
"Rumah siapa ini?" tanya Nicho bingung.
Setelah beberapa menit berkendara, mobil yang dikendarai oleh Josh itu sampai didepan sebuah rumah yang sepertinya sudah lama tak dihuni. Dari luar saja sudah terlihat jika banyak ilalang dan akar pohon yang merambat pad-a tembok rumah. Bahkan pintunya juga tertutup rumput-rumput yang tumbuh dengan tinggi. Terlihat dari jendelanya pun dalam rumah itu gelap seperti tak berpenghuni.
Tak ada yang menjawab pertanyaan dari Nicho karena mereka sedang sibuk mengamati rumah itu. Nicho juga langsung melihat keadaan sekitar yang begitu sepi, namun tiba-tiba matanya melihat sekelebat bayangan hitam tengah masuk dari arah samping rumah itu. Nicho mengucek matanya berulangkali untuk memastikan apa yang dilihatnya.
"Kayanya gue lihat ada orang masuk lewat samping rumah itu deh" ucapnya sambil menunjuk kearah tempat yang tadi ada seseorang yang dilihatnya.
"Mana ada? Gue nggak lihat apa-apa tuh" ucap Nando tak percaya dengan ucapan sahabatnya.
"Ada kok beneran" ucap Nicho kekeh dengan penglihatannya.
Nicho tetap kukuh dengan pendiriannya bahwa dia melihat seseorang yang masuk rumah lewat pintu samping. Dari gerak jalannya sepertinya itu memang manusia bukan lah makhluk jadi-jadian walaupun hari memang sudah mulai gelap. Alex mencoba menganalisa tentang apa yang dikatakan oleh Nicho itu.
"Itu memang manusia, bahkan aku mengenalnya. Dia yang tinggal di rumah ini untuk bersembunyi dari kejaranku. Dia lah pelaku peneroran di villaku" ucap Alex.
Alex mendapatkan informasi alamat tempat tinggal dua orang pelaku yang menjadi peneror villanya itu dari Alex. Dua karyawannya yang beberapa hari yang lalu Alex pecat menjadi pelakunya. Ia juga mendekati salah satu bodyguard di mansionnya agar bisa membantunya untuk mendapatkan informasi tentang dia.
Ketiga sahabatnya langsung menatap kearah Alex yang menjelaskan semuanya. Mereka menatap tak percaya dengan itu pasalnya rumah seperti ini digunakan untuk tempat bersembunyi. Walaupun sangat strategis karena mungkin tak ada yang berfikir kesitu, namun melihat banyaknya sampah didepan rumah tak mungkin ada yang betah walaupun hanya sehari.
__ADS_1
"Ini rumah udah cocok jadi tempat pembuangan akhir deh. Masa iya masih ada yang mau tinggal disini? Baunya aja astaga..." ucap Nando sambil mengapit hidungnya dengan jari.
Nicho dan Josh tentunya setuju dengan apa yang dikatakan oleh Nando. Bau dari sampah itu sungguh menyengat walaupun mobil mereka masih berada pada jarak yang lumayan jauh. Pantas saja hampir tak ada warga yang lewat di saat sore seperti ini, lagi pula penerangan jalan juga mati semua.
"Kalian mau bermain kan? Sana masuk dan bermain lah" titah Alex dengan nada datarnya.
Ketiganya menatap tak percaya kearah Alex yang meminta mereka bermain dengan lawannya. Apalagi kini mereka harus turun menuju rumah yang terbengkalai dengan banyak sampah didepannya ini. Membayangkannya saja sudah membuat mereka merasa mual. Sepertinya mereka tengah dikerjai oleh Alex.
"Ogah gue... Kalau tempatnya nyeramin sih oke aja. Tapi kalau banyak sampah kaya gini? Mending loe sendiri" ucap Nando memilih untuk menyemprotkan pewangi mobil.
Sedari tadi mereka sudah merasa mual namun ditahan karena rasa penasaran yang begitu tinggi. Namun setelah tahu apa tujuan Alex membawa mereka kemari, tentu ketiganya akan menolak terlebih bau yang tak sedap itu mulai mengoyak perutnya.
"Sebagai sahabat kan jika ada yang kesusahan harus mau membantu" lanjutnya.
Ketiganya kompak menggelengkan kepalanya karena merasa bahwa ini hanya keusilan Alex saja. Namun Alex terus saja membujuk mereka yang membuat ketiganya akhirnya menurut juga. Walaupun kini Alex harus ikut turun sebagai syaratnya.
Mereka berempat segera turun dari mobil sambil menutup hidungnya dengan tisue yang dibawa. Mereka menggunakan jalan yang dilewati oleh seseorang tadi karena kalau lewat depan pastinya akan menginjak-injak sampah. Setelah berjalan dengan hati-hati dan penuh kegelian, akhirnya mereka sampai di dekat pintu yang dijadikan seseorang itu masuk.
Ternyata dengan melewati jalanan samping itu, pintu yang ada dihadapan mereka terlihat bersih tak seperti yang didepan. Bahkan lantainya pun terlihat tak ada rumput atau pasir. Berarti ini tempat memang sengaja dibuat seperti ini agar bisa membuat alibi jika bersembunyi.
__ADS_1
"Kayanya memang didalam ada orangnya deh, lihat tuh kaya ada penerangan walaupun nggak seterang lampu biasa" ucap Nando yang mengintip didekat jendela.
"Memang ada orangnya, kan tadi sudah Alex bilang" kesal Nicho memekik pelan.
Nicho begitu kesal sahabatnya itu tak percaya atas ucapannya dan Alex. Padahal mereka sudah mengatakan sejujurnya namun memilih mencari tahu sendiri seperti ini. Setelah keduanya ribut itu seketika saja suasana menjadi hening apalagi mereka mendengar pembicaraan dari orang yang ada didalam rumah.
"Andi nggak jawab telfonmu, mas? Kok sampai sekarang nggak ada kabar. Kita harus segera kasih teroran lagi di villa lho biar itu istrinya Alex yang buruk rupa itu depresi. Kalau istrinya depresi kan si Alex nya juga ikutan stress hingga nggak mikirin perusahaan lagi. Dengan itu kita perlahan bisa menguasai perusahaannya dengan menghasut orang-orang Alex. Lagi pula kita nggak bisa gini terus, uang gaji dan pesangon udah mau habis juga" ucap seorang wanita.
Mendengar ucapan dari dalam rumah itu yang berasal dari seorang wanita itu membuat Alex mengepalkan kedua tangannya. Picik sekali pikiran mereka, ternyata tujuannya adalah membuat Grizz depresi dan Alex kehilangan akal sehingga mereka dengan cepat bisa mendapatkan uang. Apalagi mereka sudah tak bisa bekerja dimana pun karena masuk daftar hitam pengkhianat perusahaan.
"Iya, Andi belum ada kabar. Mungkin dia juga harus hati-hati saat ini dalam bekerja karena bisa saja kalau terlalu sibuk dengan ponsel akan membuat curiga banyak orang disana" ucap seorang laki-laki itu.
Ketiga sahabat Alex melirik sekilas kearah laki-laki. Raut wajah Alex yang memerah bahkan kini matanya melotot tajam membuat ketiganya langsung was-was kembali. Lagi... Mereka melihat Alex seperti dirasuki oleh jiwa iblis. Namun mereka juga penasaran dengan apa yang akan dilakukan oleh Alex, apalagi ini sudah menyangkut istrinya.
Brakkkk....
Tiba-tiba saja Alex mendobrak pintu yang ada didepannya dengan kakinya itu. Suara dobrakan pintu begitu keras membuat ketiga sahabat Alex berjengit kaget bahkan langsung kembali tersadar dari lamunannya. Kedua orang yang ada di dalam rumah itu juga kaget bahkan langsung mengalihkan pandangannya kearah pintu.
Dua orang berbeda jenis itu menatap tak percaya pada siapa yang datang ke rumah ini. Bahkan keduanya sontak mundur karena takut melihat raut wajah kemarahan Alex. Mereka begitu tak menyangka ada juga yang menemukan keberadaan keduanya disini.
__ADS_1