Takdir Cinta Gadis Pelunas Hutang

Takdir Cinta Gadis Pelunas Hutang
Manja


__ADS_3

Grizz bermanja dengan Bibi Yun yang sedari tadi terus ia ikuti. Bahkan tadi Bibi Yun yang mau ke kamar mandi saja hendak diikuti oleh Grizz. Hal ini membuat Bibi Yun langsung berkacak pinggang dan sang empu cengengesan.


"Masa iya ibu mau ke kamar mandi, kamu ikutin? Mau ngintip biar matanya bintitan ya?" kesal Bibi Yun.


Akhirnya setelah mendapat omelan dari Bibi Yun itu membuat Grizz duduk saja diatas kasur ibu angkatnya itu. Ia tetap menunggu Bibi Yun keluar dari kamar mandi karena tak mau ditinggal sama sekali. Setelah melihat Bibi Yun keluar, Grizz segera menarik tangan ibunya itu untuk duduk di ruang keluarga.


Grizz langsung membawa Bibi Yun duduk disampingnya dan menyalakan acara kesukaannya. Bahkan Grizz langsung tiduran diatas sofa dengan berbantalkan paha Bibi Yun. Bibi Yun hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah manja dari Grizz. Bibi Yun pun langsung mengusap lembut rambut Grizz berulang kali untuk membuat gadis yang sedang tiduran ini nyaman.


"Grizz pasti sedih ditinggal kakaknya pulang, tapi anak ibu ini nggak boleh patah semangat. Ada orang-orang disini yang juga butuh dan sedih kalau Grizz pergi" ucap Bibi Yun memberi pengertian.


Bibi Yun memang sudah tahu mengenai Grizz yang tidak mau ditinggal oleh kakak kandungnya dari Alex. Bahkan gadis itu berniat mengikuti dimama kakaknya tinggal. Bibi Yun mengerti kegelisahan Alex yang sudah mencintai gadis polos itu dan tak ingin jauh darinya. Makanya saat itu Alex menyuruhnya untuk memberi pengertian pada Grizz.


"Sangat. Baru beberapa hari saja lho ketemu dan mengungkapkan semua kebenaran ini, tapi malah langsung ditinggal. Awas saja kalau sampai Kak Rey lupa nggak kabarin atau datang kesini lagi, Grizz ulek-ulek jadiin sambal geprek" ucap Grizz dengan menggebu-gebu.


"Emang kamu rela kalau Kak Rey jadi sambal geprek? Berarti nggak bisa ketemu lagi dong" goda Bibi Yun.


Bibi Yun terkekeh geli melihat raut wajah Grizz yang terdiam saat mendengar ucapannya. Apalagi kini bibirnya manyun membuatnya tak sabar untuk menguncirnya. Grizz menatap Bibi Yun yang kini tengah mengulum senyumnya.

__ADS_1


"Ish... Itu hanya perumpaan aja sih, bu. Bukan serius" ucap Grizz yang kesal.


Bibi Yun tak menanggapinya namun terus mengelus rambut Grizz. Bahkan saking lembut elusannya itu membuat Grizz mengantuk kemudian malah tertidur. Bibi Yun langsung meletakkan kepala Grizz pada bantal yang telah disiapkannya itu. Pasalnya pahanya itu sudah kebas karena terlalu lama digunakan untuk menjadi bantalan.


Setelah berhasil membuat Grizz dalam posisi nyaman, Bibi Yun meninggalkan gadis itu di ruang keluarga. Tentu disampingnya sudah ia beri pembatas agar gadis itu tak terjatuh. Lagi pula Grizz adalah tipe yang suka tidur akhir-akhir ini membuatnya jarang terbangun kalau ada suara-suara berisik.


***


"Bagaimana tentang dua orang itu? Apa mereka sudah memberitahu tentang siapa yang menyuruh?" tanya seorang laki-laki yang tengah duduk di kursi kebesarannya.


Dua orang laki-laki yang ada didalam ruangan itu adalah Tuan Grey dan David. Mereka tengah berdiskusi mengenai orang-orang yang mengikuti keduanya di bandara. Tidak menyangka Tuan Grey, kalau mereka akan setia pada tuannya padahal sudah diancam sedemikian rupa. Namun Tuan Grey takkan menyerah untuk membuat orang-orang itu membuka mulutnya.


Apalagi mengenai yang dikatakan oleh David, dalang utamanya bukan orang sembarangan. Kalau itu benar, sudah pasti dia akan mengoreknya sampai tuntas. Lagi pula akan sangat berbahaya kalau sampai orang itu punya niatan jahat apalagi mencari informasi mengenai tentangnya. Terlebih ada adiknya yang kini harus ia sembunyikan informasinya.


"Habisi saja dia. Bawa semua barang yang bisa dijadikan petunjuk. Aku sendiri yang akan menelitinya" ucap Tuan Grey memberi perintah.


David menganggukkan kepalanya mengerti kemudian berjalan keluar dari ruang kerja Tuan Grey. Tuan Grey menghela nafasnya kasar karena merasa situasi di negara ini juga tidak aman untuk adiknya. Beruntung adiknya tidak jadi ikut ke negara ini, pasti hanya akan ada masalah atau peperangan lagi.

__ADS_1


Tuan Grey segera membuka tas ransel yang dibawakan oleh Grizz. Ia begitu penasaran dengan apa isi dalam tas ransel itu karena sewaktu ingin melihatnya disana, Grizz tak memperbolehkannya. Akhirnya Tuan Grey menurut dan saat ini segera saja ia membuka tas ransel tokoh kartun itu.


"Astaga... Pantas saja dia tak ingin aku membukanya disana. Isinya aja sudah membuatku rindu dengannya" ucap Tuan Grey dengan sedikit lirih.


Bahkan kini matanya terlihat berkaca-kaca saat melihat beberapa lembar foto yang ada didalam tas itu. Ternyata itu adalah foto selfie Grizz dengan berbagai gaya juga dia yang diambil secara sembunyi-sembunyi. Ada juga foto yang diedit sehingga mereka tampak tengah berfoto berdua.


Apalagi ada foto ibunya dulu saat masih kecil dengan dia dan Grizz. Tak hanya foto, dalam tas itu juga ada beberapa baju ibunya dan Grizz dulu. Tuan Grey tak menyangka kalau adiknya bisa membuat moment-moment yang hilang dulu kini kembali terekam indah dalam memorinya. Tuan Grey menciumi baju ibunya dan Grizz secara bergantian untuk melampiaskan rindu yang teramat mendalam.


"Sampai saat ini, aku masih merasa bersalah dengan kalian karena tidak cepat menyelamatkanmu dari siksaan pria tua itu. Maafkan aku ibu, Grizz" gumam Tuan Grey dengan isakan lirihnya.


"Ibu, aku janji. Selama nyawaku masih ada, aku bakalan jaga Grizz dan membuatnya bahagia. Terlebih menjaga dari pria tua yang tak bertanggungjawab itu. Maafkan aku yang kemarin tak sempat memberi pelajaran pada pria tua itu" lanjutnya bergumam.


Didalam ruang kerja yang begitu luas dan sepi itu, Tuan Grey meluapkan segala rasa sesak yang ada didalam hatinya. Saat berada di makam ibunya, ia ingin sekali menangis namun berusaha ia tahan. Ia tak ingin adiknya melihat ia sedih karena baginya Grizz hanya tahu kalau dia tengah bahagia. Ia tak ingin Grizz sampai tahu kesedihan dan rasa bersalahnya, yang ada malah kepikiran.


"Baiklah, sekarang aku harus menghubungi si kecil itu. Kalau tidak, aku bisa diamuk saat datang kesana" ucapnya yang langsung mengambil ponselnya.


Dengan raut wajah tersenyum dan air mata yang telah dihapusnya, Tuan Grey langsung menghadapkan layar ponselnya tepat pada mukanya. Ia akan melakukan panggilan video call dengan adiknya itu.

__ADS_1


__ADS_2