
"Terimakasih Kak Grizz, sebentar lagi Erga akan jadi anak sekolah" seru Erga yang langsung memeluk gadis itu.
Grizz juga langsung saja memeluk kembali Erga dengan erat. Keduanya bahagia karena masalah yang bertubi-tubi kemarin kini mereka bisa mendapatkan sesuatu yang tak disangka-sangka. Erga yang dulunya tak pernah membayangkan akan sekolah pun kini semua impiannya sudah ada didepan mata.
Dara yang baru saja datang pun juga ikut memeluk keduanya walaupun tak tahu dengan apa yang sebenarnya terjadi. Mereka bertiga malah berpelukan kemudian tertawa bersama setelah menyadari tingkahnya yang aneh. Setelah ketiganya melepaskan pelukannya, segera saja mereka fokus pada tontonan TV yang ada didepannya.
"Memangnya Kak Alex sudah mendaftarkan Erga sekolah?" tanya Dara setelah tahu alasan keduanya berpelukan.
"Kak Luis yang mendaftarkannya dua hari yang lalu tapi lupa belum bilang karena sibuk dengan banyak pekerjaan. Lagi pula masuk sekolahnya masih 2 minggu lagi jadi santai" ucap Grizz memberitahu.
Dara menganggukkan kepalanya mengerti. Tentunya jika sudah diurus oleh Luis itu semuanya akan selesai tanpa harus dipantau. Mereka pun akhirnya merencanakan untuk jalan-jalan ke mall agar bisa memilih sepatu dan perlengkapan sekolah lainnya. Grizz dan Dara juga akan membeli untuk perlengkapan kuliah.
***
"Bagaimana dengan masalah kemarin?" tanya Alex pada ketiga sahabatnya.
Setelah sarapan bersama tadi pagi, mereka langsung saja menuju ke perusahaan Alex. Sudah ada banyak sekali berkas kerjasama untuk bisnis dunia bawah dan perusahaannya sendiri telah menunggu untuk ia periksa. Sedangkan ketiga sahabatnya pun mengikutinya karena memang berkas yang bisnis dunia bawah itu harus segera diperiksa.
Bahkan kini mereka berlima sudah ada di ruangan Alex sambil mengerjakan semua berkas yang lumayan menumpuk itu. Alex langsung menanyakan tentang masalah kemarin yang tentunya mengenai transaksi dunia bawah yang sudah dibagikan setiap kelompoknya.
"Mereka langsung saja menyerang para ketua kelompok untuk membagi rata pendapatan dari semua transaksi yang dilakukan" ucap Nicho memberi penjelasan.
__ADS_1
"Sekarang ketua kelompok yang bermasalah itu sudah tak mempunyai ketua lagi karena masalah itu. Bahkan mereka ingin mencari ketua baru atau tidak bergabung dengan kelompok yang tak bermasalah" ucap Nando menambahi.
Alex terkekeh sinis mendengar fakta yang baru saja didapatnya. Tentunya mereka akan langsung menghajar habis-habisan ketua yang merugikan kelompoknya. Namun Alex yakin kalau nantinya pasti mereka akan meminta bergabung kepadanya. Namun Alex takkan membiarkannya karena dia tak mau kalau sampai anak buahnya itu tak mempunyai komitmen yang baik.
Terlebih melihat mereka yang sudah berbuat kekacauan di kota hanya demi uang 1 M. Ia sama sekali tak mau jika nantinya ada kejadian seperti ini lagi sehingga membuat kelompoknya yang sudah solis akan hancur begitu saja. Alex menganggukkan kepalanya kemudian menatap Nando dan Josh yang merupakan salah satu ketua kelompok dunia bawah.
"Apa kalian mau menerima anggota seperti itu jika mereka meminta masuk dalam kelompokmu?" tanya Alex dengan nada seriusnya.
"Tentunya tidak" ucap Josh dan Nando secara bersamaan.
Alex mengacungkan kedua jempolnya kearah sahabatnya itu. Ia beruntung mempunyai sahabat-sahabat yang mempunyai komitmen tinggi atas aturan yang telah dibuat. Mereka juga selalu mau membantu saat semuanya kesusahan namun juga mengedepankan aturan yang ada. Tak pernah mudah terhasut dan tergiur ucapan oranglain sehingga lebih memilih melakukan konfirmasi pada orang yang bersangkutan terlebih dahulu.
"Ini ada transaksi senjata di pinggir Danau Ambol, mau diterima nggak? Lumayan nih 1000 biji" ucap Josh sambil membaca berkas kerjasama.
"Tuan Grey yang dari organisasi di Italia itu" jawab Josh dengan santai.
"Terima" seru Alex, Nando, dan Nicho.
Tentunya ini adalah kesempatan besar untuk bisa menjalin kerjasama kembali dengan penguasa dunia bawah wilayah Eropa itu. Dulunya mereka pernah bekerjasama sekali namun Tuan Grey hanya memesan 50 biji saja karena harus memastikan keyakinannya akan senjata itu. Namun setelah satu tahun tak pernah lagi komunikasi, ternyata Tuan Grey mau memesannya kembali sehingga sudah pasti kalau barang mereka memang bagus.
Luis yang tak paham dengan apa yang dibicarakan pun hanya fokus pada laptop yang ada dihadapannya. Lagi pula transaksi seperti itu sangat bahaya untuk dirinya ikuti jadi lebih baik dia mengurus perusahaan saja. Lagi pula perusahaan ini semakin maju sehingga berkasnya sangat menumpuk membuatnya harus bekerja lebih ekstra.
__ADS_1
"Tuan Grey katanya mau kesini sehingga memintanya untuk bertemu di Danau Ambol. Dia kesini untuk mencari keberadaan ibu dan adiknya" ucap Josh memberikan informasi tambahan.
"Memangnya Tuan Grey punya adik? Bukannya dia anak tunggal. Setahuku dia itu dijual sama ayah kandungnya ke seorang penguasa organisasi dunia bawah kan?" tanya Nicho penasaran.
"Katanya sih punya, itu juga aku dapat informasi dari asistennya. Kemarin sempat aku contact sama asistennya mengenai kedatangan Tuan Grey ini dan dia meminta bantuanku untuk mencarikan adiknya. Tapi aku memang belum tahu sih mengenai kerjasama ini dan belum dikirimkan foto juga ciri-ciri adiknya itu" jawab Josh.
Mereka menganggukkan kepalanya mengerti. Kalau pun nantinya mereka dimintai pertolongan, pasti akan dibantu sebisa mungkin terlebih kalau hilangnya ada di negara ini. Mereka yang penguasa dunia bawah seperti Alex dan ketiga sahabatnya tentu akan lebih tahu mengenai semua tempat-tempat yang dituju.
Mereka pun kini terdiam setelah perbincangan sebentar itu untuk melanjutkan menyelesaikan pekerjaan yang ada. Tak berapa lama ada suara ponsel berdering membuat semua kepala langsung saja menegak bahkan mata langsung mencari darimana suara ponsel itu berbunyi.
Ting... Ting... Ting...
"Punya gue, dari asistennya Tuan Grey. Panjang umur dia" ucap Josh sambil mengangkat ponselnya.
Mereka semua selain Josh langsung saja langsung fokus kembali ke berkas yang ada di tangan masing-masing. Sedangkan Josh sendiri berdiri kemudian menjauh dari teman-temannya untuk mengangkat panggilan dari asisten Tuan Grey. Tak berapa lama ruangan itu penuh keheningan, tiba-tiba saja Josh datang dengan wajah sedikit shock.
"Ada apa?" tanya Alex dengan tatapan penasaran.
"Ini aku sudah dikirim foto adiknya Tuan Grey tapi ini foto 14 tahun yang lalu" ucap Josh sambil garuk-garuk kepala.
Mereka semua yang mendengarnya langsung saja shock bahkan terkejut karena hal itu. Akan sangat susah bagi mereka menemukan orang yang hanya diberi petunjuk foto saat adik Tuan Grey ini masih kecil. Bahkan mungkin sekarang usianya sudah sekitar 17 atau 18 tahun yang tentu wajahnya akan sangat berbeda.
__ADS_1
"Ini barusan asistennya juga memberikan petunjuk alamat rumah miliknya dulu. Ya walaupun tak tahu juga mereka masih disana atau tidak. Setidaknya kita membantunya saja, persoalan ketemu apa enggak ya itu serahkan sama Tuhan saja" ucap Josh membuat semuanya menganggukkan kepalanya mengerti.