
"Kita ke rumah sakit" titah Alex pada anak buahnya yang sedang menyetir.
Tentu saja anak buahnya yang tengah mengemudi dibalik kemudi mobil itu menganggukkan kepalanya mengerti. Sedangkan Grizz yang mendengar hal itu segera membuka matanya kemudian menatap suaminya dengan sedikit menjauhkan kepalanya dari bahu Alex.
"Grizz nggak mau ke rumah sakit" tolak Grizz sambil menggelengkan kepalanya.
"Kamu harus ke rumah sakit. Kamu masih belum kuat secara mental dalam menghadapi cacian orang terutama ayahmu sendiri. Setidaknya kita berkonsultasi agar kamu juga bisa menyembuhkan trauma yang ada dalam dirimu" ucap Alex memberi pengertian.
Mendengar penuturan Alex itu tentu membuat Grizz terdiam. Bahkan kini gadis itu tampak berpikir karena sejujurnya dia malas sekali pergi ke dokter. Pasti akan ada hal aneh saja mengenai penyakitnya yang tak sembuh-sembuh dari traumanya itu.
"Enggak. Grizz nggak mau ke rumah sakit. Pasti nanti sembuh sendiri kok" kekeh Grizz yang tetap pada pendiriannya.
Tentunya hal ini membuat Alex mendengus kesal karena keinginannya ditolak oleh Grizz. Grizz kalau sudah kekeh dengan keinginannya itu akan susah untuk diubah pendiriannya. Sehingga mau dipaksa sekali pun takkan pernah bisa.
"Sayang..." frustasi Alex melihat istrinya itu tak mau diajak ke rumah sakit.
"Enggak, Kak Alex. Istrimu yang cantik nan menggemaskan ini sudah baik-baik. Toh tadi Grizz juga cuma shock sebentar kok" ucap Grizz mencoba meyakinkan suaminya itu.
Tentunya Alex yang melihat wajah Grizz begitu menggemaskan itu pun akhirnya mengalah. Ia langsung saja menganggukkan kepalanya menyetujui penolakan Grizz. Grizz begitu bahagia hingga langsung memeluk kembali tubuh Alex. Alex langsung mengelus lembut rambut istrinya agar bisa nyaman dalam pelukannya.
__ADS_1
"Sstttt... Tuan, belakang" ucap salah satu anak buahnya dengan pelan yang sedang duduk di samping kursi kemudi.
Alex yang tadinya sibuk mengelus lembut rambut istrinya itu segera saja mengalihkan pandangannya kearah belakang. Alex hanya bisa menghela nafasnya kesal karena dalam kondisi seperti ini malah ada musuhnya yang mengincar. Sepertinya ini merupakan musuhnya dalam dunia bisnis.
"Dia yang kemarin kalah dalam tender, bos. Sepertinya ia berpikir kalau tuan Luis yang ada dalam mobil ini" ucap anak buah Alex itu.
Alex memuji kecepatan anak buahnya dalam mencari informasi tentang siapa yang kini tengah mengejarnya itu. Kalau lawan bisnis tentunya takkan seribet atau sesusah dengan musuhnya dalam dunia bawah. Segera saja ia memikirkan rencana agar mereka bisa berhenti mengejar karena kini fokusnya hanya pada Grizz yang tengah lemah.
"Aku ikut lawan orang yang mengejar mobil ini ya" seru Grizz tiba-tiba.
Sebenarnya tadi saat memeluk suaminya itu, ia terus mendengar apa yang diucapkan oleh anak buah Alex. Mendengar apa yang mereka bahas tentunya membuat Grizz begitu semanagt. Padahal dirinya tadi begitu lesu akibat rasa terkejut yang akibat dari sebuah kutukan yang dilayangkan oleh ayah kandungnya sendiri.
Alex tak ingin melibatkan hal yang berbahaya seperti ini kepada istrinya. Walaupun lawannya kali ini menurutnya mudah, namun melibatkan Grizz bukan pilihan yang baik. Alex tak ingin jika nanti saat ia lengah malah membuat Grizz terluka. Apalagi istrinya itu masih lemas akibat dari apa yang baru saja terjadi.
"Ish... Pokoknya Grizz ikutan. Grizz mau melampiaskan semua kekesalan yang terjadi hari ini pada mereka" ucap Grizz memelototkan matanya kearah Alex.
"Tidak. Kalau mau melawan musuh tidak boleh yang namanya pakai emosi seperti itu. Kamu bisa terluka kalau badanmu dikuasai oleh emosi" ucap Alex dengan tegas.
Grizz mengerucutkan bibirnya kesal karena keinginannya itu ditolak oleh Alex. Padahal niatnya sudah benar untuk melampiaskan emosi yang masih terpendam dalam dadanya akibat belum tersalurkan tadi. Namun Alex takkan membiarkan Grizz melampiaskan emosinya, itu akan membuatnya malah terluka karena emosi bisa mengacaukan segalanya.
__ADS_1
"Baiklah... Ini Grizz sudah tenang. Jadi boleh ya kalau aku ingin ikut? Tenang saja, aku akan menjaga diri dengan baik" ucap Grizz lagi mencoba membujuk suaminya.
Tentunya sedari tadi mobil milik Alex terus dikejar oleh komplotan beberapa kendaraan yang mengejar mereka. Dengan menggunakan kecepatan stabil, ternyata lawan tak memacukan kendaraannya lebih tinggi pasalnya kawasan jalan ini sangat bahaya kalau kebut-kebutan. Grizz juga sedari tadi mengawasi mobil yang mengejar mereka yang bukan seperti sedang mengikuti dirinya.
"Baiklah. Tapi jangan sampai terluka. Kalau kau terluka, aku akan menguncimu dalam kamar selama satu minggu biar kau istirahat" ancam Alex membuat Grizz menganggukkan kepalanya dengan antusias.
"Didepan sana ada lapangan sepak bola. Kalau mau langsung perang, disana saja biar nggak membahayakan warga sekitar" ucap Grizz sambil menunjukkan arah menuju sebuah lapangan.
Diam-diam Alex memberikan senyuman penuh kekaguman pada istrinya itu yang sudah bisa membaca situasi. Alex juga sedikit tenang kali ini karena istrinya itu ternyata wajahnya sudah tak sepucat tadi. Tak berapa lama, mobil langsung masuk kearah dalam lapangan sepak bola membuat beberapa kendaraan yang mengikuti langsung masuk kesana juga.
Alex, Grizz, dan kedua anak buahnya langsung turun dari mobil. Sengaja Alex tak membawa banyak bodyguard dan anak buahnya karena berpikir kalau mereka akan pergi sebentar saja. Namun ternyata ada juga seseorang yang mengikutinya hanya karena ada masalah tender yang kalah.
"Kenapa kalian ikuti mobil kami? Terpesona atau pengen ya mobil yang mewah kaya gini? Makanya kerja biar bisa beli dong" seru Grizz dengan mata melotot.
Bahkan dua mobil yang berisi masing-masing empat orang yang baru saja turun dari kendaraannya itu tak menyangka jika ada seorang gadis disana. Mereka berpikir hanya ada Luis dan bodyguard saja di dalam mobil itu namun yang muncul malah Alex, seorang gadis, dan anak buahnya. Mereka saling pandang karena merasa diomeli oleh gadis itu. Bahkan gadis itu tak memperlihatkan rasa takut sama sekali kepada mereka.
"Kami hanya ingin bicara pada Luis atau tuh Alex. Bukan ingin sama mobilmu itu" ketus salah satu bodyguard.
"Dih... Kalau ingin bicara tuh temui di rumah atau di kantor. Bukan malah ngejar-ngejar mobil kami. Dipikir bensin itu murah apa kalau bicara di jalanan terus berada dalam mobil seperti ini" ucap Grizz dengan mencerocos kesal.
__ADS_1
Mereka kehabisan kata-kata mendengar ucapan panjang lebar dari Grizz yang tentunya membuatnya mati kutu. Biasanya mereka tak segan untuk menganiaya orang yang menghalangi namun saat melihat Grizz terlihat sekali kalau semuanya malah kebingungan. Alex menahan tawanya melihat kini lawannya hanya terdiam saja. Tentunya ini menguntungkan bagi kubu Alex yang malas meladeni orang-orang picik seperti ini.