
"Apa maksudmu sampai kau mengancam istriku?" sentak Alex yang kemudian menendang kepala laki-laki yang tengah meringkuk di tanah itu.
Ia begitu geram dengan orang-orang yang ingin mendekati Grizz hanya untuk menyakitinya saja. Terlebih Grizz itu tak ada sangkut pautnya dengan bisnis yang ia jalani namun tetap saja mereka menargetkan istrinya.
Arrghhhh...
Teriakan kesakitan terus menggema di kesepian malam itu. Apalagi Alex yang terus menendang semua anggota tubuh lawannya yang sudah babak belur. Sedangkan Felix dan Luis kini kembali membawa tiga orang yang tadi mengintai area villa.
Brukkk...
Tiga orang yang dibawa oleh Felix, Luis, dan beberapa bodyguard itu langsung saja mereka hempaskan dibawah kaki Alex. Bahkan sebelumnya ketiganya itu sudah babak belur karena dihajar oleh Fleix karena berniat melarikan diri.
"Ampun, tuan" mohon ketiganya dengan lemas.
Mereka sudah seperti tak punya tenaga karena dihajar habis-habisan oleh orang kepercayaan Alex itu. Apalagi ini sudah menyangkut Grizz yang notabene sudah dianggapnya sebagai adik kandungnya sendiri.
"Tiada ampun bagi kalian yang ingin menghancurkan aku lewat istriku. Kalau berani hadapi aku, pecundang" sentak Alex.
Alex yang mempunyai sifat temperamental dan emosi begitu tinggi jika ada yang mengusiknya pun tak mau menerima maaf dari mereka. Lagi pula kesalahan mereka sudah fatal apalagi kini salah satu bodyguardnya yang membisikkan sesuatu yang membuatnya tambah marah.
"Kau ingin mengambil alih salah satu cabang perusahaanku yang jarang ku pantau?" ucapnya penuh penekanan sambil berjongkok.
Alex berjongkok didepan empat orang yang sudah terbaring lemah di tanah itu kemudian mengambil kerah baju salah satunya. Dengan memegang erat kerah bajunya ia menatap tajam orang itu. Tadi bodyguardnya membisikkan informasi bahwa mereka sengaja membuat kerusuhan ini agar Alex tak fokus dengan perusahaan cabangnya. Mereka ingin mendapatkan atau mengalihkan seluruh pendapatan cabang perusahaan menjadi milik para pelaku.
"Tidak tuan, anda salah informasi" elak orang itu.
__ADS_1
"Cih... Saya lebih percaya pada bodyguardku yang jelas-jelas sudah menemaniku dari saya mulai merintis dibanding kalian yang baru 2 tahun mengikutiku. Lagi pula ngapain juga kalian berada disini? Kalau bukan untuk mengintai kami" ucap Alex terkekeh sinis.
Para bodyguard sudah di sumpah janji oleh Alex untuk tetap setia kepadanya. Jika tak mau setia dan berkhianat lebih baik katakan saja sejak awal untuk tak mengikuti Alex. Kalau setia mendampingi Alex, bukan lagi harta yang akan diberikan namun juga dianggap sebagai keluarga. Walaupun Alex keras dalam menerapkan aturan, namun mereka begitu menikmatinya karena selalu diperhatikan oleh atasannya itu.
Jika sakit atau keluarga mempunyai masalah, Alex tak sungkan untuk membantu semua biayanya. Bahkan mereka mendapatkan fasilitas terbaik agar bisa pulih secepatnya. Mereka juga diperbolehkan pulang ke rumah selama satu minggu penuh setiap sebulan sekali namun harus dikoordinasikan dengan temannya yang lain.
"Bawa mereka ke tempat biasa. Langsung tembak saja kepalanya karena aku tak ingin melihat wajah mereka lagi" ucap Alex memberi perintah.
Keempatnya langsung berwajah pucat pasi bahkan tadinya yang masih berbaring di tanah langsung menegakkan badannya. Sepertinya mereka terkejut mendengar apa yang diucapkan oleh Alex. Mereka tak menyangka jika konsekuensi dari perbuatannya langsung dibayar mahal dengan nyawa.
"Kami mohon tuan, jangan hukum kami seperti itu. Ada keluarga yang harus saya nafkahi, kami tak mungkin mati sia-sia seperti ini" ucap salah satu dari mereka dengan tatapan sedih.
Namun bukan Alex namanya yang akan merasa iba saat melihat raut wajah sedih musuhnya. Ini adalah pelajaran bagi siapapun yang mengusiknya maka tak ada ampun bagi mereka. Alex tersenyum menyeringai membuat mereka berempat semakin waspada.
Dor... Dor... Dor... Dor....
"Manusia tak berguna seperti kalian tak pantas untuk hidup di dunia ini" ucap Alex terkekeh sinis sambil meniup pistolnya yang tiba-tiba mengeluarkan asap.
Alex kemudian berdiri setelah melihat hasil karyanya yang membuat semua bodyguardnya hanya bisa geleng-geleng kepala. Semua bodyguardnya sudah terbiasa melihat pemandangan Alex yang langsung menghabisi orang-orang yang berurusan dengannya.
Suara tembakan yang menggema berulang kali di keheningan malam itu membuat siapapun yang mendengarnya mungkin akan terkejut. Namun karena di area ini tak dekat dengan rumah warga membuat semuanya terasa aman. Bahkan suasana dingin dan mencekam masih terasa di tempat ini akibat tembakan yang melesat dari pistol yang dipegang oleh Alex.
Tembakan itu berasal dari pistol Alex yang tadi langsung ia ambil dari sakunya kemudian ia tembakkan tepat pada kepala empat pelaku itu. Bahkan tak sempat mereka mengatakan permintaan terakhirnya namun Alex sudah langsung menghabisinya.
"Hanguskan..." ucap Alex dengan tersenyum sinis.
__ADS_1
Beberapa bodyguardnya langsung mengambil empat mayat pelaku itu dengan menarik kerah bajunya bak seperti membawa sebuah karung berisi beras. Tak hanya Alex yang kejam dan tak berperasaan namun para bodyguardnya juga. Terlebih mereka yang ingin menghancurkan Alex, tentunya akan membuat para bodyguard maju untuk melawan.
"Yang masih ada di perusahaan biar aku saja yang menghabisinya" ucap Felix dengan tatapan permohonan.
Felix juga ingin sekali bermain dengan menghabisi para pelaku yang ingin mengusik kehidupannya. Apalagi sedari kemarin dirinya hanya ditugaskan untuk mengintai dan melumpuhkan target saja. Ia bosan bermain dan memberi pelajaran dengan cara seperti itu.
"Bermainlah" ucap Alex dengan santai.
Felix kegirangan bahkan melompat-lompat kecil karena begitu bahagia bak anak kecil yang sedang mendapatkan mainan baru. Sedangkan Luis hanya bisa geleng-geleng kepala mendengarnya. Ketiganya segera saja masuk kedalam villa setelah urusannya selesai.
"Bos, mau tidur atau ikut yang lain jaga?" tanya Luis.
"Ikut jaga" jawab Alex singkat.
"Ya ikut jaga dong, kan si bos di kamar nggak ada temannya" ucap Felix dengan sedikit meledek.
Luis hanya terkekeh pelan mendengar bosnya itu diledek oleh Felix, sedangkan Alex sendiri memilih untuk diam tak menggubris ucapan anak buahnya. Mereka bertiga segera saja ke dapur untuk membuat kopi yang akan menemani acara begadang ketiganya. Mereka terlihat berbincang santai karena memang ini bukanlah waktu saat bekerja.
***
"Huhuhu Grizz nggak nakal, jangan pukul..." ucap Grizz mengigau dalam kamarnya.
Dalam tidurnya di tengah malam, tiba-tiba saja Grizz mengigau sambil menangis. Bahkan dahinya sudah dipenuhi dengan keringat. Erga yang berada disampingnya pun merasa terganggu kemudian terbangun saat melihat Grizz menggelengkan kepalanya dan mendengar isakan lirih.
"Panas..." ucap Erga saat menyentuh dahi Grizz.
__ADS_1
Erga segera saja membangunkan Bibi Yun, Dara, dan Nenek Umi untuk memeriksa keadaan Grizz. Beruntung ketiganya langsung bangun walaupun masih dalam keadaan linglung. Ketiganya langsung menatap Erga yang terlihat panik.
"Kak Grizz demam..." ucapnya memberitahu.