Takdir Cinta Gadis Pelunas Hutang

Takdir Cinta Gadis Pelunas Hutang
Rumah Masa Kecil


__ADS_3

Tak berapa lama mobil itu melaju, kendaraan berhenti dan masuk dalam halaman rumah masa kecil Grizz dan Tuan Grey. Keduanya turun dari mobil kemudian melihat kearah sekitar rumah ini. Tuan Grey memperhatikan sekitar dan merasa dejavu saat melihat rumah sederhana ini.


Beberapa tetangga yang lewat tentunya sedikit terkejut dengan kehadiran Grizz yang datang bersama seorang laki-laki yang berbeda dari kemarin. Namun mereka tak mau bertanya karena sedikit takut dengan tatapan tajam laki-laki itu. Mereka akhirnya lebih memilih pergi daripada mengurusi kehidupan oranglain.


"Ayo masuk" ajak Grizz setelah melihat kakaknya yang hanya diam melamun.


Tuan Grey segera saja memegang tangan adiknya kemudian mereka berjalan memasuki rumah sederhana itu. Saat sampai didepan pintu, sontak saja Grizz langsung menghentikan langkahnya. Grizz membalikkan badannya kearah Tuan Grey sambil menatapnya dengan dalam.


"Didepan sini... Grizz pernah meringkuk kedinginan karena tak diijinkan masuk dalam rumah. Grizz waktu itu pulang tapi nggak punya uang buat dikasih sama istri baru ayah. Beruntung ada tetangga yang langsung menyelamatkan Grizz dengan memberinya tumpangan semalam" ucap Grizz sambil menunjuk kearah lantai yang dipijaknya.


Tuan Grey yang mendengar ucapan itu langsung saja memeluk Grizz dengan erat. Tuan Grey menciumi pucuk kepala adiknya itu agar merasa sedikit tenang. Ternyata rumah sederhana yang menjadi saksi awal hidupnya ini penuh kenangan buruk adiknya. Ia pikir setelah kepergiannya waktu itu, hidup adik dan ibunya bahagia. Namun pada faktanya jauh lebih buruk.


"Ceritakan semuanya ya" ucap Tuan Grey setelah melepaskan pelukannya.


Grizz hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Ternyata bercerita dengan kakak kandungnya sendiri itu tidak membuatnya ketakutan. Ia malah lebih merasa bebas, terbuka, dan aman ketika memulai cerita dengan Tuan Grey. Mereka segera saja berjalan masuk kedalam rumah kemudian berhenti lagi.


"Disini, Grizz dipukuli sama ayah kakinya pakai sapu. Lagi-lagi karena uang. Setelah kejadian dipukuli kakinya sampai berdarah, Grizz langsung diserahkan sama Kak Alex. Padahal kakinya masih bercucuran darah. Itu sakit sekali Kak Rey, perih..." ucapnya sambil menangis.


Kini air mata yang sedari tadi ditahan oleh Grizz itu meluncur juga dari matanya. Bahkan kini Grizz sudah terisak dalam pelukan Tuan Grey yang sebenarnya sedang memendam emosinya. Ia tak menyangka jika ayahnya bisa berbuat seperti ini.

__ADS_1


Tuan Grey langsung membawa Grizz duduk pada kursi yang ada di ruang tamu. Tuan Grey berjongkok didepan Grizz yang kini menangis tergugu. Tuan Grey langsung menaikkan celana kulot adiknya itu kemudian melihat bekas luka yang ada dikakinya.


Cup... Cup... Cup...


Tuan Grey mencium kaki adiknya yang ada bekas lukanya itu. Kemudian mengelusnya seakan ingin mengobati rasa sakit yang dirasakan oleh Grizz. Bekas hitam luka memanjang dan membulat membuat Tuan Grey ingin sekali meledakkan amarahnya.


"Ini sudah nggak sakit lagi kakinya. Tapi hati Grizz yang masih sakit" ucap Grizz dengan lirih.


"Andai kakak ada disini, pasti Kak Rey akan melindungimu dari pukulan itu. Maafkan Kak Rey" ucap Tuan Grey yang kini menatap adiknya dengan tatapan bersalah.


Mendengar ucapan kakaknya itu sontak saja membuat Grizz menggelengkan kepalanya dengan cepat. Grizz langsung memeluk kakaknya yang masih berjongkok didepannya. Menurutnya, ini bukan salah kakaknya melainkan ayahnya yang memang tidak tahu diri.


"Enggak. Kak Rey nggak salah, ini memang murni kesalahan ayah dan istri barunya itu. Mereka yang jahat, sama Kak Neo juga. Mereka yang jahat..." seru Grizz dengan isakan pilunya.


"Ayo kita lanjutkan lagi. Ceritakan semuanya biar kamu lega" ajak Tuan Grey setelah keduanya puas menangis bersama.


Grizz hanya menganggukkan kepalanya kemudian menghapus air mata yang jatuh pada kedua pipinya dengan kasar. Mereka berjalan kembali kearah kamarnya yang membuat Tuan Grey penasaran.


"Ini kamar Grizz dan ibu. Semenjak ayah sering marah-marah, ibu pindah kamar sama Grizz. Disini Grizz merawat ibu yang dulunya sakit-sakitan karena jadi tameng badannya" ucap Grizz sambil menunjukkan kamarnya yang gelap.

__ADS_1


Walaupun ada jendela, namun saat ini masih dalam posisi tertutup oleh sebuah kain. Tuan Grey yang melihat kondisi kamar adik dan ibunya pun tak kuasa menahan kesedihannya. Disaat dirinya tidur menggunakan kasur empuk, adik dan ibunya malah hanya tidur di sebuah gudang. Bahkan hanya ada kasur tipis dengan lemari yang usang.


"Grizz kalau lagi kesakitan atau lapar, pasti langsung menghadap ke jendela ini. Buat lihat bulan dan bintang malam hari. Hal ini juga yang membuat tetangga sebelah selalu beri Grizz makanan dan obat-obatan lewat sini. Dia tahu Grizz sering disiksa" ucap Grizz sambil menunjuk kearah jendela yang memang bisa dibuka seutuhnya.


Tuan Grey menganggukkan kepalanya mengerti. Ia sedikit menghela nafasnya lega karena ternyata didekat sini masih ada orang baik yang membantu adiknya itu. Grizz mengajak kakaknya keluar dari rumah ini karena sudah sesak dengan debu yang berterbangan.


"Barang-barang ibu dan kamu sudah tidak ada disini?" tanya Tuan Grey.


"Enggak. Kemarin sudah aku bawa ke rumah Kak Josh termasuk foto kita berdua sama ibu" ucap Grizz dengan cerianya.


Tuan Grey menganggukkan kepalanya kemudian mereka keluar untuk duduk didepan. Mereka ingin merasakan udara luar yang lebih menyehatkan dibandingkan didalam. Grizz menyapa beberapa orang tetangga yang lewat didepan rumahnya itu setelah duduk disana.


"Rumah ini mau kita apakan, kak?" tanya Grizz.


"Bagaimana kalau kita renovasi lalu sewakan saja. Setidaknya kita mendapatkan untung bukan? Daripada tidak ada yang tinggal disini. Lagian ini rumah peninggalan ibu, kakak seperti tak rela jika menjualnya" ucap Tuan Grey menyampaikan sarannya.


Tuan Grey sudah memikirkan matang-matang mengenai rencana ini sejak semalam. Ia tak mungkin menjual rumah ini walaupun banyak kenangan buruk didalamnya. Rumah ini satu-satunya peninggalan ibunya yang tersisa membuat Tuan Grey akan berusaha untuk tidak menjualnya.


"Boleh. Tapi Kak Rey yang bayar biaya renovasinya ya. Grizz kan nggak punya uang banyak karena nggak kerja" ucap Grizz dengan polosnya.

__ADS_1


"Suamimu itu kaya. Kamu nggak perlu kerja, tingga minta aja sama dia. Nanti kalau kurang biar Kak Rey yang tambahin" ucap Tuan Grey terkekeh pelan.


Dengan polosnya, Grizz menganggukkan kepalanya setuju. Setelah pulang dari rumahnya ini, ia akan meminta uang pada Alex untuk biaya renovasi. Diam-diam Tuan Grey tersenyum geli karena adiknya ini mudah sekali untuk ia suruh. Padahal ia mampu, hanya saja adik iparnya itu haruslah ikut mengeluarkan uang.


__ADS_2