
Setelah menyelesaikan semua pekerjaannya hari ini, Alex segera saja pulang ke rumah Josh. Ia harus menyiapkan segala sesuatunya untuk memberikan dorongan semangat pada Grizz. Ia juga harus menceritakan apa saja yang nanti akan dihadapi oleh istrinya itu saat berada disana. Jangan sampai saat nanti berada disana malah Grizz down dengan banyaknya orang yang menyoroti kehadirannya.
Tak berapa lama mengendarai mobilnya, kendaraan itu segera saja memasuki halaman rumah Josh. Segera saja Alex turun dari mobilnya kemudian masuk dalam rumah. Ternyata saat ia memasuki rumah, semua orang tengah berada di ruang keluarga sedang melaksanakan makan malam.
"Sini bos makan" ajak Josh yang melihat kedatangan Alex.
Grizz tentunya langsung saja mengalihkan perhatiannya kemudian tersenyum kepada Alex yang baru saja datang. Grizz memberi kode kepada Alex agar duduk disampingnya yang memang kosong karena ia duduk paling tepi. Alex pun meletakkan tas kerjanya diatas meja kemudian ia duduk disamping sang istri.
"Biar Grizz suapi saja. Pasti Kak Alex kecapekan kan habis kerja? Jadi biar tangannya istirahat" ucap Grizz dengan manisnya.
Grizz segera saja menyuapi suaminya itu dengan begitu telaten. Alex pun tak masalah disuapi oleh istrinya didepan banyak orang. Lagi pula mereka sudah menikah jadi keduanya santai saja dalam menampilkan kemesraan. Berbeda dengan ketiga sahabat Alex yang mengutuk kemesraan dua sejoli itu.
"Hei... Kalau mau mesra-mesraan di kamar dong. Nggak tahu apa kalau disini itu pada nggak punya pasangan" kesal Nicho.
"Makanya punya pasangan dong. Jangan bilangnya tampan dan kaya kalau punya pasangan saja enggak" ledek Grizz dengan santainya.
Nicho mengerucutkan bibirnya kesal mendengar ledekan yang dilontarkan oleh Grizz itu. Padahal dirinya itu jomblo bukan karena tak laku namun memang terlalu pemilih. Apalagi kebanyakan perempuan hanya akan melihat wajah dan dompetnya saja. Ia tak ingin mendapatkan pasangan yang hanya memanfaatkan dirinya saja.
Mereka pun akhirnya melanjutkan kegiatan makan malamnya dengan hening. Tak ingin juga mereka membahas mengenai masalah pasangan yang malah membuat semuanya akan jadi panjang. Terlebih kalau sudah berdebat dengan Grizz, bisa panjang urusannya. Setelah selesai makan malam, semua masuk dalam kamarnya masing-masing kecuali maid dan bodyguard yang masih harus bekerja.
***
__ADS_1
"Besok ada pemeriksaan di kantor polisi, kita harus datang kesana. Kamu akan diperiksa sebagai saksi, jujurlah dalam bersaksi esok. Aku akan menemanimu" ucap Alex setelah dia selesai membersihkan diri.
Bahkan kini Grizz sedang duduk diatas kasur sambil membaca novel yang kemarin dibelikan oleh maid yang bekerja disini. Grizz yang sedang fokus dengan kegiatannya pun langsung mengalihkan pandangannya. Ia menatap Alex yang kini duduk disampingnya sambil memegang ponselnya.
"Lalu Bella?" tanya Grizz menanyakan nasib temannya itu.
"Besok kita jemput kesana. Felix sudah menghubunginya untuk besok bersiap-siap" ucap Alex sambil mengelus rambut istrinya itu dengan lembut.
Alex meletakkan ponselnya diatas nakas sedangkan Grizz membawa buku novelnya dibawah bantal. Grizz segera saja bergelayaut manja di lengan Alex seperti apa yang ia lakukan sebelumnya. Grizz begitu bahagia dalam kondisi masalah yang begitu banyak ternyata ada sosok Alex yang menemaninya.
Bahkan Alex tak segan-segan untuk memberikan pengawalan ketat padanya agar ia selalu dalam keadaan aman. Tak menyangka jika dirinya sudah mulai bisa menghilangkan rasa trauma dan sakit hatinya karena satu per satu masalah bisa ia selesaikan. Setelah membalas orang-orang yang menyakitinya di masa lalu, tentunya target selanjutnya adalah keluarganya sendiri.
"Apa kamu siap untuk menuntut keadilan yang harusnya kau dapatkan sejak dulu?" tanya Alex.
Alex tersenyum mendengar apa yang diucapkan oleh Grizz. Ia sebenarnya tak ingin istrinya seperti ini karena bisa saja malah berdampak pada kehidupan sosialnya kelak. Ia kan dikira kejam dan tak punya perasaan, namun Grizz ternyata mempunyai keyakinan kuat kalau dirinya harus berubah agar tak diinjak harga dirinya.
***
Keesokan harinya, Grizz sudah berada didalam mobil bersama dengan Alex dan ketiga sahabatnya. Mereka ingin ikut karena sangat penasaran dengan ratusan siswa dan guru yang kini menghuni salah satu penjara kantor polisi itu. Sudah dua hari ini mereka bermalam disana tentunya membuat semua penasaran dengan wajah orang-orang itu.
"Baru kali ini ada satu penjara yang di kantor polisi dihuni sama ratusan orang karena kasus yang sama" ucap Nicho sambil geleng-geleng kepala.
__ADS_1
Bahkan banyak media asing yang menyorot kasus ini. Bukan hanya karena melibatkan Alex yang terkenal dalam dunia bisnis namun sepertinya ini merupakan salah satu contoh gagalnya pendidikan di sekolah. Tentunya hari ini sudah banyak media asing yang ikut berkumpul di kantor polisi demi mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Terlebih sudah dikabarkan jika nanti akan ada konferensi pers antara pihak kepolisian dengan Grizz yang notabene adalah istri Alex.
Mobil yang dikendari oleh Josh itu berhenti di dekat halte bus bahkan disana sudah terlihat ada Isabella, kedua orangtuanya, dan sang adik yang berada di gendongan ayahnya itu telah menunggu. Beruntung mereka menggunakan mobil besar karena tahu kalau Isabella akan datang didampingi oleh keluarganya.
"Ayo masuk" seru Grizz dengan membuka kaca jendela.
Mereka mengangguk kemudian masuk dalam mobil kemudian duduk dibelakang. Tentunya adik Isabella yang baru berumur 4 tahun itu dipangku. Sembilan orang yang ada dalam mobil itu namun tak sempit saat mereka duduk. Mobil melaju dengan kecepatan sedang diikuti oleh beberapa kendaraan anak buah Alex yang mengawal dari depan dan belakang. Tentunya ini untuk mengawasi agar tak ada gangguan yang bisa saja datang.
"Wah... Disini dingin, bu" ucap adik Bella, Vano sambil menatap takjub kearah isi dalam mobilnya.
"Boleh aku pangku si dedek gembul ini?" tanya Grizz yang memang sedari tadi menahan kegemasannya melihat adik dari temannya itu.
"Emm... Tapi apa nggak mengganggu?" tanya Ayah Bella.
"Tidak" jawab Grizz dengan cepat.
Akhirnya Ayah Bella menyerahkan Vano dalam gendongan Grizz setelah mendapatkan anggukan dari Alex. Sebenarnya mereka membolehkan saja Vano digendong Grizz hanya saja tak enak hati dengan kehadiran Alex. Grizz memangkunya bahkan terus berceloteh bak seorang ibu yang sedang berdongeng. Hal itu tentunya membuat Alex hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Definis balita gendong bayi" celetuk Nicho membuat Griz menatapnya dengan sinis.
"Syirik" ketus Grizz.
__ADS_1
Grizz pun memainkan pipi Vano dengan terus berceloteh padahal suasana dalam mobil itu begitu hening. Tentunya hanya ada suara celotehan Grizz saja yang meramaikannya. Vano pun terlihat pasrah karena pipinya dimainkan dengan ia diberikan sebuah susu kotak.