinya di luar. Ia melihat Grizz tengah dipeluk oleh oleh salah satu maid dan wajahnya terlihat basah, Dara yang melihat itu tentu tak terkejut lagi karena memang Grizz sering seperti ini saat malam hari.
"Ayo bawa Grizz ke kamar" ucap Dara tiba-tiba membuat Leni sedikit terkejut.
Keduanya dengan susah payang membawa Grizz masuk dalam kamar. Beruntung kamar yang ditempati Dara ada di lantai satu. Dara meminta tolong pada Leni untuk mengambilkan celana untuk Grizz karena sudah basah. Keduanya menggantikan celana luar Grizz yang basah dengan hati-hati agar gadis itu tak terbangun. Setelah berhasil, keduanya meletakkan Grizz diatas ranjang untuk dibaringkan.
"Terimakasih sudah menemani Grizz pada malam-malam begini. Dia memang sering seperti ini di malam hari. Kalau sedang kesepian, dia pasti ingat masa lalunya kemudian histeris lagi. Makanya ia tak pernah mau makan jika hanya ada sedikit orang juga" ucap Dara memberi pengertian.
__ADS_1
Leni hanya bisa menganggukkan kepalanya, tak perlu ia bertanya mengenai masa lalu Grizz karena itu bukan ranahnya. Leni segera saja keluar dari kamar Dara untuk pamit istirahat karena besok harus sudah bekerja lagi.